SELAQ

SELAQ
Episode “Derai Hujan di Waktu Senja” (10)



***


“Bangsat, nyangkut!”


Susah payah Mopol Kesur menarik ususnya yang terburai panjang. Sementara itu, suara derap kaki puluhan pasukan semakin mendekatnya.


Mopol Kesur buru-buru menjulurkan lidahnya. Meraba batang pohon dan ranting yang menjerat ususnya.


Dalam kegelapan, Selaq itu mengumpat kesal,


“Anak ini membuatku tak leluasa bergerak,”


Rasa kesal itu ditumpahkannya pada gadis kecil yang masih ditawannya. Mopol Kesur melilit sekujur tubuh bocah itu dengan menyisakan kepalanya saja menyembul di bagian atas. Tak ubahnya kepompong ulat yang sesaat lagi bermetamorfosa menjadi kupu-kupu.


Wajah bocah manis itu pucat kekurangan nafas. Sekali dua terlihat megap-megap menahan ketersiksaan yang sulit terlukis kata-kata.


Dengan bantuan kepala ular hijau yang menyembul di ujung lidahnya, Mopol Kesur mencabut semua panah api yang menancap di kepala, lidah, dan ususnya.


“Akan aku balas perbuatan kalian. Setiap satu panah yang menancap aku hargai 10 nyawa. Apa yang lebih mengerikan selain berbisnis denganku wahai warga desa terkutuk? Tentu saja saat keluarga kalian menangisi mayatmu yang terbujur kaku!”


“Zreeeng!”


Empat lidah Mopol Kesur kembali terlempar dan jatuh di tanah berdebu. Meronta-ronta seperti ekor cicak yang terlepas.


Belum saja, Mopol Kesur sadar apa yang terjadi, ratusan panah api kembali menerjangnya tanpa ampun.


“Zrrrekkk!!!”


“Aaaaaa!!!”


Makhluk mengerikan itu untuk kesekian kalinya memekik kesakitan. Meronta-ronta, menggelepar, seperti babi hutan yang terluka.


Air liur meluncur deras dari mulut Mopol Kesur. Menyiram api yang menyala di tubuhnya.


Saat itulah Raden Sentane melangkah maju. Pedang yang terhunus di tangannya itulah yang baru saja memenggal empat lidah Mopol Kesur.


Kini pedang itu diacuhkannya lurus ke arah kening Mopol Kesur.


Dengan suara lantang Raden Sentane berseru, “Lepaskan anak itu,”


Mopol Kesur tersenyum. Ucapan Raden Sentane, menginspirasinya membuat penawaran yang menarik.


“Kau mau anak ini?” Mopol Kesur menjulur-julurkan lidahnya yang masih utuh.


Raden Sentane tak mengurangi ancamannya. Matanya tajam memandangi makhluk mengerikan di depannya.


“Mari kita berbisnis,” imbuh Mopol Kesur.


“Kau dalam posisi tidak berhak memberi penawaran. Tidak ada yang menarik darimu!” sahut Raden Sentane.


“Benarkah?” Mopol Kesur mengulum senyum.


Setelah itu ususnya yang membelit Serinah, dikencangkan, hingga bocah malang itu tersedak, kesulitan bernafas.


“Apa maumu?” Raden Sentane mengurungkan niat menghabisi Mopol Kesur.


“Bhahaha... Aku sudah mengira penawaran akan sangat menarik bagimu. Belum saja kau berpindah dari tempat berdiri ternyata sudah berubah pikiran,”


Wajah Mopol Kesur girang bukan main. Ia merasa tidak sia-sia menawan bocah itu.


“Apa penawaranmu?” ujar Raden Sentane.


“Bagaimana kalau nyawamu, desa, dan seluruh nyawa kalian, kita tukar dengan nyawa anak ini?”


Seluruh pasukan berdengung. Mereka marah dengan lancangnya omongan Mopol Kesur.


“Kurang ajar!” pekik seorang pasukan yang bersiap menyerang.


“Tahan!” Raden Sentane, mengingatkan pasukannya agar tidak berbuat ceroboh.


“Tentu saja karena ini bisnis, kau boleh menawar,” ujar Mopol Kesur.


“Bagaimana kalau aku saja,” jawab Raden Sentane.


“Bhahaha ... Kau pandai menawar. Baiklah, setuju!”


Mopol Kesur menjulurkan ususnya. Sementara Raden Sentane menancapkan pedang di tanah kemudian melangkah maju.


“Raden,” ujar salah seorang pasukan mencegah.


“Tenanglah,” Raden Sentane berusaha menenangkan mental pasukannya yang limbung.


“Nyawamu tidak sebanding dengan bocah itu Raden!” salah seorang pasukan berupaya mencegah.


“Apalah arti nyawaku. Nyawa anak yang tak berdosa dan usianya yang masih panjang jauh lebih dibutuhkan desa ini,”


Belum saja pertukaran itu usai, dua bayangan berkelebat ringan ke tengah-tengah mereka. Semua yang berdiri di tempat itu terkejut waspada.


“Senior, mengapa kau seperti daging cincang begini?”


Dua bayangan yang berkelebat itu ternyata Ngeres Koneng dan Jumindri.


“Goblok, seharunya kau membokong mereka dari belakang!” sungut Mopol Kesur, kesal.


“Di sini pun tak apa. Kita tidak akan kalah menghadapi cecunguk Darwire,” sahut Ngeres Koneng percaya diri.


“Jumindri?”


Salah satu pasukan yang mengenal kehadiran gadis itu kaget melihatnya bersama para Selaq.


“Sudah aku duga anak itu akan jadi penghianat. Desa telah memelihara ular yang berbahaya!” sahut yang lain.


“Apa kita bisa melanjutkan bisnis ini?” kata Raden Sentane yang sudah separo jalan.


“Aku berubah pikiran. Posisiku kini lebih menguntungkan, tawaran aku naikkan menjadi kau dan desa ini!”


“Semudah itu kau melanggar kesepakatan!”


“Kesepakatan?” Mopol Kesur menyeringai. “Kesepakatan hanya milik mereka yang setara. Martabat bangsa Selaq lebih tinggi dari bangsa manusia. Kau masih belum menyadarinya? Kamilah yang berhak menentukan kesepakatannya seperti apa!”


Sementara itu, Jumindri yang masih penasaran dengan sosok Mopol Kesur di bawah remang-remang cahaya obor menajamkan pandangannya. Tapi kemudian alangkah terkejutnya Ia setelah menyadari teman Ngeres Koneng itu ternyata berpenampilan tak wajar.


“Paman cabul, badanmu mana?!”


“Sudah aku katakan kami tidak cabul!”


“Mengapa kau menjijikkan sekali?” Jumindri masih terbelalak kaget.


“Bisakah kau menyumpal mulut bocah itu Ngeres Koneng. Mengapa kau bawa bocah ke mari?” sungut Mopol Kesur.


“Dia Jumindri, senior,”


Mopol Koneng memalingkan wajah. Air mukanya berubah makin cerah. Matanya mendelik, memperhatikan Jumindri yang tak jauh dari tempatnya melayang.


“Sang Calon Ratu,” gumamnya senang.


“Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui,”


“Uhuk... Uhuk ... Kakak, tolong aku,” Serinah tersedak. Nafasnya sudah sampai tenggorokan.


Jumindri memperhatikan ke sudut lain. Lalu mendapati usus Mopol Koneng yang teruntai panjang tengah melilit Serinah.


“Paman apa yang kau lakukan?” wajah Jumindri berubah. “Lepaskan Serinah!”


“Diamlah!” sahut Mopol Kesur tak peduli. “Kau belum jadi ratu sudah mau memerintahku!”


“Lepaskan paman, dia temanku!” pekiknya dengan wajah merah padam.


Mopol Kesur tetap tidak peduli. Tatapannya lurus ke Raden Sentane yang telah bersiap kembali dengan pedangnya.


“Lepaskan!!!” kali ini Jumindri menggeram. Suaranya berubah serak dan berat. Seakan itu bukan datang dari mulutnya.


Perubahan Jumindri membuat semua yang ada di tempat itu menoleh. Mereka menunggu apa yang akan dilakukan gadis itu.


“Akan aku habisi kau!” geramnya menyeramkan.


Jantung Jumindri memompa darah dengan cepat. Kepalanya berubah panas. Tengkuknya menegang dan seperti melepas energi yang terpenjara.


Energi liar itu dengan cepat merampas kesadaran Jumindri.


Kulit langsat gadis itu, perlahan berubah merah. Urat-urat menyembul mengerikan. Matanya bergetar dan perlahan ikut berubah merah menyala.


Tubuh Jumindri mengembang tiga kali lipat dengan otot tangan dan kaki yang besar. Rambutnya menegang bagai jarum-jarum hitam yang panjang. Gigi-giginya ikut membesar dan meruncing.


Dari balik bibirnya yang tebal, keluar cula panjang hingga dagu.


Telapak tangan dan kakinya juga membesar. Kuku memanjang bagai pisau tajam yang dengan mudah dapat membelah batu cadas gunung dalam sekali garuk.


Jumindri meraung, menggeram. Menebar kengerian seketika. Para pasukan yang selama ini hanya mendengar tentang mitos tentang Jumindri, akhirnya dapat melihat langsung dengan mata kepala mereka sendiri.


Semua pasukan menjauhi Jumindri. Tidak terkecuali Mopol Kesur dan Ngeres Koneng yang takjub melihat kekuatan gaib akhirnya keluar dalam tubuh bocah itu.


“Ternyata sang Ratu memang ada dalam dirinya!” ujar Ngeres Koneng terpana melihat perubahan Jumindri dalam tubuh monster merah.


“Aku tidak akan rugi bertarung dengannya sekalipun harus mati!”


Mopol Kesur terlihat tenang. Sekalipun Ia sadar energi gaib dalam diri Jumindri bangkit karena ulahnya.


“Aku tidak akan ikut campur senior,” sahut Ngeres Koneng menjauh.


Mopol Koneng melempar senyum kecut.


Belum saja ia bersiap mengeluarkan kekuatan terbaiknya, Jumindri tiba-tiba telah berdiri di depan matanya, mendengus lalu dengan secepat kilat memegang kepala Mopol Kesur dan membantingnya!


“Bruaaaak!!!”


Kepala Mopol Kesur terperosok ke dalam tanah.


Tapi pertarungan belum usai. Mopol Kesur melepas lilitan ususnya yang menjerat Serinah, kemudian dengan cepat menjerat Jumindri. Dalam waktu bersamaan, puluhan ular hijau di ujung lidah Mopol Kesur menggigit muka, leher, tangan, hingga kaki Jumindri.


“Jangan remehkan a...”


“Blrrrrpp!!”


Belum tuntas Mopol Kesur berkata-kata, usus dan lidahnya sudah terpotong kuku kaki dan tangan Jumindri. Sedangkan usus yang masih tersambung dengan kepalanya dicengkeram kuat Jumindri.


Dengan sekuat tenaga, Jumindri menghempaskan kepala Mopol Kesur ke batu, tanah, dan kayu bergantian.


“Tamat sudah kau senior. Kita tidak bisa minum kopi bersama lagi,” celetuk Ngeres Koneng, iba.


Mopol Kesur masih belum mau kalah. Kepala dan ususnya yang telah hancur terserak ke mana-mana, tiba-tiba bergerak seperti amuba menyatu lagi.


“Byuuuurrrr!!!”


Api menyembur dari mulut Jumindri. Membakar seketika onggokan daging Mopol Kesur dan dengan cepat mengubahnya menjadi abu. Tamat sudah perjalanan hidup Mopol Kesur.


“Aroma daging bakar,” celetuk Ngeres Koneng.


Usai mengakhiri nyawa Mopol Kesur, Jumindri melompat ke arah Serinah yang tergeletak tak berdaya. Dengan kuku jari dan kaki yang terhunus hendak merobek tubuh Serinah.


Tapi untung saja gerakan Raden Sentane lebih cepat menyambar Serinah. Melihat mangsanya dibawa lari, Jumindri melompat mengejar.


Pasukan membentuk formasi, melindungi Raden Sentane dan Serinah. Jumindri mengibaskan tangannya sekuat tenaga hingga membuat pasukan berlapis-lapis terpental ke segala arah.


“Bhahaha... pasukan goblok! Kau pikir anak itu ingat kalian siapa. Asal kalian tahu, kesadarannya telah dikuasai kekuatan iblis. Kalau kalian bertahan tamatlah malam ini!” Ngeres Koneng girang bukan main melihat pasukan gabungan itu porak-poranda.


Tapi baru saja Mopol Koneng usai tertawa, Jumindri telah mencengkeram pundaknya dengan kasar.


“Sial,” gerutunya.


***


“Saatnya kita bersenang-senang!”


Kembang Tereng bersorak girang. Memberi aba-aba pada dua Selaq lainnya: Mopol Ngeros dan Ngeres Beaq.


Namun langkah mereka yang kasar, tiba-tiba berhenti.


Ratusan pasukan bersenjata lengkap menghadang mereka. Satu di antara mereka pria tinggi kekar berdiri menantang dengan pedang terhunus. Dia Komandan Pasukan Pertahanan Raden Rumasih.


“Kalian harus membayar semua kekacauan ini!” seru Raden Rumasih.


“Kau siapa?” Ngeres Beaq menghardik kasar.


Tapi kemudian Kembang Tereng mengingatkan Ngeres Beaq untuk berhenti-hati dengan Raden Rumasih. “Dia bukan lawan yang mudah,”


“Sekuat apa dia Paduka Patih?” Mopol Ngeros ikut dibuat penasaran.


“Sejauh ini tidak ada lawan yang bisa melukai tubuhnya,"


“Oh ya, berarti Desa Bunge masih memiliki orang hebat, selain Paduka Patih, Paduka Raja Selaq Bunge, dan Darwire?” tanya Mopol Ngeros takjub.


“Rumor menyebut Rumasih lebih kuat dari Darwire,” kata Kembang Tereng datar.


“Bhahahahaa... aku sudah lama menantikan saat ini tiba, Bajilah!” Tawa Raden Rumasih menggelegar.


Ia baru saja menyebut nama asli Kembang Tereng. Sorot matanya tajam seperti singa kelaparan. Ditambah pedangnya yang terhunus, membuat Raden Rumasih bak malaikat maut!


“Apa ini artinya kita dalam kesulitan paduka Patih?” Ngeres Beaq bersiap menyerang.


“Kita sebaiknya bekerja sama. Ngeres Beaq hadapi pasukannya. Mopol Ngeros bantu aku hadapi Rumasih,”


“Bila perlu kalian bertiga yang turun langsung!”


“Sombong sekali,” Ngeres Beaq, naik pitam.


“Bajilah, perwira bermental gelandangan. Setelah kalah dalam perebutan posisi Komandan Krame Desa oleh Sentane, kini kau dipuja oleh sampah dari desa lain. Menjijikkan!”


“Aku tidak peduli, kau sekuat apa. Dan aku bukan sampah!” pekik Ngeres Beaq.


Mulutnya komat-kamit merapal mantra. Mengubah tubuhnya menjadi seekor anjing tinggi besar.


Lalu dengan gairah membunuh yang tinggi, anjing itu melompat, menerkam, menggigit, dan mencabik dengan brutal leher Raden Rumasih.


“Bleshhh... Blesshhh!”


“Tiiing... Taaang... Ting... Krek...!!!”


“Kaing... Kaing!”


Anjing itu buru-buru melompat menjauhi Raden Rumasih. Padahal tidak sekalipun Komandan Pertahanan Desa itu melawan. Ia membiarkan saja tubuhnya diserang.


“Tubuhnya sekeras baja!”


Ngeres Beaq telah mengubah tubuhnya ke bentuk asli. Tangannya menggenggam sesuatu lalu bersungut kesal “Gigiku rontok,”


“Aku mengubah pendapatku tentang kalian. Khususnya kau,” tatapan Raden Rumasih lurus ke Ngeres Beaq. “Kau bahkan lebih hina dari sampah!”


Ngeres Beaq bergeming mendengar cemoohan Raden Rumasih. Ia telah membuktikan sendiri Komandan Keamanan Desa itu memiliki ilmu kebal tingkat tinggi.


Serangan dengan kekuatan penuh yang baru saja dilancarkannya, tak hanya gagal menggores tubuh Raden Rumasih, tapi juga tidak secuilpun membuatnya beringsut dari tempat berdirinya.


“Luar biasa,” pujinya.


Kembang Tereng maju ke depan. Tangannya meraih sesuatu di balik jubah yang dikenakannya. Sesaat kemudian menjadi jelas, Ia mengambil gagang senjata keris pusaka.


Raden Rumasih yang tadinya berdiri menantang terkejut bukan kepalang. Gestur tubuhnya berubah dari menantang kini berisap dengan kuda-kuda.


“Keris Mirah Adi!” lirih Raden Rumasih.


“Bhahaha.... mana keangkuhanmu yang setinggi langit itu Rumasih?”


Kembang Tereng puas melihat reaksi terkejut Raden Rumasih. Keris tanpa luk dengan pamor merah menyala dan menebar hawa panas itu membuatnya sangat percaya diri.


“Bagaimana kau mendapatkan keris itu?” tanya Raden Rumasih dengan suara bergetar.


“Apa pedulimu?” Sahut Kembang Tereng.


“Keluargamu sama sekali tidak berhak memegangnya!” ujar Raden Rumasih sengit.


“Persetan dengan aturan. Akulah yang akan mengubah aturan desa. setelah kalian para cecunguk Darwire aku habisi satu-persatu!” sahutnya lantang.


“Siapa yang peduli dengan tua bangka Darwire!” sahut Raden Rumasih enteng.


“Kalau begitu, buat apa kau berdiri di sini?”


“Demi kehormatan Desa!”


“Desa terkutuk!” maki Kembang Tereng.


“Kaulah yang terkutuk. Kakek Liman Tarujinaka tidak akan memaafkan kelancanganmu karena mengkhianati amanatnya. Keris Pusaka Mirah Adi itu diamanatkan ke keluargaku. Bukan keluargamu!”


“Kakek? Dia sudah mati. Dagingnya telah disantap cacing tanah. Kita yang hidup inilah yang berhak mengatur hidup kita sendiri. Dia yang telah mati hanya menyisakan beban bagi yang hidup dengan aturan-aturan tak berguna. Dan aku, Raden Bajilah, menolak diatur oleh orang yang telah menjadi penghuni alam baka!”


***


Memang benar, keris yang dipegang kembang Tereng itu bernama Keris Mirah Adi. Dulunya keris itu dipegang oleh Darwulan satu dari lima pendiri Desa Bunge.


Keris itu didapatkan Darwulan dari pemberian ayahnya Liman Tarujinaka sebelum mengasingkan diri dari kehidupan duniawi. Sementara Darwire diamanatkan Lontar Betaljemur Bireng.


Sedangkan Darkani, Darsumbi, dan Daranjani diberikan masing-masing selendang.


Ketika perang 50 tahun silam, keris Mirah Adi menjadi senjata pamungkas milik Darwulan yang berhasil membunuh banyak bangsa Jin. Namun keris itu lenyap seiring terbunuhnya Darwulan oleh Daranjani.


Raden Rumasih berupaya mencari keris pusaka milik ayahnya itu. Namun bak ditelan bumi, hilang tanpa jejak. Kini tiba-tiba muncul di tangan keturunan Daranjani.