
***
“Lalu apa rencana tuanku?” wajah Rana Palugon merekah riang. Sesuatu yang menyenangkan tergambar dalam imajinasinya.
Artha Prana tak langsung menjawab. Ia mengelus lagi dagu dengan telunjuk dan ibu jari kirinya. Sorot matanya berkilat-kilat memandang gumpalan awan putih berkejaran di angkasa.
Cukup lama Artha Prana diam. Sampai bibirnya bergerak pelan, berkata “Adhinata, kumpulkan semua informasi tentang Bunga yang harum itu,” ujarnya pada kepala Teliksandi.
“Baik tuanku. Kami pastikan, tak ada satu informasi penting terlewati,” jawabnya sambil membungkukkan badan.
“Rana Palugon,”
“Saya tuanku,” jawabnya sigap.
“Aku telah memikirkan sebuah rencana,” ujarnya, penuh siasat. “Kau ikut bersamaku dan siapkan beberapa potong pakaian warga desa dan perbekalan yang cukup,”
“Baik tuanku,” jawabnya, membungkukkan badan.
“Dewandaru,” ujar Artha Prana.
“Saya tuanku,” jawabnya.
“Selama aku pergi, gantikan peranku sebagai Kepala Desa. Jangan sampai ada yang tahu kau adalah Dewandaru,”
“Baik tuanku,” jawabnya patuh, lalu membungkukkan badan.
“Rencana ini akan aku mulai esok petang. Sekarang kalian pulanglah,” Artha Prana melebarkan mulutnya. “Ohaaam, aku ngantuk sekali,”
***
(Pembawa Cerita) ~ Sangkep atau Rapat di Balai Desa Pusuk berakhir. Para pembesar membubarkan diri menuju rumah masing-masing.
Tak ada seorang pun yang tahu apa rencana Artha Prana. Mereka tak berani bertanya lebih jauh, sampai sang kepala desa mengungkapkan sendiri idenya. Tapi yang pasti, para pembesar meyakini, kelak Desa Pusuk dan Desa Lolo akan menjadi kerajaan pertama di lembah Gunung Rinjani.
Pembaca yang budiman, kita tinggalkan sejenak kerumitan berpikir Artha Prana dan rencananya menaklukkan bunga desa Lolo. Marilah, kita lihat kembali keadaan Desa Bunge ~
Satu pekan berlalu setelah perang. Warga Desa Bunge masih tegang.
Kini, warga desa terbelah. Ada yang berpendapat pemberontakan para Selaq adalah takdir yang harus dijalani. Tapi lebih banyak yang memendam amarah dan ingin menuntut Kepala Desa Bunge Baloq Darwire bertanggung jawab dan diadili.
Baloq Darwire dituding sebagai biang keladi huru-hara. Perjanjiannya dengan para Selaq, entah bagaimana, terungkap dan tersiar ke seluruh pelosok desa.
Ia disalahkan karena ingkar janji pada para Selaq untuk menyerahkan Jumindri. Kalau saja kepala desa itu mematuhi perjanjian, warga yakin perang tak akan pecah.
***
Di sudut desa, di sebuah perkampungan. Dua pria tengah berdebat. Mereka adalah Seriman dan Suranam.
Keduanya saudara kandung. Masing-masing sudah menikah dan punya anak. Dalam banyak hal mereka selalu kompak. Tapi terkait nasib Baloq Darwire mereka berbeda pendapat.
“Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya!” seru Seriman, kakak dari Suranam.
Wajahnya merah padam. Tubuhnya bergetar menahan amarah.
“Saya yakin kepala desa punya alasan mengingkari perjanjiannya dengan para Selaq, kanda,” ujar Suranam, mencoba meredam kemarahan kakaknya.
“Alasan apa? Salah ya salah. Mau dewa sekalipun kalau salah ya harus dihukum,” cetusnya.
“Tidak mungkin, keputusan itu diambil tanpa mempertimbangkan baik buruknya,”
Seriman bangkit dari tempat duduknya. Lalu dengan suara tinggi berkata ke adiknya, “Halah, kita selalu dicekoki kabar orang tua itu lebih bijak dari penduduk desa. Omong kosong, itu caranya menutupi kebodohannya,”
“Hati-hatilah bicara. Kalau prajurit desa mendengar ucapan lancangmu, kanda bisa digantung!”
“Persetan dengan prajurit desa. Persetan dengan rezim Darwire. Aku tidak peduli. Mau dipenjara juga aku tidak takut!”
“Kanda, kalau kepala Desa menyerahkan anak itu bahaya lebih besar mengintai desa ini. Apa salahnya kita ikut menanggung rasa sakit yang diambil pimpinan kita demi kebaikan desa, anak cucu kita, agar kelak hidupnya aman dan tenteram,” balas Suranam dengan nada tinggi.
“Enak sekali bicaramu. Tidak merasakan kesulitan yang aku hadapi. Rumahku hancur. Semua tanaman di kebun porak-poranda. Pakaian dan harta bendaku hangus terbakar. Yang tersisa hanya baju dan sarung yang melekat di badan, sementara kau?!”
“Aku kehilangan ternak,” cetus Suranam.
“Iya, tapi satu. Itu pun seekor anak kambing. Rumahmu masih utuh. Anak istrimu masih bisa makan, bandingkan dengan keadaanku!” balas Seriman sengit.
“Benar kanda, benar. Tapi siapa yang berharap huru-hara ini? Kepala Desa juga tidak menghendakinya. Seharusnya kau menyalahkan para Selaq itu kalau hanya mau cari kambing hitam!”
“Tetap saja ini kebodohan tua bangka Darwire. Kalau saja dia menyerahkan anak terkutuk itu, tidak ada penderitaan separah ini!”
“Cara berpikirmu salah!” cetus Suranam, naik pitam.
“Apa yang salah? justru kau yang bodoh. Membuat pendapat dari kondisi yang kau hadapi. Bukan mereka yang menderita kehilangan rumah, harta benda, anak, suami, dan ayahnya. Coba kau ada di posisiku, aku tak yakin kau masih seenak itu ngoceh membela Darwire!”
Suranam terdiam. Kondisi kakaknya memang memprihatinkan. Lumbung makanannya juga hangus terbakar.
“Mau bertukar hidup denganku? Biar aku puji-puji Darwire sampai para dewa iri!” cetus Seriman.
“Kau belum menjawab apa yang salah dengan cara berpikirku, apa yang salah kalau aku menganggap Darwire biang keladi atas semua kerusakan di Desa ini?”
Dicecar pertanyaan lagi, Suranam dongkol. Nada suaranya kembali meninggi karena terus dipojokkan. “Baiklah Darwire salah. Sekarang apa semua harta bendamu kembali? Menimpakan semua kesalahan padanya tidak akan mengubah apapun!”
“Aku belum puas sebelum Darwire dihukum gantung!” cetus Seriman.
“Kejam sekali!”
“Tua bangka itu lebih kejam!”
“Kanda pikir Darwire tidak berbuat apa pun bagi desa ini? Dia bertarung mati-matian melawan para Selaq, kondisinya babak belur demi mempertahankan keamanan desa!”
“Sudah aku bilang itu pilihannya, tapi bukan pilihan warga. Kalau saja dia menyerahkan Jumindri, semua kekacauan ini tak akan terjadi!”
Suranam tak lagi menanggapi. Ia kecewa dengan sikap kakaknya terus menyalahkan Baloq Darwire. Pandangannya menyiratkan kebencian pada sifat kekukuh, saudara tuanya itu.
“Mengapa menatapku seperti itu, kau lebih membela tua bangka itu daripada saudara sedarahmu?!” bentaknya.
“Aku pikir perdebatan ini percuma. Kanda terus saja mencari kambing hitam. Mengapa tidak berpikir mencari solusi atas musibah ini?”
“Apa hakmu, mengoreksi cara berpikirku?” ujar Seriman sengit. “Justru cara berpikirmu yang kerdil, tidak peka dengan keadaan orang lain!”
“Ya sudah kalau tidak mau mendengar!” Suranam gusar terus dimaki-maki saudaranya. Ia bangkit lalu pergi meninggalkan kakak kandungnya itu. “Dasar hati batu!” umpatnya kesal.
“Apa kau bilang, saudara goblok, tolol!” balas Seriman emosi. “Jangan pernah ke sini lagi!”
“Iya aku tak akan datang lagi!” seru Suranam.
“Kau bukan adikku lagi!” pekik Seriman.
“Bila perlu sampai kiamat, tidak perlu bersaudara!” balas Suranam tak kalah keras.
Perdebatan antara dua saudara itu potret pembelahan sikap warga desa. Di tempat lain, debat terjadi juga antara saudara dengan saudara, dengan sahabat, orang tua, bahkan antara suami dan istri. Usai debat mereka tak saling tegur sapa lagi. Bahkan ada yang bertarung mati-matian hanya karena berbeda pandangan terkait nasib Baloq Darwire.
***
Di sebuah tempat rahasia. Beberapa orang berkumpul melingkar. Mereka mengenakan jubah gelap dengan penutup kepala. Wajah ditutupi cadar.
“Ini adalah misi mulia. Misi revolusi mengakhiri rezim pelindung Selaq!” kata pimpinan kelompok misterius itu.
“Hidup revolusi!” seru mereka bersamaan.
“Sebuah jalan perjuangan memang penuh onak dan duri. Banyak ujian yang harus kita lewati. Hanya mereka yang memiliki tekad api dapat mewujudkan mimpi-mimpi besarnya,” ujar pemimpin kelompok itu. “Demi revolusi, air mata bahkan darah bisa saja tumpah. Tapi percayalah, tidak ada yang sia-sia. Sang Hyang Agung bersama kita semua. Ingatlah, perjuangan ini akan tercatat sebagai kebajikan. Kitalah orang-orang terpilih yang akan membebaskan rakyat dari rezim Darwire yang bersekutu dengan Selaq!”
Tubuh sosok-sosok misterius itu menghangat. Jantung mereka berdegup kencang. Kepala mereka panas.
Ucapan pemimpin kelompok itu seperti mantra yang menyihir mereka menjadi pemberani. Siap mati demi terwujudnya revolusi!
“Yang kita hadapi ini bukan orang biasa. Dia adalah satu dari lima pendiri desa Bunge. Bahkan dijuluki manusia setengah dewa. Tapi percayalah, Sang Hyang Agung bersama kita dan tidak ada yang bisa mengalahkan kita!” pemimpin pasukan misterius itu terus membakar semangat kelompoknya. Hingga ruang logika tak lagi bekerja, takluk oleh keyakinan merekalah kelompok paling benar di desa itu.
“Rapat kita mulai. Elang, bagaimana tugasmu?” tanya pimpinan kelompok pada sosok di sebelah kanannya. Ia memanggil rekannya dengan nama burung untuk menjaga kerahasiaan anggota kelompok.
“Tim propaganda sudah mulai bekerja. Warga kini terbelah dan banyak yang mendukung kita untuk mengadili Darwire si pelindung Selaq,” jawab sosok yang duduk di sebelah kanannya.
“Bagus. Tapi pastikan agar gerakan ini jangan sampai terendus pasukan elite,” ujar pemimpin itu.
“Tim melakukan pendekatan berdasarkan korban perang. Warga sangat antusias ikut berjuang bersama kita Kami yakin penduduk desa tak akan membocorkan gerakan ini,” jelasnya.
“Lalu bagaimana tugasmu, Rajawali?” tanyanya pada sosok di sebelah kirinya.
“Dewan Gubuk Timur Sinarsih dan Dewan Gubuk Selatan Saminggah sudah menyatakan siap bergabung dengan gerakan kita. Jadi total dewan gubuk yang setuju revolusi ini tiga orang, termasuk saya dari dewan Gubuk Utara,” ujar sosok yang dipanggil Rajawali itu.
“Berarti tinggal dewan Gubuk Tengah dan dewan Gubuk Barat,” lirih pimpinan kelompok.
“Dewan Gubuk Barat adalah Suriane sedangkan Dewan Gubuk Tengah Sawiye yang juga ketua dewan perwakilan desa. Mereka memang dekat dengan Darwire sehingga menolak gerakan revolusi ini,”
“Sang Hyang Agung memberi waktu yang pendek. Kita harus segera mengambil sikap pada dua dewan itu,”
“Benar Raden, mereka memang tidak bisa dibiarkan terlalu lama menentang gerakan revolusi ini. Khawatirnya, mereka bergerak membuat gerakan tandingan melawan kita,” ujar sosok misterius lainnya.
“Baiklah. Harimau, aku tugaskan kau dan pasukanmu bergerak malam ini. Culik dewan desa itu!” ujar pimpinan pasukan.
“Raden, sepertinya komandan pasukan elite juga harus diculik. Ia bisa jadi batu sandungan dalam perjuangan kita meruntuhkan kekuasaan pelindung Selaq ini,”
“Tapi siapa komandannya, Darwire merahasiakan identitas komandan pasukan elite-nya,”
“Tenang Raden. Identitasnya sudah berhasil kami ungkap. Namanya Tambing Muter. Ia mengalami luka parah ketika membantu Darwire menghadapi pada Selaq,”
“Wow! Kerja bagus. Berarti tiga orang yang harus diculik malam ini. Tambing Muter, Sawiye, dan Suriane. Tangkap ketiganya hidup atau mati!”
Kelompok misterius itu kemudian membubarkan diri. Melancarkan aksi untuk memulai revolusi di desa Bunge!
***