
" Cita-cita yang baik, kalau begitu Ibu akan mendukung kalian." ucap pegawai itu dan keduanya pun tersipu malu.
" Ibu ini, kalau begitu kami permisi dulu ya Bu." ucap Akbar kemudian keduanya pun segera pergi.
Kini keduanya pergi menuju fakultas ekonomi, tempat di mana Davina daftar ulang. Davina pun langsung diarahkan ke ruang Kaprodi, dan ia pun segera mengisi KRS. Keduanya terus saja menjadi perhatian, banyak para wanita yang iri kepada Davina. Tetapi kini mereka tidak bisa berkata apa-apa, karena saat ini di samping Davina ada Akbar.
Setelah pengisian KRS, Davina pun langsung diarahkan ke sebuah kelas. Dan Akbar pun segera meninggalkan Davina, kemudian ia kembali ke fakultasnya sendiri. Kini Davina hanya seorang diri, dan banyak para wanita yang menatapnya dengan tidak suka. Karena Davina dekat dengan Akbar, yang merupakan salah satu cowok terkeren di kampus itu.
" Baik anak-anak semua, hari ini kita kedatangan mahasiswa baru. Memang bisa dikatakan ini sudah cukup telat, tetapi tidak ada salahnya jika ingin menempuh pendidikan." ucap dosen yang ada di ruangan itu.
" Sepertinya cewek itu punya bakingan, hingga ia bisa sesantai itu." cibir seorang mahasiswi.
" Silakan perkenalkan dirimu terlebih dahulu!" ucap dosen itu.
" Halo semuanya, perkenalkan nama saya Davina. Dan mudah-mudahan kita bisa menjadi teman, saya harap teman-teman semua mau berteman dengan saya." ucapnya dengan lembut.
" Nama yang sangat indah, kalau begitu silakan duduk di kursi yang kosong!" ucap dosen itu mempersilahkan.
" Aku tidak sedang salah dengar bukan, itu beneran si Davina pacarnya Kak Akbar sejak SMA. Tetapi mengapa ia bisa seperti orang sehat, bukannya ada kabar yang mengatakan kalau dia penyakitan ya?" tanya seorang mahasiswa yang tidak percaya.
" Bukan hanya kau saja yang tidak percaya, aku juga tidak mempercayai hal ini. Dan sebenarnya aku berharap dia udah mati, jadi aku bisa mendekati Kak Akbar dengan sangat tenang. Tetapi semuanya salah, ternyata dia masih hidup." ucap mahasiswi yang satunya lagi.
" Halo Davina, perkenalkan nama aku Nurul. Semoga kita bisa menjadi teman ya." ucap Nurul dengan tersenyum.
" Halo juga Nurul, aku sangat senang bisa berkenalan denganmu. Dan semoga kita bisa menjadi teman hingga wisuda." jawab Davina.
" Semoga saja begitu." ucapnya dengan tersenyum.
" Baik sekarang kita lanjutkan proses pembelajaran, dan sesuai dengan perkataan Ibu minggu lalu. Untuk materi kali ini, kita akan melakukan tugas kelompok. Yang terdiri dari dua orang, dan silakan saja kalian pilih sendiri." ucap dosen tersebut.
" Waduh, aku lupa." ucap Nurul.
" Silakan segera tulis nama kalian dan juga teman kalian, kemudian serahkan kepada ibu dan ibu akan segera membagi kelompok kalian." ucapnya.
Semuanya pun segera mencari kelompoknya, dan melupakan tentang Davina untuk sesaat. Setelah proses yang cukup lama, akhirnya semuanya pun segera mengumpulkan kertas yang bertuliskan nama mereka. Dan dosen itu pun mengacaknya kemudian langsung membagikannya. Kini Davina dan Nurul mendapatkan giliran ke 10, yang bisa dikatakan sudah dekat akhir.
" Kita dapat urutan nomor 10." ucap Nurul.
" Iya, bisa tenang dikit." ucapnya dengan tersenyum.
" Apa maksudmu, aku tidak mengerti." ucapnya.
" Kau tidak mengetahui kabar yang beredar tentang mu?" tanyanya dan Davina pun menggelengkan kepalanya.
" Astaghfirullah Davina, memangnya selama ini kamu kemana aja sampai tidak mengetahui kabar itu?" tanya Nurul.
" Aku baru balik dari luar negeri, dan Setelah dinyatakan puli aku baru melanjutkan untuk meneruskan pendidikan." jawabnya.
" Jadi kau baru saja kembali ke Indonesia? dan kau langsung memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di sini. Sudah pasti karena kau tidak ingin jauh-jauh dari Kak Akbar kan, kalian berdua memang pasangan yang sangat serasi." ucap Nurul dengan tersenyum.
" Sejujurnya aku tidak mengingat tentang Akbar, tetapi aku merasa dia adalah orang yang baik. Dan dari sikapnya aku merasakan kalau dia sangat mencintaiku, dan karena itu aku akan tetap berusaha untuk mengingat dia." jelasnya.
" Apakah itu ada hubungannya dengan penyakit yang kau derita?" tanyanya.
" Yang kau katakan benar Nurul, dan karena itu aku minta tolong kepadamu. Jadilah temanku, dan bantulah aku berbaur dengan lingkungan sekitar." ucapnya dengan menggenggam tangan Nurul.
" Kamu tenang saja Davina, aku pasti akan menjadi temanmu dan membantumu untuk berbaur dengan sekitar. Aku justru sangat bersedih melihat kau yang seperti ini, kau dulunya adalah anak yang ceria itulah yang aku dengar. Tetapi kini semuanya berubah, bahkan orang di sekitarmu saja kamu tidak mengingat nih dan sikapmuā¦" ucapnya yang terhenti dan tanpa sadar derai pun menetes.
" Kamu jangan bersedih dong, aku juga tidak bisa melihatmu seperti ini. Walaupun kita baru kenal, tetapi aku merasa kita sudah kenal sangat lama. Dan aku tidak sanggup melihat kau yang sedang menangis, karena jujur rasanya hatiku juga terasa sakit." jelas Davina.
" Aku juga merasakan hal yang sama kepadamu Davina, dan aku rasa itu adalah hal yang cukup aneh. Tetapi aku cukup senang dengan hal itu, karena dengan hal itu kita bisa berteman." jawabnya.
" Terimakasih, kau adalah orang baik. Dan aku senang karena bisa berkenalan dan menjadi temanmu." jelasnya.
" Tampaknya di sini ada Miss drama, baru aja masuk udah main akting. Enaknya dia kita ngapain ya teman-teman, cewek penyakitan kayak dia nggak pantas dekat sama Kak Akbar." ucap seorang mahasiswi yang cemburu.
" Kalian semua apaan sih, kalau memang kalian nggak suka sama Davina nggak usah terlalu di nampakin kenapa. Dan lagian kalian jangan sampai melupakan, Davina itu pacarnya Kak Akbar. Dan Kak Akbar saja bisa menerima dia, masa kalian yang bukan siapa-siapa saja mau menghujat." ucap Nurul yang membela Davina.
" Ada yang jadi pahlawan kesiangan nih guys, enaknya kita ngapain ya mereka berdua." ucapnya yang merupakan pimpinan dari geng itu.
" Gimana kalau kita suruh makan cabe setan, kayaknya seru tuh. Melihat mereka yang ngap-ngap dengan wajah yang merah." jawab salah seorang mahasiswi.
" Yang kau katakan ada benarnya juga, dan sepertinya hal itu sangat menyenangkan. Kalau begitu sekarang ayo segera bawa mereka, kita harus segera cari tempat yang aman." ucapnya dan parah mahasiswa itupun langsung memegang kedua tangan Davina dan juga Nurul.
Mereka pun langsung membawa Davina dan juga Nurul, tanpa disengaja kegiatan itu pun terlihat oleh David. David pun segera menghampiri mereka, dan ia pun membentak para mahasiswi itu kemudian meminta mereka untuk melepaskan Davina dan juga Nurul. Awalnya mereka tidak mau melakukannya, tetapi setelah melihat sorot mata David yang sangat tajam akhirnya mereka pun mau melakukannya. Dan mereka pun segera pergi meninggalkan tempat tersebut.