SELAQ

SELAQ
Episode “Derai Hujan di Waktu Senja” (11)



***


 


“Aneh,” ujar Kepala Desa Akah, Nursiwan.


 


Kepala Desa Lolo, Rawilih yang diajak bicara hanya menganggukkan kepala. Menyetujui hal yang tak lazim mereka pandang.


 


Keduanya menatap langit Desa Bunge yang ditutupi awan hitam pekat. Anehnya Awan itu hanya berputar-putar saja dan tidak menyebar ke wilayah lain.


 


Sekalipun angin sedemikian deras, bertiup dari celah-celah lembah.


 


Dua kepala Desa itu tiba di perbatasan desa Bunge bersamaan. Mereka telah membawa serta sejumlah pasukan elite desanya masing-masing.


 


Nursiwan, kepala Desa berusia 60 tahun. Berambut hitam, panjang sedada dengan warna pirang di ujungnya. Janggut dan jambangnya tebal namun tanpa kumis.


 


Giginya jarang-jarang, sementara kantung mata bagian bawah menghitam. Penampilannya semakin eksentrik dengan balutan kain menutupi kepala dan jubah panjang berwarna hitam yang dikenakannya.


 


Di kedua pergelangan tangannya melingkar genitri atau menyerupai tasbih sepanjang satu jengkal. Ia menggenggam erat tongkat setinggi pundak yang sebenarnya itu adalah tombak pusaka.


 


“Apa Dariwire mengetahui hal ini?” Nursiwan menggumam sendiri.


 


Tatapannya belum berhenti memperhatikan awan hitam tebal yang berputar-putar menghalangi cahaya matahari. Membuat Desa Bunge diselimuti kegelapan yang teramat pekat.


 


Padahal di tempat mereka berdiri waktu tengah menapak senja.


 


“Coba perhatikan juga kabut yang menyelimuti batas desa. Sulit bagi orang di luar wilayah mengetahui apa yang sedang terjadi di dalamnya,” timpal Rawilih.


 


Kepala Desa Lolo itu berpenampilan kontras dengan Nursiwan.


 


Usia Rawilih 35 tahun, berkulit bersih, berwajah tampan, hidung mancung, sorot mata yang meneduhkan, dan gampang mengulum senyum.


 


Perawakannya gagah, tinggi, dan kekar. Rambutnya rapi dengan Sapuq atau udeng berwarna putih. Di telinganya terselip bunga cempaka putih menebar semerbak wangi yang cepat meluluhkan hati para kaum hawa.


 


Rawilih mengenakan serongan atau pegon menyerupai baju safari berwarna putih.


 


Dipinggangnya melingkar dodot atau kain songket kuning emas, tempat menyelipkan keris pusaka. Sementara penutup bawahan dari pinggang sampai betis, tamper atau selembar kain berwarna putih dengan ujung ditata tajam di bagian depan.


 


Di balik rona wajahnya yang memikat, Rawilih mengagumi kehebatan ilmu yang dimiliki sosok yang membuat Desa Bunge dalam pelukan erat awan dan kabut tebal.  


 


“Orang yang menggunakan ilmu ini pastilah bukan sosok sembarangan. Ia memiliki kekuatan yang sangat besar untuk mengendalikan awan dan kabut sekaligus,”


 


“Sebenarnya Darwire juga memiliki ilmu Halimun atau kabut,” ungkap Nursiwan.


 


Rawilih menoleh ke arah Nursiwan yang masih memandangi kabut. Wajahnya mengisyaratkan rasa ingin tahu yang dalam.


 


“Aku dan Darwire sering berlatih bersama di suatu tempat di lereng Rinjani ini. Jadi aku tahu beberapa ilmu kedigjayaan yang dimilikinya. Begitupun Ia mengetahui tentangku juga,”  jelas Nursiwan.


 


“Kalian rupanya sangat dekat,” timpal Rawilih, mengulum senyum menawan.   


 


“Tidak hanya kami, tapi hubungan Desa Akah dan Desa Bunge juga sangat baik. Kami menjalin perdagangan hasil bumi dan kerap bertukar pelajar padepokan. Bahkan hubungan itu semakin erat dengan pernikahan warga antar desa,”


 


“Pantas saja Anda tidak rela Desa Bunge direbut oleh para Selaq,” ujar Rawilih.


 


“Sejak semalam, ratusan warga Desa Bunge datang mengungsi ke Desa kami. Kedatangan mereka bagi kami seperti hadirnya saudara jauh. Pada situasi seperti saat ini, penderitaan Desa Bunge telah menjadi penderitaan kami juga,” ujar Nursiwan.


 


“Lalu bagaimana pendapatmu dengan Desa Tunggak dan Desa Buaq, khususnya Raden Mas Panji dan Raden Sigar?” tanya Rawilih.


 


“Mengapa Anda tiba-tiba bertanya tentang mereka?” Nursiwan memalingkan wajahnya ke Rawilih.


 


“Aku hanya ingin tahu pendapatmu tentang mereka. Terlebih setelah kejadian di Paseban Agung. Bukankah sikap mereka tidak ramah pada desa sahabatmu?” jawab Rawilih.


 


Sejenak Nursiwan menarik nafas. Memikirkan kalimat yang tepat menggambarkan dua kepala desa itu.


 


“Entahlah. Dua kepala desa itu memang memiliki gaya bicara membosankan. Angkuh dan terkadang menyebalkan. Mungkin karena di dagingnya mengalir darah biru. Tapi saya tahu mereka orang-orang yang memegang teguh prinsip,”


 


Rawilih mengerutkan dahi. Lalu berkata, “Bukankah di Paseban Agung Raden Mas Panji dan adik iparnya, menunjukkan sikap mencurigakan saat Darwire memohon bala bantuan?”


 


“Sikap mereka di paseban Agung, sama sekali tidak mengubah penilaianku pada keduanya,” ujar Nursiwan datar.


 


“Apa yang membuatmu yakin mereka orang yang memegang prinsip?” Rawilih semakin penasaran.


 


“Jalur perdagangan antara Desa Akah dengan desa Bunge harus melalui Desa Tunggak yang dipimpin Raden Mas Panji. Selama ini pedagang kami ataupun dari Desa Bunge tidak pernah sekalipun mendapat gangguan saat melewati jalur itu. Mereka menunjukkan komitmen tinggi menjaga jalur rahasia yang menghubungkan Desa Akah dan Desa Bunge,”


 


 


“Itu salah satunya. Sisi lainnya, tentu saja kami melihat kesepakatan yang telah dibangun Desa Akah, Tunggak, dan Bunge, bisa dipertanggungjawabkan Raden Mas Panji. Terlepas dari pajak yang harus dibayar. Saya pikir pajak itu wajar. Tentu setiap desa ingin mendapatkan manfaat dari wilayah yang dikuasainya. Namun yang pasti sekalipun wilayah itu melewati Desa Tunggak, kerahasiaannya terjamin Raden Mas Panji. Tidak ada yang boleh melintasi jalan itu kecuali warga desa Bunge dan Akah. Bahkan warga Desa Tunggak dilarang melewati jalur itu,”


 


“Baiklah. Sekarang aku paham,” ujar Rawilih kemudian. “Berarti halimun dan mungkin awan itu dikendalikan oleh kekuatan Darwire?” ia mengembalikan arah pembicaraan ke peristiwa aneh di Desa Bunge.


 


“Sayangnya aku belum pernah melihat Darwire mengeluarkan ilmu Halimun sebesar ini,” ujar Nursiwan.


 


“Maksudmu?”


 


“Bisa jadi ini bukan Halimun milik Darwire. Tapi seseorang yang memiliki ilmu yang sama sepertinya dengan kehebatan jauh di atas Darwire,” tatapan Nursiwan nanar.


 


“Anda membuat jantungku berdegup kencang,” wajah Rawilih berubah tegang, namun Ia masih sempat mengulum senyum.


 


“Aku tak bermaksud menakutimu,”


 


“Takut? Siapa yang takut! Justru adrenalinku saat ini terpacu ingin mengalahkan sosok yang membuat Darwire ketar-ketir,”


 


Nursiwan tersenyum.


 


Dibalas Rawilih dengan tangannya yang menggenggam keris pusaka di pinggang dengan erat. “Kalau begitu, ini akan jadi sangat menarik!” serunya.


 


Ia melompat mendahului Nursiwan. Diikuti sejumlah pasukan elite Desa Lolo membuntuti di belakang. Segera setelahnya Nursiwan menyusul dengan pasukan elite Desa Akah, menuju medan laga Desa Bunge.


 


***


 


“Sekarang bagaimana kanda, nampaknya Darwire sudah tidak bisa mempercayai kita lagi,” kata Raden Sigar.


 


“Peduli amat dengan tua bangka yang bodoh itu. Semakin tua, otaknya semakin bebal. Kerahkan seluruh pasukan Desa Buaq. Aku juga akan mengerahkan seluruh kekuatan pasukan Desa Tunggak!” geram Raden Mas Panji.


 


Raden Mas Panji, pria bertubuh raksasa dengan penampilan menciutkan nyali. Penampilannya cerah dengan pakaian serba merah dari udeng, pegon, dodot, sampai tamper.


 


Kulitnya hitam gelap cenderung ke legam.


 


Rambut panjang hingga sebahu dengan bentuk wajah kotak. Kulit mukanya dipenuhi pori-pori menganga lebar.


 


Hidung seukuran jambu *** Jamaika, tak henti-hentinya mendengus seperti banteng. Sedang gigi-gigi besar, berwarna kuning kemerahan, berderit gemertukan menahan amarah.


 


Tangannya berotot memperlihatkan urat-urat  menyembul di kulit. Kaki kokoh menopang badan yang tinggi menjulang, besar, dan gempal.


 


Kalau saja telapak kakinya tidak lebar maka setiap kali melangkah pasti terperosok ke dalam tanah.


 


Tangan kanan, memegang erat gagang gada baja seberat dua kuda jantan di pundaknya. Matanya melotot merah, sekilas serupa jantung pisang. Bibirnya, lebar, hitam dan tebal, dengan dagu yang sedikit melengkung ke depan.


 


“Tapi bukankah Darwire menolak membuka gerbang Desa Bunge?” Raden Sigar belum memahami rencana terbaru kakak iparnya itu.


 


“Kita bentengi saja desa itu dari luar. Memang akibatnya kita harus mengerahkan lebih banyak pasukan untuk bisa mengamankan desa itu dari segala penjuru!”


 


“Apa nanti tidak akan berbahaya bagi desa kita sendiri kanda? keamanan desa akan sangat rapuh, kalau sebagian besar pasukan dikerahkan ke desa Bunge,”


 


“Informasi yang dikumpulkan teliksandiku bahwa si bajingan itu memang ingin merebut Desa Bunge dengan memanfaatkan pemberontakan para Selaq yang lebih dahulu mengobrak-abrik pertahanan dari dalam. Pasukan bajingan itu, kini sedang bergerak dengan kekuatan penuh melalui hutan,”


 


“Jika demikian, aku harus segera kembali ke desa menyiapkan pasukan,” dalam sekelebat mata, Raden Sigar telah lenyap ditelan rerimbunan pohon hutan.


 


Berbeda dengan kakak iparnya, Raden Sigar bertubuh pendek, tapi bukan cebol. Meski demikian gerakannya sangat lincah dan gesit.


 


Sama seperti kakak iparnya, tubuhnya kekar dan gempal. Dengan otot dan urat yang menonjol di kulit yang tak terlalu gelap.


 


Sekujur badannya ditutupi kain poleng (serupa kotak catur). Wajahnya lebih ramah dibanding Raden Mas Panji. Walaupun sebenarnya masih terlalu dingin tanpa senyum.


 


Dua kelopak matanya ia lukis motif bunga dengan pewarna merah. Berbeda dengan kakaknya, Raden Sigar tidak menggunakan udeng. Tapi seperti Kepala Desa Lolo, Rawilih, menyematkan sekuntum bunga mawar putih di telinga kirinya.


 


Rambut Raden Sigar dipotong pendek. Ia bersenjata penyalin atau rotan.


 


Raden Mas Panji menggeram. Tatapannya liar melihat dari jauh Desa Bunge yang diselimuti awan pekat.


 


“Sudah aku duga dialah yang mengotaki ini semua. Ingat bajingan, siapa yang menguasai informasi dialah yang memenangkan peperangan!”


 


***