Sepahit Sembilu

Sepahit Sembilu
Key 40



Setelah cukup lama mencari, tetapi mereka masih juga belum menemukan bukti. Akhirnya mereka memutuskan untuk naik, dan menemui David dan juga Dika yang sudah menunggu di atas sejak tadi.


" Bagiamana?" tanya Dika yang penasaran.


" Kami mendapat penglihatan kalau ada yang menyelamatkan Kia, tetapi wajahnya tidak terlihat kak." jawab Key.


" Kalau begitu, kita harus mencari tau keberadaan Kia. Gimana kalau kita ke rumah sakit." ucap Dika dengan sangat antusias.


" Bisa si, tapi nggak akan mudah untuk menenangkan keberadaannya. Karena kejadian itu lama berlalu, dan tidak pernah ada informasi tentangnya. Sudah dipastikan orang yang menolong Kia bukanlah orang biasa, dan itu yang membuat kita akan semakin kesusahan." jelas Rey.


" Lalu kita harus bagaimana?" tanya Dika yang cemas.


" Kita bisa menggunakan hal yang kakak katakan tadi, karena kami masih bisa mengetahuinya ketika ia memang pergi ke rumah sakit tersebut. Tetapi itu akan membuktikan waktu yang sangat lama, dan kita juga nggak tau kondisinya saat ini." jelas Rey.


" Yang dikatakan oleh Rey benar kak, kita juga harus banyak berdoa. Agar Kia cepat membaik dan ia pun kembali ke kita, tapi kemungkinan itu memang sangat kecil kak." jelas Key.


" Setidaknya sekarang aku masih memiliki harapan kalau Kia masih hidup, terimakasih ya Key." ucap Dika dengan tersenyum.


" Kita berdoa saja ya kak, mudah-mudahan saja yang menemukan Kia adalah orang yang baik. Jadi Kia dirawat dengan baik oleh mereka, dan mudah-mudahan ia cepat pulih dan segera pulang ke rumah." ucap Key yang masih dalam pelukan Dika.


" Amin…" ucap semuanya serentak.


" Terimakasih, hiks…hiks." ucap David dengan berderai air mata.


" Boleh aja bilang terimakasih, tapi kita harus segera mengakhiri hubungan mu dan Key." ucap Dika dengan tatapan tajam.


" Aku akan mencari cara untuk itu semua, karena aku tidak bisa sembarangan. Dan aku tidak mau Key dalam bahaya, walaupun aku tidak tau perkejaan keluargaku. Tetapi aku yakin kalau mereka bukan bekerja di pekerjaan yang biasa, dan kalian juga mau melakukan ini semua atas ancaman bukan." jelas David dan Dika menjadi kaget.


" Jadi kau mengetahuinya?" tanya Dika yang kaget.


" Ya aku sudah mengetahuinya, tapi tolong jangan bilang siapa-siapa ya. Karena aku takutnya kalian yang akan terkena dampaknya." ucapnya dan semuanya pun mengangguk.


" Karena sekarang sudah sore, lebih baik kita pulang." ucap Dika dan semuanya pun mengangguk.


Mereka pun segera pulang, dan David kini kembali kerumahnya sendiri. David kini menjadi penasaran dengan pekerjaan kedua orang tuanya, tetapi ia bingung harus bertanya sama siapa. Tiba-tiba saja ia teringat dengan seorang pembantu yang selalu diminta untuk menjaganya sejak kecil, dan ia yakin kalau pembantu itu tidak akan mungkin berbohong padanya.


" Bi, bi, bibiiii…" panggil David sampai ke dapur.


" Ada apa ya den David?" tanya pembantu itu.


" Bibi ikut saya sebentar." ucapnya dengan menarik lengan pembantu itu.


" Ini kan kamarnya den David, ada apa ya kira-kira." batin pembantu itu.


" Ada apa ya den?" tanyanya yang penasaran.


" Bibi duduk dulu!" pernyataannya dan pembantu itu pun duduk di kursi yang ada.


" Maaf, sebenarnya ada apa den. Bibi ada salah apa ya den?" ucapnya dengan menunduk.


" Apa yang ingin di tanyakan sama den David?" batinnya.


" Tolong bibi jawab dengan jujur ya!" ucapnya dan pembantu itu pun menjadi tambah bingung.


" Saya akan berusaha menjawab semua pertanyaan den David." jawabnya dengan tersenyum.


" Kalau begitu, apa pekerjaan kedua orang tua saya bi?" tanyanya dan membuat pembantu itu kebingungan.


" Apa maksudnya aden ini, kedua orang tua aden kan punya perusahaan." jawab pembantu itu dengan sedikit tersenyum.


" Bibi tidak usah berbohong, saya mengetahui kalau orang tua saya bukan hanya memiliki sebuah perusahaan. Tetapi mereka memiliki bisnis lain di luar perusahaan, jadi bibi nggak usah menutup-nutupinya." ucapnya dan pembantu itu pun menjadi kebingungan dia tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan dari David.


" Jadi aden udah tahu." ucapnya kemudian menutup mulutnya.


" Sekarang beritahu saya bi, jangan biarkan saya mengetahuinya dari orang luar. Atau bibi akan tahu akibatnya, saya tahu bibi disuruh untuk merahasiakannya dari saya. Tetapi saat ini percuma saja bibi merahasiakannya, karena saya bisa saja mengarang sesuatu yang membuat bibi dikeluarkan dari rumah ini." ancamnya yang sebenarnya juga merasa takut.


" Maafkan saya aden, saya hanya diminta untuk menjaga aden. Saya tidak pernah mengetahui apa bisnis keluarga aden, yang saya tahu hanyalah mereka berkecibung di dalam dunia gelap. Tetapi ada yang tenang saja, kedua orang tua dan bukanlah orang jahat." jawab pembantu itu dengan berkaca-kaca.


" Sesuai dengan dugaanku, ternyata mama dan papa mempunyai bisnis gelap. Tetapi sepertinya aku tidak bisa mendapat informasi dari pembantu ini, aku harus mencari informasi dari orang lain." batinnya yang sedang berpikir.


" Ya sudah kalau memang begitu bi, jangan pernah katakan kepada orang kedua orang tua saya, kalau saya menanyakan hal ini kepada bibi!" ucap David dan pembantu itu pun mengangguk.


" Baik aden." jawabnya dengan menunduk karena takut melihat sorot mata David.


Pembantu itu pun segera keluar dari ruangan kamar David, kini ia segera ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Tak terasa kini sudah pukul 7 malam, kini kedua orang tua David pun telah pulang. Mereka kini berkumpul di meja makan, dan seperti biasa mereka menanyakan aktivitas David. Walaupun David sudah dewasa, tetapi ia selalu melakukan hal tersebut sejak ia masih kecil.


" Bagaimana keseharianmu hari ini David?" tanya Nayla yang penasaran dengan kegiatan anaknya.


" Tidak ada yang spesial ma, hanya saja tiba-tiba saja tadi kepalaku pusing dan mengingat sesuatu." ucapnya dan membuat Nayla kebingungan.


" Apa yang membuatmu pusing nak?" tanyanya yang takut kalau anaknya mengingat sesuatu yang akan membahayakan ia dan juga sang suami.


" Aku tidak tahu itu kejadian apa, aku hanya tahu itu adalah kejadian yang sangat berdarah." jawab David dan keduanya pun terkejut.


" Apa yang kau maksud dengan kejadian berdarah?" tanya Yusuf yang kini angkat suara.


" Aku juga tidak tahu pa, aku hanya mengingat kalau ada seseorang yang menembak ke arah sebuah mobil. Dan tiba-tiba saja mobil itu oleng dan masuk ke jurang, tetapi aku tidak mengetahui siapa penembak itu dan juga mobil siapa itu." jelas David dan kini kedua wajah mereka menjadi pucat.


# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.


1. Naura Abyasya


2. Rela Walau Sesak


3. Derai Yang Tak Terbendung


4. Azilla Aksabil Husna