SEVENTEEN

SEVENTEEN
DK - 5



"Halo," Suara Lisa kentara sekali baru bangun tidur.


"Lisa, gue udah mau jalan ke rumah Rose. Lo mandi sekarang, ntar gue anterin balik sebelum ke sekolah, okay," kata Deka to the point.


Sesuai janji, pagi-pagi lepas subuh, Deka telah menjalankan mobilnya menuju alamat Rose. Jalanan sudah cukup ramai meski matahari bahkan masih malu-malu.


Lisa mencerna sejenak kalimat yang baru saja di dengarnya. Sesaat kemudian ia sadar bahwa ia harus bergegas. Ia membangunkan Rose sebelum beranjak ke kamar mandi.


Lisa dan Deka saling diam. Sebenarnya keduanya masih mengantuk. Lisa melihat Deka seperti kurang tidur. Ia menghela nafas sebentar, memaksa matanya untuk terbuka sepenuhnya.


"Dekaaaa.." panggil Lisa random. Deka pun bingung, ni cewek di sebelahnya kenapa? Sedangkan Lisa nyengir aja sambil terus ngeliatin Deka.


"Kenapa Lis? Bikin takut tau lu," jawab Deka bercanda.


"Ishhh," cengiran Lisa mendadak hilang. "Tapi makasih ya lo udah repot-repot anter jemput gue," ucap Lisa akhirnya. Deka hanya tersenyum. Ia menggusak kepala Lisa.


"Lo masih ngantuk kan, tidur dulu aja," ucap Deka sambil ngeliat maps dan jalan.


"Nope," jawab Lisa spontan. "Masa lo sibuk nyetir, gue nya malah enak-enakan tidur," kata Lisa selanjutnya.


"Trus gimana? Udah jadi?" tanya Deka akhirnya. Lisa mengangguk.


"Sebagian koreonya juga udah ada. Harusnya hari ini udah bisa mulai latihan," kata Lisa selanjutnya.


"Kan gue belum bikin lagunya," ucap Deka.


"Gak apa-apa, Biar mereka latihan yang udah ready dulu aja. Lagian lagu cuma dipake di tengah-tengah performance doang. Harusnya gak masalah," ucap Lisa.


...***...


Di ruang teater yang cukup besar, beberapa orang telah berkumpul. Pemilihan anggota yang tampil sudah ditentukan dari hari sebelumnya. Di sini, Lisa lah yang menjadi putri yang terkekang, karena Lisa dianggap paling bagus dancenya. Saat ini, mereka sedang melatih dance intro cerita. Rupanya cara mengajar Lisa cukup ketat. Bagi Lisa, sesederhana apapun acara yang menampilkan performance mereka wajib dihargai. Caranya adalah dengan memberikan penampilan terbaik yang bisa mereka berikan. Deka pun terkagum pada pemikiran dewasa Lisa. Ia kini tahu betapa Lisa adalah superstar yang sesungguhnya.


Latihan berjalan cukup lancar. Karena gerakan yang mudah, para anggota yang tampil sudah menghapalnya. Deka sendiri juga telah menyelesaikan lagunya. Dibantu oleh Rose, Deka mencoba menunjukkan hasil karyanya pada Lisa. Dan Lisa juga perlu merancang koreo lagi untuk bagian Deka tersebut.


"Jadi berasa nonton disney live deh," ucap salah seorang anggota teater di belakang Lisa. Lisa tersenyum. Deka kerennya jadi nambah berkali lipat kalau lagi tampil. Penampilannya yang sweet juga memberikan kesan tersendiri, bikin susah dilupain.


"Okay, latihan hari ini cukup di sini aja," ujar ketua ekskul teater setelah mendapat bisikan Lisa untuk menyudahi sesi latihan hari ini.


"Makasih kalian udah berusaha keras tadi, semuanya udah okay, tinggal ekspresinya aja lebih ditingkatkan lagi ya," tambah Lisa sembari membungkuk sopan.


...***...


Lisa sedang menatap cermin di kamarnya. Ia beberapa kali mencoba membuat koreo yang sesuai dengan jalan ceritanya. Setelah percobaan beberapa kali, akhirnya Lisa telah menemukan gerakan yang paling pas. Ia pun merekamnya untuk dokumentasi.


Malam cukup larut. Badan Lisa lelah sepenuhnya. Keringat yang masih menetes membuat Lisa ingin mandi. Jika ada yang bilang, mandi malam tidak baik untuk kesehatanmu, maka Lisa mengatakan pada dirinya jika ia tidak mandi malam, tapi dini hari.


"Lisa," Deka berlari menghampiri Lisa yang hampir sampai di kelasnya. Wajah Lisa nampak lelah.


"Bolos jam pertama yuk," ajak Deka iseng. Tangan Lisa pun langsung ditarik Deka menuju taman belakang sekolah. Taman yang menghadap lapangan basket.


"Abis ngapain sampe keliatan capek gini?" tanya Deka begitu mereka telah duduk di pojokan yang sulit terlihat dari area sekolah.


"Bikin koreo," jawab Lisa. "Deka gue masih anak baru gila, ntar gue dihukum gimana?" tanya Lisa menatap heran atas tingkah Deka.


"Tenang aja, lo lagi bareng gue si anak kesayangan guru," kata Deka sambil nyengir tanpa dosa. Lisa hanya geleng-geleng kepala. Jujur ia masih ngantuk.


"Tidur sepuluh menit cukup?" tanya Deka tiba-tiba.


"Ha?" Lisa bingung


"Sini" Deka membawa kepala Lisa pada bahunya. Beruntung Deka memiliki tubuh yang lebih tinggi dari Lisa. Ia bisa menjadi sandaran kepala Lisa dengan cukup nyaman tanpa membuat Lisa terlalu menunduk yang bisa membuat leher pegal.


"Tutup matanya" ucap Deka sambil menoleh pada Lisa. Namun yang dilihat Deka ternyata Lisa memang sudah menyamankan dirinya sendiri. Bahkan nafas Lisa yang mulai teratur menandakan jika Lisa mulai bermimpi. Deka tersenyum. ***** ternyata, begitu batin Deka.


Sepuluh menit berlalu dan Deka sengaja tidak membangunkan Lisa. Hingga nada dering dari ponsel Lisa yang berada di tasnya membuat Lisa terjaga dengan sendirinya.


"Halo,"


"Lahh, lo baru bangun?" ucap Rose takjub. "Gila lo ya, ini udah jam berapa Lisa?!" Rose menyangka Lisa masih di rumahnya.


"Iya, kenapa?" Lisa telah duduk sempurna, tak lagi bersandar pada bahu Deka. Deka hanya mengamati Lisa yang sedang menerima panggilan tersebut.


"Emang lo ga ke sekolah?" tanya Rose lagi. Ia panik karena di jam kedua mereka akan ada quis, sedangkan LKS Rose ada pada Lisa. Akibat kesibukan mereka, Rose tak sempat belajar.


"Sekolah kok, ini gue udah di sekolah sebenarnya," jawab Lisa masih dengan suara bangun tidurnya.


"Aaahh, lo mau ambil LKS lo ya? Lo belum belajar kan?" tebak Lisa. "Mending susulin kita ke taman belakang deh, yang deket lapangan basket," ucap Lisa selanjutnya.


Rose pun langsung bangun dan berlari menuju taman belakang. Di dalam hatinya ia sedikit heran dengan tingkah Lisa. Belum seminggu sekolah tapi udah bolos. Beruntungnya Lisa jam pertama ini kosong. Terus apa tadi Lisa bilang? Kita? Lisa sama siapa? Deka? Wah Deka emang pengaruh buruk. Batin Rose geram.


"Astagaa Lisa, lo gila ya, gue udah deg-degan gue pikir lo ga masuk," oceh Rose begitu tiba di hadapan Lisa.


"Kalo belajar di kelas pasti berisik kan karena jam kosong, mending di sini aja, hehe" jawab Lisa asal. Di hadapannya buku LKS Rose sudah terbuka, Lisa bahkan sudah selesai mengerjakan dua soal selama menunggu Rose.


Rose mengerling tajam pada Deka. Ia tahu, ini memang akal-akalan Deka. Lagian Lisa tahu darimana ada tempat tersembunyi begini? Deka yang merasa dituduh, hanya menampakkan cengiran khasnya.


"Laper lo, marah-marah mulu perasaan," Deka sepertinya tak sabar memancing keributan yang lebih besar.


"Waahhh," Rose sudah mulai mengambil ancang-ancang. Lisa menarik lengan Rose untuk duduk, memberikan pulpen dan selembar kertas, "Kerjain ini dulu deh," ucap Lisa sembari memperlihatkan satu soal di LKS-nya.


...****************...