
" Mudah-mudahan saja bawahan papa bisa cepat menemukannya, mama sudah sangat penasaran dengan siapa sebenarnya Aisyah Adrian. Dia tampak seperti kepribadian yang tegar, bahkan ia sepertinya tidak asing dengan dunia kegelapan." jelas Nayla.
" Yang mama katakan memang benar, dan memang kita harus segera menemukan siapa sebenarnya Aisyah Adrian. Kita juga tidak bisa membiarkan ia mengetahui latar belakang keluarga kita, bisa saja ternyata dia adalah musuh keluarga besar kita. Atau mungkin dia mata-mata yang dikirim, kita harus berhati-hati kepadanya." ucap Yusuf.
" Itu juga yang mama khawatirkan pa, kita harus secepatnya mencari tahu siapa dia. Walaupun kita masih membutuhkan siapa tadi namanya, tetapi kita harus berhati-hati pada Aisyah.
" Nama gadis itu Key, yang sepertinya kepribadian ini sangat jauh berbeda dari Kia. Sepertinya kita juga harus berhati-hati kepadanya, karena bisa saja dia memiliki suatu hal yang bisa menjatuhkan kita." ucap Yusuf yang tiba-tiba teringat akan Key.
" Mengapa papa tiba-tiba berpikir kita harus berhati-hati kepada wanita itu?" tanya Nayla yang bingung.
" Papa juga nggak tahu ma, tapi papa merasa dia memiliki sesuatu yang spesial. Hingga ia bisa mengetahui segala sesuatu, dan itu bisa sangat berbahaya untuk kita. Saat ini David masih belum mengetahui apa sebenarnya pekerjaan keluarga kita, karena itu kita selalu mengawasi orang yang dekat dengan David. Oleh sebab itu kita mencelakakan Kia dan juga teman-temannya, karena dia mengetahui apa pekerjaan kita." ucap Yusuf.
" Yang bapak katakan memang benar, kalau tadi dia hanya mau tahu kita bergelut di dunia gelap mama tidak masalah kan hal itu. Tetapi dia juga mengetahui apa pekerjaan kita, karena itu kita harus menghilangkan jejaknya. Walaupun kita sangat menyayanginya, tetapi kita tidak bisa membiarkan dia mengadu kepada polisi." ucap Nayla.
" Yang mama katakan memang sangat benar, untuk ketiga dari mereka mereka sudah meninggal. Saat ini kita sedang menyandera satu orang diantara mereka, tetapi untuk Kiara sampai ini kita masih belum mengetahui keberadaannya. Kita harus segera mencari tahu, apakah dia masih hidup atau tak dia sudah meninggal. Kita tidak bisa diam saja, bisa-bisa rencana kita terbongkar." jelas Yusuf.
" Lalu bagaimana dengan perkembangan pencariannya, apakah hingga kini masih belum ada tanda-tanda tentang dia?" tanya Nayla yang penasaran.
" Masih belum ada ma, karena itu papa masih sangat frustasi. Bahkan papa sempat kaget ketika melihat kembarannya, papa sempat ingin membunuhnya. Karena awalnya papa mengira dia adalah Kia, tapi untungnya dia bukan laki ya jadi kita bisa sedikit tenang." jelasnya.
...----------------...
" Bagaimana keadaan anak kami dok?" tanya seorang wanita paruh baya.
" Pak Deden dan bu Runa tenang saja ya, syukur alhamdulillah operasi Davina berjalan dengan lancar." jelas dokter tersebut.
" Alhamdulillah." ucap keduanya serentak.
" Bapak dan ibu sudah bisa mengunjungi Davina, Tetapi mohon jangan terlalu diajak banyak bicara ya pak. Karena kondisi Davina masih terbilang lemah, jadi mungkin bapak dan ibu lebih baik hanya melihatnya saja." jelas dokter tersebut.
" Baik dok, kalau boleh tahu kapan ya perbannya sudah bisa dibuka?" tanya Deden yang sudah penasaran dengan wajah putrinya.
" Kemungkinan sekitar satu minggu lagi ya pak, jadi minggu depan kita baru bisa melihat wajah Davina." jelas dokter itu kemudian pergi meninggalkan keduanya.
" Akhirnya putri kita kembali ayah." ucap Runa dengan meneteskan air mata.
" Maafkan ayah ma, sebenarnya dia bukanlah Davina. terapi ayah tidak tega dengannya, papa menemukannya di pinggir jalan. Dan ayah sempat mendengar kalau ada orang yang ingin membunuhnya, karena ayah tidak tega, ayah pun membawanya pulang." batin Deden.
" Ya sayang, akhirnya kita bisa melihat wajah putri kita lagi." jawab Deden dengan tersenyum.
" Yang mama katakan benar, ayah juga tidak sabar melihat wajah Davina." ucapnya dengan tersenyum.
" Kalau begitu ayo kita masuk, mama sangat rindu dengan Davina." ucap Runa.
Mereka pun langsung memasuki ruang rawat Davina, kini Davina masih terbaring lemas. Runa pun mengelus kepala putrinya itu, ia sudah sangat menantikan melihat wajah putrinya kembali. Ia sudah sangat frustasi melihat putrinya yang sering tiba-tiba histeris, tetapi setelah ini kejadian seperti itu tidak akan mungkin terjadi lagi. Karena sekarang wajah putrinya sudah kembali seperti sedia kala, dan ia yakin kalau putrinya pastinya akan sering tersenyum.
" Maafkan saya, saya tidak mengetahui kamu siapa. Tetapi saya harap kamu bisa menjadi putri saya untuk selamanya, agar istri saya bisa pulih sepenuhnya." batin Deden dengan menatap ke arah Davina.
" Kamu kenapa menangis sayang, jangan menangis dong. Putri kita pasti akan terlihat cantik seperti dulu, dan dia pasti akan dengan mudahnya bermanja dengan mu kembali." ucap Runa.
" Aku sudah sangat menantikannya, aku harap aku bisa melihat wajahnya kembali." ucap Deden.
" Kenapa aku merasa kau yang paling bersedih, padahal aku yang sudah melahirkannya. Tetapi dia lebih dekat kepadamu, bahkan terkadang dia melupakan." ucap Runa yang ngambek.
" Jangan ngambek dong sayang, nanti cantiknya bisa hilang loh." ucap Deden menggoda istrinya.
" Mama, mama, mama." ucap Davina.
" Mama ada di sini sayang." jawab Runa dengan menggenggam tangan Davina.
" Mama jangan tinggalin Devina ya." ucapnya.
" Mama akan selalu ada di dekatmu Davina, dan mama akan selamanya menjadi mamamu. Kamu jangan bersedih ya, mama yakin setelah ini kamu akan cantik seperti dulu lagi. Dan mama yakin kamu tidak harus malu seperti dulu, dan selalu saja memakai selendang untuk menutupi luka itu. Karena gini kamu sudah menjadi kamu yang sebenarnya, mama yakin kamu akan dengan pede muncul di hadapan publik." jelas Runa dengan mengelus kepala putrinya.
" Makasih ya ma, mama dan ayah selalu saja berusaha memberikan yang terbaik untukku. Padahal aku sering membuat mama dan ayah kecewa, tetapi mama selalu saja ada di sampingku." ucapnya dengan berderai air mata.
" Kamu jangan nangis sayang, kamu baru saja di operasi." ucap Luna mengingatkan.
" Baik ma, Vina nggak akan nangis." ucapnya dengan tersenyum.
" Kalau begitu sekarang putri mama mau makan apa?" tanya Luna dengan antusias.
" Vina nggak mau makan, Vina maunya selalu ditemani mama." jawabnya dan Runa pun langsung memeluknya.
" Nggak boleh gitu sayang, kamu harus makan sayang. Dan kamu tenang saja, mama akan selalu ada di sampingmu." ucap Runa dengan tersenyum.