
" Kakak tenang aja, sepulang kuliah nanti aku akan langsung pulang." jawabnya kemudian sambungan telepon pun terputus.
" Sepulang kuliah kau harus langsung pulang?" tanya David.
" Ya begitulah, kau kan juga dengar tadi kata dia ngomong apa." ucap Key.
" Ya udah deh kalau gitu, kamu mau aku antar pulang?" tanya David menawarkan diri.
" Tidak usah, lagian kau juga harus segera pulang. Om dan tante pasti sudah menunggumu, apalagi tadi pagi kamu berangkat tanpa izin dari mereka bukan." ucap Key dan David hanya tersenyum saja.
" Eh iya, aku tadi pagi tidak izin pada mama dan papa." ucapnya.
" Kalau begitu, sepulang kuliah nanti harus segera pulang. Dan ingat kabari aku kalau sudah sampai rumah ya!" ucap Key dengan tersenyum.
" Yang kau katakan memang benar, tapi aku harus menghubungimu ke mana?" tanya David.
" Ya ke nomor telepon rumah aku lah, memang mau ke mana lagi?" jawab Key.
" Nggak bisa gitu aku minta nomor telepon baru kamu, kan kita pacaran. Masa aku nggak punya nomor telepon kamu, ya sebelumnya aku punya sih. Tapi kan kamu udah ganti nomor, nggak enak tahu hubungi lewat telepon rumah. Nanti didengerin sama keluarga kamu, kan jadi segan akunya." ucap David yang malu-malu.
" Aku belum punya handphone, ada sih tapi handphone yang begini." ucapkan dengan menunjukkan telepon genggamnya.
" Kenapa kau memakai handphone seperti itu?" tanya David yang merasa heran.
" Ya karena aku males diganggu, semenjak kepulihan aku banyak sekali tuh orang yang menelponku. Dan rasanya aku sangat malas, karena itu aku memilih handphone seperti ini." elak Key.
" Yang kau katakan memang benar beb, kalau begitu aku minta nomor teleponmu aja deh. Ya walaupun tetap sama sih seperti telepon rumah, karena aku nggak akan pernah bisa melakukan video call denganmu." ucapnya dengan tersenyum.
" Ya ampun, sebenarnya aku kan hanya bercanda saja. Aku memiliki handphone Android, tapi aku sengaja bilang kalau aku tidak punya handphone Android. Kalau begini caranya, dia pasti akan tahu kalau aku memiliki WhatsApp." batin Key.
" Ini handphone aku, kau ketikan saja nomormu di sana." ucap David dengan menyerahkan telepon genggamnya.
Kini mau tidak mau Key terpaksa menuliskan nomornya di sana, Key sebenarnya enggan untuk menuliskan nomornya. Tetapi ia tidak mau kalau David curiga, dan itu juga akan berdampak pada kondisi kesehatan David.
" Ini udah aku simpan." ucapnya kemudian mengembalikan handphone David.
" Makasih sayang, kalau gitu aku balik dulu ya ke fakultas. Kebetulan aku ada kelas lagi nih, nanti malam aku main ke rumah ya." ucapnya kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
" Dia mau main ke rumah pula lagi, gimana dong aku harus ngomongnya." ucap Key yang kini kebingungan sendiri.
" Lebih baik kau segera konsultasi dengan kak Dika, aku yakin dia punya sebuah cara. Kalau kau cerita denganku, aku juga tidak memiliki jawaban." ucap Indi yang memang juga sedang kebingungan.
" Yang kau katakan memang benar, aku harus secepatnya bertemu dengan Kak Dika. Kepalaku sangat pusing, mengapa sih aku harus bertemu dengannya saat ini." ucap Key yang kesal.
" Key, bisa ikut dengan bapak sebentar." ucapnya kemudian keluar dari ruangan kelas, dan Key hanya mengikuti dosen tersebut.
Kini mereka pun sampai dalam ruangan dosen, dosen itu pun meminta key untuk duduk di kursi di depan mejanya.
" Silakan duduk Key." ucap dosen itu mempersilahkan.
" Maaf pak, mengapa saya dipanggil ke ruang dosen ya?" tanya Key yang kebingungan.
" Bapak sudah mendengar ceritanya, tadi pagi kau sudah bertemu dengan David bukan." ucap dosen itu dan Key hanya mengangguk saja.
" Iya benar pak, saya sudah bertemu dengan David." jawabnya dengan mengangguk.
" Apa yang kau rasakan? dan saya juga sudah mendengar, kalau ayah dari David mau minta kau untuk berada di sampingnya sampai dia pulih, apakah itu benar?" tanya dosen itu yang penasaran.
" Iya semua itu benar pak." jawabnya.
" Lalu apakah putusan yang kau ambil, kau rela berada di sampingnya dengan berpura-pura menjadi kembaranmu?" tanya dosen itu yang penasaran.
" Sebenarnya saya tidak rela pak, apalagi saya dan kembaran saya memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Tetapi tidak ada jalan lain, hanya inilah jalan satu-satunya agar David segera pulih." jelas Key.
" Itu sudah menjadi keputusan kamu, bapak harap kau tidak akan pernah menyesalinya. Dan mudah-mudahan saja David akan segera pulih, dan kau tidak akan terus-menerus menyakiti hatimu." ucap bahasa tersebut yang ternyata merupakan paman dari David.
" Saya berharap semuanya akan segera selesai pak, saya tidak ingin menyakiti hati siapapun. Di sini saya hanya ingin berniat baik, agar David segera pulih." jawabnya dengan senyum terpaksa.
" Jangan pernah menunjukkan senyum terpaksa mu itu, saya tahu kalau kau sebenarnya tersakiti. Dan kau pasti penasaran, mengapa saya bisa menanyakan hal seperti ini kepadamu. Kau tenang saja, saya akan menjagamu ketika kau bersama dengan David. Dan saya juga akan memberi kabar kepadamu tentang jadwal David, satu hal yang perlu kau ketahui kalau saya adalah paman dari David." jelas dosen itu dan membuat Key kaget.
" Jadi bapak pamannya David." ucapnya dengan gugup.
" Iya saya pamannya David, saya berharap dengan ini semua David bisa segera pulih." ucapnya dengan tersenyum.
" Mudah-mudahan saja ya pak, saya juga sangat ingin drama ini segera selesai. Karena saya takut kalau hal ini akan menyakiti David di suatu hari nanti, di saat dia sudah mengetahui siapa saya sebenarnya." jelas Key dan dosen itu pun mengangguk.
" Kau memang adalah orang yang sangat baik, saya harap bila David mengetahui kalau kau bukan lah Kiara nantinya ia masih mau menjalin hubungan dengan mu." ucap dosen itu.
" Kalau tentang keputusan soal itu ada di tangan David pak, saat ini saya hanya ingin membantu David agar segera pulih. Untuk urusan hati itu urusan belakangan, saya hanya ingin melihatnya pulih." ucap Key.
" Apakah kedua orang tuamu sudah mengetahui, kalau kau membantu David dengan menyamar menjadi Kiara?" tanya dosen itu.
" Semuanya sangat mendadak pak, kejadiannya terjadi dengan begitu cepat. Ayah dan juga mama masih belum mengetahuinya, saya hanya baru memberitahukan kepada kakak sulung saya saja. Saya awalnya juga tidak ada niatan untuk menjadi Kiara, tetapi kejadian tadi pagi membuat saya harus menjadi Kiara." jelasnya dan dosen itu pun hanya mengangguk saja.