Sepahit Sembilu

Sepahit Sembilu
Key 44



" Sebenarnya masalah si, tapi mau bagaimana lagi. Nggak mungkin aku mengusirnya, kasihan juga dia sudah sampai." batin Key.


" Iya, Adek nggak masalah kok Kak. Lagian Key juga uda kenal sama Rey. Jadi Key nggak masalah, malah Key merasa nggak enak sama Rey." ucapnya.


" Oh rupanya gitu, Kakak kira karena apa ekspresi mu begitu." ucap Dika.


" Aku nggak masalah kok, lagian masih ada banyak waktu." jawabnya.


" Tapikan kau harus jauh-jauh ke sini, padahal seharusnya kau sudah sampai kampus." ucap Key.


" Aku tidak masalah dengan itu semua, lagian tadi pagi Kak Dika menelpon. Kan aku nggak enak untuk nolak, lagian yang ku jemput kan bukan Mak Dugong jadi nggak masalah." ucapnya dengan tersenyum.


" Sepertinya Mak Dugong itu julukan untuk seseorang ya?" tanyanya yang penasaran.


" Yang kau katakan memang sangat benar, Mak Dugong itu memang julukan untuk seseorang. Dan jujur saja aku sangat malas untuk bertemu dengan dirinya, dia itu sangat-sangat merepotkan." ucapnya ya memang sangat malas bertemu dengan orang tersebut.


" Biar aku tebak, yang kakak kasih julukan Mak Dugong itu pasti Si Mia bukan." tebak Key dan Rey pun hanya tersenyum saja.


" Sepertinya tebakanmu itu sangat benar Dek, memang siapa sih Mia itu?" tanya Dika yang penasaran dengan sosok Mia.


" Adik akan ceritain ke Kakak, tetapi ceritanya nanti ya setelah pulang kuliah. Ini sudah jam 07.00 pagi Kak, kebetulan hari ini yang dimaksud kuliah jam 08.00." jelasnya dan Dika pun mengangguk.


" Ya sudah kalau memang begitu, sana berangkat takutnya macet di jalan." ucap Dika dan Key pun langsung menaiki motor Rey.


Mereka pun segera pergi dari kediaman Adrian, kebun menembus udara udara yang menghalangi. Ia melaju dengan kecepatan tinggi, hingga kini pada pukul 07.30 pagi mereka sudah sampai di kampus. Padahal biasanya waktu dari rumah Key ke kampus memakan waktu sekitar 45 menit, atau bahkan bisa lebih.


" Rey kalau mau mati jangan ngajak-ngajak aku." ucapnya yang langsung turun ketika baru sampai di parkiran kampus.


" Ya kali aku mau mati, impian dan cita-citaku saja belum tercapai." ucapnya.


" Ya maaf, habisnya naik motornya kenceng banget." ucap Key yang kesal.


" Tapi tadi kau bilang kau masuk jam 08.00 pagi, jadi agar tidak terlambat ya aku kenceng-kenceng lah. Kalau aku sih masih santai, karena aku masuk jam 09.00 pagi." jelasnya.


" Iya sih aku sempat bilang kalau masuk jam 08.00 pagi, tapi nggak harus naik motor sampai sekencang itu juga kali. Alhamdulillahnya saat ini kita masih selamat, tapi jangan diulangi lagi ya. Jujur aja aku sangat takut, gimana kalau tiba-tiba terjadi sesuatu dan kita harus pergi meninggalkan dunia ini." ucapnya yang membuat Rey menjadi merinding.


" Ya ngomongnya jangan kayak gitu juga kali, aku sampai merinding ini mendengarnya." ucapnya dengan menunjukkan tangannya yang bulu-bulunya sudah berdiri.


" Ya makanya kalau masih sayang sama nyawa, naik motor itu jangan kayak setan." ucap Key yang sedikit kesal.


" Iya deh nggak akan ulangi lagi, tapi kalau sama kamu aja." ucapnya kemudian lelah berlari pergi meninggalkan Key.


" Tambah hari ini anak makin dekat sama Rey, sepertinya dia nggak bisa dibiarin. Aku harus segera menyusun rencana, karena aku nggak mau dia merebut Rey dari diriku." ucapnya dengan menatap Key dari kejauhan.


Key masih tampak biasa saja, iya masih belum mengetahui rencana yang telah disusun oleh Mia. Ia masuk ke kelas dengan hati yang sangat gembira, karena pagi ini ia berangkat bersama dengan Rey. Walaupun jantungnya berdebar dengan sangat kencang, tetapi entah mengapa senyumnya tidak bisa lepas dari wajahnya.


" Cie yang lagi berbunga-bunga." ucap Indi.


" Apaan sih kau Indi." ucapnya


" Nggak usah ada yang ditutup-tutupin dari aku. Aku tahu kok kalau kau sebenarnya naksir sama Kak Rey, dan begitu juga sebaliknya." ucapnya.


" Nggak usah bohong deh, nggak mungkin Rey suka sama aku. Seperti yang kita tahu, dia itu merupakan mahasiswa terpopuler di kampus ini. Dan pastinya banyak mahasiswi yang suka sama dia, dan tentu saja mereka cantik-cantik. Sedangkan menurutku aku ini biasa saja, jika dibandingkan dengan mereka aku ini bagaikan langit dan juga bumi." ucapnya dengan mengingat kejadian yang pernah terjadi di depan matanya saat Rey dikerumuni dan direbuti oleh para mahasiswi.


" Kamu kalau ngomong jangan sembarangan, menurutku kamu sangat cantik. Dan bahkan kau lebih cantik daripada mereka, selain itu kau tidak hanya cantik dari luarnya saja tetapi juga dari dalamnya." ucap Indi.


" Bisa saja kamu memujiku, terima kasih atas pujian yang sudah kau berikan. Tetapi tetap saja, aku masih merasa tidak cocok bersanding dengan Rey." ucapnya.


" Mengapa kamu berpendapat seperti itu, aku rasa kamu cocok-cocok saja. Lagian tidak ada standar yang bisa mengatur apakah kau cocok dengan Kak Rey atau tidak, lagian kalian juga saling mencintai." ucap Indi menyakinkan.


" Kau bisa mengatakan kalau dia dan aku saling mencintai, tetapi itu hanya pendapatmu saja. Karena apa yang kau katakan tidak ada bukti nyatanya, bisa saja kau hanya membuat agar diriku tidak merasa bersedih." ucapnya.


" Kan aku sudah pernah bilang padamu Key, aku tidak akan pernah berbohong kepadamu. Dan lagian apa untungnya juga aku berbohong kepadamu, memang sih di satu sisi aku membuat kau bahagia. Tetapi aku juga bisa membuat kakakku marah, dan hasilnya akan menjadi pertengkaran hebat antara aku dan juga kakakku." jelasnya.


" Yang kau katakan ada benarnya juga, tetapi aku masih kurang yakin dengan perkataanmu. Seperti yang aku bilang di awal tadi, tidak ada bukti nyata yang menyatakan kalau Rey menyukai diriku." jelasnya dengan ekspresi sedih.


" Ya sudah kalau begitu, aku akan meyakinkan kakakku. Agar dia tidak meminta aku untuk meyakinkanmu lagi, tetapi agar dia bertindak langsung. Karena kau adalah tipikal orang yang sangat sulit untuk percaya akan suatu hal, dan kau harus melihat bukti nyatanya dulu baru mempercayainya." ucapnya kemudian langsung mengambil telepon genggamnya untuk menghubungi Rey.


" Kau mau ngapain?" tanya Key yang menggenggam tangan Indi.


" Ya aku mau menghubungi kakakku lah, menurutmu apa lagi." ucapnya.


" Jangan hubungi dia dong, aku tidak ingin dia mengetahui isi hatiku." ucapnya.


# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.


1. Naura Abyasya


2. Rela Walau Sesak


3. Derai Yang Tak Terbendung


4. Azilla Aksabil yang