
" Mama tenang aja ya, sebentar lagi Key juga akan sadar." ucap Eza.
Dan benar saja, perlahan-lahan Key pun membuka matanya. Ia pun tampak linglung, kemudian ia melihat sekitar. Ia tampak kebingungan, karena ia kini sudah berada di dalam kamarnya.
" Mama…Key ada dimana?" tanyanya yang baru tersadar.
" Kau ada di rumah sayang." jawab Aisyah.
" Oh iya, ternyata aku sudah di kamarku." ucapnya.
" Kau tadi kenapa ke sana sayang, mama sangat khawatir." ucap Aisyah dengan berderai air mata.
" Aku merasa Kiara masih hidup ma, karena itu aku ingin mencari tahu keberadaannya. Dan satu-satunya tempat yang bisa menunjukkan, adalah tempat kejadian itu ma." ucap Key dengan tersenyum.
" Kau tidak perlu melakukan itu, mama tidak peduli apapun lagi. Mama sudah kehilangan Kia dan juga adikmu, Mama tidak ingin kehilanganmu juga." ucap Aisyah masih dengan berderai air mata.
" Ternyata, sebegitu terpukulnya tante Aisyah. Ia sampai tidak ingin melepaskan Key, bahkan ia sudah tidak perduli dengan keberadaan Kiara. Baginya saat ini yang terpenting adalah Key, dan ia tidak ingin kehilangan lagi. Memang cukup sulit, dan apa yang dialami oleh tante Aisyah memang sungguh sangat menyakitkan." batin Indi.
" Tapi ma, Key yakin kalau Kia masih hidup. Dan Key akan tetap berusaha mencari Kia." ucapnya yang kekeh.
" Tidak, mama tidak mau. Apa yang kau lakukan ini, sangat berbahaya. Ya memang kita bisa menemukan Kia, tapi dengan hal itu juga bisa kehilanganmu. Mama tidak ingin kehilanganmu, yang berlalu biarlah berlalu. Dan mama hanya ingin satu hal, kau selalu ada di sisi mama." ucap Aisyah dengan memeluk Key.
" Mama harus percaya sama Key, Key yakin bisa menemukan Kia ma. Dan mama tidak akan kehilangan Key, bahkan kita akan hidup lengkap." ucap Key dengan tersenyum.
" Mama nggak mau, mama nggak mau kehilangan lagi." ucap Aisyah.
" Ma aku mohon, izinkan aku untuk mencari Kia. Aku janji, aku akan baik-baik saja." ucap Key.
" Nggak, sekali nggak. Ya akan tetap nggak." bentak Aisyah.
" Ma, percaya ya sama Key. Dika yakin Key pasti bisa, dan kita harus mendukungnya ma. Key pasti sangat ingin bertemu dengan Kia, karena itu kita harus dukung ma." ucap Dika.
" Tapi mama takut kehilangan." jelas Aisyah.
" Ma, yang dikatakan oleh kak Dika itu benar. Jadi kita harus mendukung Key." ucap Eza yang mendukung Dika.
" Ya udah kalau begitu, tapi kalian harus menjaganya ya." ucap Aisyah yang akhirnya luluh.
" Terima kasih mama." ucapkan yang langsung memeluk Aisyah.
" Eh kamu kembali dulu, kamu itu baru sadar. Jangan banyak bergerak dulu, kalau kamu bandel mama akan tarik perkataan mama." ucap Aisyah dan Key pun langsung kembali ke tempat tidur.
" Keluarga yang sangat harmonis, tetapi tidak kusangka. Ternyata Kia memiliki tiga orang kakak, aku tidak pernah melihat wajahnya sih. Tetapi setelah melihat Key, aku yakin dia pasti secantik Key." batin Indi.
" Oh iya, Indi mana ya?" tanya Key yang baru tersadar.
" Aku di sini." jawab ini kemudian langsung mendekati Key.
" Maaf ya In, karena aku kamu harus melihat pertunjukan ini." ucap Key yang merasa bersalah.
" Santai aja, lagian aku juga senang melihat hal seperti ini. Keluarga yang sangat harmonis, dan juga saling melindungi. Melihat interaksi kalian, aku jadi teringat dengan kedua orang tuaku." jelas ini yang tanpa sadar meneteskan air matanya.
" Memangnya, kedua orang tuamu kemana?" tanya Dika.
" Nggak usah dijawab." ucap key yang membuat semuanya kaget.
" Kedua…orang tuaku…sudah meninggal, hiks…hiks." jawab Indi.
" Maaf aku nggak tahu." ucap Dika dengan rasa bersalah.
" Nggak apa-apa kok Kak." jawabnya dengan tersenyum.
" Nggak usah tante, Indi nggak mau ngerepotin." jawabnya dengan tersenyum.
" Kamu nggak ngerepotin sayang, justru mama jadi senang. Karena mama punya anak perempuan lagi, seperti yang kau lihat. Di sini hanya ada tiga laki-laki ini." ucap Aisyah dengan memandang ketiga lelaki itu.
" Makasih tante." ucapnya yang tanpa sadar berderai air mata.
" Tante…" ucap Aisyah dengan tatapan sinis.
" Manggilnya mama aja, nanti mama bisa marah." ucap Key dengan tersenyum, dan Indi pun mengangguk.
" Oke mama cantik." ucapnya dengan tersenyum.
" Nah gitu dong, kan mama jadi senang." ucap Aisyah dengan memeluk Key dan Indi.
" Mulut cewek memang manis ya?" ucap Bismar yang diangguki oleh Dika dan Eza.
" Udah deh kalian nggak usah banyak cakap, kita ngomong panjang lebar juga percuma. Hari ini tuh hati mama lagi berbunga-bunga, jadi kita nggak dianggap." ucap Eza kemudian meninggalkan ruangan tersebut.
" Eh tunggu." ucap Bismar kemudian diikuti oleh Dika.
" Ma kakak-kakak mau ke mana?" tanya Key yang menatap kepergian kakaknya.
" Udahlah biarin aja, palingan mereka juga males melihat kebersamaan kita. Dan terutama mereka iri akan kasih sayang mama." ucap Aisyah dengan tersenyum.
" Tante, aku jadi nggak enak." ucap ini yang merasa tidak enak hati.
" Lho manggilnya kok tante lagi, kan udah dibilang tadi manggilnya mama." jelas Aisyah.
" Aku nggak enak ma." jawabnya.
" Sudahlah, dari dulu mereka memang selalu begitu. Bentar lagi juga minta peluk." ucap Aisyah dan membuat keduanya kaget.
" Aku nggak salah dengar nih ma?" tanya Key yang memang tidak percaya.
" Nggak sayang, yang mama bilang barusan adalah kebenarannya. Jadi kalian berdua tidak perlu sakit hati, kakak kamu itu memang kayak gitu." jelas Aisyah dengan mengelus kepala key dan juga Indi.
" Sungguh Key nggak menyangka ma, ternyata kakak-kakak bisa kayak gitu." ucapnya dengan tersenyum.
" Sudahlah kita nggak usah omongin mereka lagi, nanti kalau mereka sampai dengar. Bisa-bisa mereka mengamuk, dan bisa-bisa rambut kamu diucel-ucel sama mereka." ucap Aisyah dan Key pun menjadi membayangkannya.
" Ih nggak mau ma, nanti rambut Key bisa hancur." jawab Key yang baru saja tersadar.
" Ya udah makanya jangan dibahas lagi, oh iya ini ke sini udah kabari keluarga?" tanya Aisyah yang baru saja teringat.
" Ya ampun ma, aku lupa ngabarin. Aku ngabarin ini aku dulu ya." ucapnya kemudian pergi untuk menelpon neneknya.
" Assalamualaikum nek." ucap Indi untuk mengawali telepon.
" Waalaikumsallam, kau ada di mana?" tanya Nency yang cemas.
" Maafin ini nek, Indi sekarang lagi ada di rumah Key." jelasnya.
" Siapa tadi kamu bilang?" tanya Nency yang masih penasaran.
" Key nek." ulangnya kembali.
" Cewek yang buat Rey nangis bukan?" tanya Nency untuk memastikan.