SEVENTEEN

SEVENTEEN
Vernon - 2



Vernon telah duduk di meja dapur sejak satu jam yang lalu. Tanpa bergerak. Ia masih terpaku pada hasil jepretannya beberapa minggu yang lalu. Di layar laptopnya, nampak seseorang yang sangat karismatik namun juga manis.


"Lisa,"


Vernon tak sengaja menggumam. Sejujurnya ia sedang frustasi. Bayangan Lisa tak pernah bisa hilang dari pikirannya. Juga kisah memalukan yang mengawali perkenalan mereka.


Telepon berdering, memaksa Vernon untuk bergerak dari tatapannya pada layar laptop itu.


"Ya,"


...


"Baiklah, akan aku periksa,"


...


"Baik, terimakasih,"


Sebuah gig baru. Beruntung, teman Vernon mendadak berhalangan untuk mengerjakan pekerjaan ini. Vernon jadi ketiban rejeki. Vernon memeriksa email calendar invitation-nya. Bagus, jadwalnya memang kosong. Tak membutuhkan waktu lama bagi Vernon untuk mengkonfirmasi kehadirannya pada undangan tersebut.


...***...


"Vernon kan?" Lisa tersenyum sembari melambai ceria. Vernon sangat terkejut. Bagaimana bisa ada Lisa di sini. Kebaikan macam apa yang pernah ia lakukan sehingga mendapatkan keberuntungan sebegini rupa? Vernon ingin tahu.


"Lisa," Vernon tersenyum, terlihat sangat tampan.


"Kok di sini?" tanya Lisa.


"Gue photographer utama buat acara ini," Vernon menjelaskan. "Lo sendiri?" tanya Vernon.


"Ah.. Ini acara gue," Lisa tersenyum senang. "Gue lihat hasil photo l lo untuk majalah sekolah waktu itu, lo photographer yang bagus banget," ucap Lisa tulus. "Jadi, kayaknya gue gak perlu khawatir dengan hasil photoshoot hari ini kan?" tanya Lisa sambil mengedipkan matanya. Tapi Vernon tahu jika Lisa memujinya sepenuh hati. Pekerjaannya membuatnya pandai mengamati ekspresi orang. Ia cukup bisa membedakan apa-apa yang tertera di wajah lawan bicaranya. Termasuk Lisa saat ini.


"Ah haha thank you pujiannya, btw, gue masih gak enak banget soal sikap kasar kami waktu itu," ucap Vernon malu.


"Yahh Vernon, udahlah," Lisa tertawa.


"Btw, lo keren banget.. Design baru?" tanya Vernon. Lisa mengangguk. "Jangan bilang lo juga yang jadi model utamanya?"


"Lumayan kan buat hemat budget," Lisa tertawa.


Vernon tertawa. Meski Lisa memiliki karisma kuat yang meluap, nyatanya dia seperti gadis SMA lainnya, penuh semangat dan ceria. Hal itu hanya menambahkan rasa kagumnya pada Lisa.


...***...


Vernon sedang termenung di depan sebuah rubik di mading sekolahnya. Bagaimana bisa rubik ini bisa ada di mading? Informasinya bagus, tapi rasanya tidak ada urusan dengan sekolahnya bukan? Seberapa pun membanggakannya prestasi Lisa, ia bukan siswa SMA ini. Jadi, buat apa?


"Gimana tulisan gue?"


Vernon menoleh pada suara yang mengajaknya bicara. Ia hanya tertawa. Lalu melangkah menjauhi mading.


"Ih Vernon, kok gue ditinggal,"


"Lo kenapa dah? Berita soal Lisa kok dimuat di mading kita sih?" Kini Vernon menghadap ke Rose dengan rasa geli di wajahnya. Vernon tahu, pesona Lisa juga telah membius Rose.


"Yaahh.. Biar bisa jadi motivasi gitu buat anak sini," Rose mengedikkan bahunya. Ia hanya ingin menulisnya. Makanya cuma di mading, bukan di majalah sekolah.


"Gue minggu lalu ketemu dia," Vernon iseng.


"Hah?!! Kok bisa?" Rose menghentikan Vernon yang sepertinya ingin pergi.


"Kan gue yang jadi photographer di showcase launching design terbarunya kemarin," pamer Vernon.


Rose merengut. Ia jelas iri. Ia ingin ikut. Rose pengen ketemu lagi sama Lisa. Walaupun mereka seumuran, tapi rasanya Lisa sudah melesat jauh meninggalkan Rose.


"Yaudah, nanti kita nongkrong bareng yuk. Ajakin Lisa," ajak Vernon. Semenjak acara showcase kemarin, Vernon dan Lisa cukup sering berkomunikasi. Awalnya tentang pekerjaan, tapi akhir-akhir ini Vernon lebih sering membahas hal-hal yang lebih pribadi.


"Hah? Emang bisa?" Rose kaget.


"Bisa dong," sombong Vernon.


...***...


Sabtu malam di kota itu nampak ramai oleh muda mudi. Beberapa bergerombol bersama teman-teman, ada juga yang berpasangan. Vernon dan Rose sedang duduk di sebuah kafe di sudut jalan. Kafe-nya kecil dan cenderung sepi. Sangat berkebalikan dengan suasana di tempat lain yang ramai dan penuh hingar-bingar ibu kota.


"Lisa masih lama?" seperti seseorang yang rindu, Rose tak sabar menunggu kedatangan Lisa.


"Masih ada 15 menit dari waktu janjian kok. Jadi sabar aja, okay?"


Rose mengangguk. Ia dan Vernon sesekali mengomentari hal-hal yang terjadi di hadapan mereka. Semacam obrolan basa-basi pembunuh waktu. Mereka sesekali bercanda. Namun tak jarang mereka terdiam bersama hp masing-masing.


"Hei, malah pada sibuk sama hp gini sih?" Lisa datang mengejutkan mereka.


"Hai, Lisa," Rose nampak sumringah.


Lisa bersalaman bergantian antara Rose dan Vernon. Lalu ia mengambil tempat duduk diantara keduanya. Beberapa menu telah di pesan. Hanya camilan, karena jam makan malam telah lewat.


"Btw, Rose, lo mau ga jadi model gue ga?" ucap Lisa tiba-tiba.


"Senin besok, harusnya gue pemotretan buat katalog butik gue. Tapi, modelnya tiba-tiba gak bisa hadir," terang Lisa.


"Sedangkan gue sendiri udah ada jawal lain," Lisa masih menjelaskan.


"Soal kontrak dan harga, nanti kita bisa obrolin," lanjut Lisa.


Rose masih merasa terkejut. Bagaimana tidak? Siapa yang bakal nolak sih kerja sama bareng Lisa begini? Bahkan Rose rela-rela aja kalau gak dibayar. Hingga Rose terdiam kelu, ia merasa mendadak lemot. Ia merasa sulit percaya dengan kalimat Lisa.


"Rose, gak mau kah?" Lisa menatap Rose heran. Kenapa Rose hanya diam gitu?


"Mau.. Mau.." Rose mendadak antusias. Lisa tertawa melihat tingkah menggemaskan Rose. Begitu pula dengan Vernon.


"Untuk kontraknya ntar gue kirim ke email ya, lo bisa diskusiin ke gue kalo ada poin yang kurang pas," lanjut Lisa.


Rose mengangguk senang. Selain tiba-tiba dapet job, ia juga bisa punya alasan buat ngobrol lebih banyak bareng Lisa. Rose merasa kagum dengan Lisa.


"Well, girls, kalian ga lupa sama gue kan?" Vernon menyela.


Lisa dan Rose pun menoleh ke arah Vernon. "Well, sorry," ucap Lisa gemas.


...***...


"Lisa gue anter pulang ya," ucap Vernon setelah Rose berpamitan. Ia masih belum puas berinteraksi dengan Lisa. Bagaimana pun, selama mereka nongkrong bertiga, obrolan lebih didominasi oleh Rose dan Lisa. Vernon bisa memaklumi dunia cewek. Namun, sungguh, ia juga ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Lisa.


Lisa nampak berpikir sebentar. Yahh mungkin memang tidak ada salahnya pulang bersama Vernon. Ia juga memang tak membawa kendaraan. Ia pun mengangguk setuju.


"Mau pulang sekarang?" tanya Vernon.


Lisa memiringkan kepalanya dengan tatapan bertanya. Namun, Vernon hanya tersenyum saja. Ia terlihat sangat tampan memang. Apakah ia harus mengiyakan atau menuruti apa yang Vernon pikirkan? Lisa sedang mempertimbangkannya.


Mereka berdua pun tertawa bersama. Seolah sudah saling tahu apa yang sedang dipikirkan masing-masingnya.


"Komando di tanganmu, Nona cantik," Vernon menengahi.


"Baiklah, gak ada salahnya jalan-jalan sebentar," Lisa tersenyum.


...****************...