SELAQ

SELAQ
Episode "Pemuda Ambisius" (13)



***


Kembang Tereng menerjang Raden Rumasih dengan keris Mirah Adi terhunus di tangannya. Keris berpamor merah itu, meraung-raung membelah udara.


Sementara Raden Rumasih berlompatan ke sana ke mari. Menghindari sabetan keris pembawa maut.


Gerakan Kembang Tereng sangat lincah dan cepat. Tetapi Raden Rumasih tak kalah tangkasnya menghindar.


“Ayolah Rumasih, kau lama-lama seperti monyet, berlompatan menghindari pertempuran!”


Raden Rumasih, tak menanggapi apapun. Matanya awas mencari titik lemah Kembang Tereng sembari terus menghindari pukulan dan tendangan.


Sampai suatu saat, ia mendapat kesempatan emas, lalu dengan cepat menebas ubun-ubun Kembang Tereng sekuat tenaga.


“Weezzzttt!”


Pedang panjang itu membelah tubuh Kembang Tereng dari ubun-ubun hingga ************.


Darah segar meluncur deras. Sesaat kemudian, Kembang Tereng roboh.


Tapi kemudian dari arah samping, Mopol Ngeros melemparkan beberapa pelepah daun pisang.


Raden Rumasih melompat berupaya menangkap, sayang, daun pisang lebih cepat, menutupi tubuh kembang Tereng yang terbelah.


“Ilmu Sawaq,” gumam, Raden Rumasih dengan nafas terengah-engah.


Benar seperti dugaannya, tubuh Kembang Tereng menyatu lagi, setelah ditutupi daun pisang.


“Bhahaha... menarik. Menarik sekali Rumasih. Kau memang hebat,” Kembang Tereng memberi pujian. “Tapi ini baru pemanasan, kau pasti sudah mengira aku belum tamat bukan?”


Kembang Tereng menangkupkan tangannya di depan dada. Mulutnya komat-kamit merapal mantra. Keris Mirah Adi di tangannya tiba-tiba berdengung. Seiring dengan itu pamor merah keris semakin terang.


Raden Rumasih mundur beberapa langkah. Ia berteriak mengingatkan pasukannya, “Waspada!”


Tapi belum lagi semua pasukan mempersiapkan diri dengan sempurna, Kembang Tereng memutar keris di atas kepala. Dan yang terjadi berikutnya, pasukan di garis depan -- tidak ada angin tidak ada hujan -- roboh bertumbangan!


Mereka terkapar meronta, berteriak, mencengkeram kuat perut masing-masing seakan dipenuhi bara api yang menyala.


Sesaat kemudian para pasukan memuntahkan darah dengan warna merah ke hitam-hitaman. Para pasukan itu pun mati seketika!


Sementara itu, sekalipun di garis depan, Raden Rumasih mampu membentengi diri dengan tenaga dalam dari serangan “Samber Nyawe” keris itu. Namun demikian Ia harus terpental beberapa tombak dari tempat berdiri.


Buru-buru Raden Rumasih memulihkan tenaga. Merapat mantra ilmu Baja,


“Tangye tasire ni jaye sampurne, tangye tasire ...”


“Blessssettt!”


Raden Rumasih belum sadar apa yang terjadi. Tiba-tiba lengan kananya telah tergeletak di tanah.


Selanjutnya, Keris Mirah Aji berkelindan di atas kepalannya. Seakan memiliki roh, keris itu menyerang lagi ke arah leher sang Komandan Pasukan Pertahanan Desa.


Sadar Ilmu Baja tak mempan di hadapan Keris Mirah Adi, Raden Rumasih melompat menghindar. Sembari menotok aliran darah di lengan kanan untuk menghentikan pendarahan.


“Wusssshh!!!”


Keris Mirah Adi belum berhenti memburunya. Pada suatu kesempatan, keris itu secepat kilat menusuk perut hingga tembus.


“Aaaarrrghhh!”


Suara anak manusia meraung keras kesakitan hingga ke luar desa.


Sosok tubuh itu menggelepar-gelepar kesakitan. Tak butuh waktu lama, anak manusia itu pun mati seketika!


“Kau memang kejam Raden Rumasih. Tapi aku menyukai itu, Bhahaha...” gelak tawa Kembang Tereng memecah ketegangan yang terjadi di arena pertempuran.


“Kakak!” pekik seorang pasukan Pertahanan.


Ia menubruk mayat yang dibuang Raden Rumasih dengan kasar. Mengguncang-guncangnya dengan keras. Sayang, tubuh itu telah tak bernyawa.


“Raden mengapa Anda begitu tega. Dua anaknya yang masih kecil, masih sangat membutuhkan kehadirannya,” ratap pasukan itu.


“Diamlah. Kakakmu mati demi membela tegaknya simbol desa,”


“Simbol desa? Simbol desa atau Nyawa Anda?” sahut pasukan itu.


“Bangsat. Tidak pantas mulutmu berdebat denganku. Lalu kau anggap apa nyawa pasukan lain yang telah mati lebih dahulu?!” Raden Rumasih tak kalah sengit. Matanya melotot garang seperti mau meloncat keluar.


“Mereka mati sebagai pahlawan tapi kakakku kau jadikan tumbal. Seharusnya Anda bisa menghindar,” protesnya.


“Mana jiwa kenegarawananmu!” pekik Raden Rumasih.


Pedangnya dengan cepat berkelebat. Memenggal kepala pasukan itu tanpa ampun!


“Blezzzzekkk!”


“Siapa lagi yang mau protes? Siapa lagi yang tidak bersedia mati demi desa?” pekiknya geram.


Semua pasukan pertahanan kaget bukan kepalang. Tapi mulut mereka hanya dapat membisu. Berdiri mematung, ngeri membayangkan leher terputus!


“Hey... Hey ... Hey ... drama macam apa ini? Musuhmu adalah aku. Mengapa kau sibuk membunuh pasukanmu sendiri?” sahut Kembang Tereng.


“Aku belum selesai Bajilah!”


Dengan nada mengolok, Kembang Tereng berujar “Kau sepertinya gagal menanamkan doktrin ke pasukan pertahanan Desa, Rumasih. Mereka bahkan tidak bersedia melindungimu,”


“Bukan aku yang gagal. Tapi Darwire-lah yang terlalu banyak ikut campur dalam urusan militer. Dia mencurigai dan mengawasi setiap orang termasuk aku dalam membentuk pasukan pertahanan desa. Dia takut aku memberi doktrin agar pasukan hanya taat dan patuh kepadaku, bukan pada pimpinan desa. Semua materi pelajaran kemiliteran, harus berdasarkan naskah yang telah disetujuinya,” ujar Raden Rumah.


“Tapi memang itu kan yang kau inginkan? Sayang rencana liarmu terbaca Darwire, Bhahaha...” untuk kesekian kalinya Kembang Tereng menertawakan Raden Rumasih.


Raden Rumasih tak menjawab apapun. Kesempatan bicara itu digunakan memulihkan tenaga.


“Apa itu?!!”


Pasukan Pertahanan Desa kembali berdengung panik. Dari arah semak belukar, muncul mayat-mayat hidup. Jumlahnya tidak hanya ratusan tapi ribuan.


Ngeres Beaq tersenyum puas. Ia baru saja selesai melakukan ritual membangkitkan mayat-mayat dari dalam kuburan.


“Inilah persembahan terbaik dari ritual agama Boro!” serunya sembari tertawa lebar.


Mopol Ngeres pun menyahut, “Bukan hanya kau yang punya pasukan,” serunya.


Sesaat kemudian, ribuan hewan berbisa seperti ular, kalajengking, dan lipan api, berdatangan ke arena pertempuran.


Pasukan Pertahanan Desa Bunge kali ini dibuat panik dan kalut. Mereka kalah jumlah dibanding pasukan yang didatangkan Mopol Ngeros dan Ngeres Beaq.


“Bangsat. Aku tidak akan kalah!” seru Raden Rumasih.


Ia memerintahkan pasukannya maju berperang habis-habisan. Seraya ikut melompat turun ke medan laga. Dengan tangan kiri, Ia mengamuk menggunakan pedang panjang, membabat zombie dan hewan-hewan berbisa yang menerjangnya.


“Maju!” pekik Raden Rumasih.


Bagai banteng terluka, Raden Rumasih mengamuk kanan, kiri, depan, belakang, atas bawah menghalau pasukan Selaq yang tiada putus-putus.


Pasukan pertahanan dibantu murid Perguruan Desa Bunge yang hanya berjumlah ratusan mulai kewalahan. Mereka dikepung dari segala arah hingga membuat pertahanan semakin rapuh.


Tiga Selaq di tempat yang aman, tertawa puas melihat Raden Rumasih dan pasukannya kocar-kacir.


“Gigitan binatang berbisa itu yang membuat mereka kesulitan,” Raden Rumasih, geram. "Situasi sama sekali tak menguntungkan semua pasukan pertahanan. Sialan, aku tak mau kalah oleh para Selaq!"