SELAQ

SELAQ
Episode "Pengadilan untuk Baloq Darwire" (32)



***


(Pembawa Cerita) ~ Kembalinya Jumindri ke bentuk manusia mengakhiri petaka Desa Bunge. Jayengrana atau yang kini terungkap bernama Blokpentes dibantu para sahabatnya membawa pulang Jumindri ke kediaman Baloq Darwire.


Kepala Desa Akah, Nursiwan dan Kepala Desa Daun, Kertaji juga sudah mohon diri kembali ke desa bersama pasukan elitenya.


Selang satu hari setelah huru-hara, warga desa yang mengungsi di desa Akah, berangsur-angsur pulang melalui jalur rahasia.


Setibanya, mereka terkejut menyaksikan kehancuran di mana-mana. Rumah-rumah rata dengan tanah. Ada juga hangus terbakar, menyisakan bara dan kepulan asap yang tebal. Hewan ternak mati, kebun-kebun warga porak-poranda. Pohon bertumbangan tak tentu arah. Hanya beberapa yang selamat dari amukan angkara murka.


Jerit histeris pilu keluarga yang mendapati suami, ayah, dan anak tergeletak tak bernyawa. Mereka adalah para prajurit yang telah berjuang dengan gagah berani menghalau pemberontakan dan amukan monster merah.


Perang menyisakan kesedihan dan penyesalan. Namun semua sudah terjadi. Ratapan dan raungan tak mampu mengembalikan jiwa-jiwa yang telah menghadap sang Pencipta. Takdir telah tertulis dan manusia hanya dapat menjalani lakon cerita hidupnya.


Pembaca kisah yang budiman, kita tinggalkan sejenak kesedihan di bawah langit desa Bunge. Mari kita simak cerita di Desa Lolo yang sekonyong-konyong mendapat kabar kematian Kepala Desa Rawilih dan pasukan elitenya ~


“Kakanda, Rawilih,” lirih Pancalita sambil membenamkan kepala di dua tangannya yang melingkar di atas dengkul.


Wanita cantik itu tak henti-hentinya menitikkan air mata. Sejak kabar duka itu saya siang tadi. Dan kini malam telah menjelang, pelupuk matanya belum juga mengering.


Bayang-bayang senyum suaminya mengisi seluruh ruang pelupuk mata. Canda dan tawanya terngiang-ngiang di telinga.


“Duh, Sang Hyang Kuase,” lirihnya lagi. Lalu air mata menderas membasahi pipi yang mulus nan lembut.


Di kamarnya, Pancalita mengurung diri. Tak biasanya ia menolak ditemani Inaq Bangkol ~ penyebutan bagi perempuan yang tidak punya keturunan. Sementara wanita tua itu hanya bisa bersimpuh di luar. Sambil sesekali waktu, mengirim suara dari balik celah pintu.


“Sabar Dende, sabar,” bujuknya lembut. Entah berapa kali kalimat itu diucapkannya. Ia sudah tak mampu memikirkan kata lain menenangkan hati sang istri kepala desa.


(Pembawa Cerita) ~ ‘Dende’ adalah sapaan bagi perempuan dalam bahasa Sasak-Lombok. Tapi pada konteks tertentu, ‘Dende’ juga untuk menyebut perempuan yang memiliki garis keturunan bangsawan.


Selain Dende, ada juga penyebutan lain untuk perempuan keturunan bangsawan yakni ‘Baiq’.


Pengucapan kata ‘Dende’ lebih menonjolkan sisi emosional. Sebagai ungkapan perasaan kasih, sayang, dan cinta antara orang tua dengan anaknya. ~


Inaq Bangkol tak kuasa menahan iba. Di sela wajah yang keriput, mengalir bulir air mata. Sekali waktu disapunya dengan ujung bawah kebaya.


Tangannya mengelus pintu kamar. Ia berharap pintu itu terbuka dan diberi kesempatan seperti biasanya membelai rambut anak angkatnya itu.


Sementara itu, di ruang tamu rumah berkumpul tiga para petinggi desa. Mereka membahas gugurnya Rawilih dan pasukan elite dari laporan yang disampaikan utusan desa Bunge.


Sampai akhirnya datang seorang wanita tua tergopoh-gopoh dan menggenapi jumlah mereka. Dia adalah Ketua Dewan Desa Lolo, Mustirep. Wajahnya tegang. Tapi mulutnya tak berhenti mengunyah tembakau.


Ia langsung memastikan kabar yang membuat seantero desa berdengung. “Jadi tidak ada satu pun yang selamat?”


“Benar,” kata Komandan Krame Desa Lolo, Munire. “Masih belum jelas siapa pelakunya. Pihak desa Bunge akan melakukan investigasi. Kesimpulan sementara Kepala Desa dan pasukan elite gugur saat mencoba mengendalikan monster merah,”


“Mengapa mereka masih memelihara penyakit itu, sekarang desa kita yang ikut kena dampaknya!” cetus Mustirep, tangan kirinya dengan gemas menggosok-gosok gigi menggunakan tembakau.


“Sikap warga desa Bunge terbelah. Lebih banyak yang ingin membuang bahkan melenyapkan anak itu. Tapi Darwire pasang badan melindunginya,” ujar Munire.


“Si Jumindri itu sebaiknya dilenyapkan saja, kita harus bergerak secara terbuka ataupun senyap. Daripada nanti mendatangkan masalah lebih besar bagi semua desa,” timpal Mustirep. Dadanya naik turun menahan amarah. Lalu dengan suara meninggi ia berujar, “Sang Ratu sudah sedemikian berbahaya!”


Komandan Pertahanan Desa Lolo, Derep yang duduk sambil menyilangkan tangan di depan dada, buka suara. “Aku rasa persoalannya bukan sekadar Jumindri adalah sang ratu. Tapi, semua desa menginginkan anak itu,”


Para tetua desa Lolo menoleh. Mereka belum mengerti arah pembicaraan pria bertubuh gempal itu.


“Menginginkan bagaimana maksudmu, kita tidak pernah menginginkan anak terkutuk itu ada di desa ini. Bahkan di desa Bunge seperti yang dikatakan Munire, anak itu juga banyak ditolak,” ujar Tetua Adat Desa Lolo, Dulahir.


“Benar kata kanda Dulahir. Bahkan, Komandan Pertahanan Desa Bunge Rumasih yang paling keras meminta agar anak itu dihabisi. Bagaimana mungkin sekarang kau menyebut anak itu diinginkan semua desa,” tanya Munire.


Derep tak langsung menjawab. Pria itu malah memejamkan mata. Sampai lima atau enam tarikan nafas, barulah ia kembali berkata, “Ini sebenarnya rahasia yang tidak banyak petinggi desa tahu. Bentuk monster anak itu hanya permulaan. Ia masih harus bermetamorfosis, sampai menjadi sang ratu,”


“Metamorfosis?” tanya Mustirep.


“Informasi tentang Jumindri tidak utuh tersebar. Di kalangan masyarakat awam, ia digambarkan sebagai sosok menyeramkan yang akan menghancurkan umat manusia,” Derep berhenti sejenak. Tangannya meraih minuman aren di depannya lalu menyeruputnya. Setelah itu, melanjutkan lagi perkataannya, “Sedangkan di para Selaq mereka hanya dapat informasi Jumindri akan jadi sang ratu adil yang membawa para Selaq menguasai bumi. Tapi tidak ada yang tahu anak itu harus bermetamorfosis,”


“Aku pernah mendengar itu,” lirih Dulahir.


“Lalu mana yang benar?” tanya Mustirep. Mulutnya semakin cepat mengunyah tembakau, tak sabar menunggu penjelasan berikutnya. “Dia monster atau dia ratu?”


“Dua-duanya benar. Apa yang nampak saat ini adalah fase awal yang diyakini oleh masyarakat awam. Pada fase ini Jumindri tidak bisa menguasai kesadarannya. Ia benar-benar di bawah pengaruh kekuatan monster iblis. Lalu di fase berikutnya ia akan berubah menjadi manusia berbadan merah, berikutnya lagi berubah menjadi manusia berkulit kuning langsat dengan wajah cantik seperti bidadari, berikutnya lagi sayapnya muncul sepasang, sayap muncul dua pasang, dan sayap muncul tiga pasang,”


Para tetua desa Lolo termangu. Baru kali ini mendengar informasi itu. Mereka juga tidak tahu kalau sang ratu kelak akan berubah cantik seperti bidadari.


“Aku pikir sang ratu itu cuma istilah. Seperti penyebutan ratu pada segerombolan semut merah,” ujar Mustirep dengan polosnya.


“Di kalangan para Selaq, mereka sudah mendengar sang ratu adalah sosok yang sangat cantik nan rupawan. Kecantikannya yang akan menaklukkan semua Selaq dalam perintahnya. Tapi mereka tidak tahu, kalau sebelum menjadi cantik, anak itu menjadi monster dulu,” ujar Derep.


“Lalu buat apa Darwire pasang badan melindung anak itu kalau ternyata kelak ia menjadi ratu yang berbahaya?” tanya Munire.


“Sebenarnya semua kembali pada siapa yang memelihara. Kalau dia dipelihara bangsa Selaq maka ia bisa jadi ratu Selaq. Tapi kalau dia dipelihara desa, maka ia bisa dididik menjadi senjata ampuh untuk melindungi desa atau bahkan menggempur desa lain,” ungkap Derep.


“Begitulah. Jika Jumindri bermetamorfosis sampai sempurna di Desa Bunge, maka desa itu kelak akan memiliki senjata tiada tanding. Maka itu bisa sangat berbahaya bagi desa lain. Mereka dapat menggerakkan anak itu untuk menghancurkan desa mana pun dan tidak ada yang dapat menghalanginya,” ujarnya lalu menyeruput lagi minuman aren di depannya.


“Kurang ajar Darwire menyimpan senjata berbahaya di desanya. Dia bisa saja mengancam keselamatan desa lain. Ini yang tidak boleh terjadi ada desa superpower dengan kekuatan yang dimilikinya,”


“Darwire beralasan tetap harus memelihara anak itu. Tidak ada pilihan lain. Menurutnya, bangsa jin yang pernah mendiami lembah ini akan menuntut balas, setelah dulu diporak-porandakan Daranjani adik dari Darwire. Sementara anak itulah yang mewarisi kekuatan Daranjani,” tutur Derep.


“Mengapa jadi rumit begini,” cetus Mustirep.


“Mungkin langkah terbaik, kita bisa menerima keberadaan Jumindri untuk tujuan antisipasi gempuran Bangsa Jin. Tapi komunikasi tetap harus dibangun dengan desa lain, mencegah ada Niar jahat Desa Bunge menginvasi desa lain,” ujar Dulahir.


Para tetua itu manggut-manggut setuju. Saat ini mereka memang tidak bisa berbuat banyak untuk mengantisipasi Jumindri berbalik jadi ancaman desa Lolo.


“Ada satu yang masih mengganjal, mengapa Raden Rumasih komandan pertahanan Desa Bunge menginginkan Jumindri dimusnahkan?” tanya Munire.


Derep menarik nafas pelan lalu menghela secara perlahan. Tangannya masih tersilang di depan dada.


“Ada dua alasannya,” jawab Derep.


“Apa itu?” tanya Mustirep lagi-lagi tak sabaran.


“Pertama, Rumasih tidak ingin ada warga desa Bunge yang jatuh menjadi korban keganasan monster itu,” jawab Derep.


“Kedua?” tanya Dulahir.


“Kedua adalah alasan kekuasaan,” jawab Derep.


“Kekuasaan?” tanya mereka hampir bersamaan.


“Kalau Jumindri bermetamorfosis sempurna dan menjadi pasukan elite desa, maka berpeluang menjadi kepala desa berikutnya. Keberadaan anak itu secara tidak langsung mengancam hasrat Rumasih yang juga sangat ingin menjadi kepala desa. Rumasih menganggap Darwire sebagai lawan politiknya. Padahal Darwire adalah pamannya. Raden Rumasih anak dari Darwulan, adik dari Darwire,”


“Pantas saja dalam banyak kebijakan, Rumasih sering menentang Darwire,” gumam Munire.


“Darwire juga tidak mau memberikan kekuasaan desa pada Rumasih. Ia menilai keponakannya itu memiliki jalan pikiran berbeda dengannya,”


Diskusi di antara mereka semakin hangat. Membicarakan situasi Desa Bunge hingga terjadinya pemberontakan para Selaq. Sementara, malam yang semakin larut tak membuat mata-mata tua itu lelah.


Terlebih malam itu, mereka harus segera memutuskan siapa pengganti Rawilih agar situasi desa tetap terkendali.


“Memang kita tidak bisa menyalahkan Darwire. Kepala Desa Rawilih pergi atas kemauan sendiri membantu Desa Bunge,” kata Tetua Adat, Dulahir.


“Rasanya aneh,” kata Derep.


“Apa yang aneh?” tanya Munire.


“Rawilih adalah pendekar pilih tanding di desa kita. Apa mungkin semudah itu terbunuh?” gumam Derep.


“Jadi kau tidak percaya laporan utusan Desa Bunge?” tanya Munire lagi.


“Aku bukannya tidak percaya utusan itu. Desa Bunge juga belum menyimpulkan karena harus melakukan investigasi,” jawab Derep. Ia lalu mengatakan, “Bisa saja gugurnya kepala desa dan pasukan elite di luar sepengetahuan petinggi desa Bunge,”


“Ada yang memanfaatkan situasi untuk misi pribadi?” tanya Munire.


“Semua kemungkinan bisa saja. Apalagi ini perang. Bisa saja ada gerakan lain di luar pemberontakan para Selaq,” ujar Derep.


“Siapa yang dicurigai?” tanya Mustirep.


“Itu yang harus ditelusuri. Ini baru sebatas perkiraan. Kita perlu bukti,” ujar Derep. “Mungkin saja jawabannya akan segera kita ketahui setelah ada pihak di luar sana yang diuntungkan dengan gugurnya kepala Desa kita,”


“Siapa kira-kira?” desak Mustirep masih penasaran.


“Belum terlalu mendesak untuk kita tahu siapa pelakunya,” ujar Derep, datar. Sorot matanya menyiratkan ada hal lebih penting selain mencari tahu pembunuh Rawilih. “Saat ini, kita harus cepat memutuskan siapa pengganti Rawilih. Demi tetap menjaga stabilitas desa,”


“Sebenarnya sudah jelas dalam kitab agung Undang-Undang Desa. Yang menggantikan kepala desa adalah istrinya, artinya kepala desa berikutnya adalah Pancalita,” ujar Tetua Adat Desa, Dulahir.


“Berarti apa yang kita tunggu, umumkan ke seluruh Desa dan segera lakukan ritual pelantikan Pancalita,” kata Mustirep sang Ketua Dewan Desa Lolo.


“Sayangnya tidak semudah itu. Dalam Undang-Undang, Pancalita harus menyatakan kesediaannya di muka umum. Kalau tidak maka kita semua harus bermusyawarah mencari yang lain,” jelas Dulahir.


Mereka kembali terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya dikejutkan pintu kamar terbuka.


“Reeeeetttt....!”


Semua menoleh ke arah Pancalita yang keluar melangkah pelan keluar kamar. Inaq Bangkol buru-buru bangkit hendak memapahnya. Tapi wanita cantik itu menolak.


Pelupuk matanya sembab. Namun ia sudah tak lagi menitikkan air mata. Wajahnya terlihat lebih tegar. Lalu dengan suara jelas dan terang Pancalita berujar. “Saya bersedia menjadi kepala desa!” tegasnya.


***