
Kini tiba-tiba saja bel berbunyi, dan mereka pun segera berhambur keluar dari ruangan tersebut. Tapi tidak dengan Key, Iya justru menghadap kepada Nizam. Sesaat saja Nizam pun bingung, karena baru kali ini ia menemukan kasus seperti ini. Biasanya para mahasiswa akan takut dengannya, tetapi tidak dengan mahasiswa yang satu ini.
" Kamu tidak takut dengan saya?" ucap Nizam dan Key hanya menggelengkan kepalanya saja.
" Bunda saya karena mengatakan kepada saya, jika saya tidak berbuat kesalahan saya tidak perlu takut. Saya hanya perlu menjelaskannya dengan sejelas mungkin, agar orang-orang tidak berpikiran negatif tentang saya." jelasnya dan membuat Nizam kagum.
" Kau memang anak yang sangat berbeda, di saat semuanya takut dengan saya. Kau justru seperti tidak takut dengan saya, dan ini sangat jarang dijumpai." ucap Nizam.
" Seorang guru tidak perlu ditakuti, tetapi seorang guru harus dihormati." jelasnya yang membuat Nizam tambah kagum dengan Key.
" Paham yang kau anut sangat bagus, pertahankan ini terus." ucap Nizam kemudian pergi meninggalkan ruangan kelas.
Setelah Nizam pergi dari kelas, Indi pun akhirnya datang menemui Key. Iya pun langsung memberikan dua jempol kepada sahabatnya itu, dan anak-anak lain yang sempat menyaksikannya juga merasa salib dengannya.
" Keberanian dari mana kau?" tanya Indi yang penasaran.
" Keberanian itu sudah tertanam dalam diriku, sejak kecil aku sudah diajarkan untuk tidak takut kepada seorang guru. Tetapi kita harus menghormatinya, dan bila kita menghormatinya maka kita akan mendapatkan ilmu yang ia berikan." jelasnya dan semua pun mengangguk.
" Orang tuamu mendidikmu dengan baik, jika aku menjadi dirimu aku belum tentu bisa sepertimu. Kau adalah anak yang patuh, dan juga dapat mengamalkan didikan orang tuamu dengan sebaik mungkin. Walaupun begitu kau tidak seperti anak manja, bahkan sikap dan karaktermu seperti anak mandiri yang sudah hidup sendiri." jelas salah seorang mahasiswa dari jurusan PKN.
" Kau jangan terlalu merendah, aku yakin semua orang pasti bisa." ucap Key yang percaya diri.
" Bagi dirimu itu adalah hal yang mudah, tapi tidak bagi sebagian orang. Kau adalah anak yang memiliki banyak misteri, wajahmu dan juga karaktermu sangat berbeda." jelas mahasiswa tersebut.
" Berbeda bagaimana?" tanyanya yang penasaran.
" Seperti yang sudah kujelaskan di awal, kau tampak seperti anak manja tetapi sebenarnya kau adalah anak yang mandiri." jawab mahasiswa itu.
" Kau terlalu memujiku, itu semua bisa terjadi atas pengalaman yang pernah kita alami sendiri. Karakter wajah belum tentu menentukan karakter kita sendiri, karakter wajah kita adalah keturunan dari orang tua kita tetapi karakter kita adalah kita sendiri yang membentuknya." jelas Key.
" Yang kau katakan memang benar, oh ya dari tadi kita sudah ngobrol tetapi kita masih belum saling mengenal. Perkenalkan namaku Diki, aku dari jurusan PKN." jelasnya memperkenalkan diri.
" Oh ya namaku Key." jawabnya.
" Kau gadis yang sama terlibat dengan kak Mia itu kan?" tanya Diki untuk memastikan.
" Iya benar." jawabnya singkat.
" Haduh kenapa jadi bahas Kak Mia sih, ayo kita keluar." ajak ini yang kemudian menarik lengan Key.
Kini mereka sudah sampai di luar, dan kini mereka mencari tempat duduk. Akhirnya mereka memutuskan duduk di bawah pohon, Indi pun langsung memulai percakapan.
" Lebih baik kok jangan dekat-dekat sama dia!" ucap Indi dan membuat Key kaget.
" Memangnya kenapa kalau aku deket sama dia?" tanya Key yang penasaran.
" Dia itu Playboy." jawab Indi dengan wajah tidak enak.
" Kamu mengenalnya?" tanyanya kembali.
" Tentu aku mengenalnya, dia adalah teman SMA aku. Dan dia itu sangat terkenal, bukan terkenal karena kepintarannya ya.…" ucap Indi yang tiba-tiba saja terpotong.
" Nah itu kau tahu, jadi kau jangan dekat-dekat sama dia ya." ucap Indi di dengan menggenggam tangan Key.
" Kau tenang saja, aku selalu percaya dengan apa yang kau katakan. Dan bila kau mengatakan hal seperti itu, maka aku akan mengikutinya." ucapnya dengan tersenyum.
" Kau memang sahabat terbaikku." ucap Indi dengan memeluk Key.
" Udah dong peluknya, aku sesak nih nggak bisa napas." ucapnya dan membuat ini terkejut kemudian langsung melepaskan pelukannya.
" Maaf ya, aku nggak sengaja." ucapnya yang merasa bersalah.
" Tidak apa-apa Indi, aku tahu Kak Tidak sengaja melakukannya. Tapi sepertinya kau memiliki pengalaman buruk dengan Diki, kau tidak perlu menceritakannya jika kau tidak ingin." ucap Key.
" Yang kau katakan memang benar, tetapi untuk saat ini aku belum bisa menceritakannya." jelasnya dan key pun mengganggu.
" Tenangkan saja dirimu, dan aku tidak akan pernah mendekatkan diriku pada Diki." jelas Key.
" Aku percaya dengan perkataanmu, Oh iya aku ingin bilang sesuatu. Dan semua ini berkaitan dengan saudara kembarmu." ucap Indi dan membuat key penasaran.
" Apa itu?" tanyanya.
" Sebenarnya aku sudah memutuskan, kalau aku akan menyerahkan kasus ini kepada kau dan juga Rey." jelasnya dan membuat Key kaget.
" Kenapa kau mengatakan hal seperti itu, bukannya akan lebih mudah jika kita yang mencari. Kenapa kau harus melibatkan Rey di dalam urusan kita, bukannya aku tidak mau hanya saja itu akan sangat menyulitkan apalagi aku tidak terlalu dekat dengannya." jelas Key.
" Sebenarnya aku mengetahui kau memiliki sebuah kelebihan, karena itu kau sangat berusaha keras untuk mencari kembaranmu walaupun tanpa bantuan siapapun. Ini hanya tebakanku saja ya, tetapi sepertinya tebakanku itu sangat benar." ucap Indi.
" Tak kusangka kau bisa menebak hal seperti itu." ucapnya yang merasa tidak percaya dengan jawaban dari sahabatnya itu.
" Hal seperti ini sudah sering terjadi di depan mataku, dan Rey adalah salah satu orang yang juga memiliki kelebihan yang kau miliki. karena itu aku menyarankan kau untuk pergi dengannya, agar proses pelacakannya selesai." ucap Indi.
" Ya sudah kalau begitu, tapi kau juga harus tetap membantu kami ya. Ucapnya yang merasa canggung karena sebentar lagi akan ada Rey.
" Kau tenang saja, aku akan selalu membantumu di balik layar." ucapnya dengan tersenyum.
" Terimakasih." ucapnya dan tiba-tiba saja terdengar deru langkah kaki.
Key dan juga Indi yang mendengar suara langkah kaki tersebut, akhirnya mereka pun segera berbalik. Dan mereka ingin memastikan, Siapa orang yang iseng pada mereka.
" Ya ampun kak Rey, aku sampai kaget tahu." ucap Indi.
" Apaan sih kau, memangnya kalian lagi ngomongin apa sepertinya serius sekali." ucap Rey dengan memperhatikan keduanya.
" Ada deh, mau tau aja." ucapnya kemudian pergi membawa Key.
" Eh tunggu, kalian mau kemana?" tanya Rey yang tidak di gubris oleh keduanya.
" Eh, itu kasihan kakakmu." ucap Key.