
“Di mana aku,” lirih Pancalita.
Matanya yang indah terbuka perlahan. Seberkas cahaya segera mengisi kelopak matanya.
Sekujur tubuhnya masih terasa sakit. Ngilu.
Ingatannya terakhir, merekam saat tak mampu lagi melawan arus sungai yang berubah deras. Menyeretnya jauh sampai akhirnya tenggelam tak sadarkan diri.
Setelah itu ia tak ingat apapun. Suara terakhir yang didengar, jerit Inaq Bangkol yang beradu dengan gemuruh air sungai.
“Di mana ini,” lirihnya sekali lagi.
Saat masih bingung, Pancalita mendapati tubuhnya telah berbalut kain warna gelap. Seseorang telah menyelamatkannya dari maut.
“Tapi, ini bukan rumahku,” gumamnya.
Setelah menelisik seluruh sudut ruangan, Pancalita menyadari itu gubuk tua. Kondisinya jauh dari kata kemewahan. Dinding dari anyaman bambu, banyak yang bolong di sana-sini.
Sedangkan dengan jelas hidungnya yang mancung, menangkap bau kambing yang menyengat. Jelas, gubuk itu milik seorang penggembala kambing.
“Semoga yang menolongku perempuan,” harap Pancalita dengan raut wajah cemas.
Ketika hanyut, Pancalita masih ingat tubuhnya tak berbalut sehelai benang. Ia bugil.
Pancalita menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia ragu pada harapannya sendiri. “Semoga Inaq Bangkol yang menolongku,”
Tapi harapan itu buyar seketika. Begitu pintu terbuka dan tampak sesosok tubuh pria tua datang membawa dulang berisi makanan.
“Makanlah Dende,” kata pria tua itu parau, mempersilakan.
Pancalita enggan menjamah makanan di hadapannya. Sementara pria tua itu, masih duduk bersila tak jauh dari pembaringannya.
“Bu ... Bukan Anda kan yang menolong saya?” suaranya terbata-bata. Wajah Pancalita menyiratkan harapan tebakannya benar. Ia berharap istri pria tua itu yang menolongnya.
Pria tua itu mengulum senyum. Tapi kemudian anggukan kepalanya, membuat dada Pancalita yang seperti terimpit batu besar, akhirnya bisa membuatnya bernafas lega.
“Aku menebak, pasti istrimu,” sahut Pancalita segera.
Tapi pria tua itu menggeleng.
“Anak perempuanmu?” Pancalita buru-buru mencari tahu jawabannya.
Tapi sekali lagi pria tua itu menggeleng. Raut wajah Pancalita berubah Purus asa kembali. Ia enggan menebak, tetapi menunggu pria tua itu menjelaskannya.
“Aku menyuruh anak kerabat jauhku mencari rumput di dekat sungai. Ketika ia kembali bukannya membawa rumput untuk makanan kambing-kambing, tapi menggendong seorang wanita cantik yang pingsan terbungkus daun pisang,”
“Berarti anak kerabat jauhmu, telah melihat tubuhku telanjang bulat!?” nada suara Pancalita meninggi. Wajahnya memerah antara malu dan marah.
Suara menukik kepala Desa Lolo itu tak mengubah sorot mata pria tua yang teduh. Ia memilih tak menjawab pertanyaan Pancalita. “Nyawa Anda lebih penting dari segalanya,”
“Jangan ukur kebenaran dengan pendapatmu sendiri pria tua. Bagiku kehormatan jauh lebih penting daripada nyawa!” suara Pancalita terdengar memendam amarah. “Panggil anak kerabatmu itu, kalau dia berani lancang selama aku tak sadarkan diri, akan ku gantung di alun-alun desa. Kau dan anak kerabatmu itu, tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa!”
Pria tua itu, buru-buru membungkukkan badan. Mengaturkan salam penuh hormat rakyat pada pemimpinnya. Seraya berkata, “Ampun Dende. Tidak ada yang tidak mengenal Dende Pancalita,”
Wajah Pancalita semakin tegang. Angannya mulai menerka, bagaimana penduduk desa akan bergunjing tentang dirinya. Kalau saja, kejadian hanyut dalam keadaan bugil itu menyebar, ia tak akan segan memotong lidah pria tua itu dan keponakannya.
“Gubuk ini jauh dari jantung desa. Saya menjamin keponakanku, tak berani macam-macam selama Anda pingsan. Niat kami tulus menolong,” kata pria tua itu dengan nada teratur dan tenang. Setelah mengatur nafas, pria tua kembali berkata, “Menyelamatkan Anda, bukan cuma menolong Pancalita, tapi juga menyelamatkan desa Lolo,”
“Siapa Anda?” nada suara Pancalita mulai turun. Dadanya lega mendengar jaminan, pria tua itu.
“Saya, Puq Amet,” jawab pria tua itu.
“Di mana dia sekarang?” tanya Pancalita kemudian.
“Menyiapkan air untuk Anda membersihkan diri,” jawab Puq Amet.
Pancalita diam sejenak. Dia memperhatikan penampilan Puq Amet. Raut wajahnya lugu. Tak ada tanda-tanda ia menyimpan niat buruk. Tutur katanya lembut dan menenangkan.
Bajunya lusuh, compang-camping. Kulitnya mengeriput. Rambutnya terjuntai panjang memutih. Bibirnya memerah dilamuri sirih.
“Apakah ini masih wilayah Desa Lolo?” tanya Pancalita. Kali ini suaranya sudah jauh lebih tenang.
“Seberapa lama waktu yang aku butuhkan, kembali ke jantung desa?” tanyanya lagi.
“Paling tidak, jika Dende berangkat pagi hari akan tiba pada saat matahari tergelincir dari puncak langit,”
“Jauh juga,” gumam Pancalita.
“Tidak hanya sekadar jauh, jalannya juga berliku, terjal, dan curam,” terangnya.
Ketika keduanya masih berbincang, seorang pemuda masuk ke dalam ruangan. Tubuhnya membungkuk, memberi penghormatan. Pancalita kaget bukan kepalang. Setelah melihat wajah pemuda itu.
Darahnya berdesir indah. Jantungnya berdegup memainkan irama yang sudah lama tak didengarnya.
“Dia,” ujarnya dalam hati dengan hati yang bergetar indah.
Pemuda gagah nan rupawan. Kulitnya bersih, hidungnya mancung, sorot mata teduh yang dengan mudah mencairkan kebekuan hati, dewi-dewi kayangan. Kini pemuda itu duduk takzim di depannya dengan kepala tertunduk, memberi penghormatan padanya.
***
Di sebuah tempat menyerupai. Antara pucuk gunung Rinjani dan luasnya Danau Segara Anak, bangunan itu berdiri dengan angkuhnya.
Sesekali bangunan itu disaput kabut.
Tapi angin yang menderu di antara pohon-pohon purba, menyapu kabut hingga kembali menampakkan kemewahan dan kemegahannya.
Pria-pria berbadan kekar berjaga dengan mata elang. Mengawasi setiap yang datang dengan tatapan curiga dan waspada. Mengesankan di balik kemegahan, ada misteri besar tersembunyi di balik dinding-dinding yang kokoh.
Di dalam bangunan menyerupai istana itu, terdapat sebuah ruangan luas. Lampu-lampu kristal menghiasi langit dan dinding-dindingnya.
Di tengah-tengah ruangan, sebuah meja panjang melintang. Sekilas serupa peti mati raksasa.
Di unjung depan meja berderet tiga kursi mewah. Berhiaskan emas, intan, dan berlian berkilauan. Di sana duduk tiga orang memamerkan kepongahannya.
Rambut tersisir rapi. Wajah putih dengan bedak tebal dan bibir merah oleh pewarna.
Penampilan mereka semakin mewah dengan kain-kain sutra yang membaluri tubuhnya. Gestur tubuh mencerminkan oportunis sejati!
Pria yang duduk di tengah menyeringai, sebelum akhirnya menyapa Selaq Bunge. “Lama tak berjumpa, Tarumbie,”
Selaq Bunge yang disapa hanya mengangguk. Ia sebenarnya kesal melihat bahasa tubuh pria itu. Namun ia tak punya pilihan, kecuali menemui tiga orang itu untuk mewujudkan mimpi membangun kerajaan Selaq.
“Aku membawa penawaran bagus buat kalian,” ujar Selaq Bunge.
“Hohoho... Tarumbie, kau sudah mulai pintar berbisnis?” timpal pria yang duduk di kanan. Senyumnya mengesankan ia tak tertarik dengan tawaran Selaq Bunge yang bernama asli Tarumbie.
Selaq Bunge urung melanjutkan ucapannya. Berpikir kalau ia telah memulai pembicaraan dengan kalimat yang keliru. Lebih-lebih tiga pria oportunis itu saling melempar pandangan, lalu menertawakannya.
Ngeres Koneng bangkit dengan kasar. Lalu berkata dengan nada tinggi pada Selaq Bunge, “Tuanku, Anda serius ingin bekerja sama dengan tiga pria kurang ajar ini?”
Darahnya mendidih. Kesal melihat ucapan Selaq Bunge jadi lelucon tiga pria itu.
“Bukan kami yang butuh tapi kalian,” sahut pria yang duduk di kursi mewah dj kiri dengan entengnya. Tatapannya liar memperhatikan satu persatu para Selaq yang bertamu ke istananya.
“Tenanglah Ngeres Koneng,” seru Ngeres Beaq memperingatkan. Memintanya duduk kembali dan menjaga sikap.
“Tapi setidaknya Anda menghargai perkataan pimpinan kami!” balas Ngeres Koneng sengit, ke tiga pria itu dengan tatapan garang. Melotot.
“Apa kami terlihat peduli?” pria di samping kanan, balik bertanya dengan nada meremehkan.
Ngeres Koneng tak tahan ingin melempari pria itu dengan kursi. Darahnya mendidih di ubun-ubun.
Kalau saja Ngeres Beaq tidak memperingatkannya dengan suara yang lebih lantang lagi. “Duduk Ngeres Koneng!”
Ngeres Koneng tak punya pilihan. Ia membanting pantatnya dengan kesal. Duduk kembali.
Tiga pria yang duduk di kursi mewah itu tersenyum puas. Mereka merasa berhasil mengendalikan para Selaq yang terkenal berbahaya itu. Meskipun mereka juga telah menyiagakan sejumlah pasukan kalau-kalau para Selaq berubah liar dan menjadi buas.