
***
“Kanda,” Raden Sigar duduk bersila di samping Raden Mas Panji yang siuman.
Pria bertubuh raksasa itu, mengetuk-ngetuk kepala dengan gada. Ia masih merasakan pusing akibat hantaman gadanya tadi.
“Sudah lebih baik. Tadi aku pikir kepalaku hancur,” ujar Raden Mas Panji.
“Hehe... kau benar-benar nekat kanda. Bagaimana mungkin gada sebesar itu nekat kau hantam ke diri sendiri?” ujar Raden Sigar.
“Aku tidak punya pilihan, dari pada mati sendiri apalagi menyerah pada bedebah Surya, lebih baik mati bersama-sama,” wajah Raden Mas Panji menyiratkan dongkol.
Kulit wajahnya menegang menyimpan dendam kesumat. “Lalu apa yang terjadi dengan yang lain?” tanyanya kemudian.
“Tadi aku sempat memburu para Selaq hingga bertemu Darwire, Nursiwan, dan Kertaji. Para Selaq tiba-tiba mengakhiri pemberontakan. Saat itulah, Darwire jatuh pingsan. Aku baru ingat kau juga pingsan di sini. Jadi aku mohon diri pada Nursiwan dan Kertaji melihat kondisimu,”
“Baguslah. Berarti tinggal si bajingan Artha Prana dan pasukannya yang harus kita habis malam ini. Aku ingin kepala desa licik dan para cecunguknya itu segera tamat!”
“Tenanglah kanda. Sebaiknya istirahat saja dulu. Biar aku dan kepala desa yang menghajar Artha Prana,”
“Kau meremehkan kekuatanku. Aku pernah bertarung dengan sembilan harimau dan nyaris mati. Tapi dewa kematian bahkan enggan mendatangiku!”
“Sudah tiga kali, kau bercerita tentang itu kanda,” Artha Prana mengulum senyum.
“Aku tidak suka kau menganggapku seperti bocah yang baru mengenal medan laga,”
“Baiklah. Lalu bagaimana rencana kita sekarang?” tanya Raden Sigar.
“Kita harus memberitahu si goblok Darwire itu kelicikan Artha Prana. Sudah terlalu lama ia dibuai mulut manisnya,”
“Aku setuju,”
Namun baru saja dua kepala desa itu hendak beranjak tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat ringan mendekati mereka.
“Ampun tuan Raden Mas Panji,” sosok bayangan itu rupanya salah satu pasukan elite Desa Tunggak. Wajahnya menyiratkan kecemasan.
“Ada apa?” sahut Raden Mas Panji.
“Pasukan kita bertempur dengan pasukan Desa Bunge,”
“Apa yang terjadi?”
“Masih belum jelas tuanku. Informasi sementara yang kami terima, salah seorang penjaga perbatasan Desa Bunge memanah pasukan tempur kita hingga tewas. Itu yang memicu pecahnya pertempuran,”
“Bangsat. Persoalan apa lagi ini!” geram Raden Mas Panji gusar. “Perintahkan pasukan tempur berhenti berperang!”
“Mohon ampun tuanku. Situasi begitu kacau. Pasukan tempur bertarung dengan kalap. Hanya Anda yang dapat menghentikannya. Yang lebih rumit lagi ratusan pasukan berpakaian serba hitam membatu mereka,”
“Dhuarrrr!!!”
Raden Mas Panji menghantam gada ke sebuah batu besar hingga lebur. Darahnya bergolak. Kepalanya panas. Matanya berkunang-kunang. Tubuhnya bergetar hebat menahan amarah yang membuncah.
“Tenang kanda. Mari kita urai persoalan ini dengan baik,” Raden Sigar memegang lengan kakak iparnya itu. Sedangkan tubuh Raden Mas Panji berguncang dengan nafas menderu-deru.
Baru saja Raden Sigar menyelesaikan kalimatnya, sekelebat bayangan datang lagi ke tempat itu.
“Ampun tuanku Raden Sigar,” kata pria itu dengan wajah cemas dan suara terbata-bata.
Raden Sigar yang melihat kedatangan salah satu anggota pasukan elitenya menangkap gelagat tidak baik. Matanya mendelik, lalu dengan nada menekan ia berkata,
“Apa pasukan tempur kita berperang juga melawan pasukan Desa Bunge dibantu pasukan berpakaian hitam?”.
Sesaat prajurit itu kaget. Tapi kemudian segera membenarkan.
“Ampun tuanku. Benar seperti yang Anda katakan,”
Giliran Raden Sigar yang diliputi bara amarah. Matanya memerah. Tapi Ia bisa mengendalikan tenaganya sehingga tak perlu menghancurkan apapun.
“Kanda, sepertinya kita tengah dipermainkan,” kata Raden Sigar dengan wajah gusar.
“Kita bukan dipermainkan tapi masuk dalam permainan lagi!” sahut Raden Mas Panji.
“Artha Prana, Artha Prana!!!”
“Dhuar ... Dhuar ... Dhuar ... !!!”
Raden Mas Panji seperti kesetanan. Menghantam apa saja dengan gada sekuat tenaga hingga luluh lantak. Nafasnya menderu menyaingi suara angin padang pasir. Matanya memerah seperti mau meloncat keluar!
“Sepertinya kita harus bertemu dengan Darwire, kanda,” saran Raden Sigar.
“Iya. Sebelum si bajingan Artha Prana menemuinya,” dengus Raden Mas Panji. “Tapi sebelum korban lebih banyak berjatuhan, kita harus menarik pasukan yang berperang dulu,”
“Benar kanda,” sahut Raden Sigar.
Tanpa pikir panjang mereka segera meninggalkan tempat itu. Raden Sigar menuju gerbang Utara, sedang Raden Mas Panji melesat ke arah gerbang Timur. Langkah mereka yang kasar menggambarkan kemarahan yang tak terlukis kata-kata.
***
Monster merah berjalan mendekati gerbang barat.
Jayengrana yang tengah bersiaga di sana bersama murid lainnya, kaget dengan kemunculan monster di belakang mereka.
“Jayengrana, apa itu?” kata seorang murid perguruan kaget setengah mati melihat sosok tak biasa berdiri tak jauh dari mereka.
“Entahlah, tapi yang jelas bukan anak ayam,” celetuknya.
“Seriuslah!” rona wajah temannya memerah. Gusar.
“Apa aku terlihat sedang bercanda?” sahut Jayengrana.
“Maksudku mana mungkin ada anak ayam sebesar itu! Di banding induk ayam juga ribuan kali lebih besar. Apa kau tidak bisa menemukan jawaban yang lebih bisa diterima?”
“Hmm...” Jayengrana terlihat berpikir keras.
“Cukup. Aku tak tertarik mendengar jawabanmu,” pemuda di samping Jayengrana melompat cepat. Lalu berseru “Selamatkan diri kalian!”
“Dhuarrr!!!”
Sekali terjang, gerbang barat langsung ambles oleh tubuh monster. Beruntung, pasukan penjaga gerbang dan murid perguruan Bunge menyelamatkan diri lebih cepat.
“Kekuatan yang memesona,” gumam Jayengrana.
“Bukan saatnya mengagumi!” pekik murid yang lain, kemudian melompat menghindar jauh dari monster.
“Dhuar!!” kali ini monster meratakan tembok desa yang terbuat dari susunan batu cadas.
“Terlambat sekali kau menyadarinya,” sungut temannya yang lain. Kakinya gemetar. Ia tidak pernah melihat makhluk semengerikan itu.
“Ini aneh, seharusnya dengan bobot tubuh sebesar itu gerakannya akan lebih lambat, tapi bobot dan gravitasi tak berlaku bagi dirinya,” kata yang lain.
“Sebaiknya kau jangan dekat-dekat ke mari Jayengrana, makhluk itu menyukaimu. Lihatlah sekarang dia berjalan ke tempat kita,” ujar yang lain lagi.
“Apakah ia jatuh cinta pada pandangan pertama?” sahut Jayengrana merenung.
“Bukan saatnya bercanda!” seru seorang murid gusar.
Kepala Jayengrana tertunduk lesu. “Di mana martabatku sebagai pemimpin,”
“Ayolah Jayengrana lakukan sesuatu. Jangan pasang tampang wajah tidak berdosa itu,”
“Dhuarrr!!!”
Ledakan kembali terjadi di tempat Jayengrana dan sejumlah kawan-kawannya bersembunyi. Kalau saja mereka tidak segera melompat tewaslah mereka di tempat itu.
“Tidak mungkin kita melawannya. Tembok sekeras itu seperti buih saja baginya, lalu bagaimana dengan senjata-senjata kita?” bisik seorang murid dengan tubuh menggigil ketakutan di persembunyian, bersama Jayengrana dan tiga murid lainnya.
Jayengrana bersila. Kepalanya terpejam dengan tangan disilangkan di depan dada.
“Sedang apa dia?”
“Berpikir,” sahut yang lain.
“Oh, berapa lama?”
Belum saja pertanyaan itu dijawab, Jayengrana telah membuka matanya kembali.
“Apa kau berhasil menemukan ide?” tanya rekannya.
“Iya,”
“Cepat sekali. Jadi bagaimana caranya?” tanya rekannya itu.
“Anak ayam,” ujar Jayengrana.
Wajah empat rekan-rekannya berubah masam. Dongkol, Jayengrana mengulangi lagi menyebut ‘Anak Ayam’.
“Anak ayam, tidak bisa menyelesaikan masalah!”
“Dengarkan aku dulu. Bayangkan kita semua anak ayam dan monster itu manusia,”
“Maksudmu?” sahut yang lain.
“Apa mungkin anak ayam menang melawan manusia?” tanya yang lain lagi.
“Bisa,” katanya dengan sorot mata yakin.
“Caranya?”
“Coba pikirkan, pada kondisi apa manusia berhenti mengejar anak ayam?” pancing Jayengrana.
“Pada kondisi apa?”
“Aku tahu, lelah!” sahut salah satu di antara mereka, dengan mata berbinar.
“Benar!” jawab Jayengrana. Wajahnya terlihat bangga pada idenya sendiri.
“Jangan pasang tampang sok keren, kita belum berhasil,” sungut rekannya.
Wajah Jayengrana seketika berubah datar.
Tapi yang lain, segera berujar sambil menepuk pundaknya. “Maha Guru Raden Aryadi menunjukmu sebagai pimpinan kami. Jadi, aku percaya kau bisa mengatur dan menyelamatkan kita semua,”
“Baiklah, kumpulan teman-teman. Kita atur rencana di sini,” ujar Jayengrana.
Empat rekan Jayengrana melompat pergi. Mengumpulkan semua murid perguruan. Tidak butuh waktu lama, mereka semua telah berkumpul di tempat itu.
Jayengrana menggerak-gerakan tangan. Lalu menggores tanah dengan ranting, menjelaskan seperti apa posisi semua orang.
“Bagaimana, semua mengerti?”
“Siap!” sahut yang lain.
Mereka lalu berpencar. Mengatur jarak aman.
Jumlah mereka yang mencapai tujuh puluh orang, leluasa mengatur diri bersembunyi di areal luar desa yang berbatasan dengan hutan.
Sampai semua akhirnya siap, menjalankan rencana.
Dan, ...
“Hrrrrggghh!!!” monster menggeram. Ia mendapati Jayengrana yang tengah mengendap-endap di belakangnya sambil membawa sebatang kayu.
“O’o... ketahuan ya. Hehe... maaf. Aku pergi,” gerakan Jayengrana kikuk memutar badan, sedangkan monster itu menatapnya dengan tajam.
Lalu dengan cepat melesat menerkamnya.
“Baiklah, aku pergi. Tidak perlu semarah itu,” Jayengrana lari terbirit-birit.
Saat monster hampir dekat, Jayengrana melompat masuk ke sebuah lubang perangkap.
Lubang itu sebelumnya dibuat para pemburu untuk menangkap kijang ataupun babi hutan. Jumlahnya sampai ratusan dengan ukuran cukup satu pria dewasa bisa masuk ke dalamnya.
Di saat yang sama, rekannya yang lain muncul, melambai-lambaikan tangan ke arah monster.
“Yuhu! Aku di sini,” pekiknya menggoda.
Melihat ada sosok lain, monster itu berlari lagi ke arah itu. Gerakannya beringas, memicu bumi bergetar. Tapi setelah hampir dekat, rekan Jayengrana itu pun menyelinap masuk ke lubang lain. Lalu disusul segera, rekannya yang lain memanggil-manggil monster.
“Ayolah garuk-garuk pantatku, rasanya gatal sekali,” seorang murid membokongi monster dengan nakal.
Melihat ada target tak jauh darinya, monster itu kembali melaju kencang. Tapi akhirnya kembali gagal karena buruannya masuk lagi ke lubang.
Begitu seterusnya. Monster berlari, gagal lagi. Lari lagi, gagal lagi. Berulang-ulang. Sampai akhirnya kelelahan dan akhirnya tumbang.
“Bruuukkk!”
“Hore, berhasil!” pekik mereka girang.
***