Sepahit Sembilu

Sepahit Sembilu
Key 12



" Apa, Kalau begitu ceritanya bisa gawat. Tapi aku sangat heran deh, kenapa key bisa dekat dengan Indi. Dan aku juga masih heran, kenapa dia bisa sangat dekat dengan Kak Dika." ucapan ini yang masih penasaran.


" Ya apalagi, pasti karena jurus menjahitnya lah." tudu Mia, agar Yeni semangkin membenci Mia.


" Yang kau bilang masuk akal juga, kalau begitu aku juga harus menyadarkan Kak Dika." ucap Yeni yang sangat antusias.


" Anak ini ternyata bodoh, masa aku bilang begitu aja percaya." batin Mia dengan tersenyum.


" Kalau begitu kita harus susun rencana, aku akan siap membantu mu untuk mendapatkan Rey. Tapi kau juga harus membantu ku untuk mendapatkan kak Dika." ucapnya.


" Iya, aku akan membantumu." ucap Mia dengan tersenyum.


" Setelah aku mendapatkan kak Dika, aku sih malas ngurusin kau. Karena sih Rey biar sama Key aja, jadi kan hubungan ku dengan kak Dika bisa aman." batin Yeni.


Keduanya pun segera menyusun rencana, dan mereka akan melakukannya besok.


...----------------...


Key pun sudah tiba di rumahnya, kini ia disambut oleh dua orang yang tidak ia kenal. Key melihat keduanya, wajahnya sangat mirip dengan Dika. Dan ia pun bertanya-tanya, siapakah kedua pemuda itu.


" Halo Key." ucap keduanya, kemudian langsung memeluk Key.


...----------------...


" Kia sayang, jangan jauh-jauh. Nanti kau hilang, dan kakak akan sedih." ucap bayangan itu.


" Iya kak, kakak tenang aja. Biar kia main sama kak Eza aja, Kakak disitu aja." ucap Kia.


" Iya kak, Kia biar sama Eza, kakak istirahat aja. Kakak tenang aja, Kia akan aman sama Eza." jawab Eza.


" Beneran ya." ucapnya dengan tatapan sinis.


" Iya kak Bismar yang ganteng." ucap Eza.


...----------------...


" Bismar, Eza. Siapa itu…" ucap Key kemudian pingsan.


" Kalian ini, jadi pingsan kan sih Key." ucap Dika yang kesal.


" Maaf kak, kami nggak tau kalau akan jadi begini." ucap Bismar dengan rasa bersalah.


" Sudahlah, semua juga sudah terjadi. Sekarang bawah Key masuk ke kamarnya." perintah Dika, dan keduanya pun segera membawa Key untuk masuk.


Mereka pun segera membawa Key menuju kamarnya, dan kini semuanya pun keluar. Kini mereka melihat wajah ibu Aisyah yang sedang melihat ketiga putranya dengan tatapan sinis.


" Kalian apakan Key?" tanya bu Aisyah.


" Maaf ma, tadi kami langsung peluk Key dan setelah itu Key pun langsung pingsan." ucap Bismar.


" Ya ampun, kira-kira apa yang di lihat Key ya." ucap bu Aisyah.


" Maksud mama apa?" tanya Eza yang kaget.


" Sepertinya Key adalah orang yang bisa melihat bayangan atau kenangan masa lalu saat iya menyentuh orang." jelas bu Aisyah.


" Apa, aku nggak salah denger kan?" tanya Bismar.


" Tidak Bismar, hal itu bisa terlihat dari kejadian yang terjadi saat ini." jelas bu Aisyah.


" Terlihat dari mananya ma?" tanya Eza yang juga kebingungan.


" Ya seperti yang kalian lihat saat ini, dia pingsan setelah kalian peluk. Pastinya dia melihat suatu kenangan masa lalu, dan karena kondisi tubuhnya sedang kurang baik. Akhirnya ia pun pingsan, kalian sudah menyaksikannya bukan." ucap bu Aisyah dan ketiga putranya itu pun menggelengkan kepalanya.


" Sepertinya akan sangat sulit, apalagi sebenarnya dia menyembunyikan identitasnya. Dan kenapa aku bisa tahu, karena kejadian itu terjadi di depan mataku. Kalau bukan karena kejadian itu terjadi depan mataku, mungkin hingga kini aku masih belum mengetahuinya." jelas Dika dan kedua adiknya pun mengangguk.


"Lalu kami harus bagaimana kak?" tanya Eza yang kebingungan.


" Kalian harus berkenalan dulu, tetapi untuk sementara kalian jangan menyentuhnya. Biarkan hingga ia mau menyentuhnya, maka ia akan merasa nyaman dan bisa mengontrol kekuatannya." jelas Dika dan bu Aisyah juga menganggukinya.


" Yang dikatakan oleh kakak kalian benar, dan untuk saat ini itulah solusi yang terbaik." jelas bu Aisyah menyetujui perkataan Dika.


Tidak lama setelah itu, Key pun keluar dari kamarnya. Ia pun mencari mama sambungnya dan juga Dika, entah kenapa ia merasa nyaman dekat dengan Dika. Mungkin karena ia telah menetapkan dalam dirinya Dika adalah kakaknya, dan apalagi ia belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang kakak.


" Mama, Key kenapa bisa di kamar?" tanyanya, dan bu Aisyah pun tersenyum mendengar panggilan dari Key.


" Kamu panggil saya apa tadi?" tanya bu Aisyah untuk memastikan apa yang ia dengar.


" Mama." ulangannya dan ia pun tersenyum, kemudian langsung memeluk bu Aisyah.


" Mama kenapa nangis, jangan nangis dong ma." ucapnya.


" Ini tangis bahagia sayang, mama sangat senang. Hari ini kau mau memanggil mama." jelasnya.


" Kan memang sudah seharusnya, tapi maaf ma. Sampai sekarang yang paling Key sayang adalah bunda." ucap Key.


" Mama mengerti itu sayang, dan pasti ini sangat sulit bagimu. Kehilangan orang yang paling kau sayangi, mengetahuinya kalau masih memiliki ayah dan juga saudara kembar. Pergi mengelana untuk mencarinya, eh pas sudah ketemu ternyata saudara kembarmu sudah meninggalkan dirimu juga." ucap Bu Aisyah.


" Terimakasih ma, mama memang orang baik." ucap Key sambil tersenyum.


"Kau ini bisa aja." ucapnya


" Oh iya, mereka berdua siapa ma? Kenapa wajah mereka sangat mirip dengan kak Dika?" tanya Key yang penasaran.


" Oh mereka berdua adalah anak mama yang no dua dan tiga." ucap Aisyah dan keduanya melambaikan tangannya.


" Iya Key, mereka berdua adik ku. Yang ini namanya Bismar, kalau yang ini namanya Eza." jelas Dika dengan menunjuk kedua adiknya.


" Kak Bismar dan kak Eza ya." ucap Key.


" Akhirnya ada lagi yang memanggil ku dengan sebutan kakak." ucap Eza yang tanpa sadar berderai air mata.


" Loh kak Eza kenapa nangis?" tanya Key yang kini kebingungan.


" Ya karena ia merindukan sosok seorang adik." ucap Bismar dengan menyenggol bahu Eza.


" Oh begitu ya, Key mengerti apa yang kakak katakan." ucapnya.


" Key, aku boleh memeluk mu tidak?" tanya Eza, dan Bismar pun menatap Eza dengan tatapan sinis.


" Boleh." jawab Key, dan Eza pun langsung memeluknya.


Eza pun langsung berderai air mata, dan suasana yang tadinya sempat mencekamkan kini berubah menjadi tawa. Semuanya tertawa, dan tiba-tiba saja ada yang datang.


" Sepertinya sedang bahagia ini." ucap seseorang yang baru saja datang.


" Tentu dong." jawab Dika dengan tersenyum.


" Han-hantu." ucap pemuda itu kemudian langsung pingsan.


" Ya ampun, kenapa lagi dia pakai pingsan. Kan jadi repot, sangat menyusahkan." ucap Bismar dengan mengelengkan kepalanya dan semuanya pun tertawa.


" Udahlah kak, kak Bismar nggak usah marah-marah. Memangnya kalau kakak marah-marah Sony bisa bangun?" ucap Eza menenangkan Bismar.