Sepahit Sembilu

Sepahit Sembilu
Key 32



" Oh jadi begitu, tapi maaf ya. Aku lagi nggak bisa keluar." ucapnya.


" Aku tidak masalah kok, sekarang kamu istirahat aja ya. Aku akan menemanimu di sini." ucap David dengan tersenyum.


" Apa tidak sebaiknya kau pulang saja, aku tidak ingin merepotkanmu." ucapnya yang sebenarnya merasa tidak nyaman.


" Aku akan tetap di sini, kamu istirahat saja. aku akan menemanimu." ucapnya.


" Ta-tapi…" ucapnya yang kebingungan.


" Sudahlah dek, lagian niatan David juga baik kok. Mama tidak masalah dia berada di sini, kalian juga bisa mengobrol kalau ingin. Tapi sih mama harap kamu istirahat terlebih dahulu, mama tidak ingin kamu seperti tadi. Mama takut kehilanganmu, sudah cukup adikmu yang pergi kamu jangan." ucap Aisyah yang memang merasa takut.


" Tante tenang aja ya, David akan jagain Kia." ucapnya dengan tersenyum.


" Tante percaya kau David, kalau gitu kita tinggal dulu ya." ucap Aisyah kemudian keluar dari kamar tersebut bersama dengan yang lainnya.


" Ayah dan mama yakin meninggalkan Key bersama dengan David?" tanya Dika.


" Sebenarnya mama juga tidak mau Dika, hanya saja bila kita berada di sana pastinya David akan curiga. Dan hal itu pastinya akan membuat pak Yusuf menjadi marah dengan kita, sudah cukup mama kehilangan Kia mama tidak ingin kehilangan key juga." ucap Aisyah dan Dika pun mengangguk.


" Yang mama katakan memang benar, Dika juga tidak mau kehilangan lagi ma." ucapnya dan kini pun ia berpelukan dengan Aisyah.


" Kenapa mereka meninggalkanku bersama dengan David sih." batin key yang merasa tidak nyaman karena ia hanya berdua dengan David di kamar.


" Kamu nggak nyaman ya kita berduaan di tempat ini?" tanya David dengan melihat wajah Key.


" Em…" ucapnya yang bingung harus berkata apa.


" Kenapa aku merasa kamu berbeda ya, tiba-tiba saja kamu seperti orang asing bagiku. Kamu tidak seperti kamu yang kukenal, dan kamu bahkan enggan untuk ku peluk. Padahal, biasanya kamu yang selalu berinisiatif untuk memelukku duluan." jelas David dan Key pun tambah kebingungan.


" Aku bukannya ingin membuatku merasa aku ini orang asing, hanya saja aku merasa tidak nyaman. Apalagi kejadian belakangan ini menurutku sangat sulit untuk dimengerti, bahkan terkadang aku tidak mengenali jati diriku sendiri." jelasnya dan dapat pun langsung memeluknya.


" Maaf." ucapnya dengan sopan kemudian melepaskan pelukannya.


" Tidak masalah, lagian katamu kan ini adalah hal yang wajar." jawabnya.


" Yah dulunya ini memang adalah hal yang wajar, tetapi setelah melihat karaktermu yang sangat berbeda dengan dulu. Aku jadi merasa kita perlu mengulanginya dari awal, agar kau bisa merasa nyaman denganku." ucapnya dengan tersenyum.


" Kau ingin melakukannya?" tanya Key dengan ekspresi penuh harapan.


" Iya tentu saja, dan aku rasa itu memang perlu. agar kau bisa merasa nyaman denganku, tidak seperti saat ini. Aku rasa kau selalu gugup ketika bersama denganku, dan hal itu selalu saja membuatku penasaran." ucapnya dengan mengingat tingkah Key.


" Bagaimana tidak gugup, aku bukanlah pacarmu. Tetapi aku terpaksa harus menjadi pacarmu, ini semua demi diriku dan juga keluargaku." batinnya dengan menatap ke arah David.


" Makasih ya David." ucapnya dengan tersenyum.


" Sebenarnya aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, tapi maafkan aku. Biarlah semuanya tetap seperti ini, aku masih ingin terus bersama denganmu." batinnya dengan mengelus kepala Key.


" Tidak usah terima kasih sayang, sebagai pasangan kita harus saling melengkapi. Dan aku rasa ini sangat perlu, agar kita bisa lebih dekat lagi." jelasnya.


...----------------...


" Aku nggak apa-apa kok Nek." jawabnya dan Nency pun tambah penasaran.


" Kamu yakin?" tanyanya kembali.


" Dia itu lagi cemburu Nek." ucap Indi yang tiba-tiba saja datang.


" Cemburu sama siapa?" tanya Nency yang heran.


" Cemburu lah sama Si Key, tadi pagi Si David nggak sengaja muncul. Dan alhasil Key harus berpura-pura menjadi Kia, itu aja sih yang aku tahu tadi." jelas Indi.


" Jadi mereka sudah bertemu ya, pantas saja wajahnya di tekuk." ucap Nency.


" Ya begitulah nek, tapi ini orang hanya diam aja. Bahkan dia juga yang menelpon ayah dari David, dan meminta sang ayah untuk pergi ke kampus." jelas Indi.


" Sudahlah, jangan di bahas lagi." ucapnya yang sudah bosan mendengar perkataan itu.


" Ya nggak usa marah-marah juga kalik." ucapnya dan Rey pun segera pergi.


" Tampaknya ia memang sangat cemburu." ucap Nency yang memperhatikan kepergian cucunya.


" Ya begitulah nek, tapi dia nggak mau cerita ke kita. Ia justru menyimpannya sendiri, padahal kita siap mendengarkan keluh kesahnya." ucap Indi.


" Kalau begitu kita biarkan dia sendirian dulu, biar dia menenangkan diri dulu." ucap Nency dan Indi pun mengangguk.


...----------------...


" Dimana David?" tanya sang mama yang tidak menemukan putranya.


" Mama tenang aja ya, saat ini David sedang berada di rumah keluarga Aldrian." jawab Yusuf.


" Ngapain dia kesana, kan sudah tidak ada lagi Kia. Mama takut dia akan membuat masalah, kondisi mentalnya kan belum membaik." ucap sang mama yang khawatir.


" Nayla sayang, kamu tenang aja ya. Disana memang nggak ada Kia, tetapi disana ada Key yang merupakan kembaran dari Kia. Papa juga sudah memperingatkan keluarga itu, agar mereka mau membantu agar David cepat pulih. Dan bila mereka nggak mau, mereka akan mendapatkan konsekuensinya." ucap Yusuf dengan tersenyum.


" Jadi Kia memiliki kembaran, kenapa aku baru tau ya?" tanyanya yang memang tidak mengetahuinya.


" Papa sudah menyelidiki kembarannya, dan ternyata mereka itu keluar broken home. Dan karena itu kedua kembaran itu tinggal terpisah, dan saat ini sang bunda sudah meninggal. Oleh karena itu, Key menjadi tinggal di sana." jelas Yusuf dan Nayla pun sangat terkejut mendengar hal tersebut


" Kalau begitu Aisyah bukan ibu kandung Kia dong, sungguh aku nggak nyangka. Semuanya tersimpan dengan sangat rapi, hingga banyak yang tidak mengetahuinya." ucap Nayla.


" Ya begitulah sayang, aku jadi tidak yakin dengan kebaikan Aisyah kepada Kia dan juga Key yang baru datang itu." ucap Yusuf yang curiga.


" Gimana kalau kita selidiki aja pa, kan lumayan untuk senjata melawan dia." usul Nayla.


" Yang mama bilang benar, papa akan menyelidiki tentang Aisyah juga. Papa juga penasaran dengan siapa sebenarnya Aisyah, dan kalau memang benar bisa kita jadikan senjata akan sangat beruntung kita ma." jawabnya dengan tersenyum, kemudian langsung mengambil handphone-nya di saku celananya.


" Halo, selidiki Aisyah istri Aldrian." perintahnya, kemudian langsung mematikan sambungan telepon.


" Sekarang kita tinggal nunggu aja, papa uda perintahkan bawahan papa untuk mencari tau tentangnya." jelasnya.