SEVENTEEN

SEVENTEEN
DK - 4



Pagi ini cuaca sedikit mendung. Tanah yang basah menandakan bahwa hujan telah mengguyur bumi sejak semalam. Udara dingin berhembus, membuat orang-orang enggan keluar dari selimut. Lisa sedang berjalan melewati gerbang sekolah. Ia mengenakan kardigan warna coklat susu yang kebesaran.


"Lisa," Deka berlari menyusul Lisa. Ia dari arah parkiran. tas punggungnya melompat-lompat seiring langkah Deka.


"Selamat pagi, tuan putri," kata Deka begitu ia sampai di hadapan Lisa.


"Apasih," Lisa hanya tertawa.


"Btw, lo tau ga nanti pas rapat wali murid, teater kita disuruh nampilin sesuatu," info Deka. Lisa mengangguk. Mungkin Deka lupa jika ia juga ada di grup chat anak teater. Pengumumannya emang ada di sana.


"Emang udah kepikiran mau nampilin apa?" tanya Lisa. Deka menggeleng. Ia juga belum tahu.


"Acaranya mepet, kita tampilin sesuatu yang singkat-singkat aja ga sih?" tanya Lisa.


"Lo ada ide?" tanya Deka. Lisa menggeleng. Ia memang tak memikirkannya. Karena sebenarnya, teater sama sekali bukan bidang Lisa.


"Anak teater pada bisa dance ga sih?" Deka bingung dengan pertanyaan Lisa yang dinilai aneh ini.


"Kalau emang gerakan dan gesture mereka bagus, mending tampilin drama musikal gitu. Ga usah pakai dialog, komunikasi dan jalan cerita disampaikan lewat dance sama lagu aja," Lisa nampak serius.


Deka merasa ide Lisa sangat brilian. Ia sendiri merasa gak masalah menampilkan konsep itu. Deka merasa ia cukup jago urusan dance gitu. Ditambah nyanyi sih, udah makanan sehari-hari Deka. Dan yang Deka tahu, Rose juga sama seperti dirinya. Ia rasa ide Lisa layak dicoba.


...***...


Di ruangan yang cukup besar, telah berkumpul anak-anak anggota ekskul teater. Mereka sedang berdiskusi mengenai acara rapat wali murid nanti. Deka sudah mengutarakan ide Lisa. Beberapa setuju namun lebih banyak yang menolak. Bagi yang menolak, mereka lebih mengutamakan drama klasik sebagaimana yang seharusnya anak teater tampilkan. Apalagi mereka tidak pernah latihan dance sebelumnya. Itu akan menjadi PR tersendiri. Terlebih waktu yang mepet.


"Udah, tolong tenang semuanya," ketua ekskul teater mengingatkan dari arah panggung. Suaranya yang besar membuat suara-suara lainnya mendadak senyap. Perhatian kini sepenuhnya mengarah padanya.


"Coba Lisa, lo ceritain lebih detail ide lo," ia meminta Lisa maju ke depan. Lisa melangkah maju. Beberapa berbisik, betapa sok nya anak baru ini. Deka dan Rose hanya mengikuti arah jalan Lisa, tidak bersuara sama sekali.


"Halo semuanya, gue Lisa," ucap Lisa.


"Ini masih ide kasar gue. Sebenarnya gue kepikiran cerita simpel banget. Ceritanya ada seorang putri yang dikekang sama keluarganya, nah ini bisa kok digambarin pake dance aja. Dancenya juga, gue rasa ga terlalu rumit, cuma kalian ramean megangin satu cewek yang berusaha berontak," penjelasan Lisa serius. Ini benar-benar ide dadakan Lisa yang baru terpikir beberapa menit yang lalu.


"Terus ada satu cowok yang jatuh cinta ngeliat putri itu. Ini juga gampang penggambaran lewat lagu sama dancenya. gue rasa kalian juga udah bisa bayangin adegannya, karena ini bener-bener cerita mainstream aja." jelas Lisa penuh karisma.


"Terus ya kayak yang kalian bayangin, cowok nyelametin cewek, dan mereka bahagia. Nah, buat diakhir, gue kepikiran si cewe dance yang happy aja gitu," tutup Lisa.


Semua anggota ekskul seolah terhipnotis oleh karisma Lisa. Yang awalnya tidak setuju kini hanya mengangguk saja. Rose dan Deka pun takjub.


"Wahh, Lisa emang jago ngobrak-ngabrik ekskul orang," gumam Rose.


"Pertanyaannya, siapa yang bisa dance?" tanya si ketua. Beberapa siswa tunjuk tangan, termasuk Rose dan Deka.


"Lisa juga bisa tuh," teriak Deka melihat Lisa tak tunjuk tangan di depan sana.


"Lo bisa dance?" tanya si ketua memastikan. Lisa mengangguk.


"Gue contohin adegannya bareng Rose sama Deka boleh? Biar kalian makin ada gambaran?" ujar Lisa nekat. Padahal ia sama sekali belum menyiapkan koreo apapun. Bahkan, ia tidak tahu lagu apa yang bakalan cocok dengan jalan ceritanya. Rose dan Deka yang dipanggil pun kaget dan bingung.


Lisa pun ngasih arahan pada Rose dan Deka yang telah maju ke depan. Beruntungnya Lisa, kedua temannya ini jagoan banget. Mereka langsung paham arahan Lisa dan berimprovisasi. Lisa tersenyum puas. Lalu Lisa yang sedang menggambarkan putri yang telah bebas memutar lagu itentions dari justin bieber melaluu hp-nya. Ia pun menari dengan ceria, swag, karismatik dan cool.


Tampilan Lisa yang terakhir membuat terpukau seluruh isi ruangan. Sang ketua teater pun tidak bisa berkata-kata karena takjub. Tepuk tangan riuh terdengar. Sekali lagi, Lisa telah menghipnotis dengan pesonanya di atas panggung. Rose dan Deka tersenyum bangga. Temennya ini emang keren banget.


...***...


Lisa, Rose dan Deka sedang berkumpul di rumah Rose. Rose yang ditugaskan untuk mengaransemen musiknya, harus sudah menyelesaikan musik itu paling lambat lusa. Deka sendiri bertugas membuat lirik dan lagunya. Sedangkan Lisa yang akan menciptakan koreografi untuk mereka.


Dikarenakan waktu yang mepet, mereka tak akan membuat yang terlalu rumit. Sebenarnya banyak contoh musik di internet, Rose hanya tinggal mash up mereka disesuaikan dengan tema drama. Mereka berkutat pada komputer Rose hingga larut malam.


"Udah malem banget nih, kalian nginep aja gimana?" tawar Rose.


"Lisa aja yang nginep, gue balik ya.. Kirimin demonya ke gue kalo lo udah selesai," jawab Deka.


"Tapi gue ga bawa ganti oi. Lagian besok gue sekolah gimana?" tanya Lisa. Deka menghampiri Lisa, ia mengusap lembut kepala Lisa.


"Besok pagi-pagi banget gue jemput ke sini. Udah terlalu malem kalo lo mau maksain pulang," ujar Deka lembut.


"Idih-idihhh, berasa jadi nyamuk dah gua," ketus Rose. Lisa dan Deka menoleh pada Rose lalu tertawa.


"Lu nginep sini, nanti pake baju gue aja Lis," tambah Rose.


"Yaudah, lo ati-ati.." ucap Lisa pada Deka. Deka pun tersenyum dan mengangguk. Sekali lagi ia mengusap kepala Lisa sebelum akhirnya keluar dari rumah Rose. Untungnya hari ini ia membawa mobil. Jadi Deka tidak terlalu takut di jalan malam-malam sendirian. Deka menjalankan mobilnya cukup cepat. Jalanan yang sepi memudahkannya untuk menambah gas mobilnya. Hanya dalam waktu tiga puluh menit saja, Deka telah sampai di rumahnya.


Sementara Lisa dan Rose masih sibuk dengan aransemen musik mereka. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Beberapa kali Lisa dan Rose menguap bergantian. Sebenarnya mereka lelah.


"Lisa, udahan dulu. Lanjut besok aja kalau belum selesai," chat Deka pada Lisa seolah tahu jika kedua temannya sedang memaksakan diri.


...****************...