
" Mengapa harus saya, bukankah masih banyak para mahasiswa dan mahasiswi di kampus ini." ucap Davina.
" Saya sudah mendengar dari dosen mengajar di kelas tadi, dosen itu mengatakan kalau kamu cukup lihat dan cocok untuk dilibatkan dalam penerbitan jurnal ini. Saya tidak mementingkan kamu anak baru atau lama, yang terpenting adalah kemampuan kamu. Karena hal ini juga melibatkan kampus kita, jadi saya harap kamu mau berpartisipasi dalam hal ini." jelasnya.
" Tetapi saya tidak enak dengan para mahasiswa yang lain Bu, saya ini masih anak baru di kampus ini. Dan dengan santainya saya malah terlibat dengan hal ini, sedangkan di Universitas ini masih banyak para mahasiswa di atas saya." jelasnya.
" Tidak ada yang perlu kamu pikirkan tentang mereka, sayalah orang yang memilihmu. Dan bukan hanya kamu saja yang akan menjadi perwakilan, ada beberapa mahasiswa dari kelasmu dan juga ada beberapa mahasiswa dari tingkatan atasmu. Dan untuk mendapatkan kesempatan ini bukanlah hal yang mudah, jadi jangan sia-siakan kesempatan yang telah ada di depan matamu." ucapnya.
" Beri saya waktu untuk mempertimbangkannya terlebih dahulu Bu, yang Ibu katakan memang benar ini adalah kesempatan yang bagus. Tetapi kondisi fisik saya belum tentu bisa menjaminnya, dan saya juga memerlukan izin dari kedua orang tua saya." jelasnya dan ibu Kaprodi itu pun mengangguk.
" Saya juga sudah mendengar mengenai kondisi fisikmu, karena itu saya mengizinkanmu untuk bertanya kepada orang tuamu terlebih dahulu. Tetapi saya berharap kamu mau menerima kesempatan ini, karena hal ini bukanlah hal yang mudah kamu dapatkan." jelasnya.
" Terima kasih atas kesempatannya Bu, saya akan mempertimbangkannya terlebih dahulu. Jika memang saya sudah mendapat izin dari kedua orang tua saya, maka secepatnya saya akan mengabari ibu." jawab Davina dan dosen itu pun mengangguk. Kemudian Ia pun segera keluar dari ruangan tersebut, dan menemui Nurul yang sudah sejak tadi menunggunya.
" Apa yang dikatakan oleh ibu Kaprodi?" tanya Nurul yang penasaran.
" Dibuka prodi memintaku untuk bergabung dalam penulisan jurnal, tetapi aku masih bimbang dengan hal itu. Seperti yang kau tahu aku adalah mahasiswa baru di sini, dan aku rasa aku tidak pantas untuk menjadi perwakilan mahasiswa." jelasnya.
" Kamu jangan berpikir seperti itu Davina, aku yakin Ibu Kaprodi dan juga para dosen juga sudah memikirkannya. Dan aku rasa kamu memang tepat untuk mendapatkan kesempatan ini, dan jangan pernah sia-siakan kesempatan yang sangat bagus ini." ucap Nurul dengan tersenyum.
" Tetapi aku tidak enak dengan yang lainnya, pastinya mereka akan berpikir yang aneh-aneh tentang diriku." ucapnya yang khawatir.
" Kamu tenang saja Davina, aku yakin mereka tidak akan berani berkata apa-apa. Karena untuk mendapatkan kesempatan ini bukanlah hal yang mudah, bahkan aku juga sudah pernah untuk mencobanya. Dan juga banyak para mahasiswa dan mahasiswi yang berusaha untuk mencobanya juga, tetapi banyak dari kamu yang gagal. Dan kamu adalah orang yang beruntung, karena terpilih walau kamu tidak mengikuti tesnya." jelas Nurul.
" Tetapi..." ucapnya yang terhenti.
" Lebih baik kamu pikirkan saja terlebih dahulu, untuk keputusan kamu bisa ambil nanti. Dan mungkin lebih baik kamu bercerita dengan orang yang memiliki banyak pengalaman, agar kamu tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada di depan matamu." jelas Nurul.
" Oh iya kamu juga baru puli ya, dan untuk saat ini yang terpenting adalah kepedihan dirimu. Untuk mengingat orang di masa lalu saja kamu masih belum bisa, tetapi kamu dipaksa untuk membuat sesuatu yang belum pernah kamu kerjakan. Memang kecerdasan kamu di atas rata-rata, karena kamu bisa melakukan suatu hal yang belum pernah kamu lakukan. Hal itu dapat terbukti saat kita berada di kelas tadi, kamu adalah mahasiswa baru dan belum pernah mempelajari hal tersebut. Tetapi dengan mudahnya kamu bisa menjawab semua pertanyaan itu, yang bahkan kami sama sekali tidak bisa menjawabnya." jelas Nurul dengan mengingat kejadian di dalam ruangan kelas tadi.
" Aku tidak sepintar yang kamu katakan, aku juga tidak mengerti dengan apa yang aku lakukan. Tiba-tiba saja aku merasa kalau aku sudah pernah mengerjakannya, walaupun aku tidak tahu pernah mengerjakannya itu di mana." jelasnya.
" Ya sudah kamu jangan pikirkan hal itu lagi, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mengingatnya. Karena aku takut kamu akan drop, dan hal itu juga akan membuat aku bersedih. Lebih baik kita komunikasikan terlebih dahulu ini kepada Kak Akbar, atau mungkin kepada orang-orang yang lebih mengerti mengenai kondisimu ini." jelas Nurul.
" Yang kau katakan memang benar, sebenarnya aku berencananya hari ini aku ingin berkeliling kampus ini terlebih dahulu. Karena aku merasa aku sudah pernah datang ke sini, tetapi aku tidak tahu aku datang ke sini bersama dengan siapa." jelasnya.
" Ya sudah kalau itu memang keputusanmu, aku harap dengan kamu berkeliling kamu sini kamu akan mengingat sesuatu. Apakah kamu ingin aku temani?" tanyanya untuk memastikan.
" Tidak perlu Nurul, aku sudah janjian dengan Akbar. Dan rencananya selepas pulang kampus ini aku akan berkeliling kampus bersama dengannya, dan mungkin saja aku akan mengingat lebih banyak hal tentang kebersamaan ku bersama dengannya juga." jelasnya dan Nurul kan mengganggu.
" Kalau begitu aku bantu melewati doa, semoga saja kamu bisa segera mengingat semua momen yang telah kamu lupakan. Dan kamu bisa mengetahui apa penyebab kamu merasa nyaman di daerah sini, walaupun dari kabar yang beredar kamu belum pernah sama sekali ke kampus ini." jelas Nurul.
" Terima kasih Nurul, kamu adalah orang yang sangat baik. Dan aku sangat bersyukur karena bisa bertemu denganmu, aku berharap kita bisa menjadi teman hingga kita diluluskan dari tempat ini atau bahkan hingga kita menemui ajal." ucap Davina yang kemudian langsung memeluk Nurul.
" Entah mengapa ketika aku memelukmu aku merasa seperti memeluk Kia, sebenarnya siapa kamu sebenarnya?" batin Nurul.
Tiba-tiba saja terdengar sebuah klakson, dan kini keduanya pun menoleh ke arah sumber suara. Dan ternyata di sana sudah ada Akbar yang menunggu, keduanya pun langsung melepaskan pelukannya. Dan Davina langsung menghampiri Akbar, karena sesuai dengan janji mereka akan pergi mengelilingi kampus.
" Aku pergi dulu ya Nurul." ucap Davina dengan tersenyum.
" Hati-hati ya Davina, dan buat Kak Akbar bawa motornya jangan balap-balap." ucap Nurul mengingatkan dan Akbar pun mengangguk.