SELAQ

SELAQ
Episode "Mahkota Berpindah Kepala" (41)



***


Pria sepuh itu bangkit. Melangkah tenang dengan tongkat yang mengentak lantai.


“Tok ... Tok ... Tok ...,”


Sesaat kemudian ia telah berdiri di hadapan ribuan warga desa Bunge. Senyum masih mengembang di bibirnya yang keriput. Matanya teduh melihat amarah penduduk yang menghentak ubun-ubun. Tak ada garis kemarahan terlihat di raut wajahnya. Ribuan penduduk yang gusar, dihadapinya dengan sikap lembut dan teduh. Ia seperti seorang kakek yang tengah menghadapi cucu-cucunya yang nakal.


“Tenang semua, tenang!!!” seru pasukan pertahanan dan Krame Desa sahut-menyahut. Silih berganti.


“Resi Wilahuni akan mengambil keputusan, kendalikan diri kalian semua!!!” pekik mereka lagi.


Situasi berangsur tenang. Suara gaduh perlahan disapu angin malam. Suasana kembali hening. Dan serangga berdendang kembali terdengar jelas.


“Aku sepertinya tidak diberi pilihan,” ujarnya terkekeh.


Keheningan malam membuat suaranya merambat sampai jauh. Sementara Maha Guru Raden Aryadi, menghela nafas panjang.


Raut wajahnya tak bisa menyimpan kesedihan. Ia tak menyangka, politik telah merenggut adab dan sopan santun sebagian warga. Sampai makian terlontar untuk pria yang amat dihormati di lembah Rinjani itu.


Resi Wilahuni kembali berkata, “Aman, tidak aman. Ribut, tidak ribut. Kalian terlalu khawatir dengan telah, sedang, dan yang akan terjadi,”


Di balik alisnya yang memutih dan terjuntai panjang, pelupuk matanya berkaca-kaca tanpa seorang pun sadar kesedihan hati tetua desa itu. Ia kembali berkata, “Ada pepatah mengatakan, kemarin adalah sejarah, besok adalah misteri, tapi hari ini adalah anugerah. Itulah kenapa hari ini disebut hadiah,”


Resi Wilahuni membuang jauh tatapannya ke ujung gelap. Di mana kepala-kepala penduduk masih terlihat menunggu dengan tak sabar keputusannya. “Apa yang kalian rasakan di dunia ini hanyalah sangkaan belaka. Kita melihat, mendengar, dan merasakan lalu menyebutnya sebagai kebenaran. Itu keliru anak-anakku. Lihatlah dengan mata hati agar pandangan kalian lebih jernih melihat kebenaran,”


Resi Wilahuni membalikkan badan. Melangkah mendekati pohon Sentul di halaman balai desa.


“Tok!”


Resi Wilahuni mengetuk tongkatnya di pohon Sentul. Lalu sebutir buah Sentul meluncur jatuh dan dengan cepat ditangkapnya.


Ia kemudian berjalan mendekati, Raden Rumasih. Lalu menyerahkan buah dengan rasa asam manis itu. “Bekerja dan lindungilah rakyatmu nak, malam ini kau kuangkat menjadi kepala desa pengganti Darwire,”


“Tok ... Tok ... Tok ...” Resi Wilahuni berjalan pergi meninggalkan Raden Rumasih dan semua yang hadir di balai desa.


“Hidup Raden Rumasih!!!”


“Hiduuup!!!”


Balai Desa kembali bergemuruh. Tapi kali ini bukan suara sumbang dan kata-kata makian membumbung. Melainkan sorak-sorai warga bergembira.


“Hidup Kepala Desa Raden Rumasih!”


“Selamat datang era baru!”


Pekikan sahut-menyahut itu membahana di langit Desa Bunge. Mengiringinya segudang harapan dimulainya kepemimpinan yang mengayomi, melindungi, adil, dan bijaksana.


Raden Rumasih menggenggam erat buah Sentul di tangan kirinya. Seperti diketahui, Komandan Pertahanan Desa itu hanya memiliki tangan kiri. Tangan kanannya buntung oleh keris Mirah Adi saat bertarung melawan Kembang Tereng.


Ada yang tertawa bahagia. Ada pula yang menitikkan air mata haru. Hanya sedikit warga yang menyimpan iba. Pada tua renta Baloq Darwire yang merintih lumpuh di gubuk tuanya.


Raden Rumasih berjalan dengan gagah ke hadapan ribuan warga yang tak sabar menunggu titah pertamanya.


Lalu dengan tangan kiri yang terangkat tinggi memegang buah Sentul, Raden Rumasih berujar lantang, “Wahai warga Desa Bunge. Dengarkanlah ini adalah titah pertama saya sebagai Kepala Desa Bunge,”


Rakyat desa Bunge berangsur-angsur hening. Mereka memasang telinga baik-baik mendengar perintah pertama sang Kepala Desa.


“Demi memulihkan keamanan dan ketenteraman desa, saya akan mengeluarkan sabda yang diberi nama Empat Bebet Dese,”


Rakyat berdengung. Mereka baru mendengar istilah ‘Empat Bebet Dese’. Tapi tak ada satupun yang tahu artinya. Suara dengung itu perlahan memudar. Mereka menunggu penjelasan Raden Rumasih.


“Bebet pertama, saya putuskan menghukum Darwire sebagai tahanan rumah sampai akhir hayatnya!” serunya.


“Hore!!!”


“Setuju!!!” Pekik penduduk bersahutan.


“Darwire harus dihukum. Mempertanggungjawabkan kesalahannya karena telah membuat perjanjian dengan bangsa Selaq. Akibat perjanjiannya itu desa kita porak-poranda!!!” imbuhnya.


Lagi-lagi warga menyambut dengan tepuk tangan riuh. Mereka setuju, keputusan itu yang terbaik.


“Bebet Kedua, sebenarnya saya ingin mengambil tindakan tegas melenyapkan anak terkutuk itu. Tapi Resi Wilahuni berpesan agar saya menjaga rakyat desa. Jadi saya putuskan memenjarakan Jumindri di bawah tanah dan dijaga unit khusus. Kelak tenaganya akan sangat kita butuhkan kalau terjadi ancaman dari luar desa. Anak itu bisa menjadi alat pertahanan kita. Setuju?!”


“Setuju!!!” sahut ribuan warga.


“Bebet ketiga, mulai saat ini hingga waktu yang tak ditentukan, saya akan memburu para Selaq. Jadi bagi siapa saja yang menjadi Selaq, melindungi Selaq, atau menyembunyikan informasi tentang Selaq, semua akan dihabisi. Walau tangan kanan saya tidak ada, tapi tangan kiri masih mampu mencabut nyawa kalian dengan mudah!”


“Setujuuu!!!” pekik warga riuh lagi.


“Terakhir, bebet keempat. Saya akan membentuk pasukan khusus Revolusi. Pasukan ini akan melibas perampok, pencuri, dan siapapun yang pro terhadap Darwire!” tegasnya.


“Hiduup!!!”


“Ganyang para Selaq!”


“Ganyang!!!” seru penduduk bersahutan.


***


Resi Wilahuni terus berjalan menyusuri kegelapan malam. Di belakangnya Maha Guru Raden Aryadi mengikuti setiap langkahnya.


Sampai kemudian, mereka berhenti di sebuah tebing. Jauh di bawahnya mengalir Kokoq Puteq (Sungai Putih). Kokoq Puteq tak terlihat karena gelap. Tapi gemercik air mengalir masih terdengar jelas.


“Cukup sampai di sini mengantarku Aryadi,” ujar Resi Wilahuni dengan tatapan teduh dan senyum hangat.


“Saya masih belum mengerti guru,” lirih Maha Guru Aryadi, wajahnya terlihat gundah. Resah.


“Suatu saat kau pasti paham, Aryadi,” jawab Resi Wilahuni.


“Tapi kenapa Guru, meluluskan kemauan Rumasih sebagai Kepala Desa. Saya takut dia akan memimpin desa dengan kejam!” Raden Aryadi berbicara dengan nada sengit. Tak terima dengan keputusan gurunya. “Guru pasti tahu, kekacauan yang terjadi di desa ini adalah rencananya Rumasih. Guru juga pasti tahu dialah dalang pembunuhan dewan desa!”


“Aku tahu,” jawab Resi Wilahuni enteng.


“Lalu kenapa Guru seakan membenarkan perbuatannya, kemudian mengangkatnya menjadi kepala desa?” sahut maha Guru Raden Aryadi dengan nada tinggi. “Apa karena guru takut kehilangan wibawa di depan ribuan penduduk yang mendukungnya?”


Keduanya diam sesaat. Sampai akhirnya Resi Wilahuni memecah keheningan. “Kalau belum puas, tumpahkan dulu semua kekecewaanmu padaku, Aryadi,”


“Sudah itu saja,” cetusnya pendek.


Resi Wilahuni tersenyum melihat wajah gusar muridnya. Bibirnya yang keriput kembali tersenyum teduh.


“Lalu apa yang ingin kau lakukan?”


“Kita habisi Rumasih. Atau kalau guru tak mau mengotori kesucian tangan guru dengan darah bajingan itu, cukup izinkan saya. Biar saya yang menamatkan riwayatnya malam ini juga. Begitu juga dengan loyalisnya akan saya buru sampai akar-akarnya!” tegasnya dengan wajah memerah padam.


“Dendam, amarah, pada hakikatnya semu. Perasaan itu muncul hanya karena ketidaksiapan manusia menjalani takdir,” ujar Resi Wilahuni sejuk.


“Takdir apa?” suara Maha Guru Aryadi masih tinggi. “Kitalah yang menciptakan takdir. Kesaktian saya dan kesaktian guru dengan mudah dapat melenyapkan jahanam Rumasih itu. Bahkan desa ini bisa kita lenyapkan dalam semalam kalau guru mau!”


“Kita tidak akan bisa mengubah apapun anakku. Karena bukan kita yang ditakdirkan menyadarkan Rumasih,” jawab Resi Wilahuni lembut.


“Takdir, takdir, takdir! Dari tadi guru hanya bicara soal takdir. Mana takdir itu dan akan kubuktikan takdir bisa saya ubah!” Maha Guru Aryadi semakin gusar.


Resi Wilahuni melangkah mendekati sebatang ilalang. Separonya telah mengering. Lalu dari balik lipatan baju ia mengeluarkan permata yang sangat indah.


“Kemarilah,” ujarnya tenang.


Maha Guru Raden Aryadi mendekat. Lalu Resi Wilahuni memberinya permata berkilauan itu.


“Mana lebih berharga permata ini atau rumput ini?” tanya Resi Wilahuni.


“Permata guru,”


“Lalu apakah permata ini bisa kau gunakan menyiram rumput ini agar kembali tumbuh subur?” Tanya Resi Wilahuni.


“Mana mungkin guru. Rumput ini butuh air, bukan butuh permata,” jawab Maha Guru Raden Aryadi.


Resi Wilahuni tersenyum puas. Lalu berkata, “Itulah takdir anakku. Sekalipun permata ini lebih berharga dari rumput, tapi tidak bisa digunakan menyirami rumput,”


Wajah Maha Guru Raden Aryadi berubah. Air mukanya perlahan tenang dan kini mulai paham maksud gurunya tentang takdir.


Resi Wilahuni melanjutkan kata-katanya, “Begitu juga dengan kita, sekalipun kita punya kekuatan dan kesaktian yang mampu melenyapkan desa dalam semalam, tapi percayalah itu tak akan mengakhiri kepemimpinan Rumasih. Kelak akan ada anak yang ditakdirkan menggantikannya,”


Maha Guru Raden Aryadi tak berkata lagi. Kepalanya hanya mengangguk pelan, mendengar perkataan gurunya yang lembut dan sejuk.


“Takdir kita adalah menyiapkan pengganti Rumasih yang lebih baik. Sama seperti permata ini, takdirnya bukan untuk menyiram rumput, tapi permata ini bisa menjadi takdir perantara datangnya air. Kau bisa menjual permata ini untuk mendapatkan kepeng, lalu dengan kepeng itu bisa membayar seseorang untuk datang membawa air ke sini,”


“Maafkan aku guru,” lirih Maha Guru Aryadi merasa bersalah.


Resi Wilahuni menepuk-nepuk pundak muridnya. Lalu berkata, “Aku pergi dulu Aryadi, titip desa ini. Kelak kita berjumpa lagi. Carilah anak pengganti Rumasih itu,”


Maha Guru Raden Aryadi tak menjawab apa-apa. Air matanya berlinang di pelupuk mata melihat gurunya yang perlahan lebur menjadi serpihan cahaya.


“Eh sirihku tadi di mana?” terdengar suara Resi Wilahuni bergumam Sekalipun tubuhnya sudah hilang.


“Guru,” lirih Maha Guru Aryadi lalu tersedak menahan tawa. Sekalipun berpindah alam gurunya masih lupa menaruh sirinya di mana.


***