
Pagi ini Lisa datang ke sekolah bersama dengan Rose. Di sepanjang jalan mereka bertemu dengan anak-anak sekolah mereka, maka Lisa terus merasa aneh. Sepertinya ada sesuatu.
"Rose, ga ada yang salah kan sama gue?" Lisa meminta Rose untuk memgamatinya.
"Engga, lo baik dan cantik seperti biasanya," ucap Rose sembari tertawa.
"Terus mereka ngapain deh?" Rose yang mengerti maksud Lisa hanya tertawa jahil.
"Makanya orang tuh kalo ada grup sekolah, sekali-sekali nimbrung biar up to date," cibir Rose. Lisa curiga ada gosip tentang dirinya yang sedang tersebar di group. Matanya memicing lucu menatap Rose. Rose semakin tertawa lebar.
"Lo abis cover lagu bareng Deka?" tanya Rose seolah gak nyambung.
"Ha? Yang mana?" tanya Lisa, pelupa emang. "Ooohh!! Astaga, yang 7pm kah?!!" kini Lisa ingat. Rose pun mengangguk, seolah bangga anaknya bisa menjawab pertanyaan guru di kelas.
"Kok pada tau?" tanya Lisa heran. "Eehhh.. Jangan bilang Deka upload videonya ya?" Lisa semakin histeris.
"Ya menurut lo?!" intinya Rose ingin bilang, memangnya siapa lagi orang yang nyebarin!
"Tapi lis, gue terharu banget sama covernya. Rasanya manissssss banget di kuping sama mata gue. Bener-bener kena nih hati gue," Rose sambil memukul-mukul pelan dadanya, ia menghayati peran.
"Ah masa?" ledek Lisa, lalu Lisa berlari meninggalkan Rose menuju kelas.
...***...
"Lisaaa,"
"Suara lo bagus deh,"
"Covernya manis banget,"
"Lisa,"
"Lisa, keren deh,"
Begitulah ucapan-ucapan yang Lisa dengar sepanjang jalan menuju kelas. Lisa senantiasa mengangguk dan tersenyum kepada mereka yang mengapresiasi karyanya bersama Deka. Dalam hati, Lisa ingin mengutuk Deka. Karenanya, ia kini jadi perhatian begini.
"Selamat pagi cantik," Deka menghampiri Lisa dengan senyuman lebarnya.
"Deka kenapa lo upload sih?" Deka hanya tertawa.
"Kenapa sih Sa, lagian banyak yang suka ini," celetuk Rose yang malah dihadiahi tatapan sinis oleh Lisa. Lisa malu jika harus menjadi pusat perhatian begini. Padahal menurutnya, dirinya ya biasa aja.
"Siap-siap ya Sa, kita bakal ngukir banyak banget kenangan bareng-bareng di sekolah ini. Sampe lo ga bakalan mungkin bisa lupain gue," Deka mengatakan itu dengan senyum yang manis dan lembut.
Setelah beberapa detik sempat terkejut dengan kalimat aneh Deka, Lisa pun menoyor kepala Deka yang ia rasa terlalu dekat padanya. Namun, Deka hanya menanggapinya dengan tertawa lagi. Begitu pula Rose yang malah bercanda bareng Deka, seolah tidak ada hal yang terjadi. Sementara sesekali teman-teman sekelasnya masih suka melirik ke arah Lisa. Lisa malu.
...***...
Hari berganti dan tahun berlalu. Siapa yang menyangka kini mereka sudah di penghujung kelas sebelas. Seperti yang pernah Deka bilang, mereka bertiga telah mengukir banyak sekali hal bersama. Cover lagu, jaming di ruang musik, tampil di acara gubernur, ngamen di kafe sebrang sekolah. Terlebih Deka dan Lisa, banyak hal-hal yang telah mereka lewati bersama. Bahkan sekedar berjalan kaki di sekitar komplek buat beli batagor di depan pos sudah masuk ke dalam buku kenangan Lisa.
"Capek," Lisa mengeluh sebal. Kepalanya sudah bertumpu pada meja di hadapannya. Rasanya udah mau nangis. Lisa pusing sekali.
Deka mendekat pada Lisa. Jika seperti ini, biasanya Lisa suka ditepuk-tepuk di atas kepalanya. Bagi Lisa, itu menenangkan. Terutama jika itu adalah Deka. Karena hanya Deka yang tahu, yang lain harus diminta terlebih dahulu. Rasanya berbeda.
"Lisaa.. Lisa.. Terus gimana andai nanti gue udah ga ada?" Deka menggerutu namun tetap tersenyum lembut.
Lisa yang sudah hampir tertidur, otomatis membuka matanya. Rasa ngantuk yang mulai datang perlahan kini telah menguap. Entah kenapa, perkataan Deka menyentil hatinya.
"Kalo gitu, jangan pernah pergi dari gue," tangan Lisa menggenggam jemari Deka erat. Tatapannya pada Deka terlihat sungguh-sungguh. Hilang sudah Lisa yang suka bercanda. Lisa tiba-tiba merasa takut. Namun, anehnya, Deka tak mengatakan apa pun. Ia hanya kembali menepuk kepala Lisa, meminta Lisa untuk tidur sebentar sebelum kembali menghadapi pekerjaan yang menumpuk.
Selain sibuk dengan latihan dua performance yang berbeda, Lisa dan Deka juga disibukkan dengan kegiatan belajar mengajar. Bagaimanapun sebentar lagi ujian akhir sekolah hampir tiba. Jangan sampai karena ingin melepas kelas dua belas, malah jadi mereka yang gak naik kelas. Rose pun sama sibuknya. Hal ini, membuat mereka sedikit menjauh perlahan. Mereka seperti tak memiliki tenaga lagi untuk bercanda.
"Lisa, pulang gue anter ya," Lisa hanya mengangguk.
"Kangen gak?" Lisa mengerling ke arah Deka. Namun, kemudian ia mengangguk. Deka tertawa renyah. Deka pun merentangkan tangannya, dan Lisa dengan senang hati masuk ke dalam pelukan Deka.
Apakah Lisa dan Deka pacaran? Entah. Tergantung dari sudut pandang mana kalian melihatnya. Jika tentang cerita romantis anak SMA dengan segala acara tembak-menembak yang manis. Maka, Lisa dan Deka tidak termasuk dalam kisah itu. Meskipun, mereka kini juga masih SMA, keduanya terlampau dewasa untuk melakukan hal itu.
Hubungan Lisa dan Deka terbilang cukup aneh. Mereka sadar sepenuhnya, jika mereka saling tertarik satu sama lain. Secara sadar dan tak sadar, mereka juga saling mendekat satu sama lain. Lalu, hubungan itu berkembang menjadi komitmen tak terucap untuk saling ada bagi satu sama lainnya. Deka yang selalu menuju Lisa, juga sebaliknya. Bagi hubungan ini, seolah tak ada celah bagi orang lain untuk menyelinap masuk. Jadi, apakah mereka pacaran? Jawabannya, aku tidak tahu. Tanyakan pada Deka atau Lisa.
...***...
"Mau dibawain apa?" hari ini malam minggu, seperti biasa, Deka akan mampir ke rumah Lisa.
"Martabak telor," Lisa menjawab melalui sambungan telepon.
Deka datang disambut oleh Lisa yang telah menunggunya di depan pintu. Biasanya jika Deka datang, Deka akan membuka pagar rumah Lisa sendiri. Maka, Lisa akan segera berlari ke depan untuk menyambutnya.
"Martabaknya ada?" tanya Lisa sumringah.
"Ada dong," jawab Deka sembari mengangkat bungkusan yang sedari tadi ia tenteng.
"Beli yang di sebelah mana?" tanya Lisa lagi sambil meletakkan piring di depan dia dan Deka.
"Tempat biasa. Lo dapet salam tuh dari Mang Udin, katanya kenapa lo lama ga beli martabaknya dia?" cerita Deka.
"Bilangin ke Mang Udin, soalnya Dekanya sibuk, udah jarang traktir martabak," jawab Lisa asal sembari tertawa.
"Udah," kata Deka sambil tertawa.
"Ha?" Lisa heran, pemikiran Deka dan dirinya lagi-lagi sama.
"Lo gimana bilangnya sama Mang Udin?" tanya Lisa masih dengan tawanya.
"Gue bilang, maaf mang ga pernah beli, soalnya tukang traktirnya lagi sibuk ujian," jawab Deka gak kalah asal. Mereka berdua pun tertawa bersama. Selalu begitu malam minggu mereka. Sederhana namun menyenangkan.
...****************...