SEVENTEEN

SEVENTEEN
DK - 10



Sudah seminggu berlalu sejak Deka dipanggil kepala sekolah, lalu ia seolah menghilang. Lisa bahkan tak bisa menghubungi nomor Deka. Bodohnya, ia selama ini tak tahun dimana Deka tinggal. Selama ini, Lisa merasa Deka akan selalu berjalan ke arahnya. Hingga saat Deka pergi, Lisa kehilangan arahnya.


Seolah tak terjadi apa pun, sekolah berjalan seperti biasa. Quis dadakan, PR, tugas kelompok, dan lainnya. Lisa sudah tak terlalu aktif dengan ekskulnya. Terutama sejak Deka juga sudah tak ada. Karena dari awal, Lisa memang ikut itu semua untuk Deka. Anehnya, bahkan guru-guru tidak ada yang membahas Deka. Wali kelasnya pun cuek, seolah tak pernah ada nama Deka di absennya.


Lisa tak tahu apakah ia harus bertanya atau tidak. Lalu apa yang harus ia tanyakan? Apakah ia hanya tinggal bertanya, 'Pak, Deka dimana?' Rasanya itu aneh.


Rose yang melihat perubahan sikap Lisa mengerti kehilangan yang dirasakan sahabatnya. Namun, yang membuatnya berat adalah, Rose seolah kehilangan dua teman sekaligus. Deka dan Lisa. Lisa, meskipun selalu ada di dekatnya, namun ia telah menjadi pribadi yang sama sekali berbeda. Hingga minggu berganti bulan dan terus bergulir hingga semester pertama berlalu begitu saja.


...***...


"Bapak manggil saya?" Deka memasuki ruang kepala sekolah dengan menunduk sopan.


"Oh, silahkan duduk nak," kepala sekolah menghampiri Deka sambil membawa berkas, entah apa isinya.


"Baik Deka, bapak akan langsung pada intinya saja," lanjut kepala sekolah sambil mendudukkan dirinya pada kursi miliknya.


"Waktu kamu tampil di acara perpisahan anak kelas dua belas, ada seorang wali murid yang melihatmu," Kepala sekolah benar-benar tidak basa-basi lagi.


"Ia tertarik dengan penampilanmu," kepala sekolah menyerahkan berkas yang tadi dibawanya. Berkas itu berisikan profil wali murid yang kepala sekolah maksud.


"Beliau memiliki sebuah pertunjukan, dan beliau ingin kau ikut tampil di sana," Deka yang mendengar sambil membaca profil orang yang kepala sekolahnya ceritakan pun terkejut. Ini adalah kesempatan besar.


"Bapak harap kamu akan segera setuju, karena mereka telah menunggumu di luar," pantas saja kepala sekolahnya terdengar buru-buru sekali.


"Selama pertunjukan berlangsung, kamu akan di karantina. Untuk sekolahmu, bapak sudah mempersiapkan satu guru pembimbing yang akan menemanimu selama di sana. Jadi, ketika sudah selesai, kau akan tetap bisa melanjutkan pendidikanmu juga tetap bisa ikut ujian nasional," sekali lagi kepala sekolah memberikan berkas lainnya.


"Itu adalah tanda tangan persetujuan orang tua, dimana mereka telah setuju," Deka melongo. Sejak kapan?


"Ada pertanyaan?" Deka bingung karena diberondong oleh fakta-fakta mengejutkan. Bahkan ia belum selesai mencerna antara satu informasi dan informasi lainnya. Dia tak terpikir satu pertanyaan pun.


"Baik, kalau sudah jelas, kau bisa berangkat sekarang. Mari bapak antar," kepala sekolah membimbing Deka menuju pintu.


Deka berkenalan dengan beberapa orang yang akan berhubungan dengannya selama mengikuti pertunjukan dari seorang produser terkenal di negaranya. Mereka menjelaskan dengan singkat bahwa pertunjukan akan dilakukan di Australia. Semua paspor dan visa Deka telah mereka siapkan. Deka semakin bingung. Beruntungnya, Deka pergi bersama wali kelasnya semasa kelas sebelas. Sehingga Deka tak terlalu merasa asing di sana.


Waktu yang seolah berlari bagi Deka, membuatnya melupakan hal paling penting. Yaitu, memberi tahu Lisa. Bahkan Deka masih tak terfikir, hingga saat tiba di asrama yang akan menjadi tempat tinggalnya selama satu minggu ke depan, tak membolehkan dia memegang ponsel. Deka memang baru akan terbang ke Australia pekan depan. Karena memang masih ada beberapa hal yang perlu Deka persiapkan. Termasuk mental dan kemampuan akting dan bernyanyinya. Oleh karena itu, Deka akan mendapatkan kelas intensif selama satu minggu penuh untuk belajar itu semua. Termasuk mempelajari perannya nanti.


...***...


"Lisa, maaf harus manggil elo ke sini," ini adalah mantan ketua teaternya. Ia memang seharusnya sudah lulus. Namun, ketua teater yang baru masih selalu merepotkannya terkait ekskul teater.


"Teater bakalan tampil di balai kartini, lo tahu?" Lisa menggeleng.


"Yahh, mereka dapet undangan," jawab mantan ketuanya itu.


"Maaf kak, tapi kayaknya gue ga bisa bantuin," Lisa bingung harus gimana jelasinnya.


"Yahh, lo tau, UN udah deket," Lisa tersenyum kikuk. Ia mati-matian menahan tangisnya.


"Hm, gue ngerti," ia nampak merenung. Ia memijit pelipisnya yang pening.


"Okay, gue permisi ya ka," Liaa berusaha kabur.


"Okay, thanks Lisa. Sorry ya kalo gue ganggu waktu lo," jawab si mantan ketua teater itu.


"Its okay," Lisa pun beranjak pulang.


Sepanjang jalan, Lisa berjalan kaki menuju rumahnya yang memang sudah tak jauh lagi. Hingga saat ia sudah tak tahan oleh sesak dari rasa rindu dan bingungnya, Lisa duduk. Ia memukul pelan dadanya. Berharap sesaknya bisa mereda.


...***...


"Deka, gak bisa ya lo kasih tau gue, lo dimana?" Lisa duduk termenung di hadapan martabak yang baru saja ia beli.


Ini malam minggu, seperti biasa Lisa akan membeli martabak telor untuk makan malam. Dia akan memakan itu semua dalam diam. Bahkan tatapannya seolah kosong. Dan malam ini pun sama saja.


Delapan bulan berlalu sejak Deka menghilang. Kenangan demi kenangan yang tercipta antara Lisa dan Deka menyiksa Lisa setiap hari. tak hanya di sekolah, bahkan di rumahnya, serta di jalanan sekitar rumahnya.


Meski Lisa masih selalu makan martabak ketika malam minggu. Ia tak pernah sekali pun membelinya dari Mang Udin. Sebisa mungkin, Lisa ingin menghindari pembahasan terkait Deka. Lisa tidak ingin rindunya menjadi semakin besar hingga mungkin ia tak akan lagi sanggup menanggungnya.


Dering telepon membuat Lisa tersadar dari lamunannya yang tak berujung. Rose. Lisa melihat nama itu pada ID Caller di hp-nya. Lisa menimbang sebentar. Haruskah ia mengangkatnya atau tidak.


"Halo,"


"Lisaaa dari mana ajaaa?" Rose telah berteriak, terdengar sangat khawatir.


"Kenapa Se?" tanya Lisa pelan.


"Ikut festival di kampus A yuk," ajak Rose. "Ada live band loh," Rose masih berusaha membujuk Lisa. Lisa menarik napas panjang sebelum menghembuskannya.


"Gue ga bisa, Se. Maaf ya," Lisa pamit dan menutup sambungan teleponnya.


Panggilan dari Rose berdering lagi. Lisa tak mengangkatnya. Ia hanya membalas itu dengan pesan yang menjelaskan betapa ia mager. Ia lakukan itu hanya agar Rose tak terus memaksanya untuk ikut. Lisa tahu, ia tak akan bisa menikmati festival itu. Lisa merasa, ia sakit sangat parah.


Tanpa terasa martabaknya telah habis. Lisa beranjak untuk membereskan kekacauan yang baru saja ia buat dengan mamartabak. Hingga sebuah ketukan terdengar di pintunya.


...****************...