
***
Sebenarnya malam ketika ia melihat cahaya itu, Blokpentes ingin mengajak Bolo melihat lebih dekat. Tapi membangunkan Bolo, sesungguhnya lebih sulit dari membangunkan diri saat kededep. Begitu biasanya orang Sasak menyebut tindihan.
Gempa bagi Bolo, tak lebih serasa ayunan bayi yang malah membuatnya semakin terlelap.
Oh ya, malam ketika ia pernah mengubur Bolo, Blokpentes mengira temannya itu mati. Tak ada suara terdengar hingga siang menjelang.
Begitu tanah kuburan dibongkar, tanah di bawah kepalanya nyaris menjadi lumpur tersiram ilernya. Bolo bahkan tak pernah tahu, ia telah dikubur semalaman oleh Blokpentes, hanya karena meninggalkannya menjaga Jumindri.
“Cahaya, mana cahaya?” kata Bolo blingsatan. Ia membayangkan akan mendapat makanan di tempat itu.
“Semalam aku melihat ada cahaya di tempat itu,” Blokpentes mengarahkan telunjuknya ke salah satu sudut tebing. “Persis di dekat kayu besar itu,”
Bolo menatap ke arah yang dimaksud. Tapi kemudian dengan tatapan ragu, ia mengalihkan pandangannya menatap wajah Blokpentes lekat-lekat. Ia mengira temannya itu hanya bergurau. “Kau bercanda?”
Blokpentes menggeleng. Wajahnya belum beralih dari rerimbunan pohon dengan salah satu terlihat paling besar. Jantungnya berdebar-debar semakin cepat. Ia tertantang untuk melihatnya lebih dekat.
“Bagaimana mungkin ada rumah atau pemukiman di sana, itu kan tebing yang curam?” kata, Bolo setengah bertanya. “Tidak aku tidak mau ke sana. Aku belum mau mati,”
Ia sudah bisa menerka isi pikiran Blokpentes. Dan bersiap-siap pergi meninggalkannya, tapi tangan Blokpentes dengan cepat menarik pakaiannya. Bolo meronta, sayangnya cengkeraman Blokpentes bahkan lebih kokoh dari belitan akar beringin.
“Bayangkan di sana ada makanan dan buah-buahan,” ujar Blokpentes menggoda hasrat Bolo.
“Aku tak tertarik, aku mau pulang saja,” Bolo meronta, mengais-ngais kakinya di tanah. Ia nyaris menangis. Ia tahu, ajakan Blokpentes itu sama saja dengan perintah yang tak bisa diubah.
Bolo sebenarnya sangat lapar tapi tebing yang curam dan menganga tak ubahnya mulut singa itu jauh lebih menakutkan dari pada tak makan seharian.
Saat ia terus meronta, Blokpentes masih menggodanya, “Bayangkan juga ayam panggang yang habis dibakar dengan aroma mengaduk-aduk perut,”
“Tidak aku tidak mau!” Bolo meronta lebih keras. Tapi cengkeraman Blokpentes kini berubah sekencang cakar harimau yang menyandera anak tikus.
“Dan paha kijang yang masih hangat, ditambah dengan guyuran sambal asam, dan sedikit taburan daun bawang yang renyah,” goda Blokpentes lagi.
“Apa ada nasi hangatnya juga?” ujar Bolo kemudian.
“Oh tentu. Pasti ada. Nasi hangat yang baru selesai ditanak dan masih mengepulkan asap tipis,” jawab Blokpentes.
“Kita pergi ke sana,” tubuhnya berbalik melangkah ke arah pohon yang ditunjuk.
Di sudut bibir Bolo yang kecil merembes air liur. Tergoda makanan lezat yang disebutkan Blokpentes. Tebing curam yang tadi di benaknya seperti mulut singa, berubah menjadi mulut ikan. Itu pun ikan ******!
Dua bersahabat itu melangkah dengan semangat. Bolo berjalan di depan seperti gajah kelaparan. Onak dan duri tak dipedulikannya. Rasa sakit tak dirasakannya. Yang terbayang di lamunannya saat pangkal kaki kijang, dipegang erat dan giginya mengoyak daging lembut dan gurih.
“Dengan garam yang ditabur merata,” goda Blokpentes lagi di belakang. Menahan tawa melihat Bolo blingsatan tak sabar.
“Oh, nikmatnya,” lirih Bolo menyapu liur di bibirnya dengan lidahnya sambil terus membuka jalan belukar di depan.
***
Pintu besi ruang bawah tanah berderit saat dibuka. Jumindri yang tengah memeluk dengkulnya sambil menatap rantai-rantai yang menjerat kaki dan tangan, menoleh.
Tak biasanya pintu yang selalu dibuka kasar itu kini terdengar sopan menyapa gendang telinganya.
“Siapa yang datang?” gumamnya, bertanya pada diri sendiri, memicingkan mata. Melihat ke arah pintu.
Tapi selanjutnya, Jumindiri seperti tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Ia mengucek matanya, menyapu kabut tipis dan pandangannya semakin jelas.
Pria itu. Seseorang yang sering dipanggilnya paman. Pria dengan tubuh gempal, besar, dengan jari tangan dan kaki sebesar buah pisang.
Ia tersenyum ke arah Jumindiri sekalipun itu tak mengurangi sedikit pun kesan sangar. Giginya yang bercula menegaskan ia sebenarnya lebih menyerupai raksasa daripada manusia.
Di tangannya seperti biasa ia membawa baki berisi makanan.
Tak ada tendangan ke pintu besi yang biasanya membuat ruangan menjadi amat bising.
Pria besar itu lalu meletakkan, makanan di hadapan Jumindiri dengan pelan. Tapi justru itu membuat Jumindiri menjadi takut.
“Waktunya makan nak,” kata pria besar itu ramah.
“Paman, Anda sehat?” tanya Jumindiri dengan wajah heran.
“Apa aku terlihat sakit?” tanya pria besar itu kemudian.
“Iya Anda terlihat sehat paman. Tapi sepertinya ada yang tak biasa,” Jumindri menerawang wajah pria besar yang sering memaki-makinya itu. Membaca isi hati melalui guratan wajahnya yang jauh lebih bersahabat. “Maksudku, mengapa tidak ada tendangan ke pintu besi atau baki yang dilempar?”
Pria besar itu tercenung beberapa saat. Menatap Jumindiri dengan wajah iba. Anak polos itu tak terhitung telah menerima banyak sekali kekesalannya yang seharusnya tak dia terima.
“Apakah perbuatan baik harus selalu dijelaskan alasannya?” tanya balik pria itu.
Jumindiri menggeleng. Lalu tersenyum. Ia memang tidak butuh alasan pria itu berubah. Kebaikannya justru lebih berharga.
Jumindiri segera menyantap makanan di baki. Makanan itu jauh lebih nikmat dari biasanya. Tak lagi hambar. Aromanya menggugah selera.
“Maukah paman menemaniku makan?” Jumindiri menghentikan suapan yang ketiga. Sambil melempar pandangan ke pria besar yang masih berdiri mematung melihatnya.
“Boleh, kalau kau meminta, aku akan menemanimu,” jawab pria itu.
Dua orang yang bertemu di penjara bawah tanah itu untuk pertama kalinya makan bersama. Sesekali Jumindiri menggoda pria besar itu dengan merebut daging di tangannya. Dan pria besar itu hanya tertawa terbahak-bahak menyemburkan beberapa butir nasi keluar mulutnya.
Oh, waktu begitu cepat berlalu.
Kadang perasaan hati memang sulit ditahu. Apa yang tampak buruk di mata tak selamanya menggambarkan perasaan di dalam dada.
***
“Namaku, Denawa Petak,” ujar pria itu di sela leyeh-leyeh usai makan. Menemani Jumindri yang juga duduk kekenyangan.
Jumindiri menoleh. Memperhatikan pria yang telah berubah dalam sekejap.
“Aku punya seorang putri, namanya Purwasari,” tatapan pria besar yang ternyata bernama Denawa Petak itu lurus. Tajam seperti ingin menembus didinding batu ruang bawah tanah. Lalu menyambung ceritanya, “Ia tubuh menjadi gadis yang cantik dan rupawan sepertimu,”
“Di mana Purwasari sekarang paman?”
“Dia tinggal bersama adikku, Suwandi,”
Jumindri mangut-mangut. Seperti memahami alasan Purwasari tak tinggal bersama ayahnya. Sambil tersenyum, Jumindiri kemudian menerka, “Aku tahu, paman pasti sibuk. Sehingga harus menitipkan Purwasari pada paman Suwandi,”
“Bukan,” lirih Denawa Petak menjatuhkan pandangannya ke lantai. Sesuatu yang menyesakkan dadanya membuat ia tak kuasa lagi menegakkan kepalanya.
“Lalu apa?” Jumindiri bertanya dengan suara pelan, hati-hati. Ia menduga ada sesuatu yang sangat melukai hati Denawa Petak.
“Purwasari tidak pernah tahu kalau aku adalah ayahnya. Istriku juga tidak mau, Purwasari mengetahui kebenarannya,” lirihnya pelan.
Cerita Denawa Petak seperti duri yang masuk ke kerongkongan Jumindiri. Begitu sakit dan perih kenyataan hidup yang dijalani pria bertubuh raksasa itu.
“Apa paman akan menceritakan alasan mengapa istrimu tidak mau Purwasari mengetahui Anda adalah ayahnya?”
Denawa Petak menghela nafas perlahan. Mengurangi sesak di dada. Lalu dengan suara bergetar, ia berujar “Hanya kau yang memanggilku paman. Sedangkan semua orang menyebutku raksasa. Dan itu, aib bagi keluargaku,”
Jumindiri menggeser pandangannya ke lantai. Jelas, ia sangat memahami bagaimana luka hati Denawa Petak. Sakit, perih. Dan tersisih. Itulah yang dirasakannya selama ini.
Sejak ia mengenal dunia dan mendapati semua orang menjauhinya. “Hanya karena monster sialan ini,” lirihnya salam hari. Lalu tangannya meremas dadanya yang terasa perih dari dalam.
“Saya mengeri paman, saya merasakan luka hati paman,” lirih Jumindiri.
Denawa Petak menoleh. Memperhatikan wajah gadis malang itu lekat-lekat. Ia lantas menarik nafas panjang, kemudian menghelanya perlahan. Lalu dengan suara serak ia berujar lirih, “Apakah ada yang lebih perih menjadi orang tua, namun tak diakui anak?”