SELAQ

SELAQ
Episode "Pemuda Ambisius" (16)



Angin menderu di bawah langit Desa Bunge. Kilat tanpa gemuruh berkali-kali memapar bumi.


Anak manusia menjerit kesakitan silih berganti memecah kesunyian. Seiring pemberontakan terjadi oleh segerombol kelompok Selaq dengan kesaktian tingkat tinggi.


Hawa maut bergentayangan di semua pelosok. Meneror setiap yang memiliki jiwa dengan kengerian yang menciutkan nyali.


Sang Surya di waktu senja semakin meredup. Menandai sesaat lagi terlelap di peraduannya. Sinarnya semakin tak berdaya menembus awan hitam dan halimun yang teramat tebal. Bertekuk lutut di bawah kalimat mantra kuno dewa kegelapan.


Sementara bagi binatang dan segala yang bernyawa di Desa Bunge, tak ada yang lebih menenangkan kecuali melipat diri dalam sarang!


Maha Guru Perguruan Bunge, Raden Aryadi memberi perintah pada dua muridnya paling menonjol.


“Jayengrana, pimpin 50 teman-temanmu menuju gerbang barat. Begitu juga Kayunada pimpinan 50 lagi ke Gerbang Utara. Misi kalian sama, perkuat pertahanan pasukan di kedua gerbang dengan senjata panah. Aku dan 30 murid lain akan ke gerbang timur. Sisanya ke gerbang Selatan. Kita tidak tahu siapa teman siapa lawan. Jadi waspadalah!”


Dua pemuda gagah membungkukkan badan, takzim menyanggupi perintah gurunya. Mereka lantas berpencar menjalankan misi masing-masing.


Di luar desa, ribuan pasukan itu terus dipantau para teliksandi. Mereka semakin dekat dengan batas Desa Bunge. Lengkap dengan persenjataan, langkah mereka kasar menyibak ilalang hutan yang berduri.


***


Amukan monster merah kian brutal. Puluhan rumah ambruk berkeping-keping diterjang makhluk liar itu. Pohon bergelimpangan tak tentu arah dengan jumlah tak terhitung banyaknya.


Situasi begitu rumit, setelah Artha Prana, kepala Desa Pusuk menyibak sedikit muslihatnya. Remaja gagah itu rupanya menyimpan sekelumit maksud berbahaya bagi desa Bunge.


Nafas Kepala Desa Lolo Rawilih tersengal. Ia menghentikan sejenak serangannya pada Artha Prana.


Rawilih menyadari kemampuan Artha Prana di atasnya. Pukulan maut telah dilancarkannya, namun tak sedikit pun mampu melukai Kepala Desa Pusuk.


Belum lagi, Artha Prana hanya menghindar saja. Tidak sekalipun memberikan serangan balasan.


“Apa sebenarnya yang kau rencanakan Arta Prana?”


Rawilih terlihat sangat ingin tahu, apa yang ada dalam pikiran kepala desa berusia 25 tahun itu. Hatinya masih menyisakan sedikit ruang tidak percaya, pemuda yang sering berseteru dengan Raden Mas Panji itu, menyimpan siasat buruk bagi Desa Bunge.


“Mengapa aku harus memberitahumu?” suara Arta Prana terdengar meremehkan membuat darah Rawilih bergolak panas.


“Aku hanya tidak mengerti, bagaimana pemuda sepertimu dapat menyimpan rencana busuk untuk Desa Bunge. Atau jangan-jangan kau juga memiliki rencana busuk bagi desa lain?” ujar Rawilih menyelidik.


“Aku pikir kau sebaiknya tidak perlu tahu semuanya. Cukuplah sikapku malam ini menjelaskan sedikit di mana posisiku pada situasi desa ini,”


“Hubungan Desa Pusuk dan Bunge sangat baik. Bahkan di antara kalian terjalin hubungan dagang hasil bumi. Bagaimana mungkin tumbuh niat busuk di hatimu melihat kehancuran di desa Bunge?” Rawilih mendesak Artha Prana menjelaskan alasannya.


Artha Prana hanya membalas dengan senyuman tipis.


“Tidak sedikit pun kami mencurigaimu. Di Paseban Agung, kau memperlihatkan hati emas dengan menyatakan kesediaan membantu Desa Bunge,” ujar Rawilih.


Arta Prana mengeluarkan telunjuk tangan kanan dari balik jubah hitam. Lalu menyilangkannya di depan bibir. Meminta Rawilih menyudahi perkataannya.


“Percuma saja mendesak menjelaskan apa maksudku. Tapi satu hal yang mungkin perlu kau tahu, sebuah rencana besar dan mulia, harus diperjuangkan sekalipun dengan cara yang sedikit kasar,” jawab Artha Prana dengan ekspresi dingin.


“Rencana besar? Rencana Mulia? Sedikit Kasar? Apa yang kau maksud dengan kata sedikit kasar itu? Tidakkah kau melihat perbuatanmu membantu monster itu lepas menambah kehancuran luar biasa bagi Desa Bunge? Bagaimana kau menyebut ini sebagai rencana mulia. Jangan-jangan seluruh kekacauan yang terjadi di desa ini rencanamu?”


Artha Prana tidak menjawab. Ia hanya mengulum senyum dengan wajah dingin penuh siasat.


“Jangan katakan, kau yang merencanakan huru-hara ini!” desak Rawilih sekali lagi.


“Tadinya aku berpikir kau tidak perlu dihabisi. Sekarang aku berubah pikiran sangat berbahaya membiarkanmu hidup. Kau bisa menggagalkan rencana besarku,” ujarnya enteng.


Dua kepala desa itu kembali terlibat pertempuran sengit. Mengeluarkan jurus-jurus terbaik dilambari ilmu kanuragan.


“Sesep Irek!” pekik Rawilih.


Artha Prana terperosok ke dalam tanah yang tiba-tiba berubah jadi lumpur rawa. Usahanya melompat keluar, sia-sia sebab lumpur itu seperti dipenuhi ribuan tangan yang menarik ke dalam.


Pada kesempatan itu, Rawilih melompat menghujam keris pusaka tepat disarangkan ke arah dada sebelah kanan Artha Prana.


“Zrrrekkk!”


“Aaaaaaa...!!!”


Rawilih memekik kesakitan. Entah bagaimana keris pusakanya justru menancap di dadanya sendiri.


Ia pun baru menyadari, bukan Artha Prana yang terperosok ke dalam lumpur rawa. Tapi Ia sendiri.


Rawilih meringis kesakitan, lalu perlahan mencabut keris yang menancap di dadanya.


“Bagaimana rasanya terkena ilmu dan senjata sendiri?” tanya Artha Prana yang berdiri tenang dengan sorot mata buas.


***


Di lokasi yang sama, tapi sudut lain, Raden Sentane terus mencari cara menghentikan amukan monster merah. Entah berapa rantai baja dikeluarkan untuk membuat jerat, namun semakin lama kekuatan monster berlipat ganda.


Rantai-rantai bajanya, tak ubahnya benang yang dengan gampang diputus monster. Wajah Raden Sentane menyiratkan putus asa dan kehabisan akal menghentikan sang monster.


“Duh, Sang Hyang Kuase, harus bagaimana lagi aku menghentikannya?”


Saat kebingungan melandanya, monster berbalik menyerangnya. Raden Sentane buru-buru melompat menghindar.


Sayang, kuku monster, lebih cepat merobek pinggangnya.


Raden Sentane terpental lalu terjerembap di atas tanah berdebu. Tangannya buru-buru mendekap pinggang yang mengeluarkan darah segar. Luka robek itu terasa perih dan panas.


“Wusss!!!”


Puluhan tombak meluncur deras menerjang Monster. Namun seperti dilindungi perisai tak kasat mata, tak ada satu mata tombak dapat menggores kulit Monster.


Usaha para pasukan yang ingin membantu Komandan Krame Desa sia-sia. Malah kini nyawa mereka terancam, karena Monster berbalik arah memburu pasukan yang menyerang tadi.


“Aaaaaaa!!!”


Jeritan kesakitan anak manusia, silih berganti merobek suasana. Satu persatu, pasukan Krame Desa bertumbangan.


Ada yang kehilangan tangan, kaki, perut, hingga kepala dilalap monster haus darah. Keadaan mereka begitu mengerikan.


Puas menghajar para pasukan, Monster kembali mengamuk merusak apa saja di depannya. Sementara Raden Sentane telah mengikat luka di pinggangnya dengan sepotong kain.


"Kalau terus dibiarkan, monster ini akan meratakan semua rumah warga. Mungkin cara terbaik adalah bukan dengan menghentikannya, tapi memancingnya keluar desa," gumam Raden Sentane.


Ia lantas memanggil beberapa pasukan yang tersisa. Mengajak mereka menyusun rencana membawa Monster itu ke luar desa.


***