SEVENTEEN

SEVENTEEN
Vernon - 8



Kelas Vernon sedang jam kosong. Di saat teman-temannya membuat kehebohan, Vernon hanya duduk di pojokan bersama hp-nya. Ia menimang-nimang, apakah ia harus menghubungi Lisa lagi?


Sebenarnya setelah ia sembuh, Vernon telah beberapa kali mencoba meneleponnya. Namun, Lisa tak pernah mengangkatnya. Meski biasanya, malamnya Lisa akan mengirimkan pesan seperti ia akan meminta maaf karena terlalu sibuk. Namun setelah ia membalasnya pun, Lisa akan kembali diam. Apakah Lisa menjauhinya?


Tapi Vernon tahu jika Lisa memang orang yang sangat sibuk. Terlebih lagi, mereka sudah akan masuk kelas dua belas. Dimana Lisa juga harus mulai mempersiapkan dirinya untuk masuk ke universitas impiannya. Ditambah bisnis dan pekerjaan profesionalnya. Ugh! Vernon mengeluh dalam diam. Ia rindu.


"Hei, ngapain?" Rose duduk di hadapan Vernon.


"Game," ucap Vernon masih sambil memainkan hp-nya.


Hubungan mereka dari awal memang seperti itu. Tak terlalu dekat. Maksudnya, bukan tipe hubungan yang sering bercanda bersama atau ngobrol berbagai macam hal yang pribadi. Mereka hanya sering bersama karena mereka sama-sama terlibat dipengurusan majalah sekolah. Juga sebagai teman sekelas. Selebihnya, Rose hanya akan sekali-sekali cerita permasalahannya dan Vernon akan mendengarkan.


Rose menyadari jika Vernon menjadi lebih murung. Dari awal, Vernon memang cenderung diam, tapi ia bukan orang yang murung dan menyendiri. Vernon hanya tidak terlalu ingin tahu dengan urusan orang lain. Dia adalah orang yang lebih senang menikmati dunianya sendiri, tak ingin mengganggu dunia orang lain.


"Vernon, kita udah temenan dari kelas sepuluh kan?" Rose menatap Vernon serius.


"Hm," ucap Vernon, kali ini ia benar-benar bermain game.


"Lo tau, gue gak punya siapa-siapa lagi selain lo," Rose kini menyandarkan tubuhnya pada dinding. Ia tak lagi duduk menghadap Vernon.


Vernon menghela nafas. Ia menutup aplikasi game-nya. Toh dari awal ia juga tak berniat main sama sekali. Ia menatap Rose. Berusaha mendengarkan dengan sungguh-sungguh.


"Gue egoiskah?" Rose melirik pada Vernon, tatapannya sendu.


"Rose, gue rasa, setiap manusia bakalan egois demi kebahagiaan mereka sendiri. Bukan cuma lo, bahkan gue juga," Vernon kembali menghela nafas. Sebenarnya ia pening dengan kerumitan ini. Kenapa keberaniannya untuk membela perasaan yang ia miliki selalu hilang jika Rose telah merengek. Betapa pengecutnya!


"Gue minta maaf karena gue gak punya perasaan yang sama kayak lo. Gue bukan pengen berbangga diri, tapi lo tau kalau perasaan gak bisa dipaksain." Vernon menghela nafas, "Gue pengen lo tahu kalo gue peduli sama lo," Vernon menatap Rose serius, "as a friend,"


"Iya, tahu," gumam Rose lemah.


"Lo suka sama Lisa?" Kini Rose mulai berani mengangkat topik ini. Vernon hanya mengangguk.


"Selama gue masih tinggal di rumahnya, Lisa kelihatan sibuk banget. Bahkan mungkin dia baru bisa tidur di jam satu atau dua pagi," Rose mencoba menjelaskan mengapa Lisa absen dari hidup Vernon.


"Gue tahu," kini Vernon yang menjawab lemah.


"Lo mau kejar dia?" tanya Rose.


Vernon terdiam. Haruskah? Bolehkah? Banyak pertanyaan yang membuatnya ragu. Terlebih sepertinya Lisa mulai menjauhi dirinya. Vernon sadar betapa ia telah banyak mengusik hidup pribadi Lisa bahkan di saat mereka baru kenal. Ia menjadi tidak percaya diri.


"Gue udah pikirin," ucap Rose lagi. "Gue mau coba kenal bokap gue," Rose menunduk sambil memilin ujung rok-nya.


"Selama setahun nanti, sampai gue lulus SMA, gue sama bokap mau mencoba buat memperbaiki hubungan kita," Rose menatap Vernon. "Setelah itu, gue bakalan mutusin apakah gue bakalan ke Australia atau tetep di sini,"


Vernon mengangguk, "Bagus, lo bijak banget kali ini," Vernon tersenyum. Memang, ia hanya ingin Rose juga bisa bahagia.


"Maafin gue udah jadi beban lo,"


Vernon menggeleng, "Jangan mikir kayak gitu Rosie," Rosie adalah panggilan Vernon ketika ia sedang ingin membujuknya.


Rose menghela nafas. Alangkah baiknya jika Vernon memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun, benar kata Vernon, perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Kita tidak tahu akan jatuh kepada siapa. Begitu pula sebaliknya.


...***...


Lisa sedang dilema, apakah ia harus membuka cabang butiknya atau tidak? Permintaan pasar yang tinggi memang cukup membuatnya sedikit kewalahan. Terlebih permintaan dari luar kota. Namun, membuka cabang tidak sesederhana itu. Banyak aspek penting yang harus ia perhatikan. Dan kini ia telah memasuki kelas dua belas. Sesuatu yang juga harus ia prioritaskan.


Kepala Lisa pening menghadapi rentetan email juga DM pemesanan yang belum terbaca. Lisa memang memiliki beberapa pegawai yang membantunya, namun, sepertinya itu juga masih belum cukup.


Dering telepon dari hp Lisa telah berbunyi sebanyak tiga kali. Lisa tahu siapa yang meneleponnya. Seseorang yang sedang ia hindari. Lisa menghela nafas berat. Bagaimanapun ia juga rindu.


"Lisa, makan malam dulu yuk," Mama Lisa berdiri di depan pintu kamar Lisa yang terbuka.


"Iya, Ma," Lisa beranjak dari kursinya.


"Kusut banget anak Mama," tangan lembut Mama mengusap rambut anaknya penuh kasih.


"Lisa galau, Mama," sang ibu tersenyum.


"Mau cerita?" Lisa mengangguk. Namun, ia ingin cerita sekaligus dengan sang ayah juga.


...***...


"Jadi anak papa galau kenapa?" sang ayah segera bertanya setelah makan malam selesai. Kedua orang tua Lisa menaruh perhatian penuh pada Lisa.


"Butik Lisa yang di Jakarta udah gak sanggup nampung pesanan," Lisa tersenyum, entah mengapa kalimatnya terasa sombong sekali.


"Yaaa bukannya Lisa pengen sombong sih," Lisa mengerling pada ayahnya, ingin tahu reaksi apa yang akan ayahnya berikan.


Si Ayah hanya menaikan alisnya. Ia merengut lucu. Mungkin sang ayah dilema, apakah ia harus jengkel atau senang atas kesuksesan putrinya?


Lisa kembali cemberut, "menimbang kondisi butik sekarang, Lisa rasa, Lisa perlu buka cabang," Lisa mendongak, menatap sang ayah, "tapi kan Lisa sekarang udah kelas dua belas," Lisa sengaja menggantung kalimatnya. Ia tahu kedua orang tuanya dapat menyimpulkan apa kelanjutan cerita Lisa.


"Mama sama Papa bantuin, boleh?" kini Mama lah yang menjawab. Lisa mengangguk.


"Besok, kasih ke Mama laporan keuangan sama penjualan kamu ya," kata sang ibu lembut. "Mama sama Papa nanti yang bantuin proses buka cabangnya,"


Lisa mengangguk senang. Ia sadar betul jika urgensi membuka cabang juga cukup tinggi. Mengingat saat ini produknya sedang digemari. Jika ia melewatkan momentum ini, Ia tak tahu apakah nanti masih ada keberuntungan lainnya.


"Udah tahu dimana lokasi buka cabangnya?" tanya Papa.


"Kalau berdasarkan analisa kasar Lisa, Bandung pilihan yang paling tepat sih Pa," Lisa minum sebentar, "tapi Lisa juga belum survey lokasi dan gak tahu juga harga pasaran sewa toko di sana,"


Sang ayah mengangguk, "Nanti Papa bantu cariin lokasi dan data lainnya,"


Lisa merasa lega. Kini ia bisa tersenyum sumringah. Orang tuanya memang yang terbaik. Betapa beruntungnya. Melihat Lisa sudah seceria biasanya, membuat kedua orang tuanya tersenyum. Mereka melanjutkan obrolan ringan sebelum kembali ke kamarnya masing-masing.


...****************...