
***
“Bicaramu berputar-putar,” cetus Mopol Ngeros. “Katakan saja bagaimana cara kita bersekutu dengan manusia?”
“Bukankah kita tidak punya pemodal atau ahli ekonomi di kelompok kita?” Ngeres Beaq menebar pandangan ke rekan-rekannya. “Berarti kita hanya perlu mencari manusia kaya raya yang pandai mengatur ekonomi dan siap memodali kerajaan kita!”
“Caranya, bagaimana?” Ngeres Koneng mulai tak sabaran. Nada suaranya meninggi. “Apa mungkin manusia kaya raya mau bersekutu dengan bangsa Selaq, sementara mereka memandang kita begitu buruk!”
“Manusia dan Selaq akan bertemu di sifatnya yang tak puas diri,” jawab Ngeres Beaq.
“Oh, kau mengulangi retorika itu!” Mopol Ngeros ikut kesal. Ia tak mengerti mengapa Ngeres Beaq terus saja bicara tentang adanya sifat manusia dan Selaq yang sama.
“Sebentar,” kata Selaq Bunge. Ia mengelus dagu lalu dengan kepala sedikit tertunduk, ia berkata “Aku sepertinya mulai paham maksud Ngeres Beaq,”
Ngeres Koneng dan Mopol Ngeros mengalihkan pandangan ke Selaq Bunge. Lalu menunggu apa yang akan dikatakan Raja Selaq itu lagi.
“Ngeres Beaq ingin mengatakan Selaq dan Manusia bisa bekerja sama, kalau memiliki kepentingan yang sama, bukan begitu?” tanya Selaq Bunge lalu menatap Ngeres Beaq.
“Betul paduka,” jawab Ngeres Beaq.
“Dan ada banyak manusia yang bisa diajak kerja sama, yaitu manusia yang berideologi Selaq,” ujar Selaq Bunge.
Sekali lagi Ngeres Beaq mengangguk membenarkan.
“Bagaimana kita tahu bahwa manusia yang menganut ideologi Selaq?” tanya Ngeres Koneng.
“Dari sifatnya. Bila manusia itu tidak pernah puas, maka ia adalah manusia yang berideologi Selaq!” kali ini Selaq Bunge yang menjawab.
Ngeres Koneng dan Mopol Ngeros mengangguk paham. Mereka kini dapat mengerti arah pikiran Ngeres Beaq.
“Artinya kita tinggal mencari manusia kaya raya yang tidak puas pada harta kekayaannya, berarti merekalah yang dapat diajak bekerja sama, bukan?” gumam Mopol Ngeros.
“Merekalah manusia yang berideologi Selaq,” timpal Ngeres Koneng.
Ngeres Beaq mengembangkan senyumnya. Ia senang rekan-rekannya memahami maksudnya.
“Kita hanya perlu mencari pedagang kaya raya, sebanyak-banyaknya. Yang mau mendapat kekayaan dengan cara apa saja,” ujar Ngeres Beaq.
“Tapi apa bentuk kerja samanya?” tanya Selaq Bunge.
“Pengamanan usaha!” jawab Selaq Bunge.
“Usaha?”
“Benar. Jadi manusia-manusia itu hanya perlu memastikan kerajaan Selaq tidak kelaparan, sedangkan kita akan menjadi penjaga usaha mereka,” sorot mata Ngeres Beaq berkilat. Lalu dengan suara menggebu ia berkata, “Para pengusaha hitam di balik bisnis perjudian, minuman keras, peredaran opium, rumah bordil, dan usaha ilegal lainnya. Merekalah target kerja sama ini!”
“Menarik. Sungguh menarik,” wajah Selaq Bunge berubah riang. Mimpinya tentang kerajaan Selaq bangkit lagi setelah sempat pupus karena kematian Mopol Kesur.
“Jadi kita akan menjadi beking usaha-usaha haram itu?” ujar Ngeres Koneng ragu.
“Hanya dengan tawaran ini, para pengusaha hitam itu akan bersedia membiayai kerajaan Selaq nanti,” jawab Ngeres Beaq.
“Bukankah itu perbuatan dosa?” lirih Ngeres Koneng.
Selaq Bunge, Ngeres Beaq, dan Mopol Ngeros kompak memalingkan wajah. Sesaat kemudian mereka kompak menertawai Ngeres Koneng.
“Omong kosong, bicara dosa. Syairmu saja menggambarkan hasrat ingin melawan tuhan,” cibir Mopol Ngeres. “Atau kau ingin kembali menjadi manusia?”
“Tapi bagaimana bila para manusia itu menjadi ancaman kekuasaanku di kerajaan Selaq nantinya?” wajah Selaq Bunge masygul.
Ngeres Beaq justru tersenyum. Lalu berkata, “Paduka, percayalah mereka adalah orang-orang yang tidak tertarik menjadi penguasa. Bagi mereka kekayaan adalah segalanya dan tidak pernah peduli siapapun yang memimpin pemerintahan. Selama bisnis aman dan kekayaan mereka semakin besar di situlah mereka berdiri. Agama, bangsa, budaya, bukan halangan bagi manusia-manusia seperti itu bersekutu dengan siapapun. Termasuk dengan bangsa Selaq!”
“Menarik. Ide brilian,” gumam Mopol Ngeros.
“Manusia berideologi Selaq itu sebenarnya sama dengan kita. Sama seperti Ngeres Koneng si pemuja seni yang berambisi mengalahkan tuhan atau seperti saya yang ingin menciptakan agama terbesar di bumi ini, atau seperti paduka yang bertekad menjadi raja di bumi,”
“Kita perlu menghimpun kekuatan semua Selaq di bawah komando kita,” ujar Mopol Ngeros.
“Aku rasa sudah waktunya kita memanggil Selaq-selaq yang bersembunyi di kedalaman hutan,” timpal Ngeres Koneng.
“Saatnya tugas Kembang Tereng mencari Selaq pengganti Mopol Kesur, diakhiri,” ujar Selaq Bunge. “Rencana Ini sangat menarik,”
***
(Pembawa Cerita) ~ Malam itu kelompok Selaq yang dipimpin Selaq Bunge bernafas lega. Mereka punya rencana baru untuk mulai membangun kerajaan. Sebuah rencana yang berbahaya bagi umat manusia.
Para Selaq akan menghimpun kekuatan dan bersekutu dengan para pengusaha bisnis haram!
Sejenak kita tinggalkan dulu, kelompok Selaq yang tengah menyusun menghimpun selaq-selaq yang bersembunyi di kedalaman hutan.
Marilah kita tengok, kehidupan Pancalita usai terpilih menjadi kepala Desa Lolo menggantikan suaminya Rawilih.
Asap tebal membumbung dari Desa Lolo. Datang dari tungku-tungku raksasa warga yang tengah menyiapkan acara 40 hari meninggalnya Rawilih. Sementara Pancalita mengundang semua kepala desa di lembah Gunung Rinjani.
Wajah Pancalita, masih menyiratkan sedih yang dalam. Begitu mendengar suara rantok yang dibunyikan pemuda desa memanggil arwah suaminya agar mengetahui jalan pulang.
Sekadar diketahui rantok adalah kayu yang dipahat sedemikian rupa menyerupai perahu. Biasanya terbuat dari kayu asam jawa yang berukuran besar dan telah berusia sangat tua.
Rantok dibunyikan dengan cara dipukuli menggunakan kayu. Nada pukulannya konstan dengan irama yang tak terlalu sulit. ~
Di balai Desa Pancalita menjamu kepala Desa Akah Nursiwan, Kepala Desa Tunggak Raden Mas Panji, Kepala Desa Daun Kertaji, Kepala Desa Buaq Raden Sigar, dan seseorang yang berpenampilan menyerupai Kepala Desa Bunge Artha Prana tapi wajahnya ditutupi kain.
“Bukalah penutup wajahmu Artha Prana,” kata Nursiwan. “Pancalita tidak pernah melihat wajahmu,”
“Aku akan buka, kalau Kertaji juga membuka penutup wajahnya,” jawab Artha Prana. Matanya melengkung, mengisyaratkan ia tengah tersenyum. “Jangankan Pancalita, kita semua saja tidak tahu seperti apa wajahnya,”
“Tak biasanya kau menutup wajahmu,” sahut Raden Mas Panji, ia masih menaruh dendam pada kepala Desa Pusuk itu. “Apa kau malu, memperlihatkan wajahmu yang busuk?”
“Mas Panji, sungguh tak baik di acara duka ini diperkeruh dendam pribadimu,” kata Nursiwan mengingatkan. Ia berusaha mencarikan suasana, “Kalau memang Artha Prana tak mau membuka penutup wajahnya tentu kita harus menghormatinya, seperti kita menghormati pilihan Rawilih menutup wajahnya selama ini, bukan?”
Raden Sigar yang duduk di samping Raden Mas Panji juga berusaha menenangkan hati kakak iparnya. “Benar kanda, aku rasa ini bukan saat yang tepat. Kasihan Pancalita,” bisik Raden Sigar.
Raden Mas Panji yang sudah terbakar amarah, tersadar. Ia tadinya larut dalam emosi ingin menghajar Artha Prana. Tapi yang dikatakan Nursiwan dan Raden Sigar memang benar.
“Maafkan aku, Pancalita,” ujar Raden Mas Panji.
“Tidak apa-apa, Raden. Silakan dinikmati tuak manis dan ala kadarnya. Semoga jamuan ini berkenan, membahagiakan hati Anda semua dan memaafkan kesalahan sumi saya sehingga ia bisa tenang di alam sana,” jawab Pancalita anggun.
“Saya tak melihat Darwire, apakah dia telah datang lebih dahulu ke mari?” tanya Raden Sigar, pada Pancalita.
Pancalita menaikkan alisnya. Wajahnya terlihat memukau manis, dengan ekspresi bingung. Darah para kepala desa berdesir melihat pesona janda Rawilih itu. “Belum. Justru itu yang ingin saya tanyakan. Kendala apa gerangan yang membuat beliau tak pernah datang di hari pemahaman, tiga hari, tujuh hari, sembilan hari, bahkan sekarang empat puluh hari suami saya meninggal?”