
" Ternyata selama ini Akbar menyimpan hatinya untuk pacarnya, aku kira ia tidak tertarik sama sekali dengan wanita. Sungguh dia adalah lelaki yang setia, Devina pasti sangat bahagia memiliki kekasih sepertinya." ucap Lena.
" Ya itulah Akbar, dan aku berharap mereka akan menjalani hubungan sampai ke jenjang pernikahan. Walaupun saat ini mereka masih terbilang muda, tetapi pengorbanan keduanya sungguh sangat tidak bisa diduakan. Aku saja mungkin tidak bisa melakukannya, dia rela menjauhi semua wanita yang dekat dengannya hanya untuk Davina seorang." jelas Beno.
" Tidak kusangka kisah perjuangannya cukup berat, aku menjadi tidak yakin apakah aku bisa seperti dia. Walaupun aku sangat mencintai Kia, tetapi terkadang terbesit niat buruk dalam pikiranku. Tetapi dia rela menunggu bertahun-tahun, hanya untuk mencintai Davina. Aku berharap Kia cepat ketemu, aku sangat merindukannya." ucap David.
" Kita sama-sama berdoa ya, semoga dalam waktu dekat ia ditemukan. Namun bila ia tak kunjung ditemukan, kami berharap kamu bisa melupakannya. Dan segera mencari pengganti, walaupun wanita itu tidak akan sama seperti Kia. Setidaknya ada yang menemanimu di saat engkau bersedih, dan kau juga harus belajar mencintai wanita itu." jelas Beno dan David pun mengangguk.
" Aku mengerti dengan apa yang kau khawatirkan, aku akan berusaha memperlakukan wanita itu dengan sebaik mungkin jika Kia tidak ditemukan. Tetapi untuk saat ini aku hanya ingin memikirkan Kia saja, dan mungkin untuk beberapa tahun ke depan aku ingin memilih untuk sendiri." jelas David.
" Mungkin itulah yang kau butuhkan sekarang ini, kami sebagai teman hanya bisa mendukungmu saja. Semua keputusan ada di tanganmu, dan semoga saja kau bisa melakukan semuanya dengan terbaik." jelas Beno.
...----------------...
" Selamat siang bu." ucap Akbar dengan tersenyum.
" Eh rupanya ada Akbar, ada yang bisa dibantu?" tanya pegawai TU tersebut.
" Saya menemaninya untuk mendaftar Bu." jelas Akbar.
" Haduh maaf ya, sistem pendaftaran kita sudah tidak seperti dulu. Kamu harus mendaftar lewat online terlebih dahulu, kemudian baru memverifikasi berkasnya di sini." jelas pegawai itu.
" Kalau begitu kita pulang dulu ya, aku akan bantu untuk mendaftarkan. Kemudian besok kita akan kembali ke sini." ucap Akbar dengan tersenyum dan pegawai itu menjadi kaget.
" Seorang Akbar tersenyum kepada wanita, ini adalah momen yang sangat langka. Apalagi sudah banyak beredar kabar Kalau Akbar itu pencinta sesama jenis, walaupun sebenarnya itu bukanlah kabar yang benar. Karena ternyata Akbar juga mencintai seorang wanita, dan wanita ini sangat cantik." batin pegawai itu.
" Ayah sudah mendaftarkan lewat online, dan hari ini aku ke sini untuk verifikasi data. Jadi nggak perlu besok lagi beb, jadi aku nggak terlalu merepotkan kamu." ucapnya dengan tersenyum.
" Apa." teriak pegawai itu yang kaget.
" Kenapa Bu?" tanya Akbar yang ikut kaget.
" Nggak apa-apa kok nak Akbar." ucapnya.
" Biar aku tebak, pasti Ibu ini kaget ketika aku memanggilmu dengan sebutan beb." ucap Davina dan tanpa sadar pegawai itu pun mengganggu.
" Saya tidak mengetahui apa yang sedang ibu pikirkan, saya hanya menebaknya saja. Itu semua karena ketika saya bersama dengan Akbar tadi, banyak para mahasiswa dan mahasiswi yang menatap ke arah kami. Dan jujur saja hal itu membuat aku tidak nyaman, dan akhirnya aku pun menyimpulkan hal ini." jawabnya dengan menatap Akbar.
" Kenapa kamu tidak bilang dari tadi beb, kan aku bisa bentak mereka Kalau kamu tidak nyaman?" ucap Akbar dengan mengelus kepala Davina.
" Aku itu nggak suka keributan, jadi lebih baik segera kita selesaikan semuanya. Jujur tiba-tiba aja aku merasa lapar." ucapnya dengan ekspresi manja.
" Aduh, manjanya sih pacar aku ini." ucap Akbar.
Kini pegawai itu merasa seperti obat nyamuk, tetapi ia juga merasa bahagia. Karena kabar yang ia dengar selama ini adalah hoax, dan akhirnya ia sangat senang dengan hal ini. Dan ia meyakini, kalau Akbar pastinya akan sangat bahagia bersama dengan Davina.
" Tolong jangan buat saya menjadi obat nyamuk, segera selesaikan proses verifikasinya." ucap pegawai itu dan Akbar pun tertawa.
" Makanya cari pacar dong Bu, biar Ibu bisa disayang-sayang." ucap Akbar dengan mengelus kepala Davina.
" Jangan gitu dong, aku udah laper nih. aku mau cepat menyelesaikan prosesnya, nanti kalau ibunya ngambek bisa lama " ucapnya.
" Kamu tenang aja, Ibu cantik ini nggak akan marah kok." ucapnya dengan memuji pegawai itu.
" Iyalah tuh yang mulutnya manis, udah cepat sini cantik biar kita proses." ucap pegawai itu.
Davina pun segera memberikan berkasnya, kini pegawai itu pun mengecek semua data yang sudah diisi dan berkas yang dibawa oleh Davina. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya proses verifikasi telah selesai. Dan pegawai itu pun mengembalikan berkas yang dibawa oleh Davina, kemudian tersenyum dengan sangat ramah.
" Terima kasih Davina, semoga kamu bisa betah kuliah di sini. Dan kamu harus jaga pacar kamu, walaupun ia tidak pernah melirik wanita lain tetapi banyak wanita yang selalu mengejarnya. Walaupun dia adalah tipikal lelaki yang setia, tetapi kita tidak tahu kalau tiba-tiba saja khilaf menyambar dirinya." ucap pegawai itu mengingatkan Davina.
" Ibu tenang saja, iya tidak akan mungkin pergi dari genggamanku. Kalau tidak tidak akan mungkin dia akan menungguku hingga satu tahun Bu, padahal satu tahun itu adalah waktu yang cukup mengalahkan. Dan bahkan pada saat itu masih ada belum kabar kejelasan dariku, dan akhirnya kini kami bersama kembali." jelas Davina dan pegawai itu pun terkejut.
" Ibu tahu nak, tetapi ibu hanya mencoba untuk mengingatkan saja. Karena yang namanya laki pasti memiliki sikap buaya, walaupun kini sikap buayanya masih belum keluar. Tetapi mudah-mudahan saja sikap buayanya akan terus terpendam, hingga maut memisahkan kalian." jelasnya.
" Terima kasih atas doanya bu, dan saya tidak akan pernah menduakan Davina. Karena kehadirannya adalah anugerah dari sang pencipta yang paling besar untuk saya, dan hanya sekedar kata-kata saja tidak akan pernah cukup. Saya akan selalu menjaganya, dan berusaha melakukan yang terbaik untuk dirinya." ucap Akbar dengan tersenyum.
" Kalian memang pasangan yang serasi, Ibu harap bisa hadir di acara pernikahan kalian. Tapi bukan berarti Ibu berharap acaranya secepat mungkin ya, Ibu mau kalian lulus dari universitas ini terlebih dahulu." ucap pegawai itu yang tiba-tiba saja matanya melotot.
" Hal itu tidak akan menghindar jadi Bu, karena saya akan melakukan apapun yang dikatakan oleh Davina. Dan saya mengetahui kalau Davina sangat mencintai pendidikan, saya sih berharap kami akan melanjutkan ke jenjang berikutnya setelah kami lulus S2. Itulah cita-cita Davina yang pernah diceritakan kepada saya, dan saya akan berusaha untuk mengabulkan cita-cita yang dia inginkan." ucap Akbar.