
Key pun kini mengantarkan David menuju kelasnya, tampak para mahasiswa yang kaget ketika melihat Key. Tetapi mereka mencoba tenang, dan memperhatikan Key secara seksama.
" Dia bukan Kia." batin seorang mahasiswi fakultas hukum itu.
" Sekarang sudah sampai di depan kelas, aku kembali ke kelas ku dulu ya." ucap Key dengan tersenyum.
" Yauda hati-hati ya beb." ucap David dan Key hanya tersenyum saja.
" Ayo semuanya duduk." ucap Fatir yang baru saja tiba.
Semua mahasiswa dan mahasiswi pun kembali duduk, kini Fatir memperhatikan David. Ia sangat senang karena mahasiswa kesayangannya telah kembali, walaupun dalam kondisi yang masih belum pulih sepenuhnya. Dan setidaknya ada seseorang yang bisa membuat ia menjadi lebih baik, walaupun ia buka Kia, tetapi dengan melihat wajahnya David bisa pulih.
" David, selamat datang kembali ke kelas saya. Bagaimana keadaanmu?" tanya Fatir.
" Saya baik-baik saja pak." jawabnya dengan tersenyum.
" Syukurlah kalau begitu, saya harap kau bisa secepatnya pulih." ucap Fatir.
" Bapak tenang saja, dengan kehadiran Kia saya akan segera pulih." ucapnya.
" Tapi dia bukan…" ucap mahasiswi itu yang terhenti karena mulutnya di tutup oleh Beno.
" Kau tidak ingat David cepat pulih?" tanya Beno.
" Tentu, aku mau David cepat pulih. Tapi Perempuan itu bukan Kia, aku tidak akan membiarkan ia membohongi David." ucapnya.
" Lena, kau tenang saja ya. Kami mengenal perempuan itu, dan sebenarnya bukan kemauan dia untuk berpura-pura menjadi Kia. Tetapi untuk saat ini tidak ada cara lain, dia melakukan itu juga agar David cepat pulih." jelas Beno.
" Ternyata kau mengenalnya, siapa dia sebenarnya?" tanya Lena Yang penasaran.
" Aku akan menjelaskannya nanti, saat ini kita mulai jam pembelajaran terlebih dahulu." ucapnya dan mereka pun memperhatikan pembelajaran kembali.
Akhirnya jam pembelajaran pun selesai, kini mereka semua berhambur keluar dari kelas. Akbar pun segera menggandeng teman David, karena mereka takut kehilangan David. Sedangkan Lena langsung menggandeng tangan Beno, ia sudah sangat penasaran dengan sosok wanita yang sempat muncul bersama dengan David tadi.
" Sekarang jam pembelajaran sudah selesai, sekarang jelaskan siapa wanita itu?" tanya Lena yang penasaran.
" Sku akan menjelaskan kepadamu, nama perempuan itu adalah Key. Kau tidak perlu takut dia berbuat sesuatu, dia melakukan semua ini juga demi agar David bisa pulih. Dia adalah kembaran dari Kia, karena itu wajahnya sangat mirip dengan Kia." jelasnya dan membuat Lena kaget.
" Jadi Kiara memiliki kembaran, kenapa kita tidak mengetahuinya selama ini?" tanya Lina yang sangat kebingungan.
" Kalau untuk hal itu, lebih baik kau tanyakan langsung kepadanya. Kami tidak berani menceritakan hal pribadi, karena hal itu pasti akan sangat menyakitkan." jelas Beno dan Lena pun mengangguk.
" Kalau begitu aku bisa tenang, aku kira awalnya dia adalah orang jahat. Tapi ternyata dia adalah kembaran Kiara, jadi aku tidak perlu berprasangka buruk kepadanya lagi." ucap Lena dengan tersenyum.
...----------------...
" Apakah kau yakin, kau akan berpura-pura menjadi Kiara?" tanya Indi.
" Tidak ada pilihan lain Indi, Ini adalah satu-satunya cara agar David cepat pulih. Bila menunggu kak Kia ditemukan, aku yakin David akan semakin depresi." jelas Key dan Indi pun mengambil.
" Aku juga mengetahui hal itu, itulah yang menjadi kesulitanku saat ini. Aku belum mengetahui sifat asli kembaranku tersebut, tetapi saat ini aku terpaksa berpura-pura menjadi dia agar kekasihnya cepat pulih." jelasnya yang memang sedang kebingungan.
" Kenapa kau tidak tanya kepada kakakmu saja"? usul Indi.
" Kenapa aku nggak kepikiran dari tadi ya." ucapnya dengan menggelengkan kepala.
" Kalau begitu cepat hubungi kakakmu, takutnya nanti lagi muncul dan kau melakukan tingkah yang tidak pernah ditunjukkan oleh kembaranmu." jelas ini Dan tidur segera menelpon kakaknya.
" Assalamualaikum kak." ucapnya untuk mengawali telepon.
" Waalaikumsallam, ada apa ya adik telepon jam segini?" tanya Dika yang merasa heran dengan tingkah adiknya.
Dengan rasa cemas dan takut, akhirnya Key memberanikan diri untuk menceritakan kejadian tadi pagi. Sobek saja Dika yang mendengarnya menjadi kaget, dan ia tidak menyangka kalau adiknya bisa mengambil keputusan seperti itu.
" Mengapa adek mengambil keputusan sendiri, seharusnya adek tanya dulu sama kakak, mama dan ayah." jelas Dika.
" Ini semua juga bukan kemauanku kak, tetapi aku tidak tega melihat David. Tepatnya ia sangat stres kehilangan Kiara." ucap Key.
" Kalau ini sudah memang keputusanmu, kakak juga tidak bisa berkata apa-apa. Kakak harap dengan ini semua David bisa cepat pulih, dan kau juga tidak akan terus-menerus menjadi Kia. Kau juga memiliki kehidupanmu sendiri, sifat dan karakter kalian juga sebenarnya sangat bertolak belakang. Nanti kakak akan kasih tahu semua detail tentang Kiara, tidak akan nyaman bila berbicara di dalam telepon." jelas Dika dan Key pun mengangguk.
" Makasih ya kak." jawabnya dengan tersenyum.
" Siapa yang telepon?" tanya David yang baru saja tiba, dan ia pun langsung mengambil telepon tersebut.
" Halo ini siapa?" tanya David yang sedikit kesal.
" Kau ya David, aku nelepon adikku apa nggak boleh." ucap Dika yang menyadari kalau itu adalah suara David.
" Eh rupanya kak Dika yang telepon, tentu tidak masalah dong kak. Kakak kan kakaknya Kia, bahkan kakak yang lebih memiliki hak untuk Kia." ucapnya yang enggan.
" Nah itu kau tahu, ganggu aja kakak adik lagi telepon." bentak Dika dari seberang telepon, dan David pun segera mengembalikan telepon Key.
" Udah tahu kan siapa yang telepon?" tanya Key yang sedikit kesel.
" Iya aku udah tahu, maafin aku ya. Aku cuma takut kehilangan kamu, apalagi kamu sudah berapa bulan ini menghilang." ucapnya yang memang sangat takut kehilangan.
" Bagus ya mulai romantis-romantisan." teriak Dika.
" Maaf kak, kakak jangan marah-marah mulu kenapa. Nanti gantengnya ilang loh, kalau udah hilang gitu siapa juga yang repot. Pastinya aku yang repot, karena diledekin punya kakak yang jelek." ucapkan dan David pun tertawa melihat ekspresi wajah Key.
" Semakin hari dia semakin lucu, walaupun aku rasa tinggalnya kali ini agak berbeda." batin David.
" Jangan ngomong kayak gitu kenapa dek, kakak jadi takut tahu." ucap Dika yang membayangkan kalau adiknya dihujat.
" Ya makanya kakak jangan marah-marah mulu." ucapnya untuk menenangkan Dika.
" Ya udah kakak nggak akan marah, tapi ingat ya pulang kuliah nanti jangan kemana-mana." pesan Dika.