
***
“Urrrraaaaaa!!!”
Kayunada menerjang belasan prajurit desa Buaq. Hempasan badannya yang berotot membuat para prajurit terpental seperti di hantam gelombang samudra.
“Heh!” Kayunada mendengus.
Sekujur tubuhnya dipenuhi luka. Bahkan potongan pedang dan tombak masih ada yang menancap di badannya. Tapi pemuda itu, tak merasakan sakit.
Benda-benda tajam itu dicabutnya seperti menarik duri-duri kecil. Setelah itu, ia kembali menebar senyum, tantangan.
“Gila, tenaganya tak habis-habis!” lirih salah satu prajurit Desa Buaq dengan nafas terengah-engah.
Kayunada kembali berjalan maju ke depan dengan tenang. Puluhan prajurit desa Buaq panik. Sebagian yang lain memilih lari tunggang-langgang.
“Mana mungkin kalian bisa mengalahkan tenagaku. Kalian mungkin paling banyak makan dua atau tiga piring sekali makan. Tapi aku paling tidak butuh lima baskom. Kalian ini ada-ada saja,” ujar Kayunada sambil menggaruk-garuk kepalanya yang gatal. Ia meremas jemarinya hingga terdengar bunyi kretek-kretek.
Para prajurit yang mendengar ucapan Kayunada saling pandang. Antara percaya dan tidak dengan ucapan Kayunada. Bahkan yang lain menganggapnya sedang meracau.
“Gempurrr!!!”
Pemimpin pasukan memerintahkan 50 prajurit bertombak, kembali menyerbu Kayunada.
“Hey, kau yang berteriak itu. Mengapa bukan kau saja yang maju?” tantang Kayunada. “Lagipula mau saja kalian diperintah olehnya. Lihat saja kepalanya miring,”
“Mengapa kalian mendengarkan dia?!” darah pemimpin pasukan itu bergolak panas.
Ia kesal pasukannya kompak melengos memandangi kepalanya yang miring.
“Aku pemimpin kalian, cepat serbu!” perintahkan lagi.
“Pemimpin, tapi takut turun gelanggang,” ledek Kayunada tersenyum sinis.
Puluhan pasukan menyergap bersama-sama. Menghujani Kayunada dengan tombak sambil bersembunyi di balik tameng.
Kayunada meliuk-liuk menghindar. Bagai penari Jangger yang mengikuti nada gamelan perang. Maju-mundur, melompat kiri-kanan dan pada kesempatan yang bagus menyarangkan tinju dan tendangan dengan telak.
Sebagian tombak yang lain disambar dengan cepat. Ditarik kemudian didorong hingga membuat belasan pasukan terjungkal.
Meski terluka di sana-sini Kayunada tetap tak mau mencabut keris yang terselip di pinggangnya. Ia mengamuk dengan tangan kosong.
Tendangan dan pukulannya berulang kali mengenai wajah, leher, dada, perut, dan kaki para prajurit. Bagai diseruduk banteng, prajurit yang terkena pukulan terpental ke segala arah.
“Wush... Wush... Wush!!”
Belasan tombak kembali menikam dari belakang. Kayunada berputar lalu menangkap mata tombak dengan kuat.
“Trak... Trak... Trak!!”
Belasan gagang tombak dipatahkannya seperti ranting kering. Mudah saja bagi Kayunada dengan tenaganya yang tak terbatas.
Prajurit lain yang menyerang dengan pedang tak luput dilucuti senjatanya.
“Tangggg!!!” dengung pedang yang patah di tangan Kayunada.
Potongan pedang, dilempar ke hadapan sejumlah prajurit. Aksi itu membuat para pasukan kena mental. Tangan dan kaki mereka gemetar lalu beringsut mundur.
“Sebaiknya kalau kalian ingin bertarung jangan bawa pisau dapur,” ujarnya.
Seorang murid perguruan Bunge mendekati Kayunada. Langkahnya cepat, sembari mengindari serangan prajurit lainnya.
“Ratusan pasukan berpakaian serba hitam membantu kita di sisi barat,” bisiknya setelah tiba di dekat Kayunada.
“Siapa mereka?” tanya Kayunada.
“Sepertinya datang dari Desa Pusuk,”
“Anak buah Artha Prana?” tanya Kayunada.
Rekannya mengangguk.
Kayunada diam sejenak mengatur nafas. Sementara sekujur tubuhnya mengalir keringat bercampur darah. Setelah itu kembali bertanya, “Sejak kapan mereka ikut bertarung?”
“Tak berselang lama setelah pasukan Desa Buaq berhasil membobol gerbang desa. Separo pasukan Desa Buaq masih tertahan di luar gerbang diserang mereka,” terangnya.
Kayunada kembali melanjutkan kata-katanya. “Tarik teman-teman yang lain ke bagian dalam desa. Bantu pasukan pertahanan agar prajurit Desa Buaq tidak sampai ke jantung desa. Sambil kita lihat maunya Artha Prana,”
“Baik,” jawab pemuda itu.
Pertempuran semakin sengit. Prajurit Desa Buaq yang tertahan di pintu masuk mengamuk. Sedangkan pasukan panahnya, menghujani pasukan pertahanan Desa Bunge dari luar tembok.
Sebaliknya, pasukan Desa Bunge dibantu murid-murid perguruan tidak tinggal diam. Mereka balik menghujani pasukan Desa Buaq dengan panah-panah api.
Saat amuk angkara murka semakin brutal, sesosok bayangan melompat ke atas gebang, lalu memerintahkan seluruh prajurit Desa Buaq menghentikan pertempuran.
“Cukup, berhenti!” pekiknya.
Semua mata memandang ke atas tembok gerbang. Mereka mengenal dengan baik pemilik suara itu.
“Raden Sigar,” ujar salah satu prajurit.
“Sudah, sudah, berhenti!” Terdengar suara mereka sahut-menyahut menyudahi peperangan.
“Aku memerintahkan kalian melindungi Desa Bunge, mengapa malah berperang?” tanya Raden Sigar dengan mata melotot.
“Bukan kami yang memulai Raden. Saat kami mengatur posisi membentengi salah satu pasukan penjaga gerbang Desa Bunge memanah prajurit dengan panah beracun hingga tewas,” lapor seorang pimpinan pasukan Desa Buaq.
“Siapa pemimpin pasukan Desa Bunge di sini?” suara Raden Sigar meninggi.
Ratusan prajurit menoleh kiri-kanan. Mencari sosok pimpinan Desa Bunge di gerbang Utara.
“Kepala Desa Buaq Raden Sigar mencarimu,” bisik salah seorang rekannya.
Kayunada bergeming. Ia tetap berdiri di sudut gelap gerbang dengan posisi membelakangi Raden Sigar yang berdiri angkuh.
“Biarkan saja, aksinya menjengkelkan sekali,” sungutnya.
Sesosok tubuh melompat, lalu berjalan mendekati Raden Sigar. Setelah itu Ia berbisik, sambil menunjuk ke arah Kayunada yang berada sekitar lima belas tombak di bawahnya.
“Woi! tidakkah kau punya sopan santun saat ada yang lebih terhormat posisinya bertanya padamu?”
Kayunada tak peduli. Ia tetap membelakangi Raden Sigar.
“Mengapa kau perintahkan pasukanmu memanah prajurit kami?” tanya Raden Sigar lebih lantang lagi.
“Apa kau tidak tahu kedatangan kami atas permintaan kepala desa Bunge. Tindakanmu melanggar perjanjian tentang bala bantuan!” serunya.
Raden Sigar mencoba bersabar menunggu reaksi Kayunada. Namun hingga beberapa saat, Kayunada tetap tak mau membalikkan badan.
Hingga kesabarannya habis. Dengan raut wajah dongkol, ia berujar “Baiklah, mungkin kau perlu diajari sedikit sopan santun pada lawan bicara,”
Tangannya meraih rotan yang terselip di belakang punggungnya. Lalu dikibas-kibasan memicu derau angin.
“Mampuslah, pemuda tengil itu,” sungut seorang prajurit Desa Buaq yang mengetahui kehebatan rotan di tangan Raden Sigar.
Sesaat kemudian, Kepala Desa Buaq melompat sembari mengempaskan rotan mengarah ke kepala Kayunada. Tapi baru saja rotan mengenai sasaran, Kayunada berbalik lalu menatap tajam Raden Sigar yang melayang di depannya.
“Weettt, dhuarrr!!!”
Batu besar tak jauh dari tempat itu meledak berkeping-keping setelah Raden Sigar membelokkan pukulannya dari kepala Kayunada.
Tubuh Raden Sigar terguling-guling sebelum akhirnya buru-buru bangkit lagi.
Sabetan rotan itu sangat mengerikan. Menandakan itu bukan rotan biasa.
“Kanda?!” serunya kaget.
Semua prajurit yang hadir di tempat itu lebih kaget lagi. Mereka melongo keheranan mendengar Raden Sigar memanggil Kayunada sebagai kakak.
“Kanda Doyan Medaran, benarkan itu engkau kanda?”
Kayunada tak langsung menjawab. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghempaskannya dengan tenang.
“Sigar Penyalin, kau sekarang jadi pria angkuh. Mentang-mentang punya jabatan, adabmu pada manusia menjadi hilang,” ujar Kayunada tajam.
Raden Sigar menubruk tubuh Kayunada. Lalu memeluknya dengan sangat erat. Namun Kayunada tak bereaksi apapun. Ia masih kesal dengan keangkuhan Raden Sigar mengajaknya bicara dari atas tembok gerbang.
***