Sepahit Sembilu

Sepahit Sembilu
Key 24



" Udah biarin aja Kak Rey, mending kita jajan aku lapar nih." ucapnya dengan membawa Key ke kantin.


kini keduanya sudah tiba di kantin, mereka memesan dua porsi mie goreng dan juga jus jeruk. Tidak perlu menunggu waktu lama, akhirnya makanan yang mereka pesan pun tiba. Indi menyantap makanan itu dengan sangat lahap, tetapi tidak dengan Key yang kini sedang hanyut dalam lamunannya.


Indi yang menyadari tingkah ane temannya itu, ia pun segera menepuk bahu temannya. Dan akhirnya Key pun tersadar, bahkan ia tidak menyadari kalau makanannya ada yang terjatuh.


" Eh makananku berserakan ya." ucapnya yang baru tersadar.


" Ya begitulah, kau sedang memikirkan apa sih?" tanya Indi yang penasaran.


" Aku memimpikan sesuatu, dan aku rasa mimpi itu sangat aneh." jelasnya dan membuat Indi penasaran.


" Memangnya kau mimpi apa?" tanyain deh.


" Aku ditemui oleh seorang gadis, gadis itu menyatakan kalau dirinya adalah Kiara." jelasnya dengan ekspresi yang masih bingung.


" Kalau begitu apa masalahnya?" tanya Indi yang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Key.


" Yang menjadi masalahnya, gadis yang menemui ku itu tidak memiliki wajah." jelasnya dan sontak saja Indi menjadi kaget.


" Yang benar saja kau?" tanya Indi yang tidak percaya.


" Aku beneran, karena itu sekarang aku sedang bingung. Karena aku tidak mengerti maksud dari mimpi tersebut, dan aku butuh seseorang yang bisa mengartikan mimpi itu." ucapnya yang memang sedang bingung.


" Oke aku akan bantu, tetapi untuk saat ini kau makan dulu ya. Sepertinya kau terlalu memikirkan hal itu, bahkan kau tidak menyadari kalau wajahmu sudah mulai memuncak." jelas Indi dengan memberikan sebuah kaca.


" Yang kau katakan memang benar, kini wajahku sudah mengucap." ucapnya dengan memperhatikan wajahnya di cermin tersebut.


" Kalau begitu kau makan ya, nanti aku bisa dihabisin sama Kak Dika. Kakakmu itu sangat bawel, dan hal itu membuat aku sangat risih. Kalau bukan karena dia adalah kakakmu, mungkin saja udah ku hajar habis-habisan dia." ucapin di yang tiba-tiba saja menjadi emosi.


" Ya sudahlah, lagian sifat tadi kan memang seperti itu. Jadi percuma saja kau marah, hal itu tidak akan pernah merubah kak Dika." jelas Key dengan tersenyum.


" Yang kau katakan memang benar, dan karena itu aku mengatakan hal ini. Karena biasanya setelah memukul orang tersebut, aku pasti akan pergi menjauh darinya untuk selama-lamanya." jelasnya dan Key hanya menggelengkan kepalanya saja.


" Ternyata kau sangat mengerikan, tiba-tiba saja aku menjadi takut denganmu." ucapkan dengan ekspresi takut.


" Jangan begitulah, hanya kau teman yang ku miliki saat ini." ucapnya dengan menggenggam tangan Key.


" Kau tenang saja, kau juga merupakan teman pertamaku di sini. Jadi aku tidak akan pernah meninggalkanmu, karena kita adalah sahabat." ucap Key dengan mengulurkan jari kelingkingnya.


" Ya kau benar, kita adalah sahabat." jawabnya dengan mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Key.


" Kisah yang baru dimulai." ucap seorang pemuda yang memperhatikan keduanya.


" Yang mana?" tanya temannya yang penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh seorang pemuda bernama Akbar.


" Itu yang ada di sebelah sana." tunjuk Akbar kemeja Indi dan juga Key.


" Oh ternyata dua gadis itu, kau ini terlalu suka mengurusi urusan orang lain ya Akbar." ucap pemuda itu dengan melihat ke arah Akbar.


" Bukannya aku suka mengurusi urusan orang lain Beno, hanya saja kebetulan mereka sedang ada di hadapanku. Dan mereka banyak bercerita tadi, terutama akan takut kehilangan satu sama lain." jelas Akbar.


" Ya namanya juga mahasiswa baru, pastinya mereka juga belum lama kenal. Jadi nggak salah lah kalau mereka baru memulai persahabatan, ya mudah-mudahan saja kisah mereka akan berlanjut hingga lulus dari universitas ini. Walaupun seperti yang kita tahu, persahabatan di bangku Universitas belum tentu akan awet hingga wisuda." jelas Beno dan Akbar hanya mengganggu saja.


" Nah itu kau sangat mengerti, aku hanya sudah sering melihat drama. Hari ini mereka baik-baik kan, ke mana sama-sama. dan suatu hari mereka menjadi bertengkar, kemudian tidak ingin saling mengenal satu sama lain." jelasnya dan Beno hanya mengangguk saja.


" Yang kau katakan itu adalah hal yang wajar, selagi mereka tidak menggunakan kekuatan fisik." jawab Beno yang mengingat kejadian-kejadian yang sudah sering terjadi.


" Iya sih, tapi aku kasihan melihat mereka yang belum mengetahui kejamnya dunia perkuliahan." ucap Akbar.


" Amin." ucap keduanya serentak.


...----------------...


" Oh iya Key, jadi kapan kau ingin mencari Kia?" tanya Indi.


" Rencananya siang ini aku akan mencari Kia lagi, aku tidak ingin membuang-buang waktu. Aku sudah sangat merindukannya." jelasnya dengan berderai air mata.


" Aku tau perasaan mu, aku yang kehilangan kak Zaki aja sangat bersedih. Apalagi kau yang kehilangan saudara kembar, pasti sangat menyakitkan." ucap indah dengan mengelus punggung Key.


...----------------...


" Akbar, kau mendengarnya tidak?" tanya Beno.


" Iya aku mendengarnya, apa jangan-jangan cewek itu adiknya Zaki yang sepupunya Rey. Dan cewek itu kembarannya Kiara, kan mereka berdua dinyatakan menghilang." ucap Akbar.


" Bisa jadi itu, ayo kita samperin." ajak Beno.


Awalnya Akbar nggan untuk bertemu dengan keduanya, tetapi dengan bujuk rayu dari Beno. Akhirnya ia mau untuk mendatangi meja Key dan juga Indi.


" Maaf, permisi." ucap Beno.


" Ada apa ya kak?" tanya Indi.


" Boleh tidak kami bertanya?" ucap Beno dengan ragu-ragu.


" Mengenai apa ya kak?" ucap Indi yang justru bertanya bukannya menjawab.


" Tadi kami nggak sengaja mendengar percakapan kalian, jadi kami ingin memastikan sesuatu." ucapnya.


" Memastikan apa ya kak?" tanya Indi yang penasaran.


" Kau adalah Indi adik dari Zaki ya?" tanya Beno.


" Iya benar, kakak tau dari mana?" tanya Indi yang merasa privasinya sudah bocor.


" Kami adalah teman sekelas Zaki." jawabnya.


" Oh ternyata begitu ya." jawabnya dengan tersenyum.


" Iya, perkenalkan aku Beno dan yang ini Akbar." ucap Beno.


" Aku Indi kak." jawabnya dengan tersenyum.


" Kalau dia siapa, tetapi wajahnya tidak asing." ucap Beno dengan memperhatikan wajah Key.


" Kau sangat mirip dengan Kia, pacarnya David." ucap Akbar yang memperhatikan wajah Key.


" Setelah kau bilang begitu, aku menjadi teringat dengannya juga." ucap Beno.


" Hai kak, perkenalkan aku Key kembarannya Kia." ucapnya dengan tersenyum.


" Oh jadi begitu ya, pantas saja kau sangat mirip dengannya." ucap Akbar.


" Eh tunggu, bukannya Kia nggak punya kembaran ya." ucap Beno yang baru teringat, karena Kia tidak pernah menceritakan tentang Key.