
***
“Apakah aku sudah mati?”
Seruas mata memandang, Blokpentes hanya melihat kegelapan tak berujung. Gelap dan pekat. Tubuhnya tertatih-tatih berusaha bangkit dari tempatnya tergeletak. Saat bertugas bangkit, ia merasakan sekujur tubuhnya nyeri dan remuk. Seperti habis ditimpuk berkarung-karung batu!
Entah berapa lama ia tak sadarkan diri di tempat itu. Ingatan terakhir kalinya saat tubuhnya melayang jatuh dari tebing. Kemudian terperosok ke ranting dan dahan kayu. Setelah terhempas keras di tanah, tubuhnya kembali terguling-guling. Saat itulah kesadarannya hilang dan tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Tiba-tiba saja kini ia sudah berada di ruangan gelap dan dingin itu.
Tangannya meraba-raba dan mendapati dinding yang basah. Sayup-sayup telinganya menangkap suara rintik air. Ritmik dan konstan. Blokpentes berusaha mendekati arah suara. Tapi gema di dinding membuatnya kesulitan mencari arah yang benar.
“Ini seperti labirin,” desaunya.
Ia merasa sudah keluar dari satu ruangan. Tapi kemudian masuk lagi ke ruangan yang lain. Begitu berulang-ulang. Berputar-putar.
“Apakah aku buta?”
Tangannya meraba dua bola matanya. Dan merasakan perih di sekitar pelipis. Lalu berulang kali mengejap-ngejapkan mata. Namun kegelapan tak kunjung sirna dari rongga matanya.
“Tenang, tenang Blokpentes. Semua akan baik-baik saja, jangan panik. Kepanikan adalah pembunuh nomor satu,” racaunya.
Setelah menarik ulur nafas ia kemudian duduk bersila. Menenangkan pikiran.
Butuh beberapa waktu untuk membuat debar jantungnya lebih tenang.
"Mmchhh ..."
Blokpentes menyesap telunjuknya, lalu mengeluarkannya dan mulai mencari arah angin.
“Ke sini,” gumamnya.
Ia berjalan mengikuti sisi telunjuk yang terasa lebih dingin. Setelah berputar-putar, keluar masuk ruangan sekian lama, ia melihat seberkas cahaya di ujung lorong.
Langkah cepat memburu cahaya. Semakin lama, semakin terang. Dan Blokpentes tiba di sebuah celah sebesar telunjuk.
"Rupanya dari sini sumber cahayanya," katanya sambil memperhatikan lubang di dinding berbatu.
Dari celah itu, Blokpentes mengintip ke dalam. Samar-samar ia melihat ke dalam dan hampir saja tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Tempat apa ini?”
Sesaat matanya dibuat takjub dengan apa yang dilihat. Sebuah bangunan besar dan megah terlihat di balik lubang kecil. Pilar-pilar berukuran raksasa nan menjulang berjejer rapi menyerupai prajurit jaga. Di setiap pilar menempel lampu minyak yang apinya dilindungi kaca-kaca kristal.
Di ujung pilar, ukiran Roman Corinthian ala Yunani menghiasi. Lalu di bagian Frieze atau di atasnya lagi, terukir pola gambar kotak dipadu bentuk spiral.
Tak kalah misterius pada bagian bangunan yang disebut Tympanum. posisinya di atas Frieze. Di sana terpatri ukiran manusia tengah berbincang, menyembah, hingga jadi budak makhluk-makhluk berkepala binatang.
Beralih ke sisi langit-langit, warna kuning keemasan mendominasi. Sementara di tengah langit-langit mengerucut menyerupai kubah. Dengan gambar-gambar mengerikan: makhluk-makhluk berbadan api dan menyala-nyala!
Beralih ke dinding, jendela-jendela besar berderet setinggi tiga badan manusia dewasa. Lengkap dengan ornamen ukiran ala Rocaille yang rumit dan berlapis. Lalu deretan kitab-kitab tersusun dalam rak yang megah.
“Apakah ini surga dan aku benar-benar sudah mati?” gumam Blokpentes masih tak percaya melihat bangunan yang dilihatnya.
Lampu-lampu kristal yang menggantung, patung-patung menyerupai naga dan dewi-dewi di setiap sisi jendela, hingga kursi-kursi megah dengan pahatan rumit dan detail, menyihirnya beberapa saat lamanya.
“Bolo harus melihat ini,” lirihnya.
Saat Blokpentes masih terkesima dengan bangunan megah itu, sayup-sayup dari lubang ia mendengar langkah kaki beberapa orang mendekat. Semakin lama semakin dekat. Dan sesaat kemudian, pintu besar di ujung ruangan terbuka. Dan tampaklah tiga sosok misterius memasuki ruangan megah itu.
Mereka duduk berjejer di sebuah kursi besar di tengah ruangan. Ketiganya lalu terlibat perbincangan rahasia.
“Ini akan jadi visi baru yang menarik,”
“Coba katakan apa idemu?”
“Berbisnis dengan Tarumbie,”
“Kita sudah menguasai lembah ini, buat apa memelihara ular berbisa itu lagi?”
“Belum,”
Jawaban sosok yang duduk di tengah, membuat dua pria yang lain menoleh ke arahnya.
“Bukankah lembah ini sudah kita kuasai?"
“Kita belum menguasai Bangsa Jin,” ujarnya.
“Anda bermaksud menaklukkan bangsa Jin di lembah ini?”
Sosok yang duduk di tengah mengangguk pelan. Wajahnya menyiratkan siasat licik. Sementara dua sosok lainnya diam beberapa saat. Wajah yang ditutupi bedak tebal tak bisa menutupi ketegangan keduanya.
“Makhluk-makhluk api itu tak membutuhkan barang-barang kita, mereka hidup di alam yang berbeda,”
“Buat apa?”
“Menguasai dunia,”
“Terdengar ambisius. Tapi jujur saja, itu ide yang menggoda,”
“Dewi Anjani tidak akan tinggal diam kalau dia tahu ide ini, istana ini akan diruntuhkannya dalam sekejap,”
“Karena itu, dia tidak boleh tahu,”
“Caranya?”
Pria yang duduk di tengah tak langsung menjawab. Ia justru tersenyum pada dua rekannya yang menatapnya dengan serius.
“Anggap saja lembah ini dihuni oleh tiga bangsa. Bangsa Manusia, Bangsa Selaq, dan Bangsa Jin. Strateginya adalah kita berpihak pada Bangsa Selaq, lalu mereka kita peralat mengalahkan bangsa Manusia dan Bangsa Jin,”
“Anda percaya Tarumbie dan rekan-rekannya dapat mengalahkan bangsa Jin?”
“Sejarah membuktikan, Daranjani pernah mengalahkan dan mengusir para Jin di lembah ini. Dan kini bangsa Selaq yang merupakan pewaris ilmu sekaligus pengikut Daranjani telah berkembang banyak. Lalu apa yang membuat kita ragu mereka tidak akan mampu mengalahkan bangsa Jin sekali lagi?"
Dua sosok lainnya mengangguk-angguk. Terbayang di benak mereka perang mengerikan akan terulang lagi di lembah itu. Perang antar dua dunia: bangsa Selaq melawan Bangsa Jin.
“Tapi sebelum perang antara Bangsa Selaq melawan Bangsa Jin terjadi, kita harus membuat Bangsa Selaq menang melawan Bangsa Manusia. Yang perlu kita lakukan hanya mendukung mereka membangun kerajaan, hegemoni, dan ajaran Selaq,” kata sosok di tengah dengan mata berbinar-binar.
“Lalu kita bagaimana, bukankah kita juga bangsa Manusia?” tanya sosok di samping kirinya.
“Tenang, kita adalah setan,” jawab sosok di tengah.
Tawa ketiga sosok itu meledak. Suaranya menggema di sudut-sudut bangunan. Setiap benda di dalam ruangan itu menjadi saksi, rencana besar mereka tentang tiga bangsa yang mendiami lembah Rinjani.
Tapi kemudian, sosok di sebelah kiri lebih dahulu mengakhiri tawa. Mimik wajahnya berubah drastis. Ia menyela dengan kalimat terputus, “Tapi ...”
“Tapi apa?”
“Kalau kita setan, berarti ayah dan ibu kita juga setan, lalu apakah kita juga dari bangsa setan?”
“Oh, adikku yang bodoh dan lugu. Setan itu bukan bangsa. Setan itu adalah sifat. Setan itu ada pada bangsa manusia dan bangsa jin. Tamak, rakus, sombong, itu adalah setan,”
“Apakah kalau kita setan berarti kita jahat?” tanya sosok misterius di sebagai kiri itu lagi. Ia memiliki perangai kekanak-kanakan. Wajahnya sendu dan seketika itu juga menangis tersedu-sedu.
“Aku tak mau jadi jahat kakak,” katanya terisak-isak.
Sosok di tengah panik melihat adiknya menangis. Ia segera merangkul kemudian menenangkannya.
“Lupakan tentang kebaikan dan kejahatan, itu hanya lelucon manusia kasta rendahan yang tak memiliki kemampuan menghadapi kerasnya dunia. Kita ini adalah manusia pilihan dengan ambisi dan gairah hidup yang tinggi. Manusia menyebut kita tamak, rakus, dan sombong hanya karena mereka tak mampu seperti kita,” ujar sang kakak sambil memeluk adiknya yang tersedu-sedu.
Blokpentes yang mendengar percakapan tiga sosok misterius di balik lubang kecil bergidik. Ia terkejut mendengar bagaimana mereka mendefinisikan arti nilai kebaikan dan kejahatan.
“Dunia dalam bahaya, kalau orang-orang seperti mereka yang jadi penguasa,” lirih Blokpentes.