SEVENTEEN

SEVENTEEN
Seungcheol - 4



"Iiihhsshhh..!! Berhentii,"


Lisa kesal, pasalnya Seungcheol tak berhenti mencubit pipinya. Wajah kusut Lisa, khas bangun tidur memang nampak menggemaskan. Bahkan rambutnya yang kusut berantakan membuat Lisa terlihat semakin imut dan manis. Piama kuning yang ia kenakan juga sedikit kusut.


"Abisnya kamunya gemesin banget,"


Lisa duduk di sofa ruang tamunya. Ini adalah hari minggu pagi, saat yang tepat bagi Lisa untuk bangun siang. Tapi pacar 'kesayangannya' ini malah mengganggu pagi indahnya.


Sesekali Lisa masih menguap, matanya juga sesekali terpejam. Ia benar-benar masih sangat ingin tidur. Namun, Lisa masih sopan untuk tidak meninggalkan tamunya begitu saja.


Seungcheol yang melihat sang pacar masih ingin tidur pun mengusap lembut kepala Lisa. Ia duduk di samping Lisa dan meminta Lisa untuk tidur lagi sambil bersandar pada bahunya. Lisa tahu jika Bang Ian sangat menyukai Seungcheol. Ia tak akan keberatan melihat Lisa sangat dekat dengannya. Namun, Lisa lah yang merasa malu. Ia pun duduk dengan benar.


"Jadi, kenapa pagi-pagi banget udah di sini?"


"Kangen,"


Senyum Seungcheol nampak sangat manis. Lisa terkesiap melihatnya. Meski mereka telah bersama sejak lama, Lisa masih selalu berdebar melihat senyum itu. Senyum Seungcheol adalah definisi senyum manis namun jenaka yang keluar dari hati yang baik dan tulus. Ah ya, hanya jika kau mengerti maksudku.



Lisa mengerutkan keningnya, heran. Kepalanya miring sedikit. Matanya menatap curiga ke arah pacarnya. Seungcheol hanya tertawa sambil menggusak kepala Lisa gemas.


"Aku ada wawancara jam sepuluh nanti,"


"Wawancara?" Lisa bingung, "Wawancara apa?"


"Aku harus presentasiin penelitian buat skripsiku nanti," Seungcheol mulai menegakkan badannya. Ia takut Lisa merajuk karena ia tak memberitahu Lisa tentang ini sejak awal.


"Skripsi? Wait what?" Lisa makin merengut bingung.


"Yaa, aku apllied beasiswa dan em," Seungcheol mulai menunduk, mempersiapkan diri atas apapun tanggapan Lisa nanti.


"Beasiswa di luar?!!" Lisa sangat terkejut. "Secepet ini?" Lisa tersadar bukan itu yang paling menyebalkan, "Ah tunggu, sejak kapan?!" terlalu banyak hal yang menjejal di kepala Lisa. Sehingga dia hanya bereaksi aneh. Ia harap Seungcheol mengerti maksudnya.


"Iya, maaf ga ngasih tau sejak awal.. Aku tadinya cuma iseng daftar LPDP, ternyata lulus seleksi awal," Seungcheol menjelaskan takut-takut.


"Negara mana?" tanya Lisa tanpa basa-basi.


"Jerman,"


Lisa mengusap wajahnya kasar. Kepalanya pening. Ia sedih jika harus berpisah, tentu saja. Memang siapa yang mau pisah sama orang yang disayang. Tapi, ini tentang masa depan Seungcheol, Lisa gak bisa egois.


"Lisa ya," Seungcheol memanggilnya dengan suara kecil yang menggemaskan, "Sayang,"


Seungcheol langsung menunduk kembali begitu mendapat pelototan dari Lisa. Meski Seungcheol galak, tapi ia takut juga jika pacarnya marah.


"Belum tentu juga mereka suka sama hasil wawancaranya kan?" tawar Seungcheol akhirnya.


Tentu saja itu kesalahan besar. Kini Lisa justru berkacak pinggang di depannya. Ia telah siap memuntahkan segala macam ceramah ala emak-emak mana pun yang pernah ada di dunia ini. Seungcheol pun semakin menciut.


...***...


Seorang laki-laki sangar, menyambut Lisa di depan rumahnya. Tatapannya tajam melihat Lisa pulang dengan cowok. Namun, cowok yang mengantar Lisa malah terlihat santai. Ia turun dari motor dan malah menghampiri entah siapa pun yang sedang menunggu Lisa tersebut.


"Bang Ian, kenalin," Lisa memberi salam pada kakaknya yang terlihat garang tersebut, "ini kakak kelas, ah, ketua OSIS di sekolah Lisa,"


Seungcheol tersenyum dan menyalami Ian. Bahkan dengan santai ia menatap mata tajam Ian yang sama sekali tak menunjukkan persahabatan. Hal ini tentu membuat Ian terkejut. Lisa pun cukup takjub bagaimana kakak kelasnya ini bisa sangat berani. Biasanya teman-temannya udah kabur duluan bahkan ketika hanya mendengar suara Ian.


"Halo Bang, kenalin, Seungcheol," Mereka bersalaman. Nampak aneh, karena Seungcheol tersenyum ramah dan Ian menatap tajam namun ada keheranan di sana. Melihat itu, Seungcheol malah tertawa.


Bagi Seungcheol seorang kakak laki-laki atau seorang ayah yang galak itu hanya karena terlalu sayang dengan adik atau putrinya saja. Tak ada yang perlu ditakuti dari itu. Toh dia tak ada niat jahat apa pun. Apa yang salah dengan mengantar pulang, adiknya juga nyampe dengan aman. Sungguh pemikiran seorang alpa leader.


Namun, karena sikap Seungcheol inilah yang malah membuat Ian percaya padanya. Ia yakin jika sang adik akan dijaga dengan baik. Seungcheol tak hanya sekedar berani, namun ia juga dewasa. Semua terbaca dari sikapnya ini. Bahkan keberanian yang Seungcheol tunjukkan juga tak membuatnya terlihat sombong atau tengil yang menyebalkan. Inj membuat Ian atau pun Lisa tak bisa tak kagum pada Seungcheol.


...***...


"Kak,"


Seungcheol berjengit aneh mendengar panggilan Lisa. Ia tak pernah menggunakan sapaan sopan itu padanya. Ia pun menoleh ke arah pacarnya yang kini nampak lesu.


"Aku tahu kamu gak pernah main-main sama apa yang lagi kamu kerjain," Lisa memainkan ujung baju Seungcheol yang terdekat dengannya, "walaupun kamu bilang iseng, tapi aku tahu kamu tetep ngerjainnya dengan sungguh-sungguh,"


"Apa pun hasilnya nanti, tetep lakuin yang terbaik ya," Lisa masih menunduk. Sebagian hatinya mendadak merasa sendu, namun sebagiannya merasa bangga bisa memiliki pacar sekeren pacarnya kini.


"Aku bakal dukung apapun itu,"


Seungcheol menarik Lisa ke dalam pelukannya. Bukan hanya Lisa yang bangga memiliki pacar seperti Seungcheol. Seungcheol sendiri tak kalah bangga dengan kedewasaan Lisa. Jarang sekali anak bungsu yang memiliki pemikiran sedewasa ini. Yah walaupun Lisa tetap manja, namun semuanya justru terasa lucu.


"Doain yang terbaik aja ya,"


Lisa mengangguk di dada Seungcheol. Tangan Seungcheol masih mengusap kepalanya lembut. Tentu saja, mereka tak ingin menjauh dari satu sama lain. Tapi, jika itu adalah hal yang baik bagi masa depan mereka, mereka hanya bisa terus tumbuh dewasa dan saling menggenggam entah secara langsung atau tidak.


"Kalau kamu lulus, nanti aku nyusulin," Kata Lisa masih didekapan Seungcheol, "Aku bakal belajar yang rajin banget,"


Seungcheol tersenyum mendengar ucapan kekasihnya ini. Pagi ini adalah pagi termanis bahkan sejak awal mereka pacaran. Mungkin ia harus mencatatnya di kalender. Apakah harus ada perayaan?


"Aku laper," ucap Lisa tiba-tiba.


Hal itu tentu mengundang tawa Seungcheol. Mereka saling melepaskan pelukan satu sama lain.


"Masih ada waktu, mau makan apa?" tanyanya lembut. Seungcheol menyelipkan helaian rambut Lisa ke telinganya. Pacarnya memang sangat cantik.


"Nasi uduk depan komplek tuh enak, makan di sana aja yuk," ajak Lisa tiba-tiba. Seungcheol hanya mengangguk.


"Pake hoodie ya," Ia tak mau penampilan imut Lisa ini menjadi tontonan banyak orang. Lisa hanya mengangguk saja.


...****************...