SEVENTEEN

SEVENTEEN
DK - 3



Jam kosong di pelajaran terakhir itu menyenangkan. Karena kalau belajar, biasanya suka ngantuk. Entah ada masalah apa, guru-guru diminta rapat bersamaan di jam terakhir ini. Kelas Lisa sudah membuat kegaduhan, begitu pula kelas Deka.


"Lis ke ruang musik aja yuk, pusing gue denger teriakan mereka," ajakan Rose pun dianggukin oleh Lisa.


Sementara di kelas Deka, beberapa anak, termasuk Deka, sedang bermain hongsam game. Permainan saling tunjuk yang biasanya berujung kericuhan. Apalagi kali ini hukumannya adalah push up. Males banget tengah hari bolong musti push up.


Saat sedang heboh saling tunjuk, Deka tak sengaja melihat Lisa dan Rose yang melewati kelasnya. Keduanya nampak ngobrol santai. Deka yang hilang konsentrasi pun terkena hukuman. Namun, Deka tidak peduli. Ia kabur menyusul dua gadis yang tadi dilihatnya.


"Hai, mau kemana?" ujar Deka sembari mengejar dua gadis itu.


"Abis ngapain lu keringetan gitu?" Rose mendelik.


"Abis push up," cengir Deka dengan tampang polosnya. Sementara Lisa udah ketawa. Ngapain siang-siang panas gini malah push up?


"Kalah main game gue, itu hukumannya," jelas Deka tanpa ditanya.


Mereka bertiga berjalan beriringan di koridor sekolah. Sesekali mereka saling melempar candaan, terutama Lisa dan Deka. Anak dua ini bagaikan kembar beda wajah emang. Sama-sama konyol, lucu dan menyenangkan. Rose sendiri udah sakit perut karena tertawa mulu.


Di ruang musik, dimana biasanya mereka latihan paduan suara di sini, mereka bertiga masuk dengan santainya. Deka menuju gitar akustik, ia memetik beberapa nada. Rose menuju keyboard dan menyalakannya. Lisa hanya duduk mengamati dua orang penggila musik di depannya.


Bagi Lisa, melihat Deka yang kesehariannya sangat konyol, akan menjadi berbeda jika Deka sedang di atas panggung. Karismanya luar biasa. Seperti ada manis-manisnya. Lisa pun tersenyum membayangkan Deka ketika tampil.


"Nge-jam aja yuk," ajak Deka tiba-tiba.


Lisa dan Rose semangat menanggapi ajakan Deka. Mereka pun mendiskusikan ingin cover lagu apa. Lalu mencocokkan nadanya. Serta diskusi masalah pembagian porsi lagu serta pembagian suara ketika mereka musti nyanyi bareng. Telah diputuskan mereka akan membawakan lagu seventeen berjudul 'clap' atau baksu.


Rose mengulik lagu baksu di keyboard-nya. Ia meng-aransemen sedikit mengingat keterbatasan alat musik yang bisa mereka mainkan saat ini. Setelah penyesuaian nada selesai, Rose segera meneriakkan kata, "Okay, siap,"


Musik dimainkan, masing-masing telah siap dengan mikrofon masing-masing. Rose di depan keyboard, sibuk memindah-mindahkan tangannya mengikuti kunci lagu. Lagu diawali oleh suara Lisa, saat itu Lisa terdengar swag and sassy. Lalu disambut oleh suara Rose yang merdu.


Anak-anak dari kelas yang lokasinya paling dekat dengan ruang musik mulai berdatangan. Mereka ingin tahu, siapa yang sedang nyanyi. Meski suaranya tak cukup keras, namun cukup membuat mereka ingin tahu.


Saat ruang musik mulai dipenuhi oleh para murid, membuat adrenalin Lisa, Deka dan Rose naik. Acara jaming dadakan ini menjadi lebih menyenangkan. Semuanya bertepuk riuh mendengar suara tinggi Deka. Lalu, Lisa nge-rapp. Teriakan mereka pun tak terelakkan. Di bagian interlude, Lisa menarikan dance baksu dengan apik. Terutama dibagian heart sign dengan jarinya disertai liukan tubuh Lisa yang swag abis, membuat heboh penonton. Belum habis di sana, penampilan Lisa disambut dengan suara Deka yang nadanya mulai tinggi. Semua orang menjadi terkagum-kagum. Siapa yang percaya jika tampilan mereka saat ini spontanitas semata?


Jika biasanya cewek susah meng-cover lagu cowok, ini tidak terjadi berkat kepiawaian Rose. Ia telah menyesuaikan nada dasarnya sehingga lagu tersebut menjadi lebih bersahabat bagi pita suara mereka bertiga. Juga, jangan lupakan range vokal Deka yang lebar. Mungkin itu kunci kesuksesan cover mereka saat ini.


Di saat reff terakhir, Rose mengajak semua yang ada di sana untuk bernyanyi bersama. Acara cover dadakan ini menjadi meriah. Saat lagu berakhir, gemuruh tepuk tangan tak bisa di bendung. Hal itu menciptakan senyum bahagia di wajah Lisa, Rose dan Deka. Bahkan teriakan 'we want more' mulai terdengar. Mereka pun terus bersenang-senang di ruang musik hingga jam pulang berdentang.


...***...


"Jadi kan hari ini balik bareng gue?" tanya Deka pada Lisa saat mereka bertemu di depan kelas Lisa. Lisa hanya mengangguk.


"Kalo gitu gue duluan," Rose melenggang pergi.


Lisa dan Deka beriringan menuju tempat parkir. Hari ini, Deka sengaja membawa mobil agar lebih nyaman ngobrol bareng Lisa selama di jalan. Mereka tak hentinya bercanda, tertawa bersama hingga orang-orang yang melihat mereka seolah tersihir dan ikut tersenyum. Meskipun sesungguhnya mereka tidak tahu apa yang lucu.


"Lo tadi nge-rapnge-rap nya bagus banget deh," celoteh Deka lagi.


Kurang lebih seperti itulah pembahasan mereka sepanjang jalan ini. Deka telah melupakan satu hal. Bahwa seharusnya ia ada ekskul teater hari ini dan Lisa harus mendaftar ekskul teater juga hari ini.


"Deka, lo kayak ngerasa ada lupa apa gitu gak?" tanya Lisa.


Deka berpikir sebentar. Mukanya yang polos nampak lucu. Lisa sendiri bukannya bantu inget-inget apa yang lupa, dia malah asik ngeliatin Deka. Deka memiringkan kepalanya sedikit, ia merasa tak yakin.


"Gue ga inget," Deka menoleh pada Lisa dengan muka cengo, polos, mengundang tawa.


"Aaahhhh...!!!" Deka melotot, kali ini ia bertingkah ekstrim. Lisa semakin tak tahan untuk tidak tertawa pada tingkah Deka. Namun ia juga sebal karena suara besar Deka mengagetkannya.


"Ekskul teater, Lisaa," seru Deka panik.


"Masa mau puter balik?" tanya Deka drama.


"Ya, terus emangnya lo mau bolos ekskul?" tanya Lisa balik.


"Bolos aja jangan?" tingkah Ragu Deka membuat gemas Lisa.


"Yaudah bolos aja,"


"Okay gue puter balik,"


"Hahh?!!"


Lisa tercengang. Anak ini kalau lagi panik lucu banget deh, jadi pengen jambak. Begitulah pikiran Lisa. Alhasil mereka pun kembali menuju ke sekolah. Tujuan utama Deka adalah untuk mendaftarkan Lisa ke ekskul tersebut. Lagi pula, jika sedang tidak ada pentas apa pun, mereka biasanya cenderung lebih santai. Bahkan mungkin tak melakukan apa pun di sana.


"Eh Lis, bukannya Rose anak teater juga ya?" Deka ingat jika tadi Rose langsung pulang saat berpisah dengan mereka.


"Tau tuh, lupa juga kali," jawab Lisa seadanya.


"Lahh gimana, pikun dia?" tawa Deka menggelegar.


"Yeeu ngaca Dekaaa," jawab Lisa. Pembelaan Lisa atas dirinya yang juga lupa adalah wajar, kan dia anak baru. Lisa merasa belum hapal betul dengan jadwal-jadwal ekskul sekolah itu kan. Alasan yang bagus bukan?


"Tanyain coba," pinta Deka. Liaa pun ngeluarin Hp dan men-dial nomor Rose.


"Lo ga teater?" tanya Lisa setelah telepon tersambung. Sama sekali tidak ada basa-basi.


"Lah iya, gua lupaaa.." saking kencengnya suara Rose, Deka yang ada di samping Lisa pun ikut mendengar teriakan Rose tersebut. Deka dan Lisa pun tertawa keras.


...****************...