Sepahit Sembilu

Sepahit Sembilu
Key 18



" Bili…" teriak ibu itu dengan menatap kepergian Billi putranya.


...----------------...


Dan benar saja, kini Key menjadi pingsan. Keduanya tampak panik, tetapi itu masih belum melepaskan pelukannya.


" Key…" teriak Dika, kemudian langsung mengambil Key dari dekapan ibu itu.


" Tunggu dulu, tadi kau memanggilnya dengan sebutan apa?" tanya ibu tersebut.


" Dia ini bernama Keyza, biasanya aku selalu memanggil dia Key. Dia ini bukan Kia bu, tetapi kembarannya Kia." jelas Dika dan gini ibu itu pun berderai air mata kembali.


" Kalau seperti itu, harapan ibu kembali hancur. Padahal ibu sudah sangat berharap, kalai Bili masih hidup." jelas ini itu.


" Kami pun juga masih berharap, kalau dia masih hidup." jelas Dika dan ibu tersebut meneteskan air matanya.


" Ibu banyak-banyak berdoa saja." ucap Dika.


" Bu maaf sebelumnya, sebelum mereka pergi Ibu sempat marah besar ya pada Billi. Dan sebenarnya, Ibu sempat mengatakan hal yang tidak wajar di dalam hati ibu. Dan akhirnya, apa yang Ibu katakan itu terjadi kepada mereka." ucapkan dan membuat semuanya kaget.


" Bagaimana kau bisa tahu nak?" tanya ibu itu.


" Karena aku merasakan aura kejanggalan, dan ternyata itu semua berasal dari ibu." jelas Key.


" Tolong maafkan Ibu nak, Ibu tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Karena perkataan ibu yang sesaat itu, dan akhirnya kita semua menjadi kehilangan orang yang kita sayang." jelas ibu itu.


" Sudahlah bu, semuanya sudah terjadi. Kini kita tidak bisa berbuat apa-apa, kita hanya perlu berdoa saja agar mereka dapat tenang."jelas Key.


" Saran saya ya bu, ibu harus berhati-hati ketika berbicara. Karena bisa saja sembunyi berbalik ke ibu, dan ibu rela meninggalkan keluarga ibu?" jelas Key.


" Yang kau katakan benar, dan kini ibu telah menyesalinya. Tetapi waktu tidak bisa diulang, Ibu tidak bisa mendapatkannya kembali seperti dulu." jelas ibu itu.


" Ini semua sudah terjadi bu, tujuanku kesini untuk mencari petunjuk tentang keberadaan Kia." jelasnya.


" Maksudmu bagaimana?" tanya ibu itu.


" Aku masih bisa merasakan kalau Kia masih hidup, dan tujuanku sini untuk mencari petunjuk yang tersisa. Dan aku berharap dengan petunjuk yang Ibu berikan, aku dapat menemukan kembaranku." jelasnya dan membuat ibu itu bingung.


" Bagaimana kau sampai saya yakin itu?" tanya ibu itu yang penasaran.


" Kami berdua kembar bu, dan aku masih bisa merasakan keberadaannya. Tetapi aku tidak tahu saat ini dia di mana, karena itu kini aku sedang mencari petunjuk keberadaannya." jelasnya.


" Yang kau katakan sangat masuk akal, dan saya juga pernah mendengar. Kalau anak kembar itu ikatan batinnya sangat kuat, kalau begitu saya berharap kau masih bisa menemukan saudara kembar mu. Dan itu juga bisa membuat saya memiliki harapan, putra saya masih hidup." jelasnya dengan meneteskan air mata.


" Saya akan berusaha bu, dan bila saya sudah mendapatkan kabar. Saya akan berusaha untuk mengabari ibu, tetapi saat ini saya membutuhkan banyak informasi. Saya masih ingin menyelidiki keberadaan kembaran saya, saya tidak akan berhenti sebelum saya menemukan titik buntu." jelasnya dengan sangat antusias.


" Terima kasih atas infonya bu, info ini saja sudah sangat cukup untukku. Dan aku tidak akan pernah menyerah untuk mencari kembaranku, walaupun aku harus menghabiskan waktu yang cukup banyak." jelasnya dengan tersenyum kemudian ibu itu pun langsung memeluknya.


" Ibu yakin dengan kegigihan, Ibu percaya kau pasti akan menemukan jalan. Ibu akan terus mendoakanmu, berjalanlah dan carilah sampai kau menyerah." jelas ibu itu kemudian mencium kepala Key.


" Terima kasih bu, saya akan berusaha mencari kembaran saya." jawabnya dengan tersenyum.


" Kalau begitu kami permisi dulu ya Bu, kami ingin menuju ke tempat lokasi kejadian." jelas Dika dan ibu itu pun mengangguk.


" Ya udah kalian hati-hati." ucap ibu itu.


Ketiganya pun segera keluar dari rumah tersebut, kemudian mereka langsung pergi ke tempat kejadian. Masih banyak tanda tanya di dalam otak Key, dan membuat ia semakin ingin mencari tahu.


Kini mereka sudah tiba di lokasi kejadian, Key pun langsung ke tempat di mana kejadian itu berlangsung. Ia pun mengamati sekitar, kemudian Ia pun memegang beberapa dahan pohon di sekitar sana. Ia pun melihat bayangan, tiga orang tergelincir atau terlempar dari mobil.


Orang pertama yang terlempar adalah Moza, tetapi Moza hanya terbaring di tempat. Sedangkan kedua orang lagi tergelincir hingga ke sungai dan hanyut. Key pun melihat wajah salah satu orang yang hanyut, alangkah kagetnya ketika melihat wajah Kia.


Wajah key langsung memucat, dan Dika tampak panik. Ia pun segera menghampiri adiknya, dan menanyakan apa yang dia lihat. Sontak saja Indi kaget mendengar pertanyaan itu, karena ia sampai kini masih belum mengetahui kelebihan yang dimiliki oleh Key.


" Apa yang kau lihat Key?" tanya Dika.


" Maksud kak Dika bagaimana?" tanyain Indi yang masih tidak mengerti.


" Mungkin lebih baik Key saja yang menjelaskannya padamu." ucap Dika.


" Baiklah kak." jawab Indi yang masih bingung dengan perkataan Dika.


Mereka segera membawa Key yang kini sedang pucat kedalam mobil, Indi memegang Key di belakang. Mereka pun segera pulang ke rumah, dan sesampainya di rumah. Semua orang dikagetkan dengan kondisi Key.


" Dika, apa yang terjadi dengan Key?" tanya Aisyah.


" Ceritanya panjang, tapi yang terpenting sekarang kita bawak Key dulu." ucap Dika, kemudian mereka pun langsung membawa Key masuk ke kamarnya.


" Dika, apa yang terjadi pada Key?" tanya Aisyah yang sudah cemas.


" Aku juga kurang tau ma, tapi tadi kami pergi ke lokasi kejadian kecelakaan. Dan Key pun memegang sesuatu disana, setelah itu dia memucat dan pingsan." jelas Dika.


" Ya ampun, kan sudah mama bilang. Jaga Key dengan baik, ini kau malah membawa dia ke sana. Apakah kau ingin Key juga meninggal kita." ucap Aisyah yang sudah panik.


" Maafkan Dika ma, Dika nggak tau kalau akan jadi seperti ini." ucap Dika dengan menundukkan kepalanya.


" Maaf tante, dari pada tante marah-marah. Bukankah lebih baik tante berusaha menyadarkan Key." ucap Indi dan Aisyah pun segera menghampirinya.


Aisyah memegang tangan Key dengan sangat erat, kini ia ketakutan kehilangan Key. Ia sudah cukup menderita, karena kepergian kedua putrinya. Ia tidak ingin lagi, kehilangan putri satu-satunya saat ini. Ia terus saja menggenggam tangan Key, sambil tak henti-hentinya menangis.