SELAQ

SELAQ
Episode “Jiwa-jiwa Haus Tahta” (35)



***


Sekar Ningrum gelisah. Ia masih saja memikirkan mimpinya. Beberapa kali ia mencuri pandang ke Suriane. Seolah itu malam terakhir ia melihat suaminya.


“Kanda,” lirih Sekar Ningrum. “Mimpi itu masih terus mengganggu pikiranku,”


Suriane duduk bersila di atas tikar pandan. Di depannya terhidang tuak manis dan sepiring singkong rebus. Setelah meneguk air nira yang legit, Ia melempar tatapan ke belahan jiwanya.


“Sudahlah Adinda Sekar Ningrum. Perang sudah berlalu. Apa lagi yang perlu risaukan. Jangan bahas lagi mimpi itu,” ujarnya menenangkan hati istrinya.


“Tapi mengapa harus bermimpi, kanda tidak punya kepala?” suara Sekar Ningrum berubah serak. Air matanya kembali menggumpal di pelupuk matanya. “Aku mohon kanda jangan ke mana-mana malam ini,”


“Malam ini aku akan menemanimu sampai pagi tiba. Tidurlah. Ini sudah larut malam. Besok kita akan kembali memimpin warga kerja bakti membangun rumah-rumah warga yang rusak,” ujar Dewan Gubuk Barat itu.


“Benar kanda tidak akan ke mana-mana?” sorot mata Sekar Ningrum menyiratkan keresahan yang dalam. Entah mengapa malam itu begitu lamban berputar. Ia berharap pagi segera tiba dan suaminya akan lebih aman di bawah cahaya sang mentari.


Suriane tak menjawab. Ia hanya mengangguk. Mulutnya sibuk mengunyah singkong rebus.


“Kanda, tidurlah didekatku,” pinta Sekar Ningrum halus.


“Kau manja sekali,” jawab Suriane mengulum senyum.


Pria itu bangkit. Melangkah mendekati dipan tempat istrinya berbaring. Tak lama Suriane telah merebahkan badannya.


Sekar Ningrum buru-buru melingkarkan tangan kanan ke perut Suriane. Seolah mengikatnya agar tak pergi jauh. Kepala ia sandarkan di dada suaminya yang lebar.


Suriane membelai rambut Sekar Ningrum yang hitam dan panjang. Semerbak aroma bunga Kamboja bercampur daun pandan menyebar begitu rambut itu terurai.


“Tidak akan terjadi apa-apa. Malam ini baik-baik saja. Dan besok kita akan kembali bekerja,” lirih Suriane.


Sebenarnya jauh di lubuk hati, Suriane menyimpan risau. Ia sudah berusaha mengusir pikiran buruk yang datang. Tapi semakin keras usahanya menghalau, semakin kuat keresahan itu mengetuk dinding jantungnya.


“Duh, Sang Hyang Agung,” lirihnya dalam hati.


Ia tak ingin membuat suasana hati istrinya semakin panik.


“Aku ingin tidur,” lirih Sekar Ningrum.


“Tidurlah. Sampai pagi dada ini milikmu,” ujar Suriane.


Sekar Ningrum memejamkan mata. Tapi jantungnya masih berdegup tak tenang. Ia berkata lirih, “Aku ingin mendengar tembang Angin Alus,”


Dalam keheningan malam, suara Suriane mengalun merdu. Melantunkan tembang Angin Alus. Sedangkan tangannya tak henti mengelus rambut istrinya yang wangi.


“Tok... Tok ... Tok...!”


Suara pintu diketuk dengan kasar. Berulang kali, tanpa suara manusia mengucap salam. Suasana malam yang sunyi membuat ketukan terdengar sangat jelas.


Suriane tertegun. Istrinya kaget. Sekar Ningrum semakin erat memeluk erat lengan suaminya. Raut wajahnya sudah tak tahan ingin menangis. Sambil menggelengkan kepala ia memohon Suriane tak membuka pintu.


“Tidak apa-apa. Mungkin ada warga yang membutuhkan bantuan kita malam ini,”


Namun Sekar Ningrum tetap tak mau melepaskan pegangan tangan. Bahkan kini air matanya telah menitik di antara pipinya yang halus.


“Begini saja, kalau tidak terlalu penting aku akan menolak keluar. Aku akan katakan padanya, istriku tak ingin jauh dariku. Bagaimana?”


Dengan berat hati Sekar Ningrum melepaskan pegangan tangannya. Membiarkan Suriane beranjak membuka pintu.


“Kreaaaak!” suara pintu berderit terbuka.


Tapi belum saja pintu terbuka dengan sempurna beberapa sosok berpakaian serba hitam mendorong pintu dengan keras. Suriane nyaris terjungkal ke belakang!


Sosok berpakaian hitam datang membawa senjata tajam lengkap. Ada yang berbentuk pedang dan juga tombak. Salah seorang di antara mereka berjalan tegap mendekati Suriane.


“Siapa kalian?” tanya Suriane. Wajahnya menegang.


“Maaf tuan. Kami dari pasukan elite pelindung Kepala Desa diperintahkan mengamankan tuan,”


“Mengapa aku harus diamankan?” tanya Suriane, curiga.


“Ada sekelompok pasukan berencana menculik tuan. Ikutlah dengan kami, keselamatan tuan sangat penting, sebab tuan adalah simbol desa,” kata pimpinan kelompok itu. “Waktu kita tidak banyak. Ini perintah langsung Kepala Desa,”


“Mana bukti kalian pasukan elite?” tanya Suriane masih belum percaya.


Kelompok misterius itu saling berpandangan. Tapi salah satu di antara mereka melangkah maju. “Apa lencana pasukan elite ini sudah cukup sebagai bukti?”


Tangannya menyodorkan lencana kayu ke muka Suriane. Tapi tak lama, ia buru-buru menarik tangannya ke balik pakaian.


“Baiklah karena ini perintah Kepala Desa, aku ikut,” katanya Suriane mantap.


Dewan Gubuk Barat itu dibawa pergi sekelompok pasukan misterius. Meninggalkan istri yang menangis sesenggukan di dalam kamar.


Sebenarnya, Suriane tahu kelompok yang menjemputnya bukan pasukan elite. Lencana itu palsu dan ia bisa menyadarinya dengan cepat, walau hanya diberi kesempatan melihat sekilas saja.


“Selamat tinggal istriku, sampai jumpa di kehidupan yang lebih abadi,” bisik Suriane dalam hati.


Sesampai di luar desa, Suriane mengamuk menyerang pasukan misterius itu dengan tangan kosong.


Pertarungan sengit pecah. Namun pasukan misterius rupanya prajurit pilih tanding. Dalam waktu singkat mereka berhasil membuat Suriane terdesak. Sampai akhirnya sebuah pedang panjang menembus perutnya!


“A.... aku, ti... dak akan pernah menjadi begundal, Ru ...” belum selesai Suriane berkata, tubuhnya roboh terhempas di tanah. Ia pun tewas saat itu juga!


***


“Mau seribu satu jumlah kalian, pantang bagiku bertekuk lutut sekalipun harus berhadapan dengan maut!” Ketua Dewan Perwakilan Desa Baloq Sawiye, berdiri tegak.


Keris terhunus di tangannya. Sorot matanya tajam menatap sekelompok orang berpakaian serba hitam mengepungnya.


“Sukarela atau terpaksa, Anda harus ikut dengan kami!” seru pimpinan kelompok itu.


Beberapa sosok bergerak cepat menyergap Baloq Sawiye. Mereka datang dari empat penjuru dengan menggenggam senjata terhunus.


Baloq Sawiye berputar cepat. Mengibaskan keris menghalau gempuran yang datang. Suara keris meraung membelah angin menebar suara kematian yang mengerikan.


Sejumlah pasukan yang lain menyusul maju. Menusukkan senjatanya ke tubuh Baloq Sawiye.


“Ting... Tang!”


Suara besi beradu nyaring di udara. Menebar maut bagi siapa saja yang lengah dari pertempuran yang tak imbang itu.


“Kalian butuh lebih banyak pasukan lagi untuk bisa merobohkanku, cuih!” Baloq Sawiye meludah. Muak dengan para begundal yang memaksakan revolusi itu.


(Pembawa Cerita) ~ Baloq Sawiye adalah sosok sepuh yang sepantaran dengan Baloq Darwire.


Keluarga Sawiye satu dari ratusan keluarga yang membantu Baloq Darwire dan empat saudaranya menaklukkan kerajaan jin di lembah Gunung Rinjani. Mereka juga yang membuka lahan dan mulai membangun cikal bakal desa Bunge, sebelum akhirnya ribuan warga dari berbagai penjuru Lombok ikut bermukim di sana.


Atas jasanya yang besar, Baloq Sawiye diberi wilayah di tengah desa. Wilayah itu kemudian dinamai Gubuk Tengah. Baloq Sawiye lalu diangkat menjadi Dewan Desa Gubuk Tengah.


Selain menjabat sebagai Dewan Gubuk Tengah, Baloq Sawiye oleh empat Dewan Gubuk didaulat sebagai Ketua Perwakilan Dewan Desa Bunge atau istilah lain untuk ketua para dewan gubuk ~


“Rupanya tak mudah menundukkan Anda. Sesuai permintaanmu, pasukan tambahan sudah datang,” ujar pimpinan kelompok misterius itu.


Benar saja, jumlah pasukan misterius yang tadinya hanya puluhan kini berlipat ganda menjadi ratusan. Mereka muncul dari semak belukar dengan senjata terhunus haus darah.


Tangan Baloq Sawiye bergetar. Tapi bukan karena gentar, ia tak sabar membabat pare pendukung revolusi.


“Bedebah! Revolusi omong kosong. Kalian hanya sampah-sampah yang haus kekuasaan dan pujian!” maki Baloq Sawiye.


Tawa pimpinan pasukan misterius itu meledak. Baginya ucapan Baloq Sawiye lelucon yang menggelikan. “Anda menghina kami sebagai orang yang haus kekuasaan, nyatanya Anda dalam lingkaran kekuasaan. Lelucon macam apa ini? Bhahaha...”


Usai tertawa, ratusan pasukan misterius menyergap Baloq Sawiye bersama-sama. Pria tua itu melompat ke sana-ke mari menghindari serangan. Bahkan di lain kesempatan sukses menyarangkan kerinya ke leher, perut, kepala pasukan itu hingga roboh berkalang tanah.


Namun walau sakti mandraguna, ia tetaplah pria tua yang sudah tak selincah ketika muda. Tenaganya cepat terkuras dan gerakannya semakin lamban.


Lalu pada sebuah kesempatan, pimpinan pasukan misterius menusukkan tombak tepat mengenai pinggang kiri Baloq Sawiye dan mata tombak tembus ke pinggang kanannya.


“Hah...hah....,” Baloq Sawiye terengah-engah. Keris di tangannya masih digenggam erat. Ia berdiri tegar sekalipun tombak tertancap di pinggangnya.


Di hadapannya puluhan mayat pasukan misterius bergelimpangan.


“Ka... kalau saja, aku masih muda, du... dua kali lipat jumlah kalian saat ini masih mampu aku hadapi,” ujar Baloq Sawiye terbata-bata.


Pemimpin pasukan misterius, melepas genggaman tangannya pada gagang tombak. Ia berjalan ke depan Baloq Sawiye yang mulai kejap-kejap, hilang kesadaran akibat terlalu banyak kehabisan darah.


Sebelum Baloq Sawiye roboh pimpinan pasukan misterius, menyempatkan diri berkata, “Jalan perjuangan membuat kita berbeda. Saya pendukung revolusi dan Anda penentang revolusi. Tapi sebagai sosok sepuh dengan pendirian baja, aku menaruh hormat dan takjub pada kehebatan dan kesetiaanmu,” ujarnya.


Ia membungkukkan badan memberi penghormatan terakhir. Diikuti oleh pasukan misterius yang lain.


“Bruuukkk!”


Baloq Sawiye roboh dan menghembuskan nafas terakhirnya. Ia gugur sebagai kesatria yang dikagumi lawan politiknya.