
Blokpentes termangu.
Lama ia menatap lubang kecil yang kini sudah tak lagi memperlihatkan tiga sosok misterius. Sesaat yang lalu, tiga sosok telah meninggalkan ruangan. Lalu ditelan keangkuhan gerbang berlapis emas dan perak yang megah!
Wajah Blokpentes menyiratkan ketegangan. Beberapa saat ia seperti arca dwarapala yang membeku di depan pintu.
Ruangan gelap itu hanya merekam nafasnya yang naik-turun dengan cepat.
“Siapa mereka?”
Pertanyaan itu terus berkelindan di benaknya. Tandang tiga sosok yang mencurigakan, obrolan misterius, hingga keinginan menguasai bangsa Jin dengan memperalat Bangsa Selaq membuatnya ngeri.
Blokpentes kembali meraba dinding di depannya. Dinding baru itu memiliki permukaan yang lebih halus dibanding sisi dinding yang lain.
“Anginnya cukup kencang dari celah ini,” gumamnya.
Ia meraba celah yang lain. Dan di sana Blokpentes juga merasakan rembesan angin yang kencang di punggung tangannya.
“Berarti dinding ini terpisah dengan sisi dinding yang lain. Hmm, sepertinya ini pintu yang menghubungkan ruangan gelap ini dengan ruangan megah di dalamnya,”
Blokpentes meraba lagi sisi-sisi dinding dan lantai. Mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk membuka pintu batu itu. Tapi sekian lama berputar dan meraba, tak ada apapun yang ditemuinya.
“Bahkan sepotong ranting atau kerikil tak ada di sini,”
Pikirannya mulai liar. Ia membayangkan ruangan itu semacam labirin bawah tanah. Di mana orang hanya bisa masuk ke dalam dan tidak pernah bisa keluar kecuali gerbang itu dibuka.
“Tapi aku sendiri tidak tahu, bagaimana bisa berada di ruangan ini,”
Blokpentes kembali mengingat-ingat bagaimana ia terjatuh. Saat itu ia hendak melompati tebing terakhir. Namun tenaganya tak cukup mengantarkannya ke sisi yang lain.
Ia pun terjatuh!
“Aku masih ingat kepalaku sempat terbentur pada dinding batu,” gumamnya.
Tubuhnya semakin deras meluncur. Menghantam ranting dan dahan kayu. Hingga terhempas dengan keras pada tanah miring.
Lalu terguling jatuh lagi ke tebing yang lebih curam. “Sampai di sini mulai samar-samar,”
Setelah berpikir keras. Blokpentes mengingat sesuatu. Ia terkejut dan segera meraba dadanya.
“Tak ada!” ujarnya kaget.
Ia mengingat detik-detik sebelum kesadarannya benar-benar hilang. Saat itu, kepalanya kembali terbentur batu lebih keras lagi.
Lalu dalam keadaan terlentang menghujam tebing yang tajam. Tapi sebelum dadanya tertancap di tebing tajam itu, pandangannya gelap. Ia hilang kesadaran.
“Aku tak ingat, apa yang terjadi,” gumamnya.
Blokpentes menarik nafas panjang. Bersyukur ternyata masih hidup. Bahkan tak ada bekas luka tertembus tebing tajam di dadanya.
Tapi baru saja ia bisa menarik nafas lega, pikirannya kembali liar. Membayangkan mula-mula ia akan kehausan.
“Setelah haus, lalu lapar. Semakin lapar. Lalu tubuhku akan melemas. Lemah dan akhirnya mati,” racaunya.
“Tidak, aku tak mau mati di tempat seperti ini,” tepisnya dengan nafas terengah-engah.
Suara-suara keputusasaan mendengung di telinganya membuat dadanya terasa menyempit. Lehernya tercekat. Kepalanya pusing. Lalu dalam kegelapan ia melihat bintik-bintik kilatan di kelopak mata.
***
“Buuuuk!!”
Blokpentes terpental beberapa meter setelah mencoba mendobrak pintu batu itu. Ia bangkit, lalu kembali mencoba mendobrak dengan keras lagi, tapi kembali terpental. Begitu berulang-ulang. Berkali-kali. Tapi dinding itu bergetarpun, tidak.
“Ini tak berhasil,” keluhnya.
Ia tersengal. Meringis menahan sakit bukan kepalang, setelah gagal mendobrak pintu batu yang sekeras baja.
Setelah cukup lama memutar otak, Blokpentes bangkit lagi.
“Baiklah akan aku coba,” gumamnya.
Kakinya melebar. Memasang kuda-kuda. Dua tangannya, tersilang di depan dada. Lalu mulutnya komat-kamit.
Matanya terpejam.
Beberapa saat ia memusatkan konsentrasi. Lalu dengan gerakan seseorang yang tengah mengeluarkan tenaga dalam, Blokpentes mendorong tangannya ke depan, ke arah pintu batu.
Dan ...
“Ciaaaatttt!” pekiknya.
“Wush!”
Pintu batu tetap berdiri kokoh. Tak terjadi apapun setelah ia melakukan gerakan yang cukup keren itu.
Tak ada lubang atau ledakan seperti yang diharapkannya. Kecuali angin sepoi-sepoi dari dua telapaknya yang didorong ke depan.
“Baik. Baiklah, pintu batu sialan. Kau menantang kesabaranku ya. Tadi aku mencoba untuk sedikit lembut padamu. Tapi kau memang sepertinya benar-benar memaksamu mengeluarkan kemampuanku,” ujarnya dengan wajah dongkol.
Blokpentes kembali menangkupkan dua tangannya di atas kepala. Lalu ia segera menekuk lututnya ke lantai. Tubuhnya menjorok ke depan dan sesaat kemudian bersujud di depan pintu.
Pintu tetap bergeming.
“Waaaaa!!!”
“Terbukalah!!!”
“Yang mulia pintu batu yang agung, terbukalah!”
“Wahai pintu batu yang hitam, hitam dan legam. Terbukalah!”
“Wahai pintu batu yang agung aku mencintaimu, jadi aku mohon terbukalah!”
Berulang kali Blokpentes, merayu pintu terbuka. Tapi usahanya sia-sia. Kini, pemuda Desa Bunge itu benar-benar di ambang putus asa.
“Oh matilah aku,” Ratap Blokpentes.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai pasrah. Terbayang semakin jelas malaikat maut menjemputnya ajalnya dengan perlahan di ruangan gelap itu.
“Krrreeekkk, Drrr .....!”
Tanah tempatnya terkapar bergetar. Ia kaget bukan kepang. Sambil mencari arah suara dan penyebab getaran, Blokpentes buru-buru bangkit dan bersiap menghadapi bahaya dari arah tak terduga!
Tapi yang terlihat, pintu batu dengan lubang kecil itu justru terbuka perlahan. Semakin lama semakin lebar. Cahaya sedikit demi sedikit merembes masuk.
Suasana di dalam ruangan yang tadinya gelap gulita perlahan semakin terang!
Blokpentes buru-buru melompat. Mencari tempat bersembunyi. Ia khawatir ada orang lain yang membuka pintu batu dari sisi dalam.
“Huppp!”
Blokpentes melompat ke salah satu dinding menyerupai ceruk. Lalu bersembunyi dalam waktu yang cukup lama. Sambil menunggu apa yang akan muncul dari dalam.
“Drrrrr......!”
Pintu batu, terus bergerak semakin lebar. Hingga akhirnya terbuka sempurna. Tapi tidak ada siapapun muncul dari arah dalam.
Blokpentes belum mau keluar dari persembunyian. Ia ingin memastikan tidak ada bahaya menunggunya dari dalam. Maka untuk beberapa saat, keheningan kembali terjadi, usai pintu batu itu bergeser.
“Jangan-jangan aku baru mengucapkan kalimat kunci?” gumamnya.
Setelah merasa aman Blokpentes memberanikan diri keluar dari tempat persembunyian. Dengan langkah jinjit, mendekati pintu batu yang telah menganga.
Setelah celingukan ke dalam dan memastikan tidak ada orang, Blokpentes mendekatkan bibir ke lubang pintu batu.
“Oh, matilah aku,” bisiknya di lubang itu.
Dan, pintu batu itu kembali bergetar. Yang terjadi kemudian, pintu itu bergeser menutup.
Blokpentes buru-buru masuk ke dalam. Menyelinap ke dalam ruangan istana megah dan bersembunyi di salah satu sudut ruangan.
Setelah pintu batu tertutup rapat, ia baru sadar rupanya ruangan gelap tadi semacam tepat rahasia.
Begitu pintu batu tertutup rapat, tidak terlihat bahwa di baliknya ada lorong atau ruangan rahasia. Potongan pintu batu itu menutup dengan sangat sempurna. Menjadi bagian dari dinding bangunan yang megah dan agung itu.
“Bisakah pintu keren ini aku bawa pulang?” ujarnya takjub.
***
“Siapa anak itu?” tanya sosok misterius di atas balkon.
“Sepertinya hanya seekor kecoa yang tak tahu jalan pulang,” jawab sosok yang satu lagi.
“Apa perlu saya perintahkan penjaga habisi dia sekarang?” tanya sosok yang lain.
“Biarkan saja dulu. Aku ingin tahu maksudnya datang ke sini,” kata sosok misterius yang di tengah.
Tiga sosok misterius yang diintip Blokpentes dari balik lubang kecil pintu batu, mengetahui kehadirannya. Ketiganya tengah mengamati gerak-gerik Blokpentes dari atas balkon istana yang cukup tinggi.
Balkon itu dirancang sedemikian rupa. Sehingga sulit bagi siapa saja yang berada di lantai dasar melihat ke atas dan mengetahui siapa saja yang ada di sana. Tapi sebaliknya, di atas balkon itu daya jangkau pandangan lebih luas. Tidak hanya ke lantai dasar tapi juga ke luar istana.
“Bagaimana kecoa itu bisa masuk ke sini?” tanya sosok misterius di kiri.
“Rasanya tidak mungkin dia lewat gerbang utama, di sana penjagaan sangat ketat,” timpal sosok di sebelah kanan.
“Apa mungkin dia masuk lewat sisi luar lorong rahasia?” timpal sosok di sebelah kiri lagi.
“Tidak mungkin. Kalian tahu di sisi luar lorong rahasia tebing curam hingga dasar danau segara anak. Di sana hanya ada tebing dan batu-batu cadas yang tajam. Jangankan dia, cacing saja tak bisa menembusnya,” sahut sosok di tengah.
“Belum lagi ia harus melewati pintu rahasia dengan kata kunci ‘Oh matilah aku’,” sahut sosok di sebelah kanan. Ia lalu menambahkan, “Bukankah hanya kita bertiga yang tahu kata kunci itu?”
“Anak itu terlihat bodoh dan sangat ceroboh. Tak ada tanda-tanda dia pria berbahaya,”
Tiga sosok misterius itu, tersenyum kecut melihat aksi Blokpentes menghindar dan bersembunyi dari pantauan prajurit jaga. Pada satu kesempatan, Blokpentes menyelinap di balik guci yang berjejer dekat lorong.
“Guci itu bahkan tak cukup menyembunyikan separo tubuhnya,” sahut sosok di sebelah kiri.
“Penyusup yang payah,” ujar sosok di kanan.
“Burung atau menjangan mungkin telah membawanya tanpa sengaja ke tempat ini. Berikan kesempatan padanya melihat-lihat keindahan istana. Sampai nanti aku sendiri yang memutuskan agar dia tak bisa melihat selama-lamanya,” tegas sosok misterius di tengah dengan sorot mata mengerikan.