
Perpisahan kelas dua belas berjalan cukup ramai. Sesungguhnya penampilan yang Lisa, Deka dan Rose bawakan sedikit sia-sia. Mereka, anak-anak kelas dua belas itu, malah sibuk berpelukan dan saling menangis satu sama lain. Di panggung, Rose tidak bisa merasa tidak kesal.
"Gila emang!" Rose turun panggung dengan menghentakkan kakinya.
"Yaudah sih, maklumin aja. Emang kita tampil di acara yang engga tepat aja," ujar Lisa menghibur. Senyuman Lisa mengembang, berharap bisa sedikit meredam emosi Rose.
"Nyeblak aja mau ga?" tawar Deka pada kedua teman perempuannya itu.
"Males ah, pergi sama kalian. Nanti gue jadi nyamuk," Rose memasang muka cemberut minta dibujuk tapi biasanya gak pernah mempan.
"Sejak kapaaann?" Lisa mencubit pipi tembam Rose, dan Deka mendorong Rose dari belakang agar mereka segera pindah ke kantin. Rose hanya misuh-misuh karena bukannya dirayu malah pakai kekerasan begini.
Sepanjang jalan menuju kantin, mereka tak hentinya bercanda. Bahkan Rose sudah merasa perutnya kram, ia tak tahan dengan sikap konyol Deka. Lalu ini juga, Lisa malah nanggapin mulu. Rose rasa, mereka berdua berbagi otak yang sama. Nyambung banget.
"Deka kenceng banget teriaknya anjir," Rose memukul pundak Deka, agar ia sadar. Lisa malah ketawa.
"Eh btw, kalian tahu ga, beasiswa buat beberapa kampus udah mulai buka dari sekarang loh," info Lisa tiba-tiba.
"Lo daftar gak Sa?" tanya Deka yang kini sudah mulai jalan dengan benar, tidak ada lagi tingkah konyol yang mengocok perut.
"Gue pengen ke amerika, biar langkah gue ke disney makin deket," jawab Lisa asal.
"Lo serius? Lo beneran masuk disney?" tanya Rose kaget. Selama ini ia pikir Lisa hanya bercanda. Bagaimanapun, tingkah Lisa yang easy going dan selalu have fun, membuat Rose berpikir jika Lisa tidak akan bisa serius.
"Ayok kita cari beasiswa ke amerika sama-sama," Deka tersenyum, tatapannya lembut mengarah ke Lisa. Lisa pun mengangguk.
"Janji?"
"Janji!"
"Woaahhh, kalian ninggalin gue lagi?" kini Rose tak terima.
"Tinggal ikut aja sih," Lisa mengerling jahil pada Rose.
"Ish ish..." Rose semakin kesal
...***...
Hari mendung, langit yang tertutup awan gelap membuat suasana siang itu sedikit kelabu. Lisa berjalan gontai menyusuri lapangan basket di sekolahnya. Suasana cukup sepi, hanya tinggal beberapa siswa yang masih ada ekskul. Jam pulang sekolah memang sudah berdentang sejak dua jam yang lalu.
"Lisa,"
Lisa yang sedang duduk, jongkok sembari menutupi mukanya. Lisa tidak menangis, padahal ia sangat ingin menangis. Dadanya telah sesak.
"Sa,"
Kini Rose ikut mendudukkan dirinya di lapangan itu. Ia tak peduli jika rok seragamnya akan kotor nanti. Ia perlu menghibur sahabatnya. Teman yang sudah bersamanya sejak awal sekolah. Teman yang seharusnya kini tertawa bersamanya.
"Cerita sama gue, Sa,"
Lisa mengangkat kepalanya. Matanya sendu dan lelah. Sebenarnya tak ada yang ingin Lisa katakan. Ia bahkan tak bisa mengerti apa pun.
"Yuk pulang," hanya itu yang akhirnya keluar dari mulut Lisa.
Rose menghela napas kasar. Ia tahu ada banyak hal yang terjadi di benak gadis di hadapannya ini. Namun, ia tak mengerti? Kenapa ia tak pernah menceritakan apa pun. Paling tidak menangis diam-diam pun tak pernah. Rose tak pernah melihat air mata Lisa.
...***...
Lisa, Deka dan Rose, tiga serangkai favorit sekolah sedang berlarian menuju papan pengumuman. Terlihat dari wajah mereka yang nampak harap-harap cemas.
"Sekelas, please," Deka menggumam sembari mencari namanya di pembagian kelas kali ini.
"Ada.. ada.." Lisa berseru kencang. Ia menemukan nama mereka bertiga.
"Aaaaahh.. Kita sekelas.. Kita sekelas.." Rose memeluk Lisa erat. Ia nampak sangat senang. Deka ikut melihat arah telunjuk Lisa, ia menemukan nama mereka.
"Waaaahhh," Deka berteriak amat kencang. Membuat sakit telinga siapa saja yang ada di sekitarnya.
Akhirnya mereka memilih menjauhi kerumunan. Kelas XII IPA 1, Wow akhirnya. Begitulah pemikiran mereka.
"Lisa kita sebangku," Deka telah menggandeng lengan Lisa posesif.
"Enak aja, Lisa sebangku sama gue, kayak waktu kelas sebelas," Rose pun menggandeng tangan Lisa satunya.
Kini Deka dan Rose saling adu tatap memperebutkan Lisa. Lisa hanya menggeleng saja melihat tingkah dua sahabatnya ini.
"Kalian aja yang sebangku deh," Lisa melepaskan tangannya lalu melenggang menuju kelas harusnya.
"Ih Lisaaa," Rose dan Deka mengejar Lisa. Rencana rebutan sebangku masih terekam jelas di benak mereka. Dan itu sangat terlihat di wajah masing-masing yang tidak ingin mengalah.
"Rose lo lebih tua, ngalah dong sama yang muda," Deka merengek.
"Apaan lebih tua, kita cuma beda seminggu ya anjir," Rose masih kuat memegang bangku di samping tempat duduk Lisa.
Beberapa teman yang pernah sekelas dengan mereka sih udah gak heran dengan kelakuan mereka berdua, tapi di kelas ini ada beberapa anak yang baru sekelas di kelas dua belas ini.
"Sssttt.." Lisa pusing "Kalian ribut amat sih berdua," akhirnya Lisa angkat suara juga.
"Suit aja udah," usul Lisa.
Deka dan Rose pun mengangkat tangan bersiap suit. Namun, karena tidak ada kesepakatan apakah suit jepang atau suit indonesia yang akan dipakai, maka begitu pun mereka. Rose mengeluarkan kertas, sedangkan Deka mengeluarkan telunjuk.
"Deka yang bener dong," Rose protes. Lisa hanya mengusap wajahnya kesal. Ia sudah tak tahan. Maka Lisa angkat tangan dan beranjak menuju kantin.
...***...
Akhirnya suit dimenangkan oleh Deka. Dengan wajah sumringah penuh aura kemenangan, Deka duduk manis di samping Lisa. Ya, Lisa tak jadi ke kantin karena guru telah datang.
Sekolah ini rajin banget gak sih? Baru hari pertama sekolah juga udah mulai kegiatan belajar mengajar. Apalagi tadi mereka telah diberi titah agar pembagian organisasi kelas dilakukan saat istirahat pertama saja. Dan ya, guru menyebalkan itu adalah wali kelas Lisa.
Sebuah ketukan membuyarkan konsentrasi murid dan guru tersebut. Dengan berdecak sebal, wali murid tersebut mempersilahkan siapa saja yang mengetuk untuk masuk saja.
"Permisi, maaf pak mengganggu waktu belajarnya," ucap pegawai sekolah tersebut.
"Mas Deka dipanggil kepala sekolah," ucap pegawai sekolah tersebut sambil menatap Deka. "Ah, tolong sekalian bawa tasnya saja," tambahnya begitu melihat Deka berdiri tanpa membawa apa pun.
Lisa menoleh heran ke arah Deka. Ada apa? Kenapa Deka dipanggil dan masih harus bawa tas pula? Namun, Deka sendiri tak tahu. Rose pun menatap bingung kepergian Deka. Yah, mereka bisa tanyakan nanti pada Deka. Namun, perasaan Lisa tak nyaman. Apakah benar-benar tidak apa-apa? Lisa menarik nafas, berusaha tidak terlalu memikirkannya.
...****************...