
Pagi ini Lisa datang sedikit lebih pagi. Ia harus mengambil buku-buku paket, juga seragamnya. Keluar dari ruang tata usaha, Lisa sedikit sempoyongan. Bawaannya yang banyak dan berat membuatnya kesulitan berjalan lurus.
"Wei.. wei.." Deka dengan sigap menopang buku-buku tebal yang nyaris jatuh dari tangan Lisa.
"Hati-hati, lo gak apa-apa?" tanya Deka mengambil alih beberapa buku tebal itu.
"Eh, hai Lisa," Deka tersenyum semakin lebar saat tahu bahwa itu adalah Lisa.
"Ini mau dibawa ke loker?" Lisa mengangguk.
"Maaf ngerepotin," Deka hanya menunjukkan gesture bahwa ini bukan masalah besar. Ia pun mendahului Lisa berjalan menuju area loker kelas X.
"Gimana? Masih pengen bikin ekskul rebahan gak?" Lisa hanya tertawa mendengar candaan Deka.
"Ntar club dance aja yang gue sulap jadi ekskul rebahan," tawa Lisa belum reda.
"Ide bagus," jawab Deka sok serius. Dan detik berikutnya mereka tertawa bersama.
"Lo kelas berapa?" tanya Lisa.
"X-4" jawab Deka. "Lo sekelas sama Rose?" Lisa mengangguk.
"Lo pagi banget deh berangkatnya?" tanya Lisa tepat di depan pintu lokernya.
"Lagi kepagian aja, lagian gue hari ini mau tampil loh," jawab Deka sambil membantu Lisa memasukkan semua buku dan seragam itu ke dalam loker. Lisa hanya mengambil buku paket yang ia butuhkan hari ini saja.
"Tampil dimana? Kok Rose gak ngasih tahu apa-apa ya?" heran Lisa. Deka menggeleng.
"Gue solo," jawab Deka sambil tersenyum. "Lo tahu ga sih kalau padus kita tuh keren banget Sa," Mereka kembali berjalan menuju kelas.
"Kita udah sering dapet job dari luar. Kebetulan kali ini job solo," tambah Deka. "Lo mau gue nyanyiin gak?' Kini Deka menaik turunkan alisnya. Lisa berdecak sebal namun ia mengangguk.
Deka berdeham sebentar, lalu ia berjalan mundur sambil melihat Lisa. Ia menyanyikan lagu klasik ala-ala broadway. Tingkahnya jenaka, namun suaranya indah. Lisa pun merasa takjub namun juga ingin tertawa. Tingkah konyol Deka sangat tidak sesuai dengan karisma pada suaranya.
"Jadi tertarik ikut paduan suara?" tanya Deka di depan kelas Lisa.
Lisa pura-pura berpikir. Alisnya bertaut lucu. Matanya memandang Deka seolah mencari jawaban. Deka merasa tidak tahan dengan kegemasan yang ada di hadapannya.
"Memangnya gue bakal dapet apa kalo ikut padus?" tanya Lisa dengan cengirannya.
"Dapet ketemu gue sering-sering," jawab Deka ikut tertawa.
"Yeeeuu," Lisa mencebik gemas.
"Gue mau ikut," kini Lisa menjawab pasti. Deka langsung berubah sumringah.
"Gue juga ikut ekskul teater Sa," info Deka terdengar gak penting.
"Iya, nanti gue juga daftar ke sana," Lisa tertawa.
"Woaaahhh," heboh Deka.
"Apasih kalian ribut-ribut di depan kelas gue?" Rose menghampiri Lisa dan Deka yang nampak asik ngobrol berdua.
"Gue dong berhasil ngebikin Lisa mau daftar padus," sombong Deka. Rose membelalak tak percaya.
"Bukannya lo mau bikin ekskul rebahan Sa?" tanya Rose polos.
Asatagaa Rose,
...***...
Seperti apa yang telah dikatakan Deka sebelumnya. Lisa masuk tim alto. Saat sesi latihan, Lisa berdiri bersama tim alto. Namun, ia bersebelahan dengan tim soprano cowok. Alhasil Deka mengambil tempat di samping Lisa itu. Senyuman Deka mengembang.
Masih sama seperti hari sebelumnya, latihan hari ini lebih fokus pada latihan pernafasan, sedikit pemanasan lalu mencoba beberapa lagu. Deka nampak ceria. Lisa sendiri mengerling heran. Ada apa dengan Deka ini?
"Lisa pulang naik apa?" tanya Deka.
"Manis bener lo nanyanya?" cibir Rose. Deka hanya melotot sebal pada Rose, lalu kembali tersenyum manis pada Lisa. Melihat itu semuanya, Lisa pun tertawa.
"Woaahh Lisa ya," Rose membelalak tak percaya. Ternyata teman barunya ini frontal juga. Sedangkan Lisa hanya tertawa. Deka, mungkin sudah terbang.
"Lebih suka motor atau mobil?" tanya Deka.
"Apa aja," Lisa tersenyum.
"Bagus. Sekalian besok daftar ekskul teater ya," Lisa mengangguk setuju. Rose semakin membelalak,
"Yaa.. Lalisa, gue nawarin lo ekskul itu sampe jelek, lo kayak ogah-ogahan loh," Lisa menertawakan drama Rose. Ia pun menarik tangan Rose. "Udah ah, ayo pulang," ucap Lisa sambil melambaikan tangan pada Deka.
...***...
"Jadi ada apa antara lo sama Deka?" selidik Rose.
Lisa nampak berpikir sebentar. Bisa dilihat dengan jelas itu hanya akting untuk menggoda Rose. Melihatnya membuat Rose mencebik kesal.
"Aishh Lisa," decih Rose sebal.
"Belum ada apa-apa kok," jawab Lisa santai.
"Belum?" Lisa tertawa.
"Lo baru masuk selama dua hari Lisa," Rose menatap Lisa tak percaya.
"Iya Rose, makanya gue bilang belum," Lisa masih nampak santai.
"Deka itu lucu, tingkahnya absurd tapi tulus," Lisa menerawang.
"Gue suka sama kepribadian dia yang cerah. Seolah gak ada masalah yang berarti," jelas Lisa. "Menyenangkan" Lisa mengedip lucu. Rose menghela nafas jengah.
Ia menyetujui semua penilaian Lisa atas Deka, itu semua memang benar. Tapi apakah ini tidak terlalu cepat? Baru sehari kenal loh, yang benar saja?!
"Jadi lo bakalan PDKT sama Deka?" tanya Rose lagi.
"Engga," jawab Lisa lugas. "kalo memang harus ada yang PDKT, itu Deka, bukan gue," Lisa percaya diri.
"Daebak," Rose menggeleng tak percaya.
"Lo gak pengen nanya gitu sama gue?" tanya Rose lagi.
"Soal?" jawab Lisa tak mengerti.
"Ishh, emang lo mau beli kucing dalam karung?" Rose semakin kesal. Lisa malah tertawa.
"Gue belum kesemsem kok sama Deka, jadi biarin aja semuanya ngalir aja. Jadian apa engga, biar waktu yang jawab," Lisa nampak serius.
"Sok puitis lo," jawab Rose setelah beberapa detik terpaku. Lisa hanya tertawa saja.
"Deka anaknya emang ramah sih. Tapi, gue belum pernah liat dia main sama cewek," jelas Rose tanpa diminta. "Kalau pun Deka ngobrol sama cewek, bener-bener seperlunya aja," lanjut Rose.
"Baru kali ini gue liat Deka ngobrol akrab sama cewek," Lisa melihat Rose tak mengerti.
"Tadi pagi, di depan kelas. Kalian bahkan ketawa bareng. Lo bisa liat ga sih tingkah malu-malu Deka?" Rose berdecih.
"Kalau bukan karena tahu kalian baru kenal dua hari, gue pasti ngira kalian lagi pacaran," lanjut Rose sembari terus menatap jalanan lurus di depannya. Lisa merenung sebentar sebelum ia tersenyum.
"Sekarang, gue rasa, gue udah gak beli kucing dalam karung lagi," canda Lisa sambil mengerling ke arah Rose.
"Santai banget sih Lis idup lu," Rose pun merasa sebal.
"Ini menyenangkan," Lisa tertawa. Rose geleng-geleng kepala, namun detik berikutnya ia juga tertawa.
Apa yang bisa dijelaskan dari hubungan Lisa dan Deka? Aneh, tak lazim, jahat? Cinta pandangan pertama? Tidak ada yang tahu apa isi hati manusia. Mobil masih melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Lisa. Namun, Lisa dan Rose sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.
...****************...