
***
Raden Mas Panji dan Raden Sigar menghentikan perjalanan pulang Tumban Baloq Darwire.
“Tunggu!” Seru Raden Mas Panji.
Tumban itu menghentikan langkah, membalikkan badan, dan mendapati dua kepala desa telah menyusulnya.
“Apa benar Anda punya bukti keterlibatan pasukan elite kami?” sambungnya.
Tumban itu mengangguk, “Anda bisa melihat bukti yang dikumpulkan teliksandi kami,”
Raden Mas Panji mendengus. Lalu dengan lantang berujar, “Berarti Anda mencurigai kami terlibat dalam pemberontakan di Desa Bunge?”
“Aku tidak pernah mengatakan seperti itu,” tepisnya.
“Biar aku yang bicara, kanda,” Raden Sigar menenangkan kakak iparnya yang mulai kesulitan menata kalimat. “Darwire, saya berharap Anda bersedia membuka empat gerbang desa Bunge dan biarkan pasukan kami masuk sebanyak-banyaknya,”
“Tidak mungkin,” tolak Tumban.
“Ada masalah lebih besar mengintai Desa Bunge selain pemberontakan para Selaq,” ujar Raden Sigar.
“Itu tidak cukup menjadi alasan kami membuka empat pilar jantung keamanan desa Bunge. Saat ini desa sedang memadamkan pemberontakan. Kehadiran pasukan desa lain dalam jumlah besar menambah potensi ancaman bagi desa kami,”
“Kami bukan ancaman. Kami ingin membantu!” cetus Raden Mas Panji.
“Apapun di luar rencana memadamkan pemberontakan, kami harus mewaspadainya,”
“Apa yang harus kami lakukan agar Anda percaya maksud kami baik?” tanya Raden Sigar.
“Waktuku tidak panjang, kalau Anda bermaksud membantu dengan senang hati kami menerima. Tapi sekali lagi bukan dengan membuka empat gerbang Desa. Kami hanya butuh bantuan mengendalikan empat Selaq yang bukan dari desa kami,”
Raden Mas Panji dan Raden Sigar bertukar pandangan. Mereka menyadari hubungan dengan Darwire masih panas akibat perdebatan di Paseban Agung.
Raden Mas Panji melangkah lebih maju. Mendekati, Tumban. Lalu berkata,
“Jangan berpikir yang tidak-tidak. Anda sudah tahu, saya sedikit bermasalah dalam menata emosi. Tapi saya bukan tipikal orang yang suka menikam teman dari belakang,”
“Saya tidak paham ke mana arah pembicaraan Anda,” ujar Tumban.
Wajah Raden Mas Panji memerah. Dengan nada tinggi, Ia kembali memaksa gerbang Desa dibuka.
“Buka gerbang desa atau kami yang memaksa masuk!” paksanya.
“Ada apa?”
Ketiganya dikagetkan dengan kedatangan Kepala Desa Pusuk Arta Prana yang didampingi beberapa pasukan elitenya.
“Mereka ingin saya membuka gerbang Desa Bunge,” tutur Tumban pada Artha Prana.
“Apa yang kalian rencanakan?”
Tatapan Arta Prana tajam menyelidik ke dua Kepala Desa. Sebaliknya Raden Mas Panji yang temperamental tak mau kalah melotot ke arah Arta Prana.
“Pertanyaan itu sebenarnya lebih tepat Anda arahkan untuk diri Anda!” cetus Raden Mas Panji dengan wajah kesal kepada Artha Prana.
“Mereka bilang ada sesuatu yang lebih besar dari pemberontakan para Selaq, mengancam desa Bunge,” ujar Tumban menyela.
“Oh ya, apa itu?” tanya Arta Prana.
“Mereka belum menjelaskannya,” jawab Tumban.
“Tidak ada yang perlu kami perjelas,” Setelah berkata, Raden Sigar menarik tangan Raden Mas Panji. Tak butuh waktu lama, keduanya lenyap di balik di rimbunnya pohon hutan.
***
“Paman, kau bercanda,”
Jumindri termangu dengan perkataan Ngeres Koneng yang menyebutnya Selaq.
“Kau memang bagian dari kami. Kita adalah orang-orang terpilih yang akan mengakhiri peradaban umat manusia,”
“Aku masih belum mengerti,” ujar Jumindri datar.
“Harusnya kau senang nak, kita adalah evolusi selanjutnya dari bangsa Manusia!”
“Kau membuatku takut pada diriku sendiri sekarang paman,”
“Omongan Darwire terlalu banyak mempengaruhimu,”
“Maksudmu?”
“Aku menebak Darwire menceritakan hal yang buruk tentang bangsa Selaq,” ujar Ngeres Koneng.
Ngeres Koneng berjalan mendekati Jumindri. Hingga keduanya berjarak tidak lebih dari satu langkah saja. Seakan tidak pernah terjadi pertempuran hidup mati di antara mereka.
“Bagaimana warga Desa memperlakukanmu nak?”
Jumindri diam. Tatapannya kosong mengingat tidak ada satupun warga desa yang mau mendekatinya.
Tapi kemudian Jumindri berujar, “Baloq Darwire, sangat baik padaku,”
Jumindri kembali terdiam. Untuk beberapa saat dia mencoba mencari jawaban di kepalanya. Namun akhirnya hanya bisa menghela nafas, menggeleng pelan.
“Aku sudah tahu. Tidak ada yang mau menerimamu. Kau tahu alasannya?” ujar Ngeres Koneng, seakan sudah tahu semua tentang kehidupan Jumindri.
Jumindri masih belum bisa berkata apapun. Pertanyaan itulah yang selama ini ingin diketahui jawabannya.
“Sekitar 50 tahun lalu, seorang perempuan dipaksa mempelajari Lontar Rahasia. Lontar Betaljemur Bireng,”
“Lontar tentang apa itu paman?”
“Lontar ini sebenarnya berpasangan. Ada Lontar Betaljemur Bireng dan Lontar Betaljemur Puteq. Lontar Betaljemur Puteq konon di pegang bangsa Jin, sedangkan Lontar Betaljemur Bireng dipegang Bangsa Manusia,”
Ngeres Koneng melanjutkan ceritanya, “Lontar Betaljemur Bireng berisi segala rahasia tentang kehidupan bangsa Jin, sedangkan Lontar Betaljemur Puteq berisi segala rahasia tentang kehidupan Bangsa Manusia. Dua lontar ini diturunkan oleh Resi Betaljemur untuk membangun keseimbangan kehidupan antara Bangsa Manusia dan Bangsa Jin. Manusia dan Jin sama-sama diberikan Lontar itu agar tidak saling mengganggu satu-sama lain,”
“Lalu?” Jumindri mulai tertarik.
“Masalah muncul, ketika lima orang pemuda ingin membangun pemukiman di Lembah Rinjani ini. Mereka adalah Darwire, Darwulan, dan tiga orang lainnya adalah perempuan yakni Darkani, Darsumbi, dan Daranjani,”
“Baloq Darwire?” ujar Jumindri memastikan salah satu nama dari lima orang yang disebut Ngeres Koneng.
“Iya,” Ngeres Koneng membenarkan.
“Aku pernah mendengar Baloq Darwire menyebut punya lima sahabat yang dihormatinya, tapi Ia tidak pernah bercerita tentang kehidupan mereka,”
“Mereka sebenarnya bukan hanya bersahabat. Tetapi satu keluarga hanya berlainan Ibu,”
“Baloq Darwire tidak pernah menceritakan tentang itu,”
“Darwire tidak akan pernah menceritakannya, karena baginya itu aib. Sekaligus bentuk pengkhianatannya pada saudara-saudaranya,”
“Kau terus menjelekkan Baloq Darwire,”
Ngeres Koneng tak menghiraukan protes Jumindri. Ia melanjutkan lagi ceritanya, “Darwire meminta adiknya yang paling Bungsu Daranjani mempelajari Lontar Betaljemur Bireng. Tujuannya untuk melawan Bangsa Jin yang menguasai Lembah Rinjani,”
“Lalu di mana pengkhianatan Baloq Darwire yang Anda maksud?”
“Dengan menguasai Lontar Betaljemur Bireng, kesaktian Daranjani meningkat. Namun Ia harus menanggung dampak penderitaan sampai akhir hayatnya. Akibat kekuatan mengerikan yang dikuasainya,”
“Kekuatan apa?”
“Kekuatan para arwah!”
“Bagaimana ia bisa melakukan itu?”
“Kelak kau akan mengerti. Tapi satu hal yang mungkin Darwire tidak pernah mengajarkan padamu, bahwa alam ini terdiri atas 7 langit atau 10 dimensi. Langit pertama atau dimensi ketiga adalah tempat manusia hidup, langit kedua atau dimensi keempat adalah tempat para jin hidup, sedangkan langit ketiga atau dimensi kelima adalah alam barzakh atau tempat para arwah hidup,”
Ngeres Koneng, lalu mengatakan, “Menguasai ilmu langit ketiga membuat Daranjani lebih hebat dari bangsa jin, bahkan hampir saja membuatnya abadi kalau saja ilmu itu dikuasainya dengan sempurna. Tapi ternyata, wadah manusianya tidak cukup hebat untuk menampung energi para arwah yang merasukinya,”
“Apa yang terjadi selanjutnya dengan Baloq Daranjani?”
“Selama 10 tahun Daranjani, dijadikan anjing penjaga oleh Darwire. Jasa-jasanya mengusir dan menghancurkan desa Jin, tidak sebanding dengan penghargaan yang diberikan Desa Bunge. Daranjani dilarang masuk ke desa dan hanya diberi tempat di hutan luar desa. Hanya boleh makan bangkai dan memakan hewan-hewan buas. Sedangkan Darwire duduk di singgasana kepala desa dengan makanan yang mewah dan mendapat kehormatan besar dari penduduk desa!”
“Aku tidak percaya Baloq Dariwire sejahat itu!”
“Aku tidak memaksamu percaya. Kau mungkin sudah termakan omong kosong tua bangka itu. Tapi selama 10 tahun itu Daranjani bertarung sendiri mengendalikan kekuatan arwah yang merasukinya. 10 tahun Ia menahan sakit sampai maut merampas hidupnya!”
“Kau mengarang cerita!” hati Jumindri tercabik mendengar penuturan Ngeres Koneng.
“Selama 10 tahun Daranjani menanggung kutukan Lontar Betaljemur Bireng dan berkorban demi tegaknya keamanan desa dari serbuan bangsa Jin. Tapi Darwire malah menghasut warga Desa menjauhi Daranjani. Menyebut Daranjani sebagai manusia tersesat atau salaq (salah, Sasak). Dari kata Salaq itulah akhirnya para warga Desa menyebutnya sebagai Selaq!”
“Lalu apa kaitannya dengan aku, paman?”
“Kau, aku, dan para Selaq lain yang bersembunyi di dalam kegelapan hutan adalah keturunan Daranjani. Orang-orang yang disebut salah mengambil jalan kehidupan,”
Lutut Jumindri lemas. Seketika itu juga kakinya berlutut. Tatapannya benar-benar kosong.
Ia sudah berusaha menolak semua penjelasan Ngeres Koneng. Tapi mengingat bagaimana warga desa menjauhinya dan menyebutnya bocah terkutuk, semuanya menjadi beralasan.
“Sekarang terserah padamu. Kau adalah satu-satunya perempuan dari garis keturunan Daranjani. Selebihnya Daranjani memiliki ketentuan pria. Oleh karena itu, di dalam darahmu, mengalir keturunan Selaq. Kau perempuan, sama seperti Daranjani. Maka di dalam dirimu tersimpan kekuatannya. Kau pewaris kekuatan Daranjani dan yang akan memimpin para Selaq menguasai dunia dan mengakhiri kekuasaan manusia,”
“Aku harus bagaimana paman?”
“Selaq Bunge pernah mengatakan padaku, aku tidak akan pernah bisa mengalahkanmu. Sekalipun kau masih anak-anak. Jika amarahmu memuncak, itu akan membangkitkan kekuatan Daranjani dalam jiwamu. Selaq Bunge memerintahkan kami menjauhimu,”
“Maksudmu?” Jumindri terlihat masih bingung.
“Aku tidak akan mampu memaksamu. Kaulah yang memutuskannya. Jika kau ingin membawa bangsamu menuju kejayaan, ikutlah dengan kami. Tapi jika menolak, maka segala kekuatan akan kami kerahkan untuk menghabisimu!”
Jumindri terdiam sejenak. Sedangkan Ngeres Koneng, membalikkan badan bersiap ikut bergabung menyerbu Desa Bunge.
“Paman, aku ikut dengan kalian,” kata Jumindri datar.
Ngeres Koneng mengembangkan senyum. Ia senang sang calon Ratu, akhirnya bergabung.
“Kita balas lebih sakit perlakuan warga desa yang pernah menyakitimu selama ini!”
Jumindri hanya diam. Ia berjalan di belakang Ngeres Koneng yang tidak sabar segera meratakan desa Bunge.
“Desa Bunge, nikmatilah seni yang sesungguhnya!” pekiknya.