
SELAQ
Episode "Kemunculan Doyan Medaran" (24)
***
Malam tak lagi berdendang. Serangga telah kembali ke sarang. Tirai kabut perlahan turun, diiringi embun berjatuhan, menghiasi kuncup-kuncup bunga.
Sayangnya itu bukan malam yang biasa.
Bila para kesatria, menghormati malam dengan mengakhiri perang. Tapi tidak dengan jiwa-jiwa kalap di bawah nafsu angkara murka.
Perang masih berlanjut di gerbang Timur dan Utara desa Bunge.
Pekik anak manusia dan desing senjata beradu di udara. Menambah ngeri suasana desa berselimut kabut.
“Hentikan!” suara Raden Mas Panji menggelegar.
Tangan kanannya memegang gagang gada di pundak. Sedang tangan kiri berkacak pinggang.
Pasukan Desa Tunggak yang mengenal baik suara sang Kepala Desa langsung menghentikan pertempuran.
Raden Aryadi dan murid-muridnya ikut mencari arah suara. Mencari tahu pemilik suara yang menyelamatkan mereka dari pasukan haus darah. Dada mereka timbul-tenggelam, mengirim nafas yang terengah-engah.
Posisi mereka sudah terdesak. Terkepung dari segala penjuru. Murid yang tersisa sekitar belasan orang, sisanya sudah meregang nyawa.
Untung saja, ratusan bala bantuan berpakaian serba hitam datang tepat waktu.
“Siapa yang memerintahkan kalian berperang?!” wajah Raden Mas Panji merah padam. Garang.
Tangannya bergetar, tak sabar menghempaskan gada ke kepala pasukannya yang keras kepala.
“Aku memerintahkan kalian berjaga di luar, bukan menggempur Desa Bunge!” sambungnya.
Sawung Galih maju ke depan. Lalu segera berlutut di hadapan sang Kepala Desa.
Bibirnya tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Bersyukur sang kepala desa selamat dari petaka.
“Mohon ampun tuanku. Kalaulah perang ini adalah kesalahan, tidak ada sosok yang lebih pantas disalahkan kecuali saya. Saya tak bermaksud membela diri dan siap bertanggung jawab,” ujar Sawung Galih pada jarak dua tombak dari Raden Mas Panji.
“mengapa kau tak menuruti perintahku?” wajah Raden Mas Panji masih menyiratkan murka.
Ia tak percaya perwira tertinggi di pasukan tempurnya itu melakukan tindakan di luar perintahnya.
Sawung Galih lantas bercerita ihwal pecahnya perang. Begitu juga keresahan para prajurit mana kala menerima kabar dirinya pingsan.
“Saya sangat khawatir Raden. Lebih baik saya yang mati daripada Raden menderita. Tidak ada pilihan bagi saya kecuali melawan perintah dan mengerahkan pasukan untuk menjamin keselamatan raden. Saya melakukan apa yang bisa saya perbuat Raden,” ujarnya.
Raden Mas Panji bergeming. Tubuhnya tegar diterpa angin malam yang dingin. Ia memutar pandangan dan menyaksikan ratusan mayat-mayat bergelimpangan tak tentu arah.
“Tak seharusnya ada korban jiwa sebanyak ini,” lirihnya.
Wajah Sawung Galih tertunduk. Ia sadar, keputusannya telah membuat Raden Mas Panji kecewa.
“Raden, saya salah. Saya siap menerima hukuman,” kata Sawung Galih tanpa ragu.
Raden Mas Panji bergeming. Mulutnya terkatup rapat. Matanya nanar menyaksikan begitu banyak korban jiwa.
“Dengan apa saya dapat menembus kecerobohan saya Raden, seberat apapun hukuman akan saya laksanakan,” ujar Sawung Galih.
“Potong lidahmu!”
Perintah yang diucapkan Raden Mas Panji mengagetkan semua yang mendengar. Tak terkecuali, Raden Aryadi dan muridnya.
Tak ada kata yang terucap dari bibir Sawung Galih. Kepalanya masih tertunduk,
Lalu ...
“Sreett!!!”
Tangan kanan Sawung Galih menjulur ke depan. Di telapak tangan kanannya sepotong daging lunak berlumuran darah terkulai lemas. Sedangkan tangan kiri Sawung Galih memegang maje atau pisau yang digunakannya memotong lidahnya.
Semua yang menyaksikan terperanjat kaget.
“Sawung Galih menunjukkan kesetiaannya,” ujar Raden Aryadi.
“Tapi mengapa harus memotong lidah sendiri maha guru? Dia akan menjadi bisu selamanya,” murid itu sulit menerima perintah Raden Mas Panji. “Mengapa ia kejam sekali membuat perintah semacam itu, padahal Sawung Galih telah menunjukkan kesetiaannya?”
“Atau Raden Mas Panji tidak mengira Sawung Galih benar-benar akan memotong lidahnya sendiri?” tanya yang lain.
“Dia tahu,” ujar Raden Aryadi.
“Maha guru, Sawung Galih mati-matian berperang demi memastikan keselamatan Raden Mas Panji, tapi setelah itu yang dibela malah memerintahkan potong lidah?”
Raden Aryadi tak langsung menjawab.
Pria sepuh itu menarik nafas dalam. Mengumpulkan tenaga untuk menjelaskan pelajaran penting dari peristiwa antara Sawung Galih dan Raden Mas Panji.
“Dalam doktrin militer, kepatuhan adalah segalanya. Kepatuhan mengalahkan bahasa perasaan seperti cinta, kasih sayang, dan kepedulian,”
“Mengapa ada doktrin semacam itu?” celetuk murid yang lain lagi.
“Ketaatan adalah kunci menjalankan misi. Tanpa ketaatan menjalankan perintah, misi bisa gagal,” ujar Raden Aryadi.
Pria itu mengelus perlahan janggutnya yang memutih. Lalu melanjutkan lagi perkataannya, “Dalam sebuah misi, prajurit akan berupaya dilemahkan dengan segala cara oleh musuh. Anak, istri, kekasihnya bisa saja disandera. Harta, tahta, atau pangkat akan digunakan menggodanya. Namun prajurit yang tangguh tak akan berubah dalam ketegarannya menuntaskan misi. Tugas negara di atas segala-galanya. Mereka mengesampingkan kepentingan pribadi, kelompok, dan golongannya,”
“Peristiwa potong lidah ini akan membuat musuh-musuh Desa Tunggak berpikir seribu kali, mencoba mengajak para perwira desa berkhianat pada Raden Mas Panji,”
Murid-murid Raden Aryadi mengangguk paham. Walaupun nurani mereka tetap sulit menerima dan menganggap perintah itu berlebihan.
Raden Mas Panji berjalan mendekati Sawung Galih yang masih berlutut dengan tangan kanan menjulurkan potongan lidahnya. Nafasnya menderu tak karuan. Dadanya bergemuruh, sesak.
Ia meraih potongan lidah, Sawung Galih, dan ...
“Bruaaaaak!!!”
Raden Mas Panji menghempaskan gada di samping Sawung Galih. Bumi bergetar keras.
Ia mengangkat kedua tangannya ke samping dada. Lalu skuat tenaga berteriak menghadap langit.
“Waaaaaaaaaaaaa!!!”
Pekikan Raden Mas Panji meluncur deras. Mengguncang kayangan. Membangunkan dewa-dewi dalam singgasana kemewahan.
Segera setelah itu, Ia melangkah mendekati Sawung Galih. Menarik lehernya dengan kasar hingga berdiri. Selanjutnya tangan kanannya dikeraskan membentuk bulatan, lalu sekuat tenaga meninju perut dan muka Sawung Galih.
"Bhuuk... Bhuuk ...!!"
Perwira militer itu terjungkal. Lalu bangkit lagi dengan sempoyongan. Raden Mas Panji segera memburu dan menghujani dengan tinju sekuat tenaga.
Sawung Galih membiarkan saja tubuhnya dihajar. Ia tak sedikitpun melawan sang Kepala Desa. Sementara prajurit yang lain tak ada yang berani melerai.
Sampai suatu ketika tinju Raden Mas Panji begitu telak menghantam rahang Sawung Galih. Perwira militer itu terhuyung lalu roboh dan tak berkutik lagi.
Dada Raden Mas Panji timbul tenggelam. Mengikuti nafas yang menderu-deru. Tubuhnya tegak di depan badan Sawung Galih yang tergeletak tak berdaya.
Beberapa prajurit mendekati Sawung Galih. Mereka bermaksud mengangkat tubuhnya.
"Minggir!" hardik Raden Mas Panji.
Para prajurit mengurungkan niat. Mereka tak berani menentang perintahnya.
Raden Mas Panji lalu mendekatinya, mengangkat tubuh Sawung Galih, dan meletakkannya di atas punggungnya.
Sebulir air mengalir perlahan. Membasahi sudut mata Kepala Desa berperawakan raksasa itu. Jauh di dalam hati Ia menyimpan kepedihan teramat sangat.
"Ayo kita pulang Sawung Galih," lirihnya.
Raden Mas Panji berjalan sambil menggendong Sawung Galih. Segera setelah itu perwira yang lain mengikuti langkahnya menerobos kepekatan malam di hutan lembah Rinjani. Di belakang mereka prajurit yang lain mengikuti dengan teratur.
"Kau istirahat saja di punggungku. Aku akan membawamu sampai di desa kita," lirihnya.
Raden Aryadi menatap kepergian Raden Mas Panji dan para pasukannya. Tidak berselang lama, gerbang timur yang menjadi medan perang itu berangsur-angsur sunyi.
***