
Akbar dan Davina pun pergi mengelilingi kampus, mereka pergi ke semua fakultas yang ada. Keduanya menjadi pusat perhatian, banyak mahasiswa dan mahasiswi yang penasaran dengan Davina. Dan kini rasa penasarannya mulai sedikit menghilang, tetapi kebanyakan dari mereka menjadi mengagumi Davina.
Kecantikan Davina menyebar dalam sekejap, banyak para mahasiswa yang berusaha mendekati Davina. tetapi harapan mereka putus karena Davina sudah memiliki Akbar, dan pada akhirnya mereka hanya menjadi pengagum rahasia Davina. Sambil menunggu kabar kalau Davina dan Akbar sudah putus, walaupun hal tersebut sangat kecil kemungkinannya.
Keduanya terus saja mengelilingi fakultas demi fakultas, hingga tanpa mereka sadari kini sudah petang. Dan akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang, karena orang tua dari Davina juga sudah menelpon. Akhirnya kini mereka sudah sampai di depan rumah Davina, dan mereka pun segera menuju ke dalam.
" Gimana kuliahnya sayang?" tanya Runa saat melihat Davina.
" Sungguh sangat menyenangkan Ma, Vina sangat bahagia karena memiliki banyak teman." jelasnya dengan tersenyum.
" Syukurlah kalau kamu menganggapnya seperti itu, dan buat kamu Akbar pasti terkejut ya?" tanya Runa yang melihat ke arah Akbar.
" Tentu saja saya terkejut Tante, karena Tante tidak ada mengabari kalau Tante pulang ke Indonesia. Dan tiba-tiba saja tadi pagi Davina datang menghampiri saya, jujur saja saya merasa bingung tetapi sangat bahagia. Mengapa Tante tidak mengabari saya terlebih dahulu, jadikan saya bisa susul Davina ke rumah." ucap Akbar.
" Semuanya sangat mendadak Akbar, Tante juga baru tiba kemarin malam. Rencananya sih Davina akan masuk besok, tetapi rupanya Ayahnya Davina sudah mendaftarkannya. Dan akhirnya Davina pun harus daftar ulang hari ini juga, dan pada saat itu Tante juga tidak bisa menemani. Jadi Tante hanya meminta Davina untuk mendatangimu di fakultas mu, dan alhamdulillahnya dia bertemu denganmu kalau sampai tidak Tante juga tidak akan tau harus bagaimana." jelas Runa dan Akbar pun mengangguk.
" Ya ampun tante, kan Tante masih punya nomor teleponku. Kenapa Tante tidak menghubungiku saja, bagaimana kalau sampai Davina tidak bertemu denganku tadi. Pastinya aku sangat takut Tante, kampusku itu cukup luas dan di sana juga masih banyak orang jahat." jelas Akbar yang khawatir.
" Tante lupa Akbar, tetapi semuanya sudah terjadi. Mulai sekarang kamu yang jaga Davina ya, karena kalian kan sudah satu kampus." ucap Runa dan Akbar pun mengangguk.
" Kalau soal itu Tante tenang aja, Akbar akan jagai Davina. Dan Akbar akan jamin kalau kondisi Davina akan baik-baik saja, jadi Tante sama Om tidak perlu khawatir." jelasnya dan Runa pun mengangguk.
" Kamu memang bisa dipercaya Akbar, Runa tolong ambilkan minum ya buat Akbar." ucap Runa dan Davina pun segera pergi ke dapur.
" Sepertinya ada yang ingin Tante sampaikan padaku, dan Tante tidak ingin kalau Davina sampai mengetahuinya." ucap Akbar yang curiga.
" Tebakanmu memang benar Akbar, sebenarnya memang ada yang ingin Tante sampaikan padamu. Dan ini semua ada kaitnya dengan kondisi Davina, sebenarnya setelah paskah operasinya dia mengalami lupa ingatan atau amnesia…" jelas Runa dan membuat Akbar terkejut.
" Tante jangan bercanda deh." ucapnya yang tidak percaya.
" Tante tidak sedang bercanda Akbar, karena itu Tante sangat khawatirkan Davina." ucapnya yang memang khawatir.
" Pantas saja hari ini dia tampak aneh, ternyata dia mengalami amnesia." ucap Akbar.
" Apa maksud tante dengan pergi meninggalkan kita untuk selamanya, jangan bilang kalau Davina akan meninggal?" tebaknya.
" Itulah kondisi yang sebenarnya Akbar, karena itu mungkin kamu perlu sabar. Dan pastinya ia akan bersikap tidak sama seperti yang kamu kenal dulu, tetapi tanpa harap kamu bisa menjaganya dan membuatnya nyaman bersamamu walaupun semisalnya ingatannya tidak akan pulih." jelas Runa yang memang mengkhawatirkan Davina.
" Kalau begitu kondisinya sangat serius Tante, saya janji akan menjaga Davina dengan sebaik mungkin. Dan saya tidak akan memaksakan Davina untuk mengingat masa lalu kami, walaupun sebenarnya itu sangat menyakitkan untukku. Setidaknya Davina masih akan selalu ada di sampingku, walaupun hanya aku yang mengingat kejadian di masa lalu." jelas Akbar dengan berderai air mata.
" Mama sama Akbar sedang membicarakan apa?" tanya Davina yang baru saja tiba dan Akbar pun segera menghapus derainya.
" Aku sama tante nggak ada bicarain apa-apa kok sayang, sini duduk di samping aku." ucap Akbar dengan menepuk kursi di sebelahnya.
Devina pun tampak ragu untuk duduk di samping Akbar, tetapi ia tidak ingin membuat Akbar kecewa. Dan akhirnya pun ia segera duduk di kursi yang berada di sebelah Akbar, karena ia tidak ingin orang baik seperti Akbar kecewa. Dan entah kenapa ia mulai merasa nyaman ketika bersama Akbar, walaupun ia masih belum mengingat apapun tentang masa lalunya.
" Aku yakin kamu pasti merasa tidak nyaman, awalnya aku merasa aneh melihat sikapmu Davina. Tetapi setelah mendengar penjelasan dari Tante, kini aku sudah mengetahui apa alasan dari sikapmu itu. Dan aku akan berusaha membantumu untuk mengingat semuanya, walaupun hal tersebut akan membuatku menguras waktu dengan cukup lama." batin Akbar.
" Kamu kenapa melihat aku dengan seperti itu?" tanya Davina yang merasa aneh dengan sikap Akbar.
" Aku tidak apa-apa kok sayang, hanya saja aku masih merindukanmu. Kita sudah lama berpisah, dan ini adalah pertemuan pertama kita setelah sekian lama. Jadi tidak salah dong kalau aku masih rindu sama kamu, seandainya saja aku bisa menghentikan waktu aku pasti akan menghentikannya." ucapnya dan membuat Davina tersipu malu.
" Jangan ngomong kayak gitu dong, kan aku jadi malu karena ada Mama." ucap Davina dengan menunduk.
" Sepertinya ia sudah mulai nyaman bersama dengan Akbar, aku harap dia tidak akan pernah kembali mengingat masa lalunya. Selain Dia bisa membuat kami dan juga Akbar bahagia, hal tersebut juga bisa membuat nyawanya aman." batin Runa.
" Tak kusangka ternyata di sini ada Akbar." ucap Marco, Kakak Davina yang baru saja pulang.
" Eh rupanya kamu sudah pulang nak." ucap Runa yang langsung melihat ke arah Marco.
" Iya Ma, tetapi tak kusangka aku malah melihat Mama jadi obat nyamuk mereka." ucap Marco yang memang sengaja menyindir.
" Kamu ngomongnya jangan gitu Marco, lagian Akbar pasti sangat merindukan Davina. Uda ayo sekarang kita ke meja makan, Mama yakin kamu pasti sudah sangat lapar." ucap Runa dan Marco pun mengikuti langkah Runa.