
" Nanti itu cuma hayalan kau saja." ucap Yusuf yang mencoba mengalihkannya.
" Hahaha, yang dikatakan papa benar David. Lagian di zaman sekarang, mana ada lagi cerita kayak begitu." ucap Nayla dengan mendukung suaminya.
" Mungkin saja, tapi kejadian itu tampak asli." ucapnya seperti sedang berfikir.
" Sudahlah jangan di pikirkan lagi, saat ini kondisi mu sedang tidak baik. Yang harus kau pikirkan adalah kesehatanmu, yang lainnya lupakan saja." jelas Yusuf dan David pun akhirnya mengangguk, walaupun ia masih sangat penasaran tetapi ia tetap tidak bisa mendapat jawabnya.
" Karena mama dan papa tidak mau memberi tahuku, maka aku akan melakukan penyelidikan. Aku tidak ingin ada korban lain lagi, sudah cukup Kia yang mengalaminya jangan sampai ada orang lain lagi." batinnya.
Setelah selesai makan David pun kembali ke kamarnya, kini David terus saja memikirkan cara agar kedua orang tuanya mau memberitahunya. Tetapi yang tidak dapat diketahui adalah kedua orang tuanya sedang dalam posisi panik, keduanya tidak ingin kalau putranya itu mengetahui pekerjaan mereka. Karena mereka tidak ingin putranya juga berkecibung di dalam dunia mereka, karena hal tersebut sangat berbahaya dan juga bisa membahayakan calon keluarganya nantinya.
...----------------...
" Bagaimana dengan hasil penyelidikan kalian tadi?" tanya Adrian yang sangat penasaran.
" Dari penyelidikan tadi, masih ada kemungkinan kalau Kiara masih hidup." jawabnya dan yang mendengarnya pun ikut berbahagia.
" Alhamdulillah kalau begitu, tetapi apakah kau sudah mengetahui di mana keberadaannya sayang?" tanyanya kembali yang memang sudah sangat penasaran dengan posisi Kiara.
" Untuk posisinya saat ini kami tidak bisa mengetahuinya ayah, tetapi yang jelas dari penglihatan tersebut Kiara telah diselesaikan oleh seseorang. Dan kini hanya ada dua kemungkinan yang bisa saja terjadi, kemungkinan yang pertama Kiara masih belum sadar sampai kini di rumah sakit, dan yang kemungkinan kedua Kiara mengalami amnesia atau semacamnya yang mengakibatkan ia melupakan kita semua." jelasnya.
" Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Aisyah dengan wajah bersedih.
" Kami sudah sepakat untuk mencari di beberapa rumah sakit, walaupun prosesnya sulit dan memakan waktu yang lama. Tetapi insya Allah semuanya bisa berjalan dengan lancar, ayah dan mama cukup bantu dengan doa saja ya." ucapnya dengan tersenyum.
" Kalian yakin ayah dan juga mama tidak perlu membantu kalian?" tanya Aisyah.
" Itu semua tidak perlu mama, dan rencananya yang akan melakukan pencarian ini hanya aku dan juga temanku yang bernama Rey." jawabnya dan mereka pun semua penasaran dengan sosok yang bernama Rey.
" Siapa itu Rey?" tanya Adrian yang penasaran dengan sosok pemuda yang dekat dengan putrinya itu.
" Ayah tenang saja, Rey bukanlah orang jahat ayah. Dia adalah orang yang memiliki kemampuan sama denganku, dan yang terpenting Kak Dika dan keluarga ini juga sudah mengenalnya." jawabnya dan Aisyah pun menjadi penasaran siapa sebenarnya Rey tersebut.
" Tunggu dulu Key, tadi kamu bilang kalau Rei sudah kenal dengan keluarga kita. Memangnya dia siapa nak?" tanya Aisyah.
" Mama pasti lupa ya, mama ingat dengan sahabat baruku yang bernama Indi?" jawab Key yang justru bertanya.
" Iya mama mengingat temanmu yang bernama Indi, lalu apa hubungannya Rey dengan Indi?" tanya Aisyah yang memang tidak mengetahui siapa sebenarnya Rey.
" Tentu saja ada hubungannya ma, mama ingatkan seorang pemuda yang menjemput ini dari rumah kita?" jawabnya untuk mengingatkan Aisyah.
" Iya mama mengingat pemuda tersebut, kalau tidak salah ini bilang pembeli tersebut adalah kakak sepupunya." jawab Aisyah dengan mengingat perkataan Indi.
" Syukur alhamdulillah mama mengingatnya, jadi hari ini adalah kakak sepupunya Indi ma." jawabnya.
" Jadi pemuda itu namanya Rey, kalau begitu Mama setuju aja kamu pergi dengannya. Lagian mama lihat dia adalah pemuda yang cukup bertanggung jawab, kalaupun kamu menjalin hubungan dengannya mama juga setuju." ucap Aisyah dengan mengedipkan matanya.
Keempat lelaki yang melihat tingkah Aisyah dan juga oke hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, kini mereka merasa bersyukur karena keduanya telah menjadi cukup dekat. Tetapi mereka tidak menyangka kalau keduanya bahkan bisa menyinggung hal tersebut dihadapan Aldrian, dan bahkan tanpa rasa takut sama sekali.
" Mengapa mama harus membahas sampai hal tersebut sih, bagaimana kalau ayah sampai marah." batin Dika yang terus memperhatikan mamanya dan juga Adrian.
" Ayah jadi penasaran dengan sosok Rey, lain kali bawa dia main ke rumah ya!" ucap Adrian dengan tersenyum dan ketiga pemuda itu menjadi sangat kaget.
" Aku tidak sedang salah dengar bukan?" tanya Bismar dengan nada berbisik.
" Apa yang kau dengar tidak salah, karena aku juga mendengarnya." ucap Dika.
" Kalian bertiga kalau ngomong jangan sembarangan." ucap Aldrian dengan menatap ketiganya sinis.
Kini mereka terdiam, hingga membuat suasana menjadi hening. Semuanya pun segera menghabiskan makanan malamnya, seusai itu Key pun segera masuk ke kamarnya.
" Aku harus segera memikirkan cara, agar perjuanganku dan juga Key tidak sia-sia saja." batinnya yang gini sudah berada di kamarnya.
" Apa aku telpon Rey saja ya?"
" Pantas…nggak ya?" ucapnya kembali yang bergumul dengan batinnya.
Setelah cukup lama memikirkan hal tersebut, akhirnya Ki pun menghubungi Rey. Di satu sisi ia sangat penasaran apakah rencananya akan berhasil atau tidak, dan di satu sisi ia sudah sangat merindukan kembarannya.
" Assalamualaikum." ucapkan untuk mengawali panggilan telepon.
" Wa-waalaikumsallam." jawabnya dengan gugup.
" Kau sedang sibuk ya?" tanya Key.
" Aku sedang tidak sibuk, ada yang bisa aku bantu?" tanya Rey.
" Bisakah besok kita langsung terjun ke rumah sakit?" tanya Key yang langsung pada pembicaraan.
" Tentu saja bisa, mau jam berapa?" tanya Rey yang ingin memastikan ia bisa atau tidak.
" Ketika selesai jam perkuliahan saja, agar tidak menggangu kesibukanmu." ucapnya.
" Oke, tidak masalah. Tetapi besok kau masuk berapa matkul?" tanya Rey untuk memastikan.
" Kebetulan besok aku masuk 2 matkul." jawabnya dengan mengingat jadwal esok hari.
" Kalau begitu aku jemput di gerbang ya, atau mau di jemput di fakultas mu?" tanya Rey.
" Di gerbang aja, nggak enak kalau di lihat orang nanti." jawabnya.
" Yauda deh, yang kau bilang benar juga." jawab Rey dengan kecewa.
" Kalau begitu aku hanya ingin ngomong itu aja, sampai jumpa besok ya." ucapnya untuk mengakhiri sambungan telepon.
" Akhirnya aku bisa tenang, karena sudah menghubungi Rey." batin Key, kemudian ia pun meletakkan handphonenya di atas meja setelah itu ia pun tertidur.
...----------------...
" Seandainya kau tau kalau aku suka padamu, apakah sikapmu akan tetap seperti ini." ucap Rey dengan memandang foto Key.
# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Naura Abyasya
2. Rela Walau Sesak
3. Derai Yang Tak Terbendung
4. Azilla Aksabil Husna