Sepahit Sembilu

Sepahit Sembilu
Key 25



" Mungkin kalian merasa heran, tapi aku memang adalah kembaran Kiara." jawabnya.


" Bagaimana mungkin?" tanya Beno yang masih tidak percaya.


" Ceritanya panjang, tapi aku dan Kia memang sudah terpisah sejak kami masih kecil." jawab Key.


" Jadi Kia itu anak angkat pak Aldrian gitu." ucap Beno.


" Bukan, pak Aldrian memang ayah kami. Hanya saja orang tua kami berpisah sewaktu kami masih kecil, jadi taulah maksudku." ucap Key.


" Berarti tante Aisyah bukan ibu kandungnya Kia dong." ucap Akbar yang baru angkat suara.


" Iya benar, tapi mama sangat baik. Bahkan padaku yang baru muncul juga, ya walaupun awalnya mama kaget." jelas Key.


" Tidak ku sangka, ternyata keluar yang tampak harmonis itu bukanlah satu dara." ucap Beno yang masih tidak percaya.


" Memangnya kenapa kalau bukan satu dara, yang terpenting semuanya saling menyayangi." jelas Key dan mereka pun mengangguk.


" Lalu kenapa kau kesini?" tanya Beno.


" Ya karena aku sudah tidak punya siapapun di kota ku tinggal, awalnya aku tidak berharap bisa bertemu dengan ayahku sih. Tapi takdir telah mempertemukan ku dengan ayahku dan juga keluarganya, takdir itu memang nyata." ucapnya Key dengan tersenyum.


" Tunggu kau bilang, kau tidak punya siapapun disana. Berarti ibu mu sudah meninggal gitu?" tanya Beno.


" Ya begitulah." jawanya dengan tersenyum pahit.


" Ya ampun, aku minta maaf ya. Aku nggak tau, kau kenapa masih bisa tersenyum?" tanya Beno yang merasa heran.


" Ya karena aku bersedih pun nggak ada gunanya, bila aku bersedih bundaku pun tidak akan kembali. Dan bundaku juga pernah berpesan, untuk aku jangan bersedih, karena bila aku bersedih bundaku di sana pastinya juga akan bersedih." jelasnya.


" Bila kau membutuhkan seseorang untuk teman curhat, kau bisa hubungi kami." ucap Beno dengan meninggalkan sebuah kertas yang berisikan nomor telepon ia dan juga akan, kemudian ia pergi meninggalkan keduanya.


" Mereka sangat aneh." ucap Key.


" Mereka itu care padamu, jangan ngomong sembarangan lah." ucap Indi.


" Tapi aku merasa tidak nyaman dengan sikap mereka, aku ini cukup ada kamu dan keluarga aku. Aku tidak suka dengan orang yang memperhatikanku dengan tanggapan iba, bagiku mereka bukan peduli padaku tetapi menghina diriku." ucap Key.


" Sudahlah, niat mereka juga baik." ucapnya dengan tersenyum.


" Ya tetep aja aku nggak suka dengan mereka, tiba-tiba aja mereka datang dan sok akrab sama kita. Dan pengen tahu urusan pribadi kita, udah gitu udah agak seperti pahlawan." ucapnya yang kesal dengan Beno dan juga Akbar.


" Tapi yang namanya Akbar itu ganteng banget." ucap Indi.


" Menurut biasa aja deh." jawab Key.


" Kau bilang nggak ganteng pasti karena kau uda suka sama seseorang kan?" tebak Indi.


" Mana ada ya, jangan berburuk sangka sama aku ya Indi." ucapnya dengan tatapan sinis.


" Yauda maaf deh." ucapnya dengan tersenyum kemudian langsung menjewer telinganya.


" Yauda aku maafin, sekarang turunkan tangan mu." ucapnya dengan menurunkan satu tangan Indi.


" Tapi kenapa sih kau bilang kak Akbar biasa aja, padahal menurutku dia ganteng lho." ucap Indi yang penasaran.


" Ya karena menurut ku, ganteng itu relatif. Yang menurutku ganteng, belum tentu menurutmu ganteng. Begitu juga dengan sebaliknya, jadi kita nggak sama." jelas Key dan Indi pun mengangguk.


" Yang kau bilang benar juga, jadi menurutmu cowok ganteng itu gimana?"tanya Indi yang penasaran dan bersiap-siap untuk mencatatnya.


" Nggak enak ah kau tau, mending nanti aja kalau aku uda punya pacar, kau pasti tau."ucapnya dengan tersenyum.


" Ya ampun, kau nggak enak Key." ucapnya Indi yang kesal.


" Aku memang nggak enak, orang aku nggak bisa dimakan." ucapnya dengan tersenyum kemudian ia langsung melarikan diri.


" Key tunggu aku." ucapnya dengan berlari mengejar Key.


...----------------...


" Sayang bunganya cantik." ucap Kia.


" Untuk kesayangan aku harus yang paling cantik dong." ucapnya dengan mencubit pipi Kia.


" Ih sayang bisa aja, kan aku jadi malu." ucapnya yang tersipu.


" Kenapa harus malu sayang, lagian kita uda pacaran lama. Dan lagi ditempat ini cuma ada kita berdua, jadi jangan malu dong sayang." ucapnya kemudian langsung mencium Kia.


...----------------...


" Taman, cium." ucapnya kemudian langsung pingsan.


" Key bangun." ucap Indi.


" Sayang bangun." ucap David yang merupakan pacar Kia.


" Dia itu bukan pacarmu, ah sudahlah. Sekarang bawah dulu ke ruang UKS." ucap Indi, kemudian mereka pun segera ke ruang UKS.


Kini mereka sudah sampai di ruang UKS, alangkah terkejutnya dokter tersebut ketika melihat Key sedang bersama dengan David. Dokter itu pun segera menghubungi salah seorang dosen.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya kini dosen tersebut sudah sampai di ruang UKS. Dan guru tersebut sangat kaget ketika melihat David.


" Kau sedang apa di kampus ini?" tanya pak Fatir yang merupakan dosen fakultas hukum, fakultas dimana David menempuh pendidikan.


" Tentu saja saya mau kuliah pak, hanya saja tadi saya melihat pacar sa…" ucapnya yang terhenti.


" Kuliah, pacar kamu." ucap Fatir yang masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


" Kau tidak sedang bercanda kan David?" tanya Fatir.


" Nggak lah pak, lagian kan memang rutinitas saya setiap pagi mengunjungi pacar saya terlebih dahulu baru saya akan masuk kelas." jelasnya dan Fatir pun mengangguk.


" Iya si memang, tapi pacarmu kan…" ucap pak Fatir yang menggantung.


" Shuttt…" ucap Indi dengan meletakkan jaringannya di atas bibirnya.


" Sebenarnya apa mau dia si?" batin pak Fatir yang penasaran.


Tiba-tiba saja Key pun terbangun, mereka semua langsung mendekati Key.


" Sayang kau tidak apa-apa?" tanya David dengan ingin memeluk Key.


" Jangan peluk- peluk, kau bau nanti dia pingsan lagi." ucap Indi, dan Key pun mengangguk.


" Memang apa yang bau?" tanya David.


" Tangan mu bau, nggak tau bau apa. Rasanya mau muntah." ucap Key beralasan, kemudahan David pun segera pergi untuk mencuci tangannya.


" Key, kau tidak apa-apa?" tanya Indi yang khawatir.


" Aku tidak apa-apa, itu pacarnya kak Kia ya?" tanyanya.


" Kakak?" ucap Fatir yang kaget.


" Iya pak, saya adiknya Kia. Nama saya key." ucapnya dengan tersenyum.


" Pantas saja wajahmu sangat mirip dengan Kia, tadi saya kira saya sedang halusinasi lho." jawabnya.


" Bapak bisa aja, ya nggak mungkin lah pak." jawabnya.


" Sudah jelas si kalau kau bukan Kia, dari cara bicara kalian saja sudah bedah." ucap Fatir yang memperhatikan dengan sangat ditail.


" Tapi, David tidak bisa membedakannya." ucap Rey yang baru saja muncul, dan mengagetkan mereka semua.