SELAQ

SELAQ
Episode “Bintang Jatuh” (19)



***


Rawilih mendekap dadanya. Pandangan berkunang, darah mengalir deras dari bekas luka yang menganga.


Dada tak hanya nyeri tapi panas membara.


Nafas tersengal dan berkali-kali terbatuk. Sesaat kemudian mulutnya menyebutkan darah segar.


“Oh, inikah rasanya ajal itu?”


Bibir yang berlumur darah masih sempat menyelipkan senyum. Pakaian putih yang dikenakannya, sebagai telah berubah merah – basah.


“Oh Dewata, mengapa engkau malu-malu mencabut nyawaku?” kepala Rawilih mendongak ke langit. Menatap bintang yang berkelipan tanpa sehelai awan menutupi.


Sementara, Arta Prana masih berdiri tak beringsut dari posisinya semula. Tatapannya dingin melihat Rawilih sekali waktu kejang menahan sakit teramat sangat.


“Wahai Dewata Agung, mengapa kalian hanya tertawa dalam kemegahan kayangan? Terlena dalam pelukan dewi-dewi rupawan? Turunlah, cabut nyawaku. Aku tak tahan menanggung rasa sakit akibat keris terkutuk yang kalian turunkan dari langit!


“Mengapa diam saja? Membiarkan aku menggelepar seperti seekor ikan yang insangnya tak lagi menyisakan setitik air?”


Tangan kiri Rawilih yang berlumuran darah meraih cempaka putih di telinga. Sedang tangan kanan masih menggenggam erat keris pusaka.


Dengan gerakan perlahan didekatkan bunga ke hidung. Seakan ritual terakhir sebelum meninggalkan dunia fana.


Tapi belum saja rongga dadanya dipenuhi wangi bunga cempaka, Artha Prana melesat. Menyambar bunga dari tangan Rawilih yang bergetar menahan nyeri, perih, sakit.


“Mengapa Artha Prana? Sekali saja. Sehirup aroma sebelum ajal menjemputku,” rintih Rawilih.


Artha Prana berdiri membelakangi Rawilih. Tangan kirinya memutar-mutar bunga Cempaka. Lalu dengan dingin berkata, “Bahkan menjelang mampus kau pandai bermain drama. Setangkai bunga cempaka dengan lima kelopak bunga. Satu kelopak, menyimpan satu nyawa bukankah begitu?”


Rawilih terkejut. Ia tak menyangka Artha Prana mengetahui keistimewaan bunga yang selalu menghiasi telinganya. Memang benar, setiap kelopak bunga, menyimpan nyawanya.


Rawilih menggelepar-gelepar. Nafasnya tersisa di leher. Pandangan perlahan gelap. Tangan terangkat berusaha meraih bunga. Sayang, bunga itu berada yang di posisi yang mustahil dijangkaunya.


Kepala Desa Lolo itu, roboh. Terhempas ke tanah.


“Bunga yang indah. Sebaiknya berada di tempat yang layak,” kemik Artha Prana.


Ia lalu menyimpan Cempaka istimewa itu di balik jubahnya. Bibirnya tersenyum tipis. Sinar matanya dingin, tanpa rasa belas kasihan.


“Hanya raja yang agung, berhak memiliki nyawa tiada putus. Bukankah begitu, Rawilih?” ucapnya.


Ia membalikkan badan. Menatap jasad Rawilih yang sudah tak bernafas.


***


Sementara itu, pasukan elite Desa Pusuk juga berhasil menumbangkan semua pasukan elite Desa Lolo.


Bau anyir menyeruak. Tubuh para pasukan bergelimpangan, menambah suasana pilu desa Bunge yang malang.


“Wuzzzhhh!”


Sesosok tubuh berpakaian serba hitam mendekati Artha Prana. Tubuhnya mungil, langkahnya sangat ringan. Kakinya seperti tidak menjejak bumi setiap kali melangkah.


Sosok itu adalah teliksandi desa Pusuk. Ia melaporkan situasi terkini Desa Bunge.


“Tuanku, Mopol Kesur tewas dibunuh Jumindri yang berubah menjadi monster. Ngeres Beaq pingsan. Para Selaq memutuskan mengakhiri pemberontakan,” bebernya.


“Pantas saja aku tidak mencium lagi kekuatan Selaq Bunge menyelimuti desa ini. Tak ku sangka, Tarumbie dan kawan-kawannya mengalah lebih cepat,”


“Mereka membatalkan rencana merebut Jumindri,” imbuhnya.


“Tarumbie mengira lebih pintar dariku. Sebelum pemberontakan, dia meminta bantuanku menghasut Selaq dari Desa Tunggak dan Desa Buaq untuk memberontak. Jika pemberontakan berhasil, Tarumbie berjanji memberikan wilayah Desa Bunge. Tapi aku sudah tahu isi kepalanya, ingin memanfaatkanku dan sama sekali tidak berencana menyerahkan desa ini,”


“Lalu mengapa tuan akhirnya menyanggupi?” tanya teliksandi itu.


“Tujuan Tarumbie hanya dua. Satu, merebut Desa Bunge untuk pusat koloni Selaq. Dan kedua, membangkitkan Sang Ratu di tubuh Jumindri sebagai pemimpin peradaban bangsa Selaq,”


“Kasihan sekali, tak satupun tujuan mereka tercapai,” timpal teliksandi.


“Tarumbie dikendalikan nafsu. Otaknya tak bisa berpikir jernih dan terlalu memuja kekuatan. Ia mengira dengan membentuk kelompok para Selaq yang memiliki kesaktian tinggi, bisa mudah menaklukkan desa Bunge. Lebih fatal lagi, Tarumbie tidak tahu Sang Ratu di dalam tubuh Jumindri harus bermetamorfosis sebelum mencapai kesempurnaan,” ujar Artha Prana.


“Mengapa Tarumbie tidak menangkap Jumindri tuan, bukankah mereka bisa mengawal metamorfosis Sang Ratu sampai sempurna?”


“Itu tidak mungkin saat ini. Bala bantuan dari desa lain sudah tiba dan pasti akan melindungi Jumindri. Situasi diperburuk dengan kondisi Jumindri yang berubah buas dan dapat mencelakai siapa saja. Tarumbie pasti berpikir realistis, sulit baginya menghadapi situasi seperti ini,” ujar Artha Prana.


“Mungkinkah para Selaq kembali dalam waktu dekat ini?” tanya teliksandi lagi.


“Tidak. Kematian Mopol Kesur memukul telak kelompok Selaq,” jawab Artha Prana.


“Apa itu berdampak serius bagi formasi mereka?”


“Benar,” ujar Artha Prana.


“Ampun tuan. Saya masih belum mengerti. Bukankah mereka memiliki kesaktian luar biasa, apa yang ditakuti untuk kembali mencoba merebut desa ini?” sela teliksandi.


“Ini bukan sekadar tentang merebut wilayah. Tapi rencana besar membangun kerajaan Selaq. Ketahuilah, sebuah sistem pemerintahan tidak bisa ditopang hanya dengan kekuatan saja. Tapi butuh kekuatan ekonomi demi keberlangsungan hidup rakyatnya,” ujar Artha Prana.


“Berarti yang dibunuh Jumindri sosok kunci perekonomian kerajaan Selaq?”


Artha Prana, memejamkan mata. Mencari sesuatu dalam alam pikirannya yang misterius. Tangan kirinya meraih bunga Cempaka di dalam jubahnya.


Lalu kembali memutar bunga dengan telunjuk dan ibu jari.


“Kalau yang terbunuh bukan Mopol Kesur, Selaq Bunge pasti meneruskan pemberontakan. Tapi kematian Mopol Kesur mengacaukan rencana besar mereka. Tidak ada satupun di antara para Selaq yang menguasai tata kelola ekonomi dan perdagangan kecuali Mopol Kesur,” jelas Artha Prana.


“Pantas mereka langsung pergi,” gumam teliksandi, baru paham.


Saat mereka tengah berbincang, sekelebat bayangan kembali datang. Penampilannya tak jauh beda dengan teliksandi yang menemani Artha Prana.


“Ampun tuanku. Ternyata ada pergerakan pasukan dari desa Buaq dan Desa Tunggak. Posisi mereka saat ini mendekati batas desa Bunge. Perkiraan jumlah mereka sekitar dua ribu pasukan,” sosok itu melapor.


Wajah Arta Prana berubah. Gesturnya tak senang mendengar informasi itu. Sorot matanya tajam membuat kedua teliksandi takut mengangkat wajah.


“Bagaimana kalian bisa lengah,”


“Ampun beribu ampun tuanku. Situasi berubah dengan cepat. Sejumlah teliksandi yang menyusup di desa Tunggak dan Buaq ditangkap, sehingga aliran informasi dua desa itu sempat terputus,” jelas teliksandi itu.


Arta Prana diam beberapa saat. Wajahnya datar. Namun kemudian, kembali tersenyum tipis.


“Panji dan Sigar. Mereka lawan yang menarik,” gumamnya.


Setelah menyimpan bunga di balik jubah, jari telunjuk kirinya kembali mengelus dagu.


“Baiklah. Situasi saat ini tidak memungkinkan untuk merebut Desa Bunge. Pertama, karena para Selaq mundur lebih cepat dari waktu yang kita perkirakan. Kedua, Panji dan Sigar ikut campur. Jadi saya putuskan ubah strategi ke rencana B. Pastikan tidak ada yang tahu rencana kita malam ini!”


“Perintah kami laksanakan tuan!”


Dua teliksandi itu pun pamit undur diri. Lalu mulai melaksanakan rencana B, seperti perintah Artha Prana.


***