Sepahit Sembilu

Sepahit Sembilu
Key 15



" Yang benar dek?" tanya dengan menggoyahkan tubuh Indi.


" Iya kak, cowok itu namanya kak Dika. Dan kak Dika itu kakak sulungnya dia." jelas Indi.


" Makannya, apa-apa tanya dulu." ucap Indi kemudian langsung meninggalkan Rey.


" Ya ampun Rey, kau ini kebiasaan. Jangan simpulkan dulu, tanya dulu la. Sekarang uda tau kan siapa cowok itu, jangan nangis lagi dan terus berjuang." ucap Nency kemudian juga pergi meninggalkan Rey.


" Siap nek, aku akan terus berjuang." jawab Rey dengan tersenyum.


" Kesempatan ku masih banyak, aku harus berusaha sekuat tenaga." batinnya kemudian langsung pergi menuju kamarnya.


...----------------...


Key kini sedang bosan, dan akhirnya ia pun melakukan panggilan Vidio dengan Indi dan juga Moza.


" Halo Indi, Moza." ucap Key untuk mengawali panggilan.


" Ada apa telepon?" tanya Moza.


" Aku sedang bosan, eh terus keingat sama kalian. Dan aku jadi penasaran dengan kejadian yang menimpa kembaran ku." ucap Key.


" Gimana, kalau kita besok ke rumah ketiga korban." usul Indi.


" Kalian beneran mau ke rumah korban, aku nggak ikut ya." ucap Moza yang masih tidak berani.


" Yauda deh, aku tau kakak masih takut dengan keluarga korban kan?" tanya Indi dan Moza pun mengangguk.


" Apa semengerikan itu ya?" tanya Key yang memang tidak tahu apa-apa.


" Sangat mengerikan, aku pun sebenarnya masih takut. Cuma karena kau penasaran, jadi aku temani." ucap Indi.


" Makasih ya Indi, besok selesai kelas kita langsung kesana ya." ucap Key.


" Iya Key, kau pasti sangat penasaran dengan kejadiannya kan. Aku yakin kau pasti awalnya sangat terpukul, ketika mengetahui saudara kembarmu meninggal." jelas Indi dan Key pun mengangguk.


...----------------...


Pagi yang sangat cerah, Key turun dengan pakaian yang tapi. Ia segera menuju meja makan, dan ia sangat bahagia melihat ketiga kakak sambungan yang tersenyum melihat ia.


" Key, ayo sarapan." ucap Aisyah.


" Iya, ma." jawabnya.


Key pun langsung menyantap makanan yang tersedia, ia sangat lahap memakannya. Aisyah sangat bahagia, karena anak sambungnya itu sudah mau memanggilnya dengan sebutan mama. Walaupun awalnya ia kaget ketika mengetahui yang datang kerumahnya bukanlah anak sambungnya yang selalu tinggal bersamanya, dan yang amat ia sayangi. Tetapi kini ia sangat bahagia, karena rumah menjadi seperti dulu lagi penuh dengan canda dan tawa.


" Makannya pelan-pelan sayang." ucap Aisyah.


" Nggak bisa ma, aku sudah terlambat." ucap Key.


" Loh kok bisa terlambat, ini masih jam 06.15 Key, dan kampus kalian masuk pukul 07.30." jelas Dika.


" Ya masuknya memang jam segitu, tapi aku kan harus mengejar angkot." jawabnya dan semuanya pun menggelengkan kepalanya.


" Nggak, kau tidak boleh naik angkot sayang." ucap Aldrian.


" Terus aku naik apa dong?" tanya Key yang sedang kebingungan.


" Eza, tolong kau antar Key!" ucap Aldrian.


" Siap ayah." jawab Eza dengan memberikan hormat, dan tersenyum.


" Kau ini ya, sifatmu nggak pernah berubah." ucap Aldrian.


" Maaf ayah, habisnya sudah kebiasaan." jawab Eza.


" Yauda deh, sana antar Key." ucap Aldrian dan keduanya pun langsung berangkat.


Kini sudah sampai di kampus Pelita, kampus tempat Key menempuh pendidikannya. Key keluar dari mobil Eza, kini semua mata memandangnya dengan tatapan tidak suka. Itu semua karena sebuah berita yang tersebar di forum kampus.


" We lihat itu sih cewek kecentilan sudah tiba." ucap seseorang yang lewat.


" Iya bener, cewek kayak gitu kok bisa Rey sukai ya. Dan bahkan ia menggait senior kita juga." ucap yang satunya.


" Dan coba lihat, sekarang dia di antar oleh cowok lain. Fiks dia Sasimo, uda pasti itu." ucapnya.


" Eh tunggu kalian, kalian bilang apa tadi?" tanya Eza yang tidak terima.


" Kerjaannya ngomongin orang aja, kalau aku nganter Key itu wajar. Karena bila seorang kakak mengantarkan adiknya, itu adalah suatu kewajiban." ucap Eza.


" Eh maaf kak, kami nggak tau." ucap cewek itu.


" Makanya kalau nggak tau, nggak usa ngomong yang aneh-aneh." ucapnya.


" Maaf kak." ucapnya kemudian langsung pergi.


" Dek, sebenarnya ada apa sih?" tanya Eza.


" Aku juga nggak tau kak." jawabnya.


Tiba-tiba saja ada yang berlari menghampiri Key, dan ia pun membuat Key kaget.


" Key gawat." ucap Indi dengan nafas terengah-engah.


" Kenapa, tenangkan dirimu dulu." ucap Key.


Indi pun menarik nafasnya untuk menenangkan dirinya, kemudian ia pun menceritakan apa yang membuatnya seperti itu.


" Begini Key…sebenarnya ada berita tentang dirimu di forum kampus, dan berita itu mengatakan kau cewek centil dan ganjen. Dan bahkan ada yang bilang kau itu…cewek bayaran." ucapnya dengan perlahan, karena takut Key menjadi sedih.


" Apa, mana beritanya?" tanya Eza dan membuat kedua kaget.


" Ini siapa Key?" tanya Indi.


" Ini kakak aku yang nomor tiga, namanya kak Eza." jelas Key dan Indi pun mengangguk.


" Oh ini ke kamu, kalau begitu aku tenang. Ini kak beritanya." ucap ini dengan menyerahkan handphonenya.


" Berita ini sudah sangat keterlaluan, kita harus segera mengklarifikasinya." ucap Eza.


" Tidak semudah itu kak, bila kita hanya menyangkal dan memberikan klarifikasi. Maka orang-orang akan berpikir, kalau itu memang adalah kita. Oleh karena itu aku tidak bisa melakukan itu, aku harus mencari dalang di balik ini semua terlebih dahulu. Agar orang-orang yang mempercayai berita itu, dapat mengetahui dalang dibalik semua ini. Dan mereka tidak akan membenciku kembali, malah justru berada di pihakku." jelas Key dan keduanya pun mengangguk.


" Lalu apa rencana mu selanjutnya?" tanya Eza.


" Untuk saat ini kita biarkan saja berita tersebut, nantinya pasti ada seseorang yang akan datang. Dan dia sendirilah yang akan membuka kedoknya, tetapi pada saat itu kita harus stand by menyiapkan rekaman atau video." jelas Key.


" Tetapi pastinya kau akan tidak nyaman, karena mereka pasti akan membicarakan yang tidak-tidak tentang dirimu." jelas Eza.


" Kakak percaya saja sama aku, omongan mereka tidak akan bertahan lama. Sebenarnya aku sudah mengetahui siapa dalang dibalik ini semua, hanya saja aku harus mengumpulkan bukti terlebih dahulu." jelasnya dan membuat keduanya pun menjadi penasaran.


" Kalau adek memang mengetahuinya, kenapa tidak sekarang saja?" tanya Eza.


" Sepertinya yang sudah ku bilang tadi kak." ucapnya.


" Ok kalau begitu, segera lakukan rencana mu dek." ucap Eza.


" Ok kakak tenang aja, secepatnya akan terbongkar siapa dalang dibalik semua ini." ucap Key.


" Tampaknya kau sangat yakin?" ucap Indi.


" Kita berdoa saja, insyaallah akan berjalan dengan lancar." jelas Key.


" Okelah, kalau begitu ayo kita masuk. Tapi kau harus menyiapkan mental terlebih dahulu, sebenarnya aku yang sangat takut dengan semua ini." ucap Indi.


" Sudah kau tenang saja, kak aku masuk dulu ya." ucapnya dengan melambaikan tangannya.