
" Makanya utarakan aja isi hati kakak, Key tidak akan mungkin mengetahuinya kalau kakak tidak mengutarakannya." ucap Indi yang tiba-tiba saja datang.
" Tetapi aku tidak tahu harus mengutarakannya bagaimana, apalagi saat ini ia masih terikat dengan David." ucap Rey yang kebingungan.
" k"amu lupa ya Kak, David kan sudah bilang kalau dia akan berusaha untuk menghentikan hubungannya dengan Key. Karena ia masih sangat mencintai Kia, walaupun key memiliki rupa yang sama dengan Kia tetapi karakter mereka sangat berbeda jauh." ucap Indi mengingatkan Rey.
" Yang kamu katakan memang benar dek, tetapi hal tersebut belum tentu terjadi dalam waktu dekat. Apalagi untuk menentang keluarga Yusuf itu sangat susah, walaupun David adalah keturunan keluarga Yusuf tetapi dia juga tidak bisa menghentikan apa yang telah diperintahkan oleh ayahnya tersebut." ucap Rey.
" Yang Kakak katakan memang benar, tetapi Kakak juga tidak boleh menyerah. Aku akan bantu Kakak, karena aku yakin Key pasti juga menyukai kakak." ucap Indi yang kini berhasil membuat senyum terukir di wajah Rey.
" Mudah-mudahan saja apa yang kamu katakan itu adalah kebenarannya, dan kamu tenang saja Kakak tidak akan menyerah. Walaupun membutuhkan perjuangan yang sangat panjang, Kakak tidak akan menyerah dengan semudah itu." ucapnya dengan mengelus kepala Indi.
" Ini baru Kakak aku yang aku kenal, aku senang melihat Kakak seperti ini." ucapnya dengan tersenyum.
" Kakak juga senang kalau kamu senang, sekarang kamu kembali ke kamar ya. Udah malam, besok kita juga harus kuliah." ucap Rey dan Indi pun segera kembali ke kamarnya.
" Adik kecilku yang manja." batinnya dengan menatap kepergian Indi.
...----------------...
Sang surya bersinar dengan benderang, hari ini key pun diantar oleh Dika. Tampak para mahasiswa dan mahasiswi yang melihat itu, mereka semua sangat takjub dengan ketampanan yang dimiliki oleh Dika. Dan kabar Kalau Dika merupakan alumni dari kampus itu juga sudah terdengar ke telinga mereka, dan mereka lagi sangat menyanjung-nyanjung Key karena memiliki kakak yang baik dan juga tampan seperti Dika.
" Kak Dika sangat tampan ya." ucap seorang mahasiswi yang lewat.
Yang kau katakan memang benar, seandainya aku terlahir menjadi Key aku pasti akan sangat bahagia." jawab mahasiswi yang satunya lagi.
" Dengar tuh kan Kak, itulah yang membuat aku malas kalau kakak yang ngantar. Aku tuh malas mendengar ocehan para mahasiswa yang berlalu lalang, ujung-ujungnya mereka pasti akan membahas tentang ketampanan kakak." ucapnya yang kesal.
" Terus kalau bukan Kakak siapa yang mengantar kamu, kan nggak mungkin Ayah yang antar dek." ucap Dika.
" Ya nggak tahu siapa yang ngantar adik, tetapi Ade malas mendengar omong-omongan mereka." ucapnya kemudian pergi meninggalkan Dika.
Key pun langsung pergi menuju ruangan kelasnya, seperti biasa sudah banyak barisan mahasiswi yang menunggu Key. Mereka bukan berniat baik kepada Key, melainkan mereka selalu saja berusaha untuk meminta nomor Dika ataupun menitipkan barang-barang untuk Dika. Hal itulah yang membuat Key malas bertemu dengan mereka, karena mereka selalu saja berniat untuk merepotkannya.
Mau tidak mau Key menerima titipan dari mereka semua, tetapi tidak semua barang dari mereka Key bawa pulang ke rumahnya. Ada beberapa barang yang selalu ia tinggal di sekolah, atau lebih tepatnya ia titipkan di tempat ibu kantin. Karena ia tidak bisa membawa pulang begitu banyak barang, bahkan terkadang barang titipannya juga hilang karena ibu kantin meninggalkan tempat itu.
Dosen itu pun memulai pembelajaran, kini Ia menjelaskan poin-poin yang akan dibahas dalam pembelajarannya. Untungnya dia adalah dosen yang menjelaskan dengan sangat jelas, sehingga semua mahasiswa dan mahasiswi dapat memahami apa yang ia jelaskan. Walaupun begitu Ia tetap saja membuat para mahasiswa dan mahasiswa yang marah, Karena ia memiliki waktu yang sangat sedikit untuk mereka sedangkan mereka memerlukan waktu yang banyak untuk belajar.
Kini jam pembelajaran telah selesai, Key pun langsung menunggu Rey di depan gerbang fakultasnya. Tidak membutuhkan waktu lama hari pun sudah tiba, Key pun langsung naik ke atas motor Rey. Dan mereka pergi ke tempat yang sudah mereka sepakati, ya benar mereka hanya berdua saja.
Motor pun melaju, gini mereka menyusuri setiap jalan. Mereka pun mendatangi rumah sakit rumah sakit untuk mencari keberadaan Kia, mereka terus mencari tanpa kenal kata lelah. Hingga tanpa mereka sadari waktu sudah menunjukkan petang, dan hingga kini mereka masih belum berhasil menemukan keberadaan Kia.
Sebelum pulang mereka singgah di sebuah restoran, karena cacing di perut mereka yang sudah memberontak meminta diisi. Mereka berdua tampak dengan santai duduk di sebuah meja, dan mereka pun segera memesan makanan. Mereka berdua sama-sama memesan spaghetti dan juga coffee latte.
Rey sangat kaget mengetahui selera makan mereka yang sama, tetapi dia juga tersenyum karena ia dapat mengetahui makanan kesukaan dari Key. Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya makanan itu pun sampai di meja mereka. Key yang memang sudah merasa lapar, ia pun langsung menyantap spaghetti tersebut tanpa memperdulikan keberadaan Rey. Rey tidak berkata apa-apa melihat cara makan key, ia hanya tersenyum tipis melihatnya.
" Cara makannya sangat lucu, dia sangat menggemaskan." batin Rey dengan menatap Key.
" Aku terlalu rakus ya?" tanya Key yang menyadari tatapan Rey.
" Nggak kok, kamu justru sangat lucu." ucapnya dengan tersenyum dan Key pun tersipu malu.
Rey pun menyadari kalau Key sedang tersipu malu, terlihat dari rona pipinya yang bersemu merah. Walaupun key sudah menunduk, tetapi rona pipinya itu tidak bisa ditutupi. Rey menjadi sangat gemas, dan rasanya ia ingin mencubit pipi Key yang berwarna merah tersebut.
" Jangan lihat aku seperti itu, kau makan saja." ucap Key yang merasa malu.
" Iya deh aku makan, kau pasti sudah sangat ingin pulang ke rumahmu bukan." ucapnya dengan tersenyum.
Senyuman itu justru membuat key tambah meleleh, gini iya tidak tahu apa yang sedang ia rasakan. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang, dan ia tidak bisa mengubahnya. Kini ia sangat bingung, ingin rasanya ia pergi dari sana. Tetapi ia tidak mengetahui jalan pulang, dan apalagi waktu sudah petang. Kini ia merasa dilema, dia tidak tahu harus berbuat apa dan akhirnya pun memutuskan untuk diam saja.
# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Naura Abyasya
2. Derai Yang Tak Terbendung
3. Rela Walau Sesak
4. Azilla Aksabil Husna