
"Ah bagus,"
"Ya.. Ya.. Begitu.. Nice.."
Lisa berteriak antusias di balik kameranya. Minghao nampak seperti aktor manhwa yang tampan. Minghao tak bisa berhenti menahan senyumnya meski Lisa melarangnya. Kata Lisa, ia ingin membidiknya dalam ekspresi yang lebih dalam. Bagi Lisa, Minghao sangat cocok dengan suasana jalan braga yang penuh dengan hal-hal vintage dan sudah seperti galeri seni.
Rose duduk di sebuah bangku yang memang di sediakan di jalan itu. Ia sibuk dengan cemilannya sambil mengamati kegiatan Minghao dan Lisa. Lisa memang akan selalu lupa diri jika sudah berghadapan dengan kamera dan objek yang dia sukai. Dan kali ini ia setuju jika Minghao sangat tepat menjadi model Lisa kali ini. Sebelumnya mereka sendiri juga telah mengambil banyak gambar bertiga. Ini menyenangkan.
"Sini gantian,"
Minghao mendekat pada Lisa. Ia juga ingin mengabadikan Lisa yang begitu cantik hari ini. Dengan rambut coklat panjang bergelombangnya, ia mengenakan blouse warna putih yang dipadu dengan celana jeans yang hanya sampai di atas mata kaki. Lalu sneakers putihnya membuat Lisa nampak sangat manis namun juga keren.
Lisa berpose beberapa kali. Rose masih saja sibuk dengan makanannya. Namun saat makanan itu habis, ia pun menghampiri ke dua sahabatnya itu.
"Sekarang giliran kalian berdua,"
Rose mengambil alih kamera Lisa. Ia mendorong Minghao perlahan, agar lebih mendekat pada Lisa.
"Kalian berpose lah,"
"Sedikit lebih dekat,"
Rose terus memberikan intruksinya. Ia mencoba melihat sudut pandang dari kamera. Jika ia rasa kurang bagus, maka ia akan kembali mencereweti Lisa dan Minghao. Anehnya mereka berdua menurut saja.
Lisa, lihat ke arah lain," Rose masih mencoba mengarahkan gaya, "Minghao jangan lihat kamera," Mereka berdua terlihat sangat serasi.
"Rose kau tak ingin difoto juga?"
"Ya aku mau, tapi sendiri saja," Tentu saja ia juga ingin foto sendiri untuk diunggah ke instagramnya.
Lisa masih asik mengarahkan kameranya ke berbagai objek yang menarik di Jalan Braga ini. Minghao senantiasa berada di belakangnya. Ia merasa harus menjaga gadis ini. Jika ia tak hati-hati, maka Lisa sudah pasti akan menabrak sesuatu atau seseorang. Karena jalan ini memang cukup padat. Sedangkan Rose sudah sibuk dengan makanannya lagi. Di sini banyak makanan yang menarik, layak Rose coba satu per satu.
***
Malam hari di Bandung cukup dingin. Ya paling tidak lebih dingin di banding dengan Jakarta. Lisa mengenakan cardigan coklat susu yang terlihat kebesaran. Namun hal itu justru membuatnya terlihat jauh lebih imut. Mereka sedang kulineran di Jalan Sudirman. Di sana banyak sekali stan penjual berbagai macam makanan dan minuman.
"Rose lo masih mau makan?" tanya Lisa. Ia melihat sepanjang sore, Rose telah memakan banyak hal selama di Braga.
"Kita makan di Louisiana Grill ini aja yuk," ajak Minghao tanpa mengindahkan perdebatan Lisa dan Rose sebelumnya, "Kayaknya enak nih,"
"Boleh, yuk," Rose dengan semangat melangkah mendahului dua temannya yang dibuat semakin terheran dengan anstusiasme Rose terhadap makanan.
Resto ini menyajikan berbagai macam olahan seafood. Mereka bertiga telah memesan beberapa menu yang menurut mereka menarik untuk dicoba. Sembari menunggu mereka berbincang berbagai topik tak penting. Bahkan terkadang mereka hanya sekedar mengomentari tentang sekitar mereka. Sebenarnya ini aneh bagi Minghao, karena biasanya ia tak terlalu banyak bicara. Namun, entah mengapa, kali ini ia cukup banyak bercerita dan bertanya. Ia pun menjadi takut, jika ia harus berpisah dengan mereka. Baginya pasti akan sangat sulit untuk menemukan seseorang yang begitu cocok seperti saat ini lagi.
"Huuu.. Enak bangeettt.." Lisa mengangguk-angguk ketika ia menyesap saus yang menempel di antara cangkang kepiting yang dagingnya telah habis.
"Iya, sampai belepotan gini," Minghao mengusap lembut pipi Lisa yang terkena saus seafoodnya.
Lisa terdiam karena perlakukan Minghao tersebut. Bahkan lihatlah, Minghao sedang tersenyum padanya. Bukankah ia terlihat jauh lebih tampan di bawah lampu yang bersinar lembut di atas mereka. Hingga lamunannya harus terhenti karena Rose terus terbatuk dengan sengaja.
"Kalian pikir gue nyamuk?" ujarnya sinis pada ke-uwuan di sampingnya.
Lisa yang menyadari keadaan yang canggung antara dirinya dengan Minghao pun mengalihkan perhatian pada sekitarnya. Ia terlihat berusaha menghindari tatapan Minghao maupun Rose. Lisa merasa malu. Minghao sendiri malah tertawa kecil. Sedangkan Rose malah semakin heboh menggoda Lisa yang salah tingkah. Malam berlalu dengan lambat. Lisa rasa ia ingin memiliki pintu kemana saja milik doraemon, agar ia bisa segera melarikan diri ke kamarnya di Jakarta.
***
"Minghao bersiaplah, kau punya waktu kurang dari sebulan,"
Minghao terpaku di depan pintu kamarnya. Malam telah sangat larut. Ia merasa sangat lelah. Ia baru saja sampai dari Bandung. Bahkan esok hari ia masih harus sekolah. Namun, ia tak merasa yakin jika ia akan bisa tertidur malam ini. Kini perasaannya menjadi kalut.
Ia menoleh pada suara yang baru saja mengajaknya bicara. Di belakangnya, berdiri seseorang dengan tubuh tinggi dan tegap. Tatapan matanya yang tegas, serta guratan keras di raut wajahnya mencerminkan wataknya yang tak mudah untuk di hadapi. Namun, Minghao tak pernah merasa gentar.
Selama ini, ia selalu menjadi anak baik yang menuruti apa pun yang dikatakan oleh orang tuanya. Minghao memang tak pernah merasa keberatan dengan semua permintaan itu. Namun, entah kenapa, kali ini ia ingin menentangnya. Sekali saja, jika boleh. Meski pun itu artinya ia harus hidup terpisah dari keluarganya.
Orang tua Minghao sendiri sebenarnya tak pernah memaksakan apa pun terhadap putra satu-satunya ini. Mereka saling menyayangi dan menghargai apa pun yang menjadi keinginan masing-masing anggota keluarga. Namun, ketegasan yang tergambar di raut muka sang ayah membuat anggota keluarga lain cenderung menahan diri. Biasanya mereka sedikit merasa sungkan. Dan itulah yang Minghao rasakan saat ini. Itulah yang membuatnya ragu untuk mengatakan semuanya. Lagi pula ini baru pertama kali terjadi.
Sang ayah yang telah menghadapi berbagai macam manusia beserta ekspresinya, sedikit banyaknya ia tahu jika Minghao memiliki sesuatu yang ingin ia katakan. Bagaimana pun ia adalah ayahnya. Ia mengenal seperti apa putranya ini.
"Jika ada yang ingin kau katakan pada Ayah, kita akan membicarakannya besok saat makan malam," Sang Ayah mendahuluinya, karena ia tahu putranya tak akan berbicara terlebih dahulu, "Ayah yakin kau sangat lelah malam ini, tidurlah,"
"Baik, Ayah," Minghao mengangguk setuju. Ia lega dan tidak. Ia lega karena masih memiliki waktu untuk merangkai semua kalimat yang akan ia katakan pada ayahnya. Namun, ia masih merasa ragu apakah itu akan berhasil. Dan waktu lebih ini hanya akan membuatnya merasa risau lebih lama lagi.
"Ayah pergi," tanpa menunggu jawaban Minghao, sang Ayah telah menuruni anak tangga untuk menuju kamarnya sendiri. Membiarkan Minghao menutup pintu kamarnya dengan segala pikirannya yang semakin kacau.