
" Sudahlah, sekarang kalian berdua cepat angkat Sony." ucap Dika dan keduanya pun langsung membawa Sony ke kamar tamu.
Setelah kurang lebih 15 menit, akhirnya Sony pun tersadar dari pingsannya. Dan kini ia tampak takut melihat Key, dan akhirnya ketiganya pun mencoba menenangkan Sony.
" Han-hantu." ucap Sony.
" Sony kau bisa tenang tidak, dia itu bukan hantu. Coba kau lihat, kakinya aja napak masa kau bilang hantu." ucap Bismar yang kesal dan Sony pun melihat ke arah kaki Key.
" Eh iya, ternyata kakinya napak." ucap Sony dengan tersenyum kemudian ingin memeluk Key.
" Eh kau mau ngapain?" tanya Eza dengan menghalangi Sony.
" Ya mau meluk Kia lah, aku tuh udah kangen banget sama Kia." ucapnya dengan rasa tidak bersalah.
" Main asal-asal peluk aja, ini itu bukan Kiara." ucap eza dan membuat Sony kebingungan.
" Hahaha, kak Eza sedang bercanda ya. Jelas-jelas ini Kiara, kakak aneh-aneh aja." ucapnya sambil tertawa.
" Yang dikatakan Eza benar, ini itu bukan Kiara. Tapi ini Keyza, dia saudara kembarnya Kiara." ucap Dika dan membuat Sony kaget.
" Apa, aku nggak salah dengarkan. Kiara punya saudara kembar?" ucapnya yang tidak percaya.
" Tetapi itulah faktanya, coba kau kenalan dulu deh sama dia." ucap Dika mempersilahkan Keyza.
" Hai Sony, kenalin aku Keyza." ucapnya dengan mengeluarkan tangannya.
" Hai Keyza, aku Sony sepupunya kak Dika." jawabnya dengan menggapai uluran tangan itu.
" Senang deh bisa kenalan sama Sony, tapi tunggu ini aku manggilnya nama aja atau perlu pakai kakak." ucap Key menatap ke arah Dika.
" Sony aja, kebetulan Tiara manggilnya juga kayak gitu." ucap Dika dan Key pun mengangguk.
Tiba-tiba saja suasana mencekamkan itu berubah menjadi kelak tawa, karena terdengar suara perut yang sedang kelaparan.
Kruk-kruk
" Suara apa itu?" tanya Bismar yang penasaran.
" Hehehe, itu suara perutku kak." jawab Sony dengan tertawa.
" Kau ini ya, kebiasaan dari dulu. Kalau main ke sini pasti kelaparan, kenapa sih kau nggak makan dulu di rumah. Kerjaanmu ngabisin beras aja atau nggak." ucap Bismar yang kesal dan kini Dika pun menatap ke arah Bismar.
" Bismar." panggil Dika dengan suara lantang.
" Maaf kak, habisnya si Sony buat kesal." jawab Bismar.
" Kau ini ya Bismar, kayak baru kenal aja sama Sony. Udahlah biarin aja, lagian percuma juga kamu emosi. Hal itu nggak akan diperdulikan oleh Sony, yang ia pedulikan hanyalah makan." ucap Dika.
" Yang dikatakan sama kak Dika benar, jadi udahlah biarin aja." ucap Eza.
Semuanya pun segera pergi ke meja makan, Sony yang sudah kebetulan lapar langsung menyantap makanan yang ada. Dika, Bismar, dan Eza merasa kesal dengan tingkah ingka Sony.
" Kau ya Sony, selalu saja buat kami kesal." ucap Bismar yang memang sudah sangat kesal.
" Jangan marah dong kak, sepupu kesayanganmu ini lagi lapar." ucapnya dengan masih menyantap paha ayam.
" Siapa juga yang sayang sama dirimu, kami di sini nggak ada yang sayang sama kamu. Justru kami sangat kesal dengan dirimu, setiap hari selalu saya cari masalah. Setiap kamu datang ke sini, kamu selalu membuat emosi kami memuncak." jelas Bismar, dan Key hanya menatap mereka.
" Kak Bismar, jangan marah-marah dong. Nanti gantengnya hilang, terus nanti kakak gantengnya Key hilang satu dong." ucap Key membujuk agar Bisma tidak marah-marah.
" Iya deh kakak nggak marah-marah lagi, tapi ini semua demi kamu. Asal kamu bahagia, kakak rela ngelakuin apapun." ucap Bismar dengan tersenyum.
" Gitu dong, kalau kayak gitu kan aku jadi senang. Tapi…jujur aku masih nggak nyaman sama dia." ucapkan dengan melihat ke arah Sony.
" Sudahlah Key, untuk hari ini saja. Biarkan saja dia senang-senang di sini, setelah ini kita tidak akan biarkan dia masuk." bisik Dika.
" Beneran ya kak?" tanya Key dengan melihat ke arah Dika.
" Iya, kau tenang saja. Kami juga akan merencanakan sesuatu untuknya, agar dia segera keluar dari rumah kita." ucap Dika dengan menatap sini sekarang Sony.
" Kalau begitu Key jadi senang, padahal Key pengen kenalan sama kak Bismar dan Kak Eza. Eh ini malah ada satu orang asing, langsung mencoba memasuki hidup Key. Kan Key masih belum bisa terima, Key masih ingin mencoba satu-satu." jelas Key dan Dika pun mengelus kepalanya.
" Kamu tenang saja di kecilku, permintaanmu adalah perintah bagiku." ucap Dika dengan tersenyum.
" Iya benar, permintaanmu adalah perintah bagi kami. Karena saat ini, hanya kau saja yang kami miliki. Karena itu tidak ada yang bisa menentang keinginanmu, dan kami akan selalu berada di belakangmu." ucap Eza dan Key pun tersenyum lebar.
" Kalau begitu, selama kalian masih di sini. Key akan menjadi tanggung jawab kalian, dan bila terjadi sesuatu pada Key. Jangan salahkan mama, karena mama akan menghukum kalian dengan sangat berat." ucap Aisyah dengan menatap ketiga putranya.
" Mama tenang saja, kami akan selalu menjaga Key." jawab Dika kemudian ia langsung memeluk Key.
" Key sangat bahagia hari ini, belum pernah Key merasakan kebahagiaan seperti ini. Key memiliki tiga orang kakak yang ganteng, dan juga sangat menyayangi Key." ucap Key dengan tersenyum.
" Haduh aku jadi meleleh nih, ternyata punya adik perempuan yang mulutnya manis begini ya. Selalu saja buat hati berdebar-debar, untung saja kau itu adikku. Kalau saja kau bukan adikku, mungkin aku sudah membawamu ke KUA." ucap Bismar yang tiba-tiba saja dan membuat semua yang ada di sana kaget.
Takh
" Adu, sakit ma." ucap Bismar.
" Itu tahu sakit, lalu kenapa udah mau nikah aja. Kuliah aja belum lulus, mau dikasih makan apa anakmu nanti." ucap Aisyah yang kini sedang memarahi Bismar.
" Biarin aja kali ma, asal nanti kalau anak orang nangis dia buat. Tinggal kita totok aja dia, terus siap itu kita kurung dia nggak usah keluar rumah lagi." ucap Dika dan membuat Bismar ketakutan.
" Janganlah kak, kalau aku nggak bisa keluar. Nanti kakak nggak punya keponakan, dan hidup keluarga kita bisa jadi sepi." ucap Bismar mencoba menego omongan kakaknya.
" Aku nggak punya keponakan, oh tentu saja tidak. Aku masih bisa punya keponakan dari yang lain, tentu saja dari Eza dan juga Key. Ya kan adik-adik aku yang baik budi, yang tidak bandel seperti ini anak satu." ucap Dika dengan menatap sinis ke arah Bismar.