SEVENTEEN

SEVENTEEN
Minghao - 8



Sabtu pagi ini sangat cerah. Sinar matahari pagi yang lembut dan hangat bersinar dengan ceria. Lisa sudah bangun sejak matahari masih mengintip malu di balik langit. Sedangkan Minghao, ia bahkan terbangun saat hari masih gelap. Mereka berdua terlalu bersemangat untuk hari ini.


Minghao telah mengatakan bahwa ia akan datang pukul delapan pagi. Namun, Lisa memintanya untuk mempercepat saja. Lisa rasa mereka tak bisa melewatkan pagi yang indah ini. Ia rasa ini akan bagus untuk mood video.


"Sarapan dulu yuk,"


Lisa menarik lengan Minghao lembut. Ia membawanya menuju ruang makan yang sudah ada orang tua Lisa di sana. Minghao pun memberi salam dan memberikan senyuman terbaiknya.


"Jadi ini yang namanya Minghao, tampan sekali Nak," Ibu Lisa menghampiri pemuda itu dan mempersilahkannya duduk di salah satu kursi kosong di meja makan keluarganya.


"Kalian akan membuat video dimana?" Kini ayah Lisa lah yang bertanya. Mungkin hanya untuk basa-basi, atau bisa juga karena ia ingin tahu putri satu-satunya akan pergi kemana.


"Rencananya akan ke rooftop salah satu kafe, gak jauh dari sekolah om," jawab Minghao sopan.


"Jangan panggil om, panggil ayah," ujar ayah Lisa ramah.


Minghao mengangguk. Ia juga tersenyum demi kesopanan. Namun, di dalam hatinya, ia sungguh merasa sesak. Ia ingin merasakan kehangatan ini jauh lebih lama. Diam-diam Minghao menghela nafas. Ia menikmati sarapannya dengan mendengarkan celoteh keluarga Lisa yang riang.


***


"Kamu bawa kamera banyak banget, Hao,"


Minghao menoleh sejenak ke arah Lisa yang telah berdiri di sampingnya. Ia hanya mengangguk dan tersenyum lalu melanjutkan menata kamera agar dapat menangkap angle yang tepat. Tentu saja mereka akan memerlukan beberapa kamera yang terpasang di tempat yang berbeda untuk mengambil angle yang berbeda pula.


Rooftop kafe ini cukup terkenal sebenarnya. Namun saat ini suasana masih sangat sepi karena kafe ini baru akan mulai beroperasi pukul sebelas siang nanti. Sementara itu, mereka akan merekam cover 'can i have this dance' yang diinginkan oleh Lisa.


Satu hal lagi yang membuat tempat ini terkenal adalah pemandangan di rooftop yang dapat melihat sunset di tengah ibu kota. Itu sangat indah. Menurut Minghao itu akan cocok untuk mengambil video 'Hai Lisa'. Dan untuk itu Minghao telah menyewa tempat ini khusus untuk mereka.


"Siap?" tanya Minghao yang diangguki oleh Lisa.


Minghao mulai merekam mereka. Ia dan Lisa berdiri berhadapan dengan jarak beberapa langkah saja. Senyum Lisa mengembang, cantik sekali. Musik terdengar mengalun. Dan Lisa memulai langkah pertamanya. Sesekali ia mengikuti lirik lagu yang dinyanyikan oleh Vanessa Hudgens. Perasaan Lisa membuncah dengan rasa senang, excited, namun juga berdebar hebat.


Lisa mengenakan dress dengan panjang mencapai bawah lututnya. Dress bunga-bunga yang mekar di bawahnya itu sangat manis. Ia juga mengenakan sepatu hilss rendah hanya untuk membuatnya sesuai dengan tema dance mereka hari ini. Itu memang tampak sangat cocok dan cantik.


Minghao sendiri memakai celana jeans yang dipaju dengan kemeja berwarna krem lembut. Lalu ia padu dengan coat panjang dengan warna senada yang membuat ketampanannya menjadi lebih terpancar. Ia nampak serasi dengan Lisa yang sengaja memilih dress dengan warna senada dengan warna baju Minghao. Mereka terlihat seperti pasangan yang serasi. Cantik dan tampan.


Keduanya tersenyum dan terus saling memandang satu sama lain. Lisa berputar dengan berpegangan pada Minghao. Di bagian chorus, Minghao mengangkat Lisa dengan cantik. Langkah-langkah mereka beriringan sesuai ketukan nada lagu. Angin yang menerbangkan rambut Lisa membuatnya nampak semakin indah.


Itu sebuah lagu yang singkat, bahkan panjang durasinya tak sampai tiga menit. Namun Lisa sudah sangat kelelahan begitu lagu berakhir. Ia lelah mengatur degup jantungnya yang berlomba dengan nafasnya yang memburu. Di akhir lagu, mereka berdiri dengan sangat dekat. Saling memandang satu sama lain. Senyum yang selalu mengembang sebelumnya perlahan menghilang. Minghao menatap mata Lisa dengan tatapan yang sangat dalam. Hal ini membuat Lisa semakin gugup. Hingga Minghao melepaskan pelukan mereka.


"Terimakasih Lisa, kau sangat hebat," Minghao kembali tersenyum. Senyumnya kali ini terasa sangat berbeda bagi Lisa. Senyum dengan kepahitan. Lisa membalas senyum itu.


Minghao mengangguk, "Aku baik, hanya sangat gugup," ia pun tersenyum. Kali ini senyumnya adalah senyum yang biasanya. Senyum yang sangat manis, yang selalu membuat Lisa merasa mabuk karenanya. Lisa pun mengangguk. Mereka akan menghabiskan waktu seharian di kafe ini. Sembari menunggu sore, mereka langsung mengedit video pertama mereka.


"Ternyata kalau kita ambil video bareng sama orang yang udah pro, gak perlu sering-sering ngulang ya," canda Minghao yang membuat Lisa merasa malu.


"Aih bukankah itu berarti kau juga sama," cibir Lisa, "Atau kalau tidak, kita akan mengulang beberapa adegan karena kesalahanmu,"


"Sayangnya itu tak terjadi," ucap Minghao sambil tertawa.


"Sayangnya?"


Minghao mengangguk, "Ya, kalau tidak aku akan mendapatkan banyak kesempatan untuk menempel denganmu seharian ini," Ia pun tertawa.


"Yaaa, Minghao.." Lisa tak percaya seorang Minghao bisa mengatakan hal semacam itu. Namun kemudian mereka pun saling tertawa.


***


Malam datang, terasa sangat cepat bagi Lisa. Ia bahkan belum puas atas kebersamaannya dengan Minghao satu hari ini. Ia masih ingin bersama. Namun, bahkan lagu kedua telah selesai mereka ambil sejak satu jam yang lalu. Kini mereka sedang menikmati makan malam dengan obrolan ringan.


"Jadi lagu kamu ini gak akan ada liriknya?" tanya Lisa penasaran.


Minghao nampak berpikir sejenak. Ia ingin memberikan Lisa kejutan. Ia memandang Lisa dan mengedikkan bahu.


"Kau akan tahu nanti," jawab Minghao cuek.


"Sok misterius banget sih, cuma ada lirik atau engga doang," cibir Lisa.


Minghao tertawa, "ada kok, nanti aku yang nyanyi," Ia menepuk kepala Lisa perlahan, "Nanti aku kirim videonya kalau udah jadi ya,"


Lisa mengerjap. Ia selalu begini setiap Minghao berlaku lembut terhadapnya. Ugh betapa orang di depannya telah melakukan banyak dosa. Lisa kesal namun juga suka. Diam-diam ia berharap jika ini dapat berlangsung selamanya. Jika mungkin, sampai mereka menua nanti. Andai.


"Ayo, aku antar pulang,"


Lisa mengangguk. Mereka pun berdiri. Segala perlengkapan kamera telah Minghao simpan di dalam mobil begitu mereka selesai merekam video. Jadi mereka tinggal di sana lebih lama hanya untuk makan malam. Juga untuk menghabiskan waktu bersama lebih lama lagi.


"Lisa," Minghao menatap Lisa serius, "Boleh aku gandeng?" tangannya telah terulur menunggu Lisa menyambutnya.


Lisa menatap Minghao. Entah kenapa sikap Minghao kali ini membuatnya merasa cemas. Ia senang, tentu saja. Ia juga ingin berjalan bergandengan tangan dengan laki-laki setampan Minghao. Namun, entah kenapa ada rasa takut yang tiba-tiba hadir di hatinya. Lisa tidak mengerti. Namun, ia tetap meraih tangan itu. Ketika kedua tangan mereka saling bertaut. Baik Lisa dan Minghao, mereka menatap tangan itu. Dalam hati mereka merasakan hal yang sama. Jika saja waktu dapat dihentikan pada masa ini. Mereka ingin ada di momen ini selamanya. Andai tidak ada kata pisah di dunia ini. Bisakah mereka tetap begini saja?